Sindrom Mesias

Rabu, 10 September 2008

 

Bacaan: Matius 18:1-5

18:1. Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”

 

18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka

 

18:3 lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

 

18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.

 

18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

 

 

SINDROM MESIAS

Milton Rokeach, seorang psikolog merasa kewalahan menyembuhkan tiga pasiennya yang menderita ”sindrom Mesias”. Mereka menganggap dirinya sebagai penyelamat dunia. Sulit sekali menyadarkan ketiganya tentang siapa mereka sebenarnya. Suatu kali, mereka bertiga diajak berdiskusi dalam suatu terapi kelompok. Orang pertama berkata,” Akulah Mesias, anak allah yang diutus menyelamatkan dunia.” ”Bohong! Dari mana kamu tahu?” bantah orang kedua. ”Tuhan berbicara kepadaku,” jawab orang pertama. Tiba-tiba orang ketiga berseru:” Siapa bilang? Aku tak pernah berkata begitu kepadamu!”

 

Para murid Yesus pun pernah mengalami sindrom Mesias saat mereka mempersoalkan siapa di antara mereka yang terbesar. Tiap-tiap orang merasa paling unggul, paling layak, paling berjasa, atau paling rohani. Yang diincar bukan lagi pelayanan, tetapi keuntungan. Itu sebabnya Yesus meminta mereka agar bertobat dan menjadi seperti anak kecil. Seorang anak tidak memedulikan status atau gengsi. Ia mengakui dirinya tak berdaya dan bergantung sepenuhnya pada orang lain. Inilah kerendahan hati sejati. Jika ingin masuk ke dalam kerajaan surga, seseorang tak boleh merasa dirinya berjasa.

 

Sindrom Mesias bisa juga terjadi di gereja. Banyak konflik terjadi karena orang saling bersaing, berebut kuasa, atau merasa dirinya hadir sebagai ”penyalamat”. Yang senior berkata, ”karena sayalah, gereja ini berdiri!” yang yunior berkata,” Kamilah  pembaru gereja. Tanpa kami, gereja ini sudah mati ditelan tradisi!” Berhati-hatilah! Ketika kita membangun kerajaan kita sendiri, bisa-bisa kita semakin jauh dari kerajaan-Nya -JTI

Iklan