MARTURIA

Jumat, 18 Mei 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 5:26-42

5:26. Maka pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil kedua rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka.

5:27 Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka,

5:28 katanya: “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.”

5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

5:30 Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh.

5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.

5:32 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.”

5:33 Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu.

5:34 Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, bangkit dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar.

5:35 Sesudah itu ia berkata kepada sidang: “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini!

5:36 Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap.

5:37 Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya.

5:38 Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap,

5:39 tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.” Nasihat itu diterima.

5:40 Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.

5:41 Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.

5:42 Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.

 

MARTURIA

Kata “saksi” dalam Alkitab bahasa Indonesia kita merupakan terjemahan langsung dari kata bahasa Yunani martus atau martur. Kata ini berarti seseorang yang menyatakan apa yang telah ia lihat, dengar, atau ketahui. Dari kata ini juga berasal kata martyr dalam bahasa Inggris, yang berarti seseorang yang membawa kesaksian melalui kematiannya. Kesaksian dan kemartiran memiliki akar dan sejarah yang sangat erat.

Pada masa kini, istilah “bersaksi” disamakan dengan kegiatan mengkomunikasikan Injil secara pribadi. Pada masa Alkitab, yang salah satu kisahnya kita baca dalam bagian ini, “bersaksi” lebih merupakan pernyataan di muka umum di tengah tantangan dan penganiayaan. Orang-orang percaya ditangkap, dihina, diadili, diancam, disesah, dianiaya. Bukannya susah, mereka justru bergembira boleh menderita karena Kristus (ayat 41). Bukannya berhenti, mereka terus mengajar dan memberitakan Injil, setiap hari (ayat 42). Sejarah mencatat bahwa pengakuan dan pengorbanan orang-orang percaya mula-mula ini sangat mempengaruhi orang-orang pada masa itu. Ketegaran mereka dalam penderitaan juga meneguhkan betapa bernilainya kebenaran yang mereka beritakan. Bisa jadi hal inilah yang kemudian menyebabkan banyak imam juga menyerahkan diri dan percaya (6:7).

Gereja dipanggil untuk melanjutkan menjadi saksi hingga ke ujung bumi, sampai segala suku bangsa menerima pemberitaan Injil kerajaan yang mulia ini. Generasi sebelumnya, para rasul dan gereja mula-mula, telah memberi teladan kesetiaan untuk kita ikuti. Kiranya generasi setelah kita juga akan mendapati kita setia dalam perjuangan dan ketaatan yang sama. –JOO

ORANG MENILAI BERHARGANYA BERITA YANG ANDA BAWAKAN

DARI PENGORBANAN YANG BERANI ANDA BERIKAN.

Dikutip : www.sabda.org

TEMPAT IBADAH VS SARANG PENYAMUN

Jumat, 4 Mei 2012

Bacaan : Yeremia 7:1-15

7:1. Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN, bunyinya:

7:2 “Berdirilah di pintu gerbang rumah TUHAN, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN!

7:3 Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini.

7:4 Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN,

7:5 melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing,

7:6 tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi kemalanganmu sendiri,

7:7 maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya.

7:8 Tetapi sesungguhnya, kamu percaya kepada perkataan dusta yang tidak memberi faedah.

7:9 Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal,

7:10 kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini!

7:11 Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman TUHAN.

7:12 Tetapi baiklah pergi dahulu ke tempat-Ku yang di Silo itu, di mana Aku membuat nama-Ku diam dahulu, dan lihatlah apa yang telah Kulakukan kepadanya karena kejahatan umat-Ku Israel!

7:13 Maka sekarang, oleh karena kamu telah melakukan segala perbuatan itu juga, demikianlah firman TUHAN, dan oleh karena kamu tidak mau mendengarkan, sekalipun Aku berbicara kepadamu terus-menerus, dan kamu tidak mau menjawab, sekalipun Aku berseru kepadamu,

7:14 karena itulah kepada rumah, yang atasnya nama-Ku diserukan dan yang kamu andalkan itu, dan kepada tempat, yang telah Kuberikan kepadamu dan kepada nenek moyangmu itu, akan Kulakukan seperti yang telah Kulakukan kepada Silo;

7:15 Aku akan melemparkan kamu dari hadapan-Ku, seperti semua saudaramu, yakni seluruh keturunan Efraim, telah Kulemparkan.”

