Kasih yang Semesta

Jumat, 14 November 2008

Bacaan : Matius 8:5-13

8:5. Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:

8:6 “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”

8:7 Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.”

8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

8:9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

8:10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.

8:11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,

8:12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

8:13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

 

Kasih yang Semesta

kenalcinta_1Dulu saya bersekolah di SD milik gereja. Mayoritas murid beragama kristiani, namun suasananya tidak selalu “kristiani”. Anak orang kaya cenderung bergaul dengan yang “setara”. Jika ada anak orang miskin di antara mereka; maka ia hanya akan sering disuruh-suruh atau dijadikan semacam bodyguard. Sementara itu saya, karena malas disuruh-suruh dan tak berbakat jadi bodyguard, hanya bisa berteman dengan mereka yang juga berkantong “tipis”. Ya, orang cenderung aman dengan yang “setara”, sehingga tali kasih yang terjalin bukan kasih semesta!

Kasih semesta adalah kasih yang melampaui batas-batas sosial, ekonomi, budaya, agama, dan “kotak-kotak” buatan manusia lainnya. Yesus menunjukkan kasih-Nya yang semesta saat menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum. Yang Dia tolong adalah hamba orang Romawi. Ia orang Romawi-yang tentu tak karib dengan orang Yahudi, masih pula statusnya hanya seorang hamba! Akan tetapi, dua “batasan” ini tidak menghalangi Yesus untuk mengasihi dan menolong!

Bahkan sang perwira Romawi-tuan dari hamba yang sakit itu, juga menunjukkan kasih semesta, kasih yang lintas batas. Ia memperjuangkan kesembuhan orang yang berbeda status sosial dengannya (hamba). Kedua, ia mengusahakan kesembuhan hambanya dengan memercayai bahwa Yesus yang adalah orang Yahudi itu sangat berkuasa untuk menolong. Inilah yang membuat Yesus heran sehingga berkata, “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun [bahkan] di antara orang Israel” (ayat 10).

Kasih yang semesta menembus berbagai batas dan membuka banyak kemungkinan tak terduga. Bagaimana kasih kita? -DKL

Iklan