Tabur Benih Pagi-Pagi

Selasa, 11 November 2008

Bacaan : Pengkhotbah 11:1-6

11:1. Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.

 

11:2 Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi.

 

11:3 Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi; dan bila pohon tumbang ke selatan atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal terletak.

 

11:4 Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.

 

11:5 Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu.

 

11:6 Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.

 

Tabur Benih Pagi-Pagi

tanam-padiHidup ini penuh misteri-banyak hal tidak kita ketahui (ayat 5). Dan justru karena hidup mengandung banyak misteri, Pengkhotbah mendorong para pembaca tulisannya agar berani mengambil tindakan yang punya banyak kemungkinan hasil. “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik” (ayat 6).

Pengkhotbah tidak meminta kita agar menjadi orang-orang yang gila kerja. Ia hanya mengingatkan bahwa kita ini sungguh tidak tahu apa-apa dan tak dapat memastikan hasil dari setiap pekerjaan yang kita lakukan. Kita juga tak tahu bagaimana Allah akan berkarya. Walaupun demikian, ketidaktahuan itu tak boleh membuat kita santai saja lalu masuk ke “tempurung” masing-masing; tak bersemangat, tak rajin, dan loyo menghadapi hidup. Sebaliknya, justru karena “ketidaktahuan” itu, kita digugah untuk menjadi rajin-“menabur benih pagi-pagi … janganlah memberi istirahat pada tanganmu”. Dan dengan hati teguh (meskipun kita tidak tahu pasti tentang semua hal) serta rendah hati (karena kita beriman pada Allah yang memahami segala misteri) kita harus terus tekun berusaha.

Pengkhotbah mendorong kita untuk sungguh-sungguh berjuang dalam hidup sekarang ini, dan tidak terjatuh dalam perangkap lamunan ataupun penjara penyesalan yang hanya membuang waktu kita. Dan kita tidak pernah berjuang sendiri, karena kita selalu ada dalam pengawasan dan pemeliharaan Allah, Sang Jawaban dari semua ketidaktahuan kita -DKL

APABILA ORANG BERIMAN TAK MAU BERJERIH LELAH

BAGAIMANA IMANNYA AKAN BERBUAH?

Iklan