 

TEMPAT IBADAH VS SARANG PENYAMUN

Dalam cerita Ali Baba atau dongeng 1001 malam lainnya kerap muncul tokoh penyamun. Para penyamun itu selalu lari ke gua, ke sarangnya, tiap kali selesai merampok. Mengapa? Karena di sarang itu mereka merasa aman dan puas bersenang-senang, sebelum keluar untuk merampok lagi. Mungkinkah rumah ibadah hari ini berpotensi menjadi “sarang penyamun”?

Bacaan kita hari ini menunjukkan Allah yang tidak mau hadir dalam ibadah umat Israel (ayat 3 dan 7). Mengapa? Karena perilaku dan sikap hati mereka seperti penyamun: masuk ke rumah ibadah hanya mencari rasa aman, tetapi tingkah laku mereka tidak pernah berubah (ayat 8-10). Kemungkinan besar para pemimpin di Bait Tuhan memiliki andil besar atas penyalahgunaan ibadah ini sehingga Tuhan menyebut perkataan mereka sebagai dusta (ayat 4, bandingkan dengan pasal 23:16-17). Umat jadi merasa selalu di pihak Tuhan dan diberkati Tuhan meski di luar Bait Tuhan terus mengulang kejahatan (ayat 10). Mengerikan!

Gereja atau persekutuan kristiani bukanlah tempat untuk mencari rasa aman dan berbagai alasan pemaaf untuk kelakuan kita yang jahat. Jika selama ini kita mempraktikkan mental penyamun, mari bertobat! Tuhan berkenan atas umat yang datang dengan gentar dan sesal mengakui segala kebobrokannya, dan mau berbalik memperbaiki hidup bersama-Nya. Mari berdoa agar gereja-gereja di Indonesia dipenuhi dengan makin banyak anak-anak Tuhan yang hidupnya sungguh-sungguh diubahkan oleh Firman dan menjadi agen perubahan di tengah bangsa yang dikenal saleh tetapi masih sarat dengan kejahatan dan malapetaka ini. –ICW

GEREJA DIPANGGIL UNTUK HADIRKAN IBADAH SEJATI:

HIDUP UMAT YANG SESUAI FIRMAN SETIAP HARI.

Dikutip : www.sabda.org

PERSEKUTUAN

Shalom…salam miracle

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, kali ini saya menyampaikan beberapa (lima) prinsip penting dalam gereja dan merupakan petunjuk penting dalam pengetahuan pertumbuhan gereja, baik bersifat umum yaitu suatu organisasi, maupun gereja dalam arti pribadi umat percaya, kelima prinsip tersebut merupakan pelajaran dari Peter Wagner, yang adalah seorang pemimpin yang berwibawa dalam pertumbuhan gereja dan peperangan rohani, sebagai berikut:

  1. DOA
  2. BERKHOTBAH DAN MENGAJAR
  3. PUJIAN PENYEMBAHAN
  4. PERSEKUTUAN
  5. MISI DAN PENGINJILAN

Bagian ke empat adalah PERSEKUTUAN

Saya PERCAYA BAHWA Tuhan memiliki sifat sosial, Tuhan suka bersekutu dengan kita, umat-Nya. Pada dasarnya kita semua juga memiliki sifat seperti itu, sebab kita diciptakan serupa dan segambar Allah. Kita rindu senantiasa bersekutu dengan Tuhan, juga memiliki keinginan untuk bersekutu dengan sesama manusia.

Dalam gereja persekutuan yang indah dapat membantu untuk menutup “pintu yang terbuka”, maksudnya gereja bukan hanya sekedar tempat persinggahan sementara dari jemaat, namun ada sesuatu yang menarik sehingga senantiasa rindu untuk bersekutu. Jika seseorang ke gereja hanya duduk dan menerima, tanpa pernah membangun hubungan dengan para pekerja dan jemaat Tuhan yang lain, maka mereka tidak akan sanggup menanamkan akar atau dapat bertahan di gereja tersebut. Mereka akhirnya hanya akan berkelana dari satu gereja ke gereja yang lain, bahkan meninggalkan gereja.

