Kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan

Shalom…salam miracle

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati…

Kehidupan kita sekarang, kiranya dapat dipertanggungjawabkan pada waktu “pengadilan” kelak. Kalau kita ingin kehidupan kita sesuai dengan firman Tuhan dan berkenan di hadapan Allah, maka kita harus bersedia diatur oleh Tuhan, tetapi kehidupan yang bagaimanakah yang dikehendaki Tuhan sekarang ini?

 

1. Kehidupan yang selalu ingat akan pencipta kita

Ada sebuah motto yang mengatakan “Kecil dimanja, muda dengan foya-foya, tua kaya raya, mati masuk sorga” kelihatannya sangat baik motto demikian, tetapi mari kita perhatikan banyak yang mengisi kehidupan ini dengan serba bebas dan seenaknya sendiri.

 

Pengkhotbah 11:9 menyatakan “…tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan.” Pengkhotbah mendorong kita semua agar menikmati kehidupan saat ini dan menuruti segala keinginan hati. Namun setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di pengadilan Allah. Dari hal itu maka apabila kehidupan kita dihabiskan dengan kesenangan belaka bahkan hura-hura, pasti akan berakhir dengan penyesalan, jadi bagaimana? Apakah harus menjadi pendiam dan kuper.

 

Allah menghendaki kehidupan kita sedemikian produktif untuk diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Pengkhotbah mengingatkan “Ingatlah penciptamu pada masa mudamu.” Dari sejak masa muda Firman Allah sudah mengingatkan. Tuhan menginginkan kita sebagai anak-anak-Nya yang potensial, produktif akan hal-hal positif.

 

Dalam perjanjian lama diceritakan bahwa Raja Yosia naik tahta pada umur 8 tahun dan pada umur 16 tahun (masih sangat muda) dia mencari Tuhan serta kebenaran-Nya. Karena dia telah mengenal kebenaran Allah, maka dia menghancurkan berhala-hala. Sekarang dalam kehidupan kita berhala-hala bisa dalam bentuk: egois, hawa nafsu duniawi, dan segala sesuatu yang dapat menjadi penghalang pada saat kita mencari dan melakukan kehendak Allah. Maka penghalang- penghalang itu HARUS dihancurkan.

 

2. Menjadi teladan I Timotius 4:12

Jadilah teladan dalam hidup kita sehari-hari. Teladan dalam perkataan yang benar, teladan dalam tingkah laku,       teladan dalam kasih, teladan dalam kesetiaan dan teladan dalam kesucian. Mari kita melihat contoh yang berikut yaitu

tentang Elisa dan Gehazi.

 

Kedua orang ini mempunyai persamaan:

- Persamaan latar belakang karna Elisa dan Gehazi sama-sama orang awam yang terpanggil untuk melayani nabi Allah.

- Persamaan pernah dibimbing oleh seorang yang dipakai Allah secara luar biasa. Elisa dibimbing Elia, Gehazi dibimbing Elisa (I Raja19:16, II Raja 4:12).

- Persamaan menyaksikan mujizat demi mujizat yang Allah nyatakan melalui nabi yang mereka layani.

 

NAMUN… mereka mempunyai perbedaan dalam akhir kisah mereka…perbedaannya adalah:

- Elisa menjadi orang yang dipercaya Allah untuk mengadakan tanda-tanda mujizat, sedangkan Gehazi tidak pernah mengadakan tanda-tanda mujizat.

- Elisa berhati lurus, sedangkan Gehazi berhati bengkok.

- Elisa adalah orang yang berkenan dihati Allah, sedangkan Gehazi tidak….

 

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Karena Gehazi tidak berketetapan untuk setia menjaga hati dan motivasinya.

 

Maka Elisa menjadi teladan bagi umat Tuhan

    Pertama, Setia menjaga panggilan hidupnya.

    Ketika Tuhan memanggil Elisa menjadi pelayan Elia, ia setia menjaga panggilan itu. Elisa setia mengiringi Elia pergi ke Betel, ke Yerikho, bahkan menyeberangi sungai Yordan dan tinggal naik ke sorga. Sehingga dengan kesetiaan itu maka Elisa mendapat dua bagian roh Elia (II Raj 2:9). Sedangkan Gehazi gagal mempertahankan panggilan itu.

    Kedua, memiliki karakter yang baik

    Sejak Elia melemparkan jubahnya kepada Elisa sampai diangkat menjadi abdi Allah, Alkitab tidak pernah menceritakan satupun kecacatan karakter Elisa, sehingga mendukung suksesnya pelayanan Elisa. Sedangkan Gehazi dipenuhi dengan kebohongan dan pengkianatan, sehingga menjadi penghancur kariernya.

    Ketiga, mau mengasah keterampilan dan kemampuan diri (skill)

    Sehingga Elisa menjadi manusia yang unggul, senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus. Sedangkan Gehazi memiliki karakter yang serakah.

 

Ketika Tuhan memanggil Elisa menjadi pelayan Elia, ia setia menjaga panggilan itu. Elisa setia mengiringi Elia pergi ke Betel, ke Yerikho, bahkan menyeberangi sungai Yordan dan tinggal naik ke sorga. Sehingga dengan kesetiaan itu maka Elisa mendapat dua bagian roh Elia (II Raj 2:9). Sedangkan Gehazi gagal mempertahankan panggilan itu.

 

3. Melayani Tuhan

Dengan melayani Tuhan semaksimal mungkin, hari-hari kita terisi dengan aktivitas yang menyenangkan hati Tuhan. Dengan melayani Tuhan maka jebakan untuk terseret arus duniawi dapat kita hindari. Sebab dengan melayani Tuhan maka akan bermental kuat dan hidup sesuai dengan kehendak Allah.

 

TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA…

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 447 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: