Merosot

Sabtu, 21 November 2008

Bacaan : 2Korintus 4:16-5:10

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

 

4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

 

4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

 

5:10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

 

Merosot

billy_graham-01Usia tua tidak membuat semangat William Franklin Graham Jr. alias Billy Graham, surut. Di usia 70 tahun, ia masih melakukan perjalanan ke China dan Korea untuk berkhotbah. Ia juga terus menulis buku dan tampil di berbagai kegiatan pela-yanan. Padahal saat itu ia sudah mulai terserang penyakit Parkinson. Seiring waktu, penyakit lain seperti cairan dalam otak dan kanker prostat juga menyerangnya. Di usianya yang hampir 90 tahun sekarang, ia mengisi hidupnya dengan berdoa dan sesekali terlibat dalam kegiatan yayasannya. Menurutnya, usia tua dan penyakit bukanlah halangan bagi seseorang untuk berkarya dan bersyukur kepada Tuhan.

Kita tidak selalu berada dalam kondisi tubuh yang sehat dan kuat. Akan ada saatnya di mana kondisi tubuh kita merosot, menjadi ringkih dan lemah. Bisa jadi penyakit yang mendera membuat kita tidak dapat melakukan aktivitas dengan maksimal. Atau, bisa juga usia yang beranjak tua membatasi kita untuk melakukan berbagai kegiatan. Dan, kita tidak dapat mengelak atau menolak proses alamiah tersebut.

Dalam keadaan demikian, yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar “tubuh batiniah” kita tidak ikut-ikutan merosot. Itulah yang Paulus lakukan. Walaupun manusia lahiriahnya semakin merosot, tetapi manusia batiniahnya terus diperbarui (ayat 16). Caranya adalah dengan selalu bersyukur dan berpengharapan; dengan memfokuskan hati dan pikiran pada hal-hal yang indah dalam hidup ini (ayat 18). Di dalam iman kepada Tuhan Yesus, selalu ada alasan untuk bersyukur dan berpengharapan. Bagaimanapun keadaan kita -AYA

Iklan

Komitmen

Jumat, 21 November 2008

Bacaan : Matius 8:18-22

8:18. Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.

 

8:19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”

 

8:20 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

 

8:21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”

 

8:22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

 

Komitmen

komitmentmo8Pada masa jayanya, Kerajaan Romawi pernah menyerbu Inggris dari laut. Begitu kapal-kapal mereka mendarat, sang komandan memberi perintah mengejutkan. Anak buahnya diperintahkan untuk membakar semua kapal yang membawa mereka sampai ke Inggris! Para tentara terperangah. Mereka memprotes: “Jika kita terancam bahaya, bagaimana kita nanti melarikan diri?” Sang komandan menjawab, “Itu sebabnya kapal-kapal itu harus dibakar. Bagi kita tak ada kata melarikan diri. Kita harus maju. Dan menang!”

Sang komandan menuntut komitmen sejati dari pasukannya. Di situ ada harga yang harus dibayar. Tuhan pun menuntut komitmen demikian dari setiap pengikut-Nya. Ia harus menempatkan Yesus sebagai prioritas utama. Kesulitan seperti itulah yang dihadapi oleh seorang yang ingin mengikut Yesus dalam Matius 8. Ia ingin “pergi dahulu menguburkan ayah” (ayat 21). Ia bukan sekadar pamitan, melainkan menunda mengikut Yesus sampai persoalan keluarganya selesai. Jika ia anak sulung, ia harus mengurus dulu warisan sang ayah. Bisa jadi ia harus meneruskan bisnis ayahnya dulu. Atau, meminta persetujuan keluarga sebelum pergi mengikut Yesus. Apa pun alasannya, ia belum mau berkomitmen serius. Ikut Yesus mau, tetapi untuk serius nanti dulu. Bagi Yesus ini tidak mungkin.