Persekutuan adalah sebuah aspek penting dari kehidupan gereja. Meskipun begitu, saya percaya persekutuan itu tidaklah harus berupa hubungan rohani yang dalam. Sangatlah penting untuk mengadakan kegiatan-kegiatan santai yang ringan dan menghibur, seperti olahraga bersama, wisata bersama, yang pada intinya suatu kegiatan yang mendukung adanya rasa kekeluargaan. Dalam Kisah Rasul, orang-orang yang percaya Yesus Kristus, mereka bersekutu dan saling menjamu setiap orang dari rumah ke rumah. Segala sesuatu memiliki tempatnya tersendiri. Kehidupan bersama Tuhan lebih dari sekedar berurusan dengan mimbar, kegiatan-kegiatan rohani atau kebaktian-kebaktian gereja. Bila dibutuhkan tempat untuk memperoleh dorongan semangat dan koreksi, persekutuan yang benar dapat menyediakannya. Bila telah tiba waktunya untuk bersenang-senang dan melakukan kegiatan-kegiatan, gereja harus menghasilkan orang yang dapat menyenangkan.

Bagian yang kelima adalah PENGINJILAN DAN MISI.

Seringkali kita menerima ajaran bahwa tiap-tiap orang adalah seorang penginjil dan misionaris. Jemaat secara terus menerus diajar bahwa dunia ini adalah milik Tuhan dan bahwa mereka bebas untuk menjadi duta besar-Nya kemanapun ia pergi. Amanat agung tidak mengatakan “Pergilah kamu supaya dipanggil untuk berdiri di Mimbar”, tetapi Amanat Agung berkata “Pergilah kamu.” Dalam Matius 28:19-20 bukanlah ayat Alkitab yang dapat saudara ambil atau tinggalkan, itu merupakan amanat terakhir yang diberikan Yesus pada gereja-Nya. Jadi amatlah penting bagi umat untuk mengarahkan sebagian dari uang dan waktunya untuk pelayanan misi. Kita semua menjadi senang dengan penuaian jiwa-jiwa pada akhir zaman ini. Tetapi sebelum gereja mengerti bagaimana untuk pergi ke seluruh dunia, maka ia tidak akan mengerti bagaimana menuainya. Setiap orang percaya dipanggil untuk pergi ke dalam dunia dan memenuhi kebutuhan manusia melalui Kristus. Jika jemaat tidak diajarkan bagaimana untuk pergi, mereka tidak akan memahami bagaimana menuai komunitas mereka, bangsa-bangsa atau dunia bagi Yesus Kristus.

Tuhan Yesus memberkati…amien.

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Gembala Sidang

MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Minggu, 26 Desember 2010

Bacaan : 2 Timotius 2:23-26

23Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran,

24sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar

25dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,

26dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Kita sadar ia sudah berdosa karena menikah dengan pasangan yang tidak seiman. Setahun sudah ia meninggalkan gereja, tidak beribadah sama sekali. Pada malam Natal, hatinya rindu untuk kembali mengikuti ibadah Natal. Ia pun pergi ke gereja. Sesampainya di sana, teman-teman yang mengenalnya justru menyambutnya dengan tatapan dingin, curiga, bahkan sinis. “Tumben datang ke gereja, ” sapa seorang rekan dengan nada tak ramah. “Ada konsumsi, sih, ” bisik teman lainnya menyindir. Nita merasa malu dan terpukul. Sejak itu ia tidak mau datang ke gereja lagi.

Dalam hidup bergereja, kita perlu bersabar menghadapi orang yang sedang undur atau melawan kehendak Tuhan. Inilah pesan Paulus kepada Timotius, yang sekaligus juga ditujukan kepada kita. Selama seseorang masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat, kita pun perlu menerimanya dengan kasih. Penghakiman yang kita tunjukkan hanya akan menyudutkan, bahkan menghalangi kuasa Tuhan bekerja. Menutup kesempatan baginya. Sebaliknya, keramahan dan kasih yang tulus membuka ruang dan peluang bagi pertobatan.

Adakah orang yang selama ini Anda anggap sesat, terhilang, atau memberontak pada Tuhan? Sudahkah Anda menunjukkan kesabaran dan keramahan? Ataukah, Anda bersikap dingin dan mengha-kimi? Tuhan Yesus sengaja turun ke dunia agar manusia berdosa punya peluang bertobat. Dia membuka pintu kesempatan. Itulah inti berita natal. Pada masa natal ini, tunjukkanlah kesabaran dan keramahan agar pintu-pintu kesempatan terbuka. Natal kita pun akan penuh makna –JTI

PENGHAKIMAN AKAN MENJERAT DAN MELUMPUHKAN

PENERIMAAN AKAN MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Sumber : www.sabda.org

MAGNET KRISTUS

Minggu, 12 Desember 2010

Bacaan : Filipi 2:1-8

1Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

3dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

4dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

5Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

6yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

7melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

MAGNET KRISTUS

Bayangkan Anda memiliki butir-butir kelereng dalam kantong plastik. Butir-butir kelereng itu bersatu karena berada dalam wadah yang sama. Namun, saat plastiknya robek, segera saja butir demi butir kelereng itu berjatuhan dan tercerai-berai. Bandingkan dengan apabila Anda memiliki magnet. Saat Anda mendekatkannya dengan serbuk besi, maka serbuk itu akan melekat pada magnet. Dua benda itu bersatu bukan karena berada dalam wadah yang sama, melainkan karena ditarik oleh kekuatan daya tarik magnet.

