Tujuan Berpakaian

Sabtu, 29 November 2008

Bacaan : Kejadian 3:9-21

3:9. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”

 

3:10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

 

3:11. Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”

 

3:12 Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

 

3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

 

3:14. Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.

 

3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

 

3:16. Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”

 

3:17. Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:

 

3:18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;

 

3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”

 

3:20. Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

 

3:21. Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.

 

Tujuan Berpakaian

Pakaian adalah bagian dari budaya manusia di seluruh dunia. Tak heran bila pameran model baju menjadi industri yang luar biasa besar. Cara manusia berpakaian pun berevolusi. Khususnya sejak abad ke-20. Sebelumnya, hampir tak ada orang yang berani memakai bikini. Namun sesudah masa itu, khususnya setelah filosofi kebebasan dikumandangkan di Barat, cara orang berpakaian berubah total. Banyak orang berpakaian “seadanya” dan menyebutnya mode. Orang kristiani pun tidak luput menggunakan pakaian seadanya ketika pergi ke gereja.

Mungkin kita tak pernah merenungkan, apa tujuan Tuhan memberi kita pakaian. Kejadian 3:21 memberikan dasar penting tentang alasan adanya pakaian. Tuhan mengorbankan binatang, dan memberikan kulitnya untuk menutupi ketelanjangan manusia. Ketika manusia berdosa, Tuhan berinisiatif menolong. Sekilas, hal pakaian mungkin merupakan topik yang terlalu biasa dalam hidup sehari-hari. Namun, cara kita berpakaian secara tak langsung menunjukkan apresiasi kita kepada Allah yang penuh kasih, yang tak mau kita dipermalukan karena dosa itu.

Sebagai orang kristiani, kebanyakan kita tidak terlalu memusingkan cara berpakaian di zaman ini, karena budaya populer seakan-akan lebih menguasai kita. Mari perhatikan bagaimana kita berpakaian. Adakah Anda merasa rendah diri karena pakaian yang sederhana? Tidak perlu. Apakah Anda menjadi sombong karena bisa membeli pakaian mahal? Jangan lupakan tujuan Tuhan memberi kita pakaian. Berpakaianlah secara pantas, sehingga melaluinya kita terus diingatkan bahwa Tuhan memberikannya demi menutupi keberdosaan kita -BL

 

 

Keong Mas

Jumat, 28 November 2008

Bacaan : Lukas 19:1-10

19:1. Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.

 

19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

 

19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

 

19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

 

19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

 

19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

 

19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

 

19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

 

19:9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.

 

19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

 

Keong Mas

keong-masKeong mas adalah salah satu jenis hama padi yang sering merugikan para petani di Indonesia. Tak heran binatang ini dibenci banyak orang. Namun ternyata jika diolah dengan benar, keong mas punya potensi untuk diubah dari hama yang merugikan menjadi bahan makanan berprotein tinggi.

Hampir seperti keong mas yang dibenci para petani, Zakheus adalah seseorang yang tidak disukai masyarakat. Ia dianggap telah merugikan masyarakat dengan cukai yang ia tarik. Tak heran orang-orang menjauhi Zakheus, bahkan mengecapnya sebagai seorang pendosa (ayat 7). Akan tetapi bagi Yesus, Zakheus adalah seseorang yang berpotensi untuk menjadi berkat bagi banyak orang jika “diolah” dengan benar. Karena itu Dia menyempatkan diri untuk mengunjungi Zakheus (ayat 5). Dan sentuhan Yesus ini berhasil mengubah Zakheus secara drastis, sehingga ia berubah menjadi berkat bagi masyarakat (ayat 8).

Dalam bergereja dan bermasyarakat, terkadang ada orang-orang yang seperti Zakheus. Sebetulnya mungkin mereka tidak pernah bermusuhan secara pribadi dengan kita. Hanya, cara hidup, cara berpikir, tingkah laku, karakter, atau sifat mereka sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Jadi terkesan nyentrik dan menjengkelkan.

