Hanya Bisa Terima

Selasa, 18 November 2008

Bacaan : Yeremia 20:7-18

20:7. Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku.

 

20:8 Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: “Kelaliman! Aniaya!” Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari.

 

20:9 Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.

 

20:10 Aku telah mendengar bisikan banyak orang: “Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia!” Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh: “Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia!”

 

20:11 Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan!

 

20:12 Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.

 

20:13 Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.

 

20:14. Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!

 

20:15 Terkutuklah orang yang membawa kabar kepada bapaku dengan mengatakan: “Seorang anak laki-laki telah dilahirkan bagimu!” yang membuat dia bersukacita dengan sangat.

 

20:16 Terjadilah kepada hari itu seperti kepada kota-kota yang ditunggangbalikkan TUHAN tanpa belas kasihan! Didengarnyalah kiranya teriakan pada waktu pagi dan hiruk-pikuk pada waktu tengah hari!

 

20:17 Karena hari itu tidak membunuh aku selagi di kandungan, sehingga ibuku menjadi kuburanku, dan ia mengandung untuk selamanya!

 

20:18 Mengapa gerangan aku keluar dari kandungan, melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku habis berlalu dalam malu?

 

Hanya Bisa Terima

gie1Soe Hok Gie adalah tokoh muda penulis buku “Catatan Harian Seorang Demonstran”. Ia meninggal dunia dalam usia 27 tahun di puncak Gunung Semeru. Riwayat hidupnya pernah dibukukan dan difilmkan. Dalam puisinya berjudul “Mandalawangi Pangrango”, ia menulis demikian: “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah.”

Yah, dalam hidup ini kerap kita tidak dapat memilih. Seumpama makanan, seolah-olah semuanya sudah disediakan dari “sononya”. Kita hanya bisa “makan” tanpa protes. Kita, misalnya, tidak pernah memilih untuk terbaring sakit, melahirkan anak yang dengan kebutuhan khusus, menjalani kehidupan yang tidak kita inginkan. Kita hanya bisa menerimanya.

Pergumulan itu juga dialami Yeremia. Ia tidak pernah memilih menjadi nabi (ayat 7). Bahkan, sebetulnya ia ingin menolak jabatan itu. Namun kenyataannya, ia tak dapat mengelak (ayat 9). Keadaan itu membuatnya merasa tertekan dan terus didera peperangan batin. Sampai-sampai ia berkata, “Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!” (ayat 14)

Ketika menghadapi situasi demikian, tak ada cara lain yang lebih tepat selain menerimanya dengan rela. Kalaupun kita terus memberontak, tidak akan ada gunanya; hanya melelahkan bahkan menambah masalah baru. Ketika kita tak dapat mengubah keadaan di luar, yang bisa kita lakukan adalah mengubah sikap dan pandangan kita terhadap keadaan itu. Kuncinya ada pada keyakinan bahwa hidup kita selalu dalam kendali kasih dan kuasa Tuhan -AYA

Iklan