Seberapa serius Anda mengikut Yesus? Menjadi orang kristiani tidak cukup dengan rajin mengikuti ibadah Minggu. Menjadi orang kristiani berarti mengubah prioritas dan cara hidup supaya Yesus menjadi yang utama dan pertama. Komitmen sejati berarti berkata: “Dia harus makin bertambah, aku harus makin berkurang.” Jadi, pastikan Yesus dimuliakan dalam hidup Anda hari ini -JTI

Makanan Busuk

Rabu, 19 November 2008

Bacaan : Bilangan 13:25-33; 14:1-10

13:25 Sesudah lewat empat puluh hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu,

 

13:26. dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu.

 

13:27 Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya.

 

13:28 Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.

 

13:29 Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.”

 

13:30 Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!”

 

13:31 Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.”

 

13:32 Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya.

 

13:33 Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.”

 

14:1. Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu.

 

14:2 Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!

 

14:3 Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?”

 

14:4 Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.”

 

14:5. Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ.

 

14:6 Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya,

 

14:7 dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.

 

14:8 Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

 

14:9 Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.”

 

14:10 Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.

 

Makanan Busuk

fruit-11Dunia kita adalah dunia berita. Kabar bertebaran setiap hari. Lewat koran, tayangan televisi, situs internet, papan iklan, majalah, tabloid, dan penyampaian dari mulut ke mulut. Melalui kata, suara, gerak, gambar dan warna. Sayang, sedikit saja yang netral. Lebih banyak berita yang tersebar mengusung kepentingan-kepentingan dagang atau politik. Dan, masyarakat adalah sasarannya.

Menjelang masuk ke Kanaan, umat Israel terpengaruh oleh kabar yang dibawa oleh para pengintai utusan Musa. Sebagian besar pengintai membawa kabar miring, sehingga umat menjadi takut. Berita yang mereka sampaikan bernada negatif dan umat menjadi korbannya. Ibarat makanan, mereka membawa “makanan busuk” yang bikin “diare”. Umat Israel jadi resah, takut, panik, lalu memberontak. Syukurlah, di antara para pengintai itu ada Yosua dan Kaleb. Mereka tampil menyampaikan berita yang membesarkan hati. Menghantar “makanan sehat” dengan “gizi” iman yang tinggi. Mengajak umat untuk berpaling kepada Tuhan dan bersandar penuh kepada-Nya.

Penelitian di negeri kita membuktikan bahwa berita yang paling banyak dikonsumsi masyarakat saat ini adalah infotainment yang gencar “menjual” gosip kehidupan para selebriti. Kedua, sinetron yang berbau dunia gaib. Itukah “makanan” kita sehari-hari? Sebagai anak Tuhan, mari perhatikan “makanan berita” yang kita santap. Saringlah berita yang kita dengar dan baca. Cermatilah tayangan yang kita tonton. Jangan menyantap “makanan basi” berupa kabar busuk yang merusak iman dan moral. Utamakan untuk menyantap “kabar baik” (Injil) sebagai “nutrisi bergizi” bagi jiwa kita -PAD

Melepaskan untuk Mendapatkan

Kamis, 20 November 2008

Bacaan : Matius 13:44-46

13:44. “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

 

13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.

 

13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

 

Melepaskan untuk Mendapatkan

mutiara

Banyak orangtua sangat berharap dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai ke bangku kuliah. Meski biaya yang dibutuhkan sangat banyak, itu tidak menyurutkan keinginan mereka. Oleh sebab itu, tidak sedikit orangtua yang siap menjual harta bendanya, termasuk barang-barang yang sangat mereka sayangi. Mereka sadar ada yang harus dilepaskan demi mendapat apa yang mereka impikan.

Bacaan hari ini mengingatkan kita tentang bagaimana seharusnya memandang Kerajaan Surga. Yakni memandangnya seperti harta terpendam dan mutiara yang indah. Saat kita melihatnya sebagai “mutiara” yang jauh lebih berharga dari segala harta, kita akan rela melepas segala milik kita demi mendapatkan yang paling berharga. Sayang, pada zaman ini manusia kerap bersikap sebaliknya. Berbagai keindahan semu menutupi pandangan manusia bahwa Surga itu yang paling berharga. Membuat mereka-sebaliknya-rela melepaskan Kerajaan Surga demi mendapatkan yang semu dan sementara itu. Harta atau posisi bisa membuat seseorang menghalalkan cara-yang tak berkenan bagi Tuhan-demi menggapainya. Cinta kepada lawan jenis dapat membuat seseorang rela mengompromikan iman. Kesibukan di pekerjaan sangat mungkin membuat seseorang membiarkan kehidupan rohaninya tak bertumbuh.