Namun, acap kali orang-orang semacam ini memiliki potensi istimewa untuk menjadi berkat seperti Zakheus. Sebagai sesama mereka, yang perlu kita lakukan adalah melihat potensi itu dan menolong mereka untuk memunculkannya. Dan akhirnya, membimbing mereka untuk bertemu dengan Allah, yang berkuasa mengubahkan hidup -ALS

Jangan Menindas

Kamis, 27 November 2008

Bacaan : 1Raja 21:1-19

21:1. Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria.

 

21:2 Berkatalah Ahab kepada Nabot: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang.”

 

21:3 Jawab Nabot kepada Ahab: “Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!”

 

21:4 Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: “Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku.” Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.

 

21:5. Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: “Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?”

 

21:6 Lalu jawabnya kepadanya: “Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu.”

 

21:7 Kata Izebel, isterinya, kepadanya: “Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu.”

 

21:8 Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot.

 

21:9 Dalam surat itu ditulisnya demikian: “Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat.

 

Jangan Menindas

7980_3d_digital_clarity_5Theodor Seuss Geisel, pengarang buku cerita anak-anak terkenal, pernah menulis cerita tentang seekor kura-kura bernama Yertle. Yertle adalah raja kura-kura di sebuah kolam yang aman dan damai. Setiap hari ia duduk di takhtanya, yakni sebuah batu di tengah kolam. Suatu saat ia berpikir, andai takhtanya lebih tinggi, tentu ia dapat melihat banyak hal yang indah di luar kolam.

Yertle mendapat akal. Ia memerintahkan sembilan ekor kura-kura untuk saling menaiki punggung, sehingga tersusun tinggi ke atas. Lalu ia naik ke punggung kura-kura paling atas dan melihat pemandangan yang luas dari tempat tinggi. Mack, kura-kura yang berada paling bawah, mengeluh kesakitan. Namun, Yertle tidak peduli. Ia terus memerintah supaya jumlah tumpukan kura-kura ditambah. Sampai akhirnya, jumlah kura-kura yang bertumpuk adalah 5.816 ekor. Ketika itulah Mack bersendawa. Lalu bergoyanglah kura-kura lain di atasnya. Akibatnya, Yertle yang berada di ketinggian jatuh terperosok ke dalam lumpur dan mati.

Hikmah cerita di atas adalah, apabila kita memiliki kekuasaan; entah sebagai majikan di rumah, atasan di kantor, ataupun pejabat di pemerintahan-jangan mempergunakannya untuk menindas orang lain. Bisa-bisa kita sendiri yang menanggung akibatnya. Kekuasaan bukan warisan yang dapat digunakan seenaknya, tetapi titipan Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan. Tuhan tidak suka dengan sikap para pemegang kekuasaan yang sewenang-wenang. Ingatlah bagaimana Dia sangat marah kepada Raja Ahab yang dengan kekuasaannya berbuat sewenang-wenang terhadap Nabot (ayat 19) -AYA

Diam dan Tenanglah

Rabu, 26 November 2008

Bacaan : Markus 4:35-41

4:35. Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.”

 

4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

 

4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

 

4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

 

4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

 

4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

 

4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

 

Diam dan Tenanglah

diam-dan-tenanglah

Angin topan merupakan salah satu peristiwa dahsyat di bumi kita. Siapa yang tidak takut jika angin topan terjadi? Perbedaan tekanan udara yang ekstrem menjadi penyebab munculnya angin topan. Bahkan para pengamat topan mengatakan bahwa energi dalam sebuah angin topan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan tenaga listrik di Amerika Serikat selama tiga sampai empat tahun. Begitu kuat dan dahsyat. Namun, kekuatan yang kita pandang begitu dahsyat itu nyatanya tak ada apa-apanya di hadapan Allah kita. Lihatlah, bagaimana Yesus cukup berkata, “Diam! Tenanglah!” (ayat 39), maka badai itu segera reda, air pun segera menjadi tenang.

Terkadang ada “angin topan” masalah yang seolah-olah juga begitu besar menyerang kita, dan rasanya tak ada cukup daya yang kita miliki untuk menahannya. Barangkali berupa masalah kesehatan, pengkhianatan, impian yang hancur, dan sebagainya. Dalam kondisi demikian, kita mesti berhati-hati supaya jangan dibutakan oleh kekecewaan hingga memercayai naluri atau ramalan. Kita juga harus menguatkan diri agar tidak terpaku dalam ketakutan, dan mengingat bahwa Yesus ada dalam perahu hidup kita.