Anggota-anggota jemaat di Filipi berasal dari berbagai latar belakang kehidupan. Ada Lidia, perempuan Yahudi dan pengusaha yang kaya (Kisah Para Rasul 16:14); ada budak perempuan-kemungkinan orang Yunani (16:16); ada pula kepala penjara-bisa jadi orang Romawi (16:25-36). Rasa-nya sulit membayangkan mereka berkumpul dalam wadah yang sama-seperti kelereng tadi. Kalaupun bisa, kemungkinan besar akan sangat sulit bagi mereka untuk tetap bersatu. Sedikit gesekan saja dapat berpotensi memecahkan kesatuan mereka.

Surat Paulus memperlihatkan kondisi kesatuan mereka yang sesungguhnya: “dalam Kristus”. Kristus-lah “magnet” yang menarik dan melekatkan mereka. Mereka diikat melalui hubungan mereka dengan Kristus, bukan oleh kesamaan-kesamaan lahiriah. Kesatuan mereka semakin kuat ketika mereka masing-masing menanggalkan keegoisan dan menjadi semakin serupa dengan Kristus. Di gereja kita juga bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang. Bagaimana kesatuan di antara kita-seperti kelereng dalam kantung plastik atau serbuk besi yang melekat pada magnet? –ARS

TANGGUNG JAWAB ORANG KRISTIANI IALAH MENERIMA SATU SAMA LAIN

SEBAGAIMANA KRISTUS TELAH MENERIMA KITA MASING-MASING

Sumber : www.sabda.org

Yesus Selalu Mengingat

Shalom…salam miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati Tuhan, dalam Mazmur 37:23-24 menyatakan “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak; sebab Tuhan menopang tangannya.

 

Allah adalah Allah yang mampu melakukan segala sesuatu dan tidak pernah akan gagal, sebab Dialah sumber keberhasilan. Tetapi bagaimana dengan kenyataan kehidupan kita yang disebut “anak-anak Tuhan”. Kenyataan dalam kehidupan kita sering menunjukkan kegagalan atau ada saat-saat dimana kita gagal. Yesus tidak pernah gagal, namun Yesus memperhitungkan kegagalan. Itulah sebabnya Ia dengan penuh kasih berkata “apabila ia jatuh, tidak sampai tergeletak; sebab Tuhan menopang tangannya!”.

 

Cobalah bertanya kepada olahragawan atau pelari yang sedang bertanding, dalam beberapa detik bisa membuat kegagalan untuk meraih kemenangan di atas garis finish. Hal ini juga sering terjadi dalam pelayanan seorang pendeta.

 

Suatu kali ada seorang pendeta yang mengakui bahwa telah melakukan yang terbaik yang mampu ia lakukan, ia telah menyemangati jemaat untuk semakin dekat dengan Tuhan dengan tidak meninggalkan persekutuan dan ibadah, melakukan banyak kegiatan kerohanian, namun jumlah kehadiran dalam gereja tidak bertambah atau banyaknya kursi yang kosong. Kemudian ia dikuatkan oleh hamba Tuhan yang lain bahwa yang terbaik adalah telah coba melakukannya, sebab kegagalan sesungguhnya adalah terletak pada tidak mencoba.

 

Dalam pandangan Alkitab yang berasal dari Firman Allah bahwa menang dapat dilihat dalam kesetiaan, ketaatan, dan semangat untuk melanjutkan. Anak-anak Allah memiliki kelebihan yang dunia tidak miliki. “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita” Roma 8:37. Kita bukanlah pemenang-pemenang biasa, namun lebih daripada pemenang. Ini memberi kita semangat untuk bergerak maju. Hanya sedikit yang sudah belajar untuk memberi diri mereka hak untuk jatuh dan gagal. Hampir segala sesuatu dalam kehidupan kita berpotensi memiliki kekalahan, kegagalan, ketidakberuntungan. Mengalami penolakan, jatuh, gagal, mencapai tujuan, tidak mencapai target, membiarkan dosa terjadi merupakan suatu tumpukan kegagalan yang dapat menjadi dasar dimana kita dapat dengan semangat untuk mendirikan dan membangun kembali. Kemenangan dalam pengalaman-pengalaman kegagalan dari kehidupan bertujuan meneguhkan kepenuhan kita di dalam Kristus.

