Upah Yang Adil

Rabu, 10 Desember 2008

Bacaan : Matius 20:1-16

20:1. “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

 

20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

 

20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.

 

20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.

 

20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

 

20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?

 

20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

 

20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.

 

20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.

 

20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.

 

20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,

 

20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.

 

20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?

 

20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.

 

20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

 

20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

 

Upah Yang Adil

newsimage

Umumnya orang berpendapat bahwa banyak bekerja tentu akan banyak mendapat; banyak berprestasi pasti juga banyak mendapat. Firman Tuhan hari ini barangkali akan membuat kita bertanya, “Apakah Tuhan adil?” Dia memberi upah yang sama untuk jerih payah yang berbeda. Mengapa Yesus berkata demikian? Apakah pantas? Sebuah pernyataan yang sulit dipahami secara konkret, meski kalimatnya jelas dan lugas.

Setidaknya ada dua penjelasan mengenai hal ini. Pertama, itu tak adil menurut kita karena kita berfokus pada upah-bukan Sang Tuan yang kita layani. Bukankah motivasi kita dalam melayani semestinya untuk Sang Tuan? Fokusnya tak boleh pada diri sendiri, tetapi pada Sang Tuan. Sama seperti saat kita punya kesempatan melayani seorang raja, bukankah itu merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai? Berpijak pada pandangan tersebut, kita akan memahami bahwa upah bukanlah hal yang terutama; bukan pada apa yang kita dapat, tetapi pada yang bisa kita beri.

Kedua, apabila kita protes, bukankah itu tandanya kita merasa iri hati? (ayat 15). Seperti perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32)-ketika si sulung memprotes kemurahan hati sang ayah kepada adiknya. Si sulung merasa ayahnya berlaku tidak adil karena ia sudah setia dan bekerja keras. Kita adalah manusia berdosa yang telah diselamatkan Tuhan dari sengat maut. Itu sebabnya Tuhan berhak atas hidup kita sepenuhnya, berhak memberikan apa pun yang pantas dan perlu kita peroleh. Baiklah kita fokus pada apa yang harus kita kerjakan dan berikan, bukan pada apa yang bisa kita peroleh -DYA

Iklan

Pendatang

Selasa, 9 Desember 2008

Bacaan : Ibrani 11:8-16

11:8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

 

11:9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.

 

11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.

 

11:11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.

 

11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

 

11:13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

 

11:14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.

 

11:15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.

 

11:16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

 

Pendatang

cmbackpacker_article_wideweb__470x3680

Saya pernah bertualang seorang diri keliling Eropa selama sebulan, sebagai turis backpacker. Dengan menyandang ransel besar, saya mengunjungi kota demi kota dengan kendaraan umum. Kadang saya menginap di kereta, pada kesempatan lain menginap di hostel. Seru! Bagi turis seperti saya, berlaku prinsip penting: bawalah barang seringan dan sesedikit mungkin. Mau beli cenderamata pun mesti pikir-pikir-jangan sampai membebani diri terlalu berat. Toh saya berada di satu tempat hanya satu atau dua hari. Akibatnya saya tidak membawa barang-barang, kecuali yang benar-benar penting.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita hanya orang asing dan pendatang di bumi ini (ayat 13). Kita hanya transit dan tak akan tinggal lama. Tujuan akhir kita adalah tanah air surgawi. Karena itu, janganlah hati kita melekat pada kemewahan dunia, lalu membangun kerajaan di sini. Jangan terlalu merasa betah. Belajarlah dari Abraham. Ketika ia tiba di negeri perjanjian, ia tidak membangun rumah permanen. Ia mendirikan kemah yang mudah dibongkar kapan saja (ayat 9). Bagi Abraham, dunia ini hanya “tanah asing”. Bahkan ketika ia tak memperoleh apa pun yang dijanjikan di dunia ini, ia tidak kecewa. Mengapa? Karena ia sadar dirinya hanya pendatang (ayat 13). Penggenapan seluruh janji Allah baru akan dialami kelak, ketika kita tiba di “tanah air”.

Di tengah kesibukan bekerja, ada bahaya jika kita menjadi “terlalu betah” tinggal di dunia. Merasa menjadi penghuni tetap bumi ini, sehingga memusatkan perhatian untuk segala hal duniawi. Ingatlah: kita hanya pendatang dan perantau. Perjalanan masih panjang. Pastikan bawaan Anda sudah seringan dan sesedikit mungkin -JTI

TUJUAN HIDUP

 

Senin, 8 Desember 2008

Bacaan : Matius 6:25-34

6:25. “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

 

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

 

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

 

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

 

6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

 

6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

 

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

 

6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

 

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

 

6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

 

Tujuan Hidup

yesusanak

Tujuan Hidup

Mungkin kita masih ingat sebuah lagu Sekolah Minggu yang syairnya berkata, “Apa yang dicari orang? Uang! Apa yang dicari orang siang malam pagi petang? Uang, uang, uang, bukan Tuhan Yesus”. Ya, uang. Sudah sekian lama uang menjadi tujuan utama yang dicari manusia semasa hidup di dunia ini. Orang bekerja keras dan memeras keringat hanya untuk uang. Sampai muncul istilah “dengan uang semua bisa diselesaikan”.

Manusia rela melakukan apa saja demi uang. Mulai dari yang bekerja lembur siang malam, menggaruk-garuk tempat sampah, menjual baju bekas, atau apa saja, bahkan sampai menjual anak hanya demi uang. Rasanya uang sudah menjadi segala-galanya bagi manusia. Uang bisa mengalahkan keluarga, bahkan Tuhan dalam hidup manusia. Memang benar, uang sudah menjadi tujuan hidup manusia.

Ketika Tuhan berbicara supaya kita jangan kuatir akan kebutuhan hidup termasuk uang, bukan berarti Dia menyuruh kita untuk tidak bekerja. Tuhan tidak menyuruh kita hanya ongkang-ongkang kaki dan menanti berkat Tuhan turun dari langit. Sebab Tuhan sendiri menentang kemalasan (Amsal 6:6). Namun, di sini kita diingatkan bahwa yang seharusnya menjadi tujuan utama hidup manusia bukan uang, melainkan Tuhan. Mengapa? Karena Tuhanlah sumber dari segala sesuatu, termasuk apa yang kita butuhkan.

Manakala manusia kehilangan tujuan utama dalam hidup, maka manusia akan kehilangan arah. Dan ketika manusia kehilangan arah, maka kekuatiran hiduplah yang akan timbul. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk kembali ke tujuan utama hidup yang sudah Allah tetapkan -RY