Sebagaimana topan tunduk kepada Allah kita, demikian pula setiap topan masalah kita pun pasti mampu Dia taklukkan. Berlindunglah di dalam Yesus. Dia akan memberi Anda kekuatan, sehingga Anda dapat bertahan di tengah badai sampai Dia meredakannya. Ketika Anda memercayai kuasa Allah, damai sejahtera-Nya akan menjauhkan Anda dari rasa panik; dan kuasa-Nya akan menyelamatkan Anda -MNT

Hadiah yang Unik

Selasa, 24 November 2008

Bacaan : 1Korintus 12:1-11

12:1. Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya.

 

12:2 Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.

 

12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.

 

12:4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.

 

12:5 Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.

 

12:6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

 

12:7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.

 

12:8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.

 

12:9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.

 

12:10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

 

12:11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

 

Hadiah yang Unik

hadiahSaya pernah mendapat hadiah unik berupa lima ratus keping puzzle. Tentu saja kado ini tidak siap pakai. Supaya bisa membentuk gambar yang indah, saya harus menyusun lima ratus kepingan itu di tempat yang tepat. Menyusunnya tidaklah mudah dan memakan waktu lama, sebab setiap keping itu tampak serupa walau sesungguhnya masing-masing unik. Baru setelah tersusun rapi, saya puas melihat gambar indah yang terbentuk.

Roh Kudus memberi kita karunia. Kata “karunia” berarti kado atau hadiah. Kado itu “tidak siap pakai”. Roh Kudus sengaja memberi karunia yang berbeda-beda kepada setiap orang; yang satu diberi karunia bermain musik, yang lain diberi karunia mengajar, karunia berorganisasi, karunia kemurahan hati, dan sebagainya. Tak seorang pun punya karunia yang lengkap. Karunia itu tak dapat dipakai sendiri karena ia diberikan “untuk kepentingan bersama” (ayat 7). Jadi, setiap kita ini bagaikan sekeping puzzle. Tanpa orang lain, karunia yang kita dapatkan menjadi sia-sia. Karunia-karunia itu baru berfungsi ketika tiap-tiap orang mau hidup saling berbagi, saling mengisi, dan saling melayani di tengah jemaat. Pada saat itulah, jemaat akan disusun dengan rapi oleh Roh Kudus-dan membentuk gambar Kristus yang indah.

Kita tak dapat memaksa Roh Kudus untuk memberi karunia tertentu. Dia memberikannya “seperti yang dikehendaki-Nya” (ayat 11). Jadi, bersyukurlah atas karunia yang kita miliki. Lebih penting lagi, relakan diri untuk dibentuk dan ditempatkan Roh Kudus pada posisi yang tepat dalam jemaat. Izinkan Dia menguasai hidup kita-dan hal biasa pun bisa Dia buat menjadi luar biasa -JTI

Pertolongan Tuhan

Pesan Gembala

 

23 November 2008

Edisi 50 Tahun 1

 

Pertolongan Tuhan

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan yang dikasihi Allah, kalau kita menjumpai orang yang menderita kusta, dimanapun tempatnya selalu dihindari orang dan dikucilkan orang banyak. Sebab dikuatirkan penyakitnya menular ke orang lain yang sering berdekatan dengan orang yang sakit kusta tersebut.

 

Terlebih di negara Israel orang kusta harus disingkirkan dari pandangan umum, dan tidak diperkenankan tinggal di kota. Di Alkitab diceritakan bahwa apabila mereka bertemu dengan orang lain yang sehat, maka mereka harus menutupi dirinya, memalingkan mukanya dan berteriak, “najis…najis.” selama masih menderita kusta mereka tidak boleh datang ke Bait Allah, juga tidak boleh menghadap Imam. Sehingga penderitaan mereka sangat luar biasa fisik dan psikis.

