ALTRUISTIS

Jumat, 28 Mei 2010

Bacaan : Keluaran 32:30-35

32:30. Keesokan harinya berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu.”

32:31 Lalu kembalilah Musa menghadap TUHAN dan berkata: “Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka.

32:32 Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu–dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.”

32:33 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.

32:34 Tetapi pergilah sekarang, tuntunlah bangsa itu ke tempat yang telah Kusebutkan kepadamu; akan berjalan malaikat-Ku di depanmu, tetapi pada hari pembalasan-Ku itu Aku akan membalaskan dosa mereka kepada mereka.”

32:35 Demikianlah TUHAN menulahi bangsa itu, karena mereka telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun itu.

ALTRUISTIS

Gajah Mada terkenal dengan Sumpah Palapa yang ia ucapkan. Ia tidak akan makan buah Palapa sebelum nusantara dipersatukan. Tentu saja maksudnya bukanlah makan buah Palapa secara harfiah. Sumpah itu berasal dari sebuah tekad bahwa ia tidak akan bersenang-senang sebelum cita-cita mempersatukan nusantara tercapai. Gajah Mada bertekad melupakan kepentingan diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu yang besar bagi negerinya.

Musa adalah orang yang mengutamakan umat yang dipimpinnya lebih dari diri sendiri. Dalam doanya kepada Tuhan, ia rela kehilangan namanya di buku kehidupan. Terhapusnya nama Musa bisa berarti kebinasaan baginya. Namun, ia rela asal Tuhan mengampuni umat Israel yang telah berdosa kepada Tuhan. Musa melupakan dirinya dan mengutamakan orang yang dipimpinnya. Dengan sukarela ia mengambil risiko yang besar untuk kepentingan Israel, yaitu menukarkan keselamatannya dengan keselamatan Israel. Luar biasa. Sebagai pemimpin, ia justru menempatkan kepentingannya di belakang kepentingan orang yang dipimpinnya.

Kebesaran jiwa seperti Musa adalah sebuah watak mulia yang perlu dimiliki setiap orang kristiani. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mementingkan diri sendiri. Ketika seseorang mulai keluar dari pikiran mementingkan diri sendiri kemudian belajar untuk berjuang demi kepentingan orang lain, ia adalah orang yang “besar”. Sesungguhnya, jika hari ini kita mulai belajar menerapkan prinsip mengutamakan orang lain, dunia ini akan semakin dipenuhi manusia-manusia berjiwa besar. –DBS

SEORANG YANG BERJIWA BESAR

ADALAH IA YANG BELAJAR BERJUANG BAGI SESAMANYA

Sumber : www.sabda.org

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 447 pengikut lainnya.