 

Allah tidak menjanjikan suatu kesuksesan yang mudah dan penuh. Allah menjanjikan kemenangan bahkan di dalam kehidupan yang gelap.

 

Sebagai hamba Tuhan, Saya menyadari bahwa rencana-rencana dan pemikiran-pemikiran Saya tidak selalu berada dan sesuai dengan waktu yang telah Allah tentukan, “Sebab pikiran-Ku bukanlah pikiranmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku…seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55:8-9, Saya harus belajar seperti yang Rasul Paulus katakan dan lakukan, “Menawan segala pikiran dan menaklukkan kepada Kristus.” 2 Korintus 10:5.

 

Saya memiliki mimpi dan cita-cita ketika memulai pelayanan penggembalaan 2,5 tahun yang lalu, yaitu membangun Gereja di pinggir jalan di sekitar kota Tarakan, yang mudah dijangkau oleh umat Tuhan. Gereja itu diperuntukkan untuk kemuliaan Tuhan, dan sebuah simbol kepada masyarakat bahwa banyak umat Tuhan berdoa dua puluh empat jam sehari. Saya merasa ada suatu harapan ketika orang-orang melewati gereja di daerah kampung Bugis itu akan melihat Gereja dengan salibnya, dan mengetahui bahwa Gereja itu melambangkan kehadiran Allah. Saya sampaikan mimpi ini kepada pengurus Gereja dan umat Tuhan, mereka senang. Banyak yang memberi dukungan melalui doa dan juga keuangan, sampai saat ini kadang saya terkagum-kagum karena kebaikan Tuhan melalui banyak anak-anak Tuhan yang memberkati, baik dari orang tua, anak muda, bahkan anak-anak sekolah minggu. Bukti bahwa Allah senantiasa ingat kepada umatnya.

 

Saya mengetahui ada seorang anak Tuhan yang telah memberikan persembahan pembangunan gereja, walaupun secara materi/finansialnya di mata kebanyakan orang “bukan orang berada”, namun saya melihat dia memiliki suatu kekayaan yang luar biasa, saya tahu dia dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat. Saya percaya Tuhan Yesus pasti memberi pertolongan dan hikmat kepada kita semua sampai selesainya pembangunan gedung gereja tersebut.

 

Kitab 2 Samuel memuat kisah rumah impian raja Daud, temannya telah menyediakan tempat yang megah bagi Daud dan keluarganya untuk tempat tinggal. Lalu Daud menyadari bahwa tidak ada tempat bagi tabut perjanjian. Ia bertekad untuk mendirikan rumah “yang jauh lebih indah” bagi Allah. Di dalamnya akan ada tempat yang dirancang khusus untuk tabut tersebut…luar biasa. Ia mendatangkan tukang-tukang terbaik dan merancang menggunakan bahan kuat dan terbaik. Daud membagikan visinya yang indah akan suatu tempat bagi rumah Allah kepada Natan, sang nabi, seorang yang sangat istimewa dan penasehat.

 

Ketika saya memiliki visi untuk membangun gedung Gereja banyak yang memberikan dorongan “Ayo pak maju terus”, “Mari kita lakukan”, “Jangan menyerah Pak…pasti jadi..!”. Karena sempat beberapa waktu yang lalu mengalami kebimbangan terhadap proyek pembangunan ini terutama bagaimana dengan dananya, namun saya percaya Tuhan Yesus selalu ingat akan anak-anak-Nya. Allah sanggup melakukan segala perkara besar dan memakai siapa saja yang Allah kehendaki. Dari hal itu mari dukung doa terus buat pembangunan gedung Gereja dan pelayanan kita.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien.

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

GEREJA DAN OTORITAS

PESAN GEMBALA

16 MEI 2010

GEREJA DAN OTORITAS

Shallom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati, dalam Perjanjian Lama penyembahan selalu berpusat di Tabernakel, Bait Allah atau Sinagoge, tidak ada Gereja seperti yang sekarang ini. Ketika pertama kali Yesus menyebutkan Gereja, Dia juga menyingkapkan tiga hal yang merupakan ciri khasnya di atas fungsinya yang lain. Gereja didirikan oleh Yesus. Gereja harus menang menghadapi lawan dan menang terhadap pintu gerbang alam maut. Gereja memiliki kuasa untuk mengikat dan melepaskan.

