Pergi

Sabtu, 13 Desember 2008

Bacaan : Kejadian 12:1-7

12:1. Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;

 

12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

 

12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

 

12:4. Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

 

12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.

 

12:6. Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.

 

12:7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.

 

Pergi

prev-dare-to-be-different

Karen, anak kami yang kecil, umur enam tahun, rambutnya panjang sampai sepunggung. Belakangan ujung-ujung rambutnya rusak; sering kusut dan susah kalau disisir. Saya dan istri memintanya potong rambut. Ia tidak mau. Katanya, ia sudah enak dengan rambut panjang begitu. Kami bujuk pun, ia tetap ngotot tidak mau. Sampai akhirnya dengan sedikit “iming-iming” dan “paksaan” ia mau juga potong rambut hingga panjangnya jadi seleher. Kini rambutnya tidak sering kusut lagi. Lebih sehat dan lebih mudah disisir pula. Ia pun senang dengan rambut pendeknya yang sekarang ini.

Salah satu kecenderungan yang dimiliki banyak orang adalah merasa nyaman dengan “status lama”. Ketika harus menghadapi situasi yang baru, mereka lebih mudah untuk berpikir negatif. Nanti bagaimana kalau begini, nanti bagaimana kalau begitu. Jadinya tidak maju-maju. Akan tetapi, tidak demikian dengan Abraham. Ia dan keluarganya sudah menetap di Haran. Lalu tiba-tiba datang firman Tuhan supaya ia pergi (ayat 1). Secara manusiawi Abraham tentunya bergumul. Namun ia tidak membiarkan dirinya terjebak dalam pikiran negatif. Ia pun pergi seperti yang Tuhan firmankan (ayat 4).

Ada saatnya kita menghadapi situasi serupa, yakni meninggalkan kehidupan yang sudah lama kita jalani untuk menempuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru itu bisa berupa tempat, bisa juga peran atau tanggung jawab. Jika demikian situasi yang kita hadapi, jangan gentar melangkah. Jalani dengan iman. Tuhan tidak mungkin membawa kita pergi untuk kemudian meninggalkan kita. Dia pasti akan memperlengkapi dan menyertai kita -AYA

Iklan