Apakah yang paling bernilai dalam hidup Anda saat ini? Apakah itu harta, karier, status, kekasih, keluarga, atau yang lain? Biarlah hari ini mata rohani kita dibukakan untuk melihat bahwa semuanya itu sesungguhnya tidak sebanding dengan Kerajaan Surga, yang akan kita miliki sampai kekekalan. Sebab itu, semua yang lain mesti siap untuk kita lepaskan, agar kita tak kehilangan yang kekal -ALS

Hanya Bisa Terima

Selasa, 18 November 2008

Bacaan : Yeremia 20:7-18

20:7. Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku.

 

20:8 Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: “Kelaliman! Aniaya!” Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari.

 

20:9 Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.

 

20:10 Aku telah mendengar bisikan banyak orang: “Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia!” Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh: “Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia!”

 

20:11 Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan!

 

20:12 Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.

 

20:13 Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.

 

20:14. Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!

 

20:15 Terkutuklah orang yang membawa kabar kepada bapaku dengan mengatakan: “Seorang anak laki-laki telah dilahirkan bagimu!” yang membuat dia bersukacita dengan sangat.

 

20:16 Terjadilah kepada hari itu seperti kepada kota-kota yang ditunggangbalikkan TUHAN tanpa belas kasihan! Didengarnyalah kiranya teriakan pada waktu pagi dan hiruk-pikuk pada waktu tengah hari!

 

20:17 Karena hari itu tidak membunuh aku selagi di kandungan, sehingga ibuku menjadi kuburanku, dan ia mengandung untuk selamanya!

 

20:18 Mengapa gerangan aku keluar dari kandungan, melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku habis berlalu dalam malu?

 

Hanya Bisa Terima

gie1Soe Hok Gie adalah tokoh muda penulis buku “Catatan Harian Seorang Demonstran”. Ia meninggal dunia dalam usia 27 tahun di puncak Gunung Semeru. Riwayat hidupnya pernah dibukukan dan difilmkan. Dalam puisinya berjudul “Mandalawangi Pangrango”, ia menulis demikian: “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah.”

Yah, dalam hidup ini kerap kita tidak dapat memilih. Seumpama makanan, seolah-olah semuanya sudah disediakan dari “sononya”. Kita hanya bisa “makan” tanpa protes. Kita, misalnya, tidak pernah memilih untuk terbaring sakit, melahirkan anak yang dengan kebutuhan khusus, menjalani kehidupan yang tidak kita inginkan. Kita hanya bisa menerimanya.

Pergumulan itu juga dialami Yeremia. Ia tidak pernah memilih menjadi nabi (ayat 7). Bahkan, sebetulnya ia ingin menolak jabatan itu. Namun kenyataannya, ia tak dapat mengelak (ayat 9). Keadaan itu membuatnya merasa tertekan dan terus didera peperangan batin. Sampai-sampai ia berkata, “Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!” (ayat 14)

Ketika menghadapi situasi demikian, tak ada cara lain yang lebih tepat selain menerimanya dengan rela. Kalaupun kita terus memberontak, tidak akan ada gunanya; hanya melelahkan bahkan menambah masalah baru. Ketika kita tak dapat mengubah keadaan di luar, yang bisa kita lakukan adalah mengubah sikap dan pandangan kita terhadap keadaan itu. Kuncinya ada pada keyakinan bahwa hidup kita selalu dalam kendali kasih dan kuasa Tuhan -AYA

Peka

Senin, 17 November 2008

Bacaan : Efesus 5:6-14

5:6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.

5:7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.

5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,

5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,

5:10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

5:11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.

5:12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.

5:13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.