Matius 16:13-18 mengatakan “Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”Jawab mereka:”Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang Sorga dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Petrus mengetahui dari pewahyuan Allah sendiri bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Putera Allah. Inilah kebenaran dimana Gereja dibangun di atasnya.

Karateristik pertama dari Gereja adalah bahwa Yesus yang akan membangunnya. Gereja tidak dibangun oleh manusia, oleh tradisi ataupun program manusia.

Karakteristik kedua adalah bahwa pintu gerbang alam maut tidak akan menguasainya. Dalam The Amplified Bible kita mendapatkan bacaan seperti berikut: “Saya akan mendirikan Gerejaku dan pintu gerbang alam maut (kuasa neraka) tidak akan menguasainya, atau kuat menghadapi gangguan atau bertahan terhadapnya.” Dan Gereja mempunyai kuasa untuk mengikat dan melepaskan “kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di Sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di Sorga.” (Matius 16:19).

Ada 3 (tiga) hal yang menarik tentang Gereja dan sejak waktu pertama kali Yesus menyebutkan istilah itu:

  1. Gereja akan didirikan oleh Yesus berdasarkan pewahyuan dari Bapa, bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup.
  2. Pintu gerbang alam maut tidak akan dapat bertahan terhadap Gereja.
  3. Gereja akan diberikan kunci Kerajaan Sorga dan mempunyai kuasa untuk mengikat dan melepaskan.

Kita telah memperlihatkan bahwa kunci apat diibaratkan sebagai otoritas di bumi ini. Kunci-kunci yang dapat mengunci ataupun membuka pintu-pintu gerbang yang telah kita lihat merupakan pemerintahan atas kesatuan apapun, apakah itu manusia, keluarga, lembaga, kota, bangsa maupun negara. Inilah kunci otoritas yang Allah berikan kepada manusia pada saat Dia menciptakan pria dan wanita di dalam gambar-Nya. Dalam Kejadian 1:26, “berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap dibumi.”. Inilah kunci yang dimaksudkan Allah untuk digunakan untuk kebaikan di bumi ini, akan tetapi, ketika Adam dan Hawa berdosa, mereka menyerahkan kunci itu kepada Setan yang telah datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan. Kunci otoritas di bawah kontrol Setan menjadi kuci dan alam maut… “Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.” (Wahyu 1:8). Inilah kunci otoritas yang Yesus rebut dari Iblis setelah Dia membebaskan dosa-dosa kita sampai ke alam maut. Ketika Yesus datang mendobrak pintu gerbang alam maut dengan berkemenangan, Dia mengambil kunci otoritas ini dari setan. Setan tidak lagi mempunyai otoritas yang sah di muka bumi ini. Kunci ini adalah otoritas yang Yesus pulihkan bagi manusia sebagai ciptaan yang baru setelah kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya kepada Bapa di Surga. Sejak kunci ini dipulihkan bagi pemiliknya yang asli di bumi ini, kunci itu tidak lagi disalahgunakan sebagai kunci maut dan alam maut. Sekarang kunci itu dikenal sebagai kunci Kerajaan Sorga. “Kepadamu akan kuberikan kunci Kerajaan Sorga, Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di Sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di Sorga.” (Matius 16:19).

Dengan kunci ini kita bisa menegakkan kehendak Allah dan kerajaan Allah di atas bumi ini. Ini adalah kemenangan yang Yesus ajarkan kepada murid-murd-Nya untuk didoakan, dalam Matius 6:9-10 “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di Sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga.” Sebagai tubuh Kristus, kita menggunakan kunci otoritas yang Allah berikan menurut kehendak-Nya, dan dengan demikian membangun kerajaan Allah di atas bumi ini.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

DOA ANAK BANGSA

Kamis, 8 April 2010

Bacaan : Nehemia 1:1-11

1:1. Riwayat Nehemia bin Hakhalya. Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, ketika aku ada di puri Susan,

1:2 datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa orang dari Yehuda. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem.

1:3 Kata mereka kepadaku: “Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.”

1:4 Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit,

1:5. kataku: “Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya,

1:6 berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.

1:7 Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.

1:8 Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.

1:9 Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.

1:10 Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat?

1:11 Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.” Ketika itu aku ini juru minuman raja.