 

Demikian juga 10 orang kusta yang dijumpai Tuhan Yesus di perbatasan Samaria dan Galilea itu. Mereka sudah tidak ada pengharapan lagi, dan masa depan yang semakin suram. Sebelum bertemu Yesus sepertinya tidak ada jalan keluar. Jalan yang dianggap buntu tidak selamanya tertutup. Pada suatu hari mereka mendengar bahwa ada seseorang yang sanggup menyembuhkan segala macam penyakit, dan orang itu sangat mengasihi banyak orang yang sedang dalam penderitaan. Orang itu adalah Yesus.

 

Ketika Yesus akan melewati daerah yang mereka tempati, maka mereka mempersiapkan diri dan menunggu kedatangan Yesus. Begitu mereka bertemu dengan Yesus mereka berseru “Guru…kasihanilah kami…!” Mereka hanya berteriak “kasihanilah kami…!” tetapi Yesus sangat mengerti keberadaan mereka atau kebutuhan mereka. Maka Yesus memberikan kasih-Nya kepada mereka.

 

Demikian dengan kita sekarang ini ketika kita mengalami kehausan dan kelaparan KASIH, maka berserulah kepada Tuhan Yesus.

 

Jadi di saat menghadapi masalah, maka yang pertama adalah berserulah kepada Yesus. Dan yang kedua miliki kepercayaan yang tinggi kepada Kristus.

 

Perhatikan ketika orang-orang kusta itu berteiak memanggil nama Yesus, Tuhan Yesus memandang mereka dan berkata:”Pergilah, dan perlihatkanlah dirimu kepada imam.” Logikanya agak sulit untuk melakukan perkataan Yesus, dan aneh, sebab itu melanggar aturan (hukum Yahudi) yang menyatakan orang kusta tidak boleh menemui Imam. Bisa-bisa mereka diusir atau bahkan dilempari batu, mereka bertanya-tanya apakah ini jalan keluar atau bahkan mendapat masalah baru. Tetapi itulah jalan keluar yang seringkali dibuat oleh Tuhan kepada umat-Nya, seringkali hal-hal yang dianggap manusia sebagai bukan jalan keluar.

 

Cara pemecahan yang dimiliki manusia, berbeda dengan cara Tuhan. Bahkan ketika mengalami masalah dan berseru kepada Tuhan, maka kita sudah merancang terlebih dahulu jalan keluarnya, tetapi jalan Tuhan tidak sama.

 

Puji Tuhan kesepuluh orang kusta itu tidak memusingkan perintah Allah dan melakukannya, mereka sangat mempertaruhkan kehidupannya kepada Yesus. Dan mereka melakukan perintah Allah dengan percaya, maka Tuhan bertindak, sebab dikatakan bahwa sementara mereka pergi untuk memperlihatkan diri kepada Imam, maka mereka menjadi “tahir”. Mujizat terjadi saat mereka menjalankan perintah Tuhan.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan, kita semua memerlukan pertolongan Tuhan untuk itu yang harus dilakukan adalah berseru kepada Tuhan dan percayalah kepada perintah Tuhan. Tuhan Yesus memberkati… Salam Mujizat.

 

 

Gembala Sidang

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Duta

Senin, 24 November 2008

Bacaan : Yohanes 17:6-19

17:6. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.

 

17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.

 

17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

 

17:9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu

 

17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.

 

17:11. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

 

17:12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

 

17:13 Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.

 

17:14 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

 

17:15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.

 

17:16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

 

17:17. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

 

17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;

 

17:19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.

 

Duta

sandra-angeliaPada tahun 2007, ketika mengadakan perjalanan di Vietnam, kami dipandu seorang warga Vietnam yang belum pernah bertemu orang Indonesia. Mungkin karena sangat penasaran, ia memakai kesempatan untuk bertanya kepada kami mengenai berbagai peristiwa di Indonesia, misalnya peristiwa bom Bali. Ia ingin tahu mengapa orang Indonesia begitu membenci orang Barat, sehingga tega berbuat semacam itu. Menanggapi keingintahuannya, kami sebagai “duta” Indonesia berusaha menjawab dan memberi penjelasan bahwa tindakan tersebut tidak mewakili sikap orang Indonesia secara umum.

