Tanggung Jawab Pribadi

Kamis, 11 Desember 2008

Bacaan : 1Samuel 24:1-14

24:1. (24-2) Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu, diberitahukanlah kepadanya, demikian: “Ketahuilah, Daud ada di padang gurun En-Gedi.”

 

24:2 (24-3) Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan.

 

24:3 (24-4) Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu.

 

24:4 (24-5) Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.

 

24:5 (24-6) Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul;

 

24:6 (24-7) lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.”

 

24:7 (24-8) Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya.

 

24:8 (24-9) Kemudian bangunlah Daud, ia keluar dari dalam gua itu dan berseru kepada Saul dari belakang, katanya: “Tuanku raja!” Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dengan mukanya ke tanah dan sujud menyembah.

 

24:9. (24-10) Lalu berkatalah Daud kepada Saul: “Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu?

 

24:10 (24-11) Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.

 

24:11 (24-12) Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku.

 

24:12 (24-13) TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau;

 

24:13 (24-14) seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau.

 

24:14 (24-15) Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja!

 

Tanggung Jawab Pribadi

berdoa

Salah satu kejahatan paling berbahaya di dunia ini adalah mengabsahkan sebuah tindakan atas nama Tuhan. Termasuk jika tindakan itu memperdaya, melukai, meneror, atau bahkan menghabisi nyawa sesama. Orang suka menyembunyikan keinginan dan ambisi pribadinya di balik topeng “kehendak Tuhan” atau “perintah suci agama”, sambil menghalalkan cara-cara tak bermoral.

Kisah Daud di En-Gedi menerangi pemahaman kita. Kesempatan dan semua faktor pendukung begitu terbuka untuk menghentikan sumber ancaman bagi dirinya. Saat itu Saul sedang lengah. Dengan satu kali kibasan pedang, selesai! Tak ada penghalang. Daud benar-benar bebas melakukannya. Bahkan keyakinan imannya sendiri mengatakan, “Tuhan sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku” (ayat 11). Artinya, jika Daud melakukannya pun, ia dapat membenarkan diri dengan alasan “Tuhan memang berkenan”. Tetapi, ia memilih untuk tidak melakukannya. Ia memilih untuk tidak mencemari tangannya dengan darah orang yang diurapi Tuhan.

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk dengan kehendak-bebas, tetapi sekaligus juga dengan tanggung jawab yang menyertai. Jadi, jangan gampang-gampang mengatakan “ini kehendak Tuhan”. Sebab andaikan bagi kita tampaknya Tuhan memang menghendaki, karena kesempatannya begitu terbuka, keputusan untuk melakukannya atau tidak masih tetap ada di tangan kita. Pertimbangan dan keputusan moralnya ada di pundak kita. Tuhan tidak menghendaki kita melepaskan diri dari tanggung jawab pribadi atas keputusan moral kita. Apalagi dengan cara “melemparkan” tanggung jawab itu kepada-Nya, dengan dalih “Tuhan menghendaki” -PAD

Iklan