DOA ANAK BANGSA

Teks Indonesia Raya karya W.R. Soepratman pertama kali dipublikasikan pada tahun 1928 oleh surat kabar Sin Po. Naskah aslinya terdiri dari tiga bait. Namun, kita biasa menyanyikan bait pertamanya saja yang menyorakkan kemerdekaan. Padahal bait kedua dan ketiga memiliki isi yang begitu penting bagi kelanjutan bangsa ini. Yakni mengajak seluruh masyarakat berdoa bagi Ibu Pertiwi. Berikut adalah cuplikan bait kedua:

Indonesia! Tanah yang mulia,
tanah kita yang kaya.
Di sanalah aku berada
untuk s\’lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka,
pusaka kita semuanya.
Marilah kita berdoa, “Indonesia bahagia!”

Hari ini kita belajar dari Nehemia. Ketika ia mendengar berita tentang bangsanya yang porak poranda, ia segera berpuasa dan berdoa. Ia berkabung untuk bangsanya yang mengalami kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Ia pun mengakui dosa diri dan keluarganya, meski ia bukanlah penyebab kesukaran bangsanya. Nehemia adalah seorang pemimpin yang selalu berdoa. Ia mengenal Tuhan secara dekat. Pengenalan ini mendorongnya untuk berani berdoa bagi bangsanya. Ia pun setia menanti jawaban Tuhan.

Mari kita belajar menjadi Nehemia bagi bangsa ini. Bukan terus-menerus mengkritik, tetapi setia berdoa dan berpuasa bagi negeri ini. Mari kita sehati berdoa bagi Indonesia, karena negeri ini merdeka bukan karena kebetulan. Kita diselamatkan oleh Tuhan untuk menjadi para pendoa yang setia bagi Indonesia. Mari kita mulai dari gereja tempat kita beribadah dan melayani. Mari kita mulai sejak sekarang, tak ada kata tunda -BL

MARILAH KITA BERDOA, “INDONESIA BAHAGIA!”

Sumber : www.sabda.org

Kerajaan Sorga

PESAN GEMBALA

13 DESEMBER 2009

EDISI 104 TAHUN 2

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati Tuhan. dalam Matius 4:17, Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat”. Juga dalam Matius 9:35, “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” Jadi sejak awal pelayanan, Tuhan Yesus sudah memberitakan tentang hadirnya Kerajaan Sorga di bumi. Dari hal tersebut maka Injil yang Dia sampaikan disebut juga sebagai Injil Kerajaan. Dia ingin menghadirkan kerajaan-Nya di muka bumi, dimana Tuhan sendiri sebagai raja di atas segala raja.

Bagaimanakah wujud dan ciri-ciri Kerajaan Tuhan di bumi ini?

Berdasarkan Firman Tuhan di atas ada 3 karakteristik utama dari Kerajaan Sorga:

  1. Kerajaan Tuhan memiliki kehidupan rohani/ spritual

Ciri pertama dari Kerajaan Tuhan adalah setiap orang memiliki kehidupan rohani atau spritual yang baik dengan mengalami pertobatan hidup, yaitu meninggalkan dosa-dosanya dan menerima anugerah keselamatan serta pengampunan dari Tuhan Yesus. Karena syarat untuk dapat masuk dan menjadi warga kerajaan-Nya adalah mengalami kelahiran kembali di dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:3). Di dunia ini hanya ada 2 jenis kerajaan, yaitu kerajaan Tuhan (Kerajaan Terang) dan kerajaan Iblis (Kerajaan Kegelapan). Dan seluruh manusia telah tertawan oleh Kerajaan Iblis. Tetapi Kristus datang untuk membebaskan dan melepaskan manusia dari cengkeraman Kerajaan Iblis serta membangun kerajaanNya di bumi ini dengan wargaNya yang telah ditebus oleh darah-Nya serta mengalami pertobatan. Harus ada perbedaan yang nyata antara kehidupan warga Kerajaan Tuhan dan Kerajaan Iblis, ialah setiap warga Kerajaan Tuhan  memiliki kehidupan yang bertobat terus menerus. Tidak lagi kompromi dengan dosa, serta membenci perbuatan-perbuatan Iblis. Dalam I Yohanes 3:8 dikatakan bahwa barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.

