Hati yang Berpaut

Sabtu, 6 Desember 2008

Bacaan : Matius 19:16-22

19:16. Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

 

19:17 Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.”

 

19:18 Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,

 

19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

 

19:20 Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?”

 

19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

 

19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

 

Hati Yang Terpaut

8737_digital_love_7_2

Apabila kita membaca kisah orang muda dalam Matius 19:16-22, kita harus angkat topi untuknya. Mengapa? Karena saat usianya masih muda, ia sudah menjadi orang yang kaya. Tidak hanya itu, ia pun gemar membaca perintah Allah dan menurutinya dalam kehidupan sehari-hari. Andaikata orang muda ini hidup pada zaman sekarang, tentu ia akan menjadi seorang pria ideal dan menjadi idaman banyak orang.

Namun sayang, segala hal yang telah ia capai dalam hidupnya tidak membuat Yesus terkesan. Sebab Yesus hendak menguji hingga kedalaman hati, yakni apakah hatinya berpaut kepada Allah. Orang muda ini memang berperilaku baik dan selalu menuruti perintah Allah, tetapi ia tidak memiliki hubungan yang akrab dengan Allah, Sang Empunya perintah. Apa buktinya? Ketika Yesus memintanya menjual seluruh harta miliknya, memberikannya kepada orang-orang miskin supaya memperoleh harta di surga, dan kemudian mengikut Tuhan, ia malah merasa sedih. Alkitab mencatat bahwa hal itu terjadi karena hartanya begitu banyak. Saking banyaknya sehingga hati orang muda ini terpaut kepadanya.

Berdasarkan kisah ini kita belajar bahwa Allah ingin kita tidak sekadar hidup baik dan melakukan semua perintah Allah. Saya dapat meminta anak orang lain untuk turun dari pagar rumah dan anak tersebut benar-benar menurut. Namun, ketaatan si anak tidak menjadi bukti bahwa ia anak kandung saya, karena hatinya dan hati saya tidak terpaut. Yang Tuhan rindukan adalah kita hidup dalam kehausan dan kerinduan untuk selalu berpaut dengan hati-Nya. Itulah yang membedakan antara anak Allah dan bukan anak Allah -RY

Iklan

Rp.3.000,-

Kamis, 4 Desember 2008

Bacaan : Matius 18:21-35

18:21. Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

 

18:22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

 

18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

 

18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

 

18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

 

18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.

 

18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

 

18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!

 

18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.

 

18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

 

18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

 

18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.

 

18:33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

 

18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

 

18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

 

Rp.3.000,-

uang-1000

Pada suatu siang yang panas, saya pulang dari mengajar. Mulanya saya berencana naik angkot, tetapi tak ada yang lewat. Akhirnya saya memilih naik bajaj. Begitu saya turun, tukang bajaj meminta ongkos dua kali lipat dari biasa. Saya bersikeras membayar dengan harga biasa, tetapi ia juga bersikeras. Jadi saya mesti membayar Rp3.000,00 lebih mahal. Saya kesal karena merasa ditipu. Namun Tuhan mengingatkan, “Pantaskah kamu kesal karena uang Rp3.000,00?” Saya pikir rugi juga marah karena hal sepele. Namun, tak berhenti di situ. Tuhan mengingatkan saya lagi untuk mengampuni orang tadi. Dalam hati saya tidak terima, karena saya yang dirugikan. Orang itu juga tidak minta maaf. Apa saya mesti mengampuninya?

Matius 18:21-35 mencatat pengajaran Yesus mengenai pengampunan. Seorang hamba tak mampu membayar utangnya yang besar kepada raja dan meminta waktu untuk melunasinya (ayat 26). Sang raja, dengan penuh belas kasihan membebaskan dan menghapus utangnya (ayat 27). Sayang, si hamba-yang sudah menerima belas kasihan, tidak menunjukkan belas kasihan pada sesamanya. Karena itu raja murka dan menghukumnya.

Kita sebetulnya seperti hamba yang berutang banyak. Bapa tidak menuntut kita membayar utang dosa kita yang begitu besar. Dia justru membebaskan kita. Akan tetapi, kita kerap tidak menyadari pengampunan yang sudah kita terima. Kita masih sering tak mau mengampuni saat ada orang yang bersalah, menipu, dan menyakiti kita. Sekalipun orang lain tak pernah meminta maaf, ingatlah Allah sudah menyatakan belas kasih-Nya kepada kita. Mari tunjukkan belas kasih pula kepada orang lain -GS