5:14 Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”

 

Peka

hand-and-handDalam bukunya The Gospel According to Starbucks, Leonard Sweet menuliskan kisah Ed Faubert, seorang ahli pencicip kopi (coffee-taster) ternama. Ia sangat peka pada cita rasa kopi. Berikanlah kepadanya secangkir kopi dan ia akan segera bisa menjelaskan segala hal tentang kopi itu secara perinci. Bahkan dengan mata tertutup, ia bisa tahu kopi yang dicicipinya berasal dari negara mana, ditanam di ketinggian berapa, dan di gunung apa.

Kepekaan dibentuk oleh latihan dan pengalaman terus-menerus. Kepekaan rohani pun demikian. Untuk dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan (ayat 10), Paulus meminta jemaat Efesus untuk terus-menerus belajar hidup sebagai anak terang. Maksudnya, hidup sesuai dengan firman Tuhan. Dengan mempraktikkan firman setiap hari, semakin lama mereka akan menjadi semakin peka. Hasilnya? Mereka dapat membedakan mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak. Mereka takkan mudah disesatkan, sekalipun tiap hari hidup berbaur dengan orang-orang yang memiliki cara pikir dan gaya hidup duniawi. Bukannya terpengaruh, mereka bahkan bisa “menelanjangi perbuatan kegelapan” itu. Artinya, bisa menyadarkan orang lain akan perbuatannya yang berdosa.

Kita hidup pada zaman di mana penyesatan terjadi di mana-mana: lewat buku-buku, media massa, dan aneka tawaran dunia yang menggiurkan. Sudahkah kita memiliki kepekaan rohani? Banyak orang kristiani masih belum “bangun dari tidur” (ayat 14), bahkan ikut terbius dalam keduniawian. Tidak ada cara lain: kita harus belajar hidup taat sesuai firman Tuhan. Hanya dari situ kita bisa semakin peka -JTI

Hidup Sehat

fruit-1Kesehatan tidak bisa dipisahkan dari kesuksesan. Jika kita memiliki kesehatan yang prima, kita pun bisa bekerja dengan penuh semangat, penuh vitalitas dan konsentrasi penuh. Namun jika kita sakit-sakitan, sedikit banyak tentu hal tersebut berpengaruh terhadap pekerjaan ataupun kesuksesan kita. Saat saya sakit, saya juga tidak bisa berbuat banyak. Bukankah demikian juga halnya dengan Anda? Menurut sebuah penelitian, seberapa bagus tingkat kesehatan kita akan ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan kita. Itu sebabnya jika kita ingin memiliki kesehatan yang baik, kita harus mulai mengubah pola pikir, pola makan dan pola hidup kita. Itulah tiga hal yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan.

Satu, pola pikir. Apa yang kita pikirkan sangat berpengaruh terhadap kesehatan kita. Cara berpikir yang positif akan membuat tubuh kita jadi sehat, sebaliknya cara berpikir yang negatif akan membuat tubuh kita mengalami gangguan. Pikiran yang negatif akan membuat emosi kita menjadi terganggu dan keadaan emosi yang tidak stabil akan berdampak pada kesehatan tubuh kita.

Dua, pola makan. Dewasa ini orang sudah mulai sadar pentingnya pola makan. Orang sudah mulai menerapkan pola makan yang baik. Mereka sudah mulai memilih makanan yang sehat, seperti sayuran, buah, mengurangi makanan berlemak, zat makanan tambahan (pengawet, perasa, pemanis, dll). Mereka sadar bahwa dengan mengubah pola makan, maka kesehatannya akan terjaga.

Tiga, pola hidup. Pola hidup akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan kita. Jika pola hidup kita tidak sehat, seperti merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, kurang istirahat, terbiasa untuk begadang sampai tengah malam, maka kesehatan kita pasti akan terganggu. Seperti halnya mesin, jika kita merawat tubuh dengan baik dan teratur, maka pekerjaan yang kita hasilkan juga akan baik. Sebaliknya jika tubuh kita terlalu dipaksa terus menerus untuk kebiasaan buruk, maka tubuh kita juga cepat rusak.

Kebiasaan hidup akan mempengaruhi kesehatan. Kesehatan akan mempengaruhi kesuksesan.

Bacaan: Lukas 11:33-36
Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.– Amsal 11:17