Seperti orang Vietnam tersebut, ada juga banyak orang di sekitar kita yang belum tahu tentang Kerajaan Allah. Dan mereka akan tetap hidup dalam ketidaktahuan jika kita sebagai “duta” Kerajaan Allah tidak pernah menjelaskan hal itu kepada mereka. Tentang siapa Raja kita, dan bagaimana kita dapat diangkat menjadi anak-Nya. Orang-orang yang ditaruh di sekitar hidup kita membutuhkan kesaksian kita tentang-Nya.

Lebih dari itu, menjadi duta Kerajaan Allah tidak cukup dengan berkata-kata saja. Kesaksian hidup kita pun memegang peranan yang sama penting, sebab tentu sulit bagi mereka untuk percaya bahwa ada kasih dalam Kerajaan Allah jika di antara sesama orang percaya tidak ada kepedulian satu sama lain. Sulit bagi mereka untuk percaya bahwa ada damai dalam Kerajaan Allah jika kita suka bertengkar dengan orang lain.

Sebagai “duta” Kerajaan Allah, biarlah kita hidup sepadan dengan status kita sebagai orang kristiani, sehingga orang yang melihat kita akan percaya kepada Yesus -ALS

Merosot

Sabtu, 21 November 2008

Bacaan : 2Korintus 4:16-5:10

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

 

4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

 

4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

 

5:10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

 

Merosot

billy_graham-01Usia tua tidak membuat semangat William Franklin Graham Jr. alias Billy Graham, surut. Di usia 70 tahun, ia masih melakukan perjalanan ke China dan Korea untuk berkhotbah. Ia juga terus menulis buku dan tampil di berbagai kegiatan pela-yanan. Padahal saat itu ia sudah mulai terserang penyakit Parkinson. Seiring waktu, penyakit lain seperti cairan dalam otak dan kanker prostat juga menyerangnya. Di usianya yang hampir 90 tahun sekarang, ia mengisi hidupnya dengan berdoa dan sesekali terlibat dalam kegiatan yayasannya. Menurutnya, usia tua dan penyakit bukanlah halangan bagi seseorang untuk berkarya dan bersyukur kepada Tuhan.

Kita tidak selalu berada dalam kondisi tubuh yang sehat dan kuat. Akan ada saatnya di mana kondisi tubuh kita merosot, menjadi ringkih dan lemah. Bisa jadi penyakit yang mendera membuat kita tidak dapat melakukan aktivitas dengan maksimal. Atau, bisa juga usia yang beranjak tua membatasi kita untuk melakukan berbagai kegiatan. Dan, kita tidak dapat mengelak atau menolak proses alamiah tersebut.

Dalam keadaan demikian, yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar “tubuh batiniah” kita tidak ikut-ikutan merosot. Itulah yang Paulus lakukan. Walaupun manusia lahiriahnya semakin merosot, tetapi manusia batiniahnya terus diperbarui (ayat 16). Caranya adalah dengan selalu bersyukur dan berpengharapan; dengan memfokuskan hati dan pikiran pada hal-hal yang indah dalam hidup ini (ayat 18). Di dalam iman kepada Tuhan Yesus, selalu ada alasan untuk bersyukur dan berpengharapan. Bagaimanapun keadaan kita -AYA

Komitmen

Jumat, 21 November 2008

Bacaan : Matius 8:18-22

8:18. Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.

 

8:19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”

 

8:20 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

 

8:21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”

 

8:22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

 

Komitmen

komitmentmo8Pada masa jayanya, Kerajaan Romawi pernah menyerbu Inggris dari laut. Begitu kapal-kapal mereka mendarat, sang komandan memberi perintah mengejutkan. Anak buahnya diperintahkan untuk membakar semua kapal yang membawa mereka sampai ke Inggris! Para tentara terperangah. Mereka memprotes: “Jika kita terancam bahaya, bagaimana kita nanti melarikan diri?” Sang komandan menjawab, “Itu sebabnya kapal-kapal itu harus dibakar. Bagi kita tak ada kata melarikan diri. Kita harus maju. Dan menang!”