2. Kristus memiliki otoritas dan berdaulat penuh dalam kerajaan-Nya

Di dalam Kerajaan Tuhan, maka Kristuslah sebagai pemenang otoritas tertinggi dan berdaulat penuh. Dengan demikian, setiap warga Kerajaan Tuhan harus tunduk kepada perintah-perintah Tuhan Yesus serta berpegang kepada perjanjian-Nya. Tunduk dan taat kepada Kristus adalah ciri dan kunci warga Kerajaan Tuhan di bumi. Ketaatan mendatangkan berkat, sedangkan ketidaktaatan mendatangkan hukuman. Mengakui otoritas dan kedaulatan Tuhan, juga berarti bahwa umat-Nya mempercayai sepenuhnya apa yang Dia perintahkan dan Dia janjikan. Tidak ada keraguan ataupun kebimbangan. Kalau umat-Nya ingin melihat Kerajaan Tuhan hadir di Indonesia, maka setiap umat Tuhan harus menjadi orang-orang yang bersedia untuk taatt dan tunduk kepada otoritas dan kehendak Kristus dalam hidupnya. Mulai dari para pemimpin sampai kepada anggota jemaat harus memiliki ketaatan yang sama kepada perinta-perintah-Nya. Di setiap aspek kehidupan Tuhan berdaulat dan berotoritas.

3. Kerajaan Tuhan memiliki kehidupan yang sejahtera dan berkelimpahan

Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 10:10, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mepunyainya dalam segala kelimpahan.”

Kehidupan dalam Kerajaan Tuhan harus mempunyai standar dan kualitas yang terbaik dibandingkan kehidupan yang ditawarkan oleh Kerajaan Iblis. Itulah sebabnya, Tuhan memerintahkan umat-Nya agar mendatangkan kesejahteraan bagi kota dimana mereka tinggal (Yeremia 29:7). Tuhan menginginkan di dalam KerajaanNya tidak ada orang miskin, tidak ada kejahatan, tidak ada keadilan, hukum ditegakkan, tidak ada suap dan korupsi, sehingga KerajaanNya disebut sebagai Kerjaan Kekal dan Rajanya Damai (Daniel 7:14; Yesaya 9:5-6).

Gereja Tuhan adalah wakil kerajaanNya di muka bumi. Merupakan suatu tugas terhormat bagi gereja untuk mewujudkan Kerajaan Tuhan di Indonesia ini. Mari kita bergandengan tangan dan bekerjasama dengan sungguh-sungguh agar visi Kerajaan Tuhan itu segera terwujud. Itulah panggilan kita semua. Datanglah KerajaanMu ya Tuhan.

Dalam kesempatan ini juga saya sampaikan untuk terus dukung dan doakan PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA KITA.

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

PROMOSI BURUK

Jumat, 4 Desember 2009

Bacaan : Kolose 3:12-17

3:12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

PROMOSI BURUK

Di sebuah gereja terjadi perselisihan tajam. Masalahnya sederhana. Paduan Suara A dijadwalkan mengisi pujian sesudah khotbah di kebaktian Minggu. Namun, rupanya ada salah komunikasi. Pada Minggu itu ternyata ada Paduan Suara tamu yang akan membawakan dua pujian, sebelum dan sesudah khotbah. Setelah berunding, diputuskan Paduan Suara A digeser mengisi pujian sebelum Doa Syafaat. Beberapa angota Paduan Suara A tidak terima, merasa tersinggung, lalu “meledak”. Sampai ada yang mundur dari pelayanan, bahkan yang pindah gereja.

Perselisihan di gereja tidak jarang dipicu dan dipacu oleh masalah kecil. Namun, karena disikapi dengan kekerasan hati, tidak mau mengalah, prasangka buruk, dan sikap egoistis, akhirnya menjadi masalah besar yang menguras waktu, tenaga, pikiran, dan perasaaan. Padahal, seperti dikatakan oleh Paulus, “Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu” (1 Korintus 6:7). Dengan kata lain, kalau orang-orang di dalam gereja berantem, tidak ada yang akan diuntungkan. Malah yang rugi gereja sendiri; persekutuan jemaat jadi terganggu, sukacita melayani hilang, dan keluar juga jadi promosi buruk.

Maka, penting sekali untuk kita kembali ke identitas kita sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasih-Nya (ayat 12). Dan hidup berpadanan sesuai identitas tersebut, yaitu dengan menunjukkan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Kiranya damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, sehingga kita dijauhkan dari segala pikiran dan perasaan yang tidak membangun –AYA

JANGAN BIARKAN IBLIS MENGACAK-ACAK PERSEKUTUAN JEMAAT

MELALUI PIKIRAN DAN PERILAKU BURUK KITA

Sumber : www.sabda.org

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 447 pengikut lainnya.