Sang komandan menuntut komitmen sejati dari pasukannya. Di situ ada harga yang harus dibayar. Tuhan pun menuntut komitmen demikian dari setiap pengikut-Nya. Ia harus menempatkan Yesus sebagai prioritas utama. Kesulitan seperti itulah yang dihadapi oleh seorang yang ingin mengikut Yesus dalam Matius 8. Ia ingin “pergi dahulu menguburkan ayah” (ayat 21). Ia bukan sekadar pamitan, melainkan menunda mengikut Yesus sampai persoalan keluarganya selesai. Jika ia anak sulung, ia harus mengurus dulu warisan sang ayah. Bisa jadi ia harus meneruskan bisnis ayahnya dulu. Atau, meminta persetujuan keluarga sebelum pergi mengikut Yesus. Apa pun alasannya, ia belum mau berkomitmen serius. Ikut Yesus mau, tetapi untuk serius nanti dulu. Bagi Yesus ini tidak mungkin.

Seberapa serius Anda mengikut Yesus? Menjadi orang kristiani tidak cukup dengan rajin mengikuti ibadah Minggu. Menjadi orang kristiani berarti mengubah prioritas dan cara hidup supaya Yesus menjadi yang utama dan pertama. Komitmen sejati berarti berkata: “Dia harus makin bertambah, aku harus makin berkurang.” Jadi, pastikan Yesus dimuliakan dalam hidup Anda hari ini -JTI

Makanan Busuk

Rabu, 19 November 2008

Bacaan : Bilangan 13:25-33; 14:1-10

13:25 Sesudah lewat empat puluh hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu,

 

13:26. dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu.

 

13:27 Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya.

 

13:28 Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.

 

13:29 Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.”

 

13:30 Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!”

 

13:31 Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.”

 

13:32 Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya.

 

13:33 Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.”

 

14:1. Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu.

 

14:2 Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!

 

14:3 Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?”

 

14:4 Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.”

 

14:5. Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ.

 

14:6 Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya,

 

14:7 dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.

 

14:8 Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

 

14:9 Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.”

 

14:10 Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.

 

Makanan Busuk

fruit-11Dunia kita adalah dunia berita. Kabar bertebaran setiap hari. Lewat koran, tayangan televisi, situs internet, papan iklan, majalah, tabloid, dan penyampaian dari mulut ke mulut. Melalui kata, suara, gerak, gambar dan warna. Sayang, sedikit saja yang netral. Lebih banyak berita yang tersebar mengusung kepentingan-kepentingan dagang atau politik. Dan, masyarakat adalah sasarannya.

Menjelang masuk ke Kanaan, umat Israel terpengaruh oleh kabar yang dibawa oleh para pengintai utusan Musa. Sebagian besar pengintai membawa kabar miring, sehingga umat menjadi takut. Berita yang mereka sampaikan bernada negatif dan umat menjadi korbannya. Ibarat makanan, mereka membawa “makanan busuk” yang bikin “diare”. Umat Israel jadi resah, takut, panik, lalu memberontak. Syukurlah, di antara para pengintai itu ada Yosua dan Kaleb. Mereka tampil menyampaikan berita yang membesarkan hati. Menghantar “makanan sehat” dengan “gizi” iman yang tinggi. Mengajak umat untuk berpaling kepada Tuhan dan bersandar penuh kepada-Nya.

Penelitian di negeri kita membuktikan bahwa berita yang paling banyak dikonsumsi masyarakat saat ini adalah infotainment yang gencar “menjual” gosip kehidupan para selebriti. Kedua, sinetron yang berbau dunia gaib. Itukah “makanan” kita sehari-hari? Sebagai anak Tuhan, mari perhatikan “makanan berita” yang kita santap. Saringlah berita yang kita dengar dan baca. Cermatilah tayangan yang kita tonton. Jangan menyantap “makanan basi” berupa kabar busuk yang merusak iman dan moral. Utamakan untuk menyantap “kabar baik” (Injil) sebagai “nutrisi bergizi” bagi jiwa kita -PAD