Ucapan Syukur Maria

Rabu, 31 Desember 2008

Bacaan : Yohanes 12:1-8

12:1. Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.

 

12:2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.

 

12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.

 

12:4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:

 

12:5 “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”

 

12:6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.

 

12:7 Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.

 

12:8 Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”

 

Ucapan Syukur Maria

maria-yesus

Novel Magdalene karya Angela Hunt memuat cerita unik yang didasarkan pada Yohanes 12:1-8. Kisahnya kurang lebih sama. Seminggu sebelum Yesus disalibkan, Maria, saudara Lazarus dari Betania, mengurapi Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya. Ia meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Aroma harum minyak itu memenuhi penjuru rumah. Namun, Yudas mencela tindakan itu sebagai sebuah pemborosan. Seharusnya Maria menjual minyak itu dan mendermakan uangnya kepada orang-orang miskin. Akan tetapi, Yesus menyambut pengurapan Maria itu sebagai persiapan bagi penguburan-Nya.

Menurut penuturan Hunt, Maria mengurapi Yesus bukan dengan maksud berterima kasih atas apa yang sudah Dia lakukan, yaitu membangkitkan Lazarus dari antara orang mati, melainkan untuk apa yang akan Yesus kerjakan, yaitu mati di kayu salib-menebus dosa umat manusia.

Selama ini, setiap berdoa malam bersama anak-anak, kami selalu mengucap syukur atas berkat dan kebaikan yang sudah Tuhan curahkan sepanjang hari-hal-hal yang telah kami lakukan. Atau, kami meminta perlindungan dan penyertaan Tuhan atas apa yang hendak kami lakukan. Namun, yang jarang terlintas dalam pikiran saya adalah bersyukur atas apa yang akan Tuhan kerjakan.

Masa pergantian tahun dapat menjadi saat yang tepat untuk meneladani sikap Maria. Kita bukan hanya bersyukur atas tahun yang sudah berlalu, tetapi juga bersyukur atas tahun yang akan datang. Bersyukur menandakan kepercayaan-bahwa segala sesuatu yang diizinkan-Nya terjadi nanti, semuanya itu demi kebaikan kita -ARS

Iklan

Kaleidoskop

Selasa, 30 Desember 2008

Bacaan : Ulangan 11:1-7

11:1. “Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya.

 

11:2 Kamu tahu sekarang–kukatakan bukan kepada anak-anakmu, yang tidak mengenal dan tidak melihat hajaran TUHAN, Allahmu–kebesaran-Nya, tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung,

 

11:3 tanda-tanda dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya di Mesir terhadap Firaun, raja Mesir, dan terhadap seluruh negerinya;

 

11:4 juga apa yang dilakukan-Nya terhadap pasukan Mesir, dengan kuda-kudanya dan kereta-keretanya, yakni bagaimana Ia membuat air Laut Teberau meluap meliputi mereka, ketika mereka mengejar kamu, sehingga TUHAN membinasakan mereka untuk selamanya;

 

11:5 dan apa yang dilakukan-Nya terhadapmu di padang gurun, sampai kamu tiba di tempat ini;

 

11:6 pula apa yang dilakukan-Nya terhadap Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, anak Ruben, yakni ketika tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya, kemah-kemah dan segala yang mengikuti mereka, di tengah-tengah seluruh orang Israel.

 

11:7 Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN.”

 

Kaleidoskop

mengingat

Tahun 2008 akan segera berlalu. Seperti biasa pada penghujung tahun, acara kaleidoskop banyak ditayangkan di televisi. Melalui acara-acara tersebut, kita diharapkan dapat mengingat dan memetik hikmah dari berbagai peristiwa yang telah terjadi selama satu tahun terakhir. Dengan bekal itu, diharapkan kita lebih siap menjalani tahun yang menjelang dengan mantap.

Perikop Alkitab hari ini adalah sebagian dari khotbah Musa kepada bangsa Israel sesaat sebelum memasuki tanah perjanjian yang tercatat dalam kitab Ulangan. Di dalam khotbahnya, Musa menceritakan kaleidoskop perjalanan bangsa Israel. Musa mengajak bangsa Israel untuk belajar dari segala peristiwa yang telah terjadi. Musa juga mengajak mereka mengingat segala kebesaran Tuhan (ayat 7). Kemudian, Musa meminta mereka untuk selalu taat kepada perintah Tuhan dan tidak mengulangi dosa-dosa yang telah dilakukan selama perjalanan mereka yang lalu. Dengan berbekal ini semua, Musa berharap bangsa Israel akan lebih siap memasuki tanah Kanaan.

Sesaat sebelum kita-bersama seluruh dunia-memasuki tahun yang baru, marilah kita mengambil waktu untuk membuat kaleidoskop kehidupan pribadi kita sendiri selama satu tahun yang telah lalu. Marilah kita mengingat kembali berbagai peristiwa penting dan berkesan yang telah terjadi; mengingat kembali cara Tuhan berkarya melalui peristiwa-peristiwa tersebut; memetik pelajaran yang bisa kita ambil; membuat komitmen untuk memperbaiki kesalahan. Berbekal itu semua, marilah kita masuki tahun 2009 dengan langkah iman yang lebih mantap -ALS

Aslan Semakin Besar

Senin, 29 Desember 2008

Bacaan : Efesus 4:13-15

4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,

 

4:14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,

 

4:15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

 

Aslan Semakin Besar

aslan2

Dalam novel Prince Caspian karya C.S. Lewis, Lucy menjadi orang pertama yang mengenali kehadiran Aslan. Lucy pernah bertemu penguasa Narnia itu dalam petualangan yang terdahulu, tetapi kali ini sosok sang Singa tampak lebih besar.

“Itu karena engkau bertambah usia, si kecilku sayang,” sang Singa menjawab keheranan Lusi.

“Bukan karena engkau yang bertambah besar?”

“Bukan. Namun, semakin besar engkau bertumbuh, akan kaudapati diriku juga bertambah besar.”

Melalui adegan kecil itu, Lewis menggambarkan dinamika pengenalan kita akan Allah. Misteri Allah yang tidak terbatas itu abadi dan tidak berubah. Sebaliknya, pengenalan kita akan Allah bukanlah sesuatu yang final, melainkan masih terus berkembang. Allah akan menyingkapkan kemuliaan-Nya kepada kita secara bertahap, seiring bertambahnya kapasitas pertumbuhan rohani kita. Seperti Lucy melihat Aslan, kita pun akan melihat Tuhan “bertambah besar.”

Tujuan pertumbuhan kita adalah “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29). Saat menyongsong tahun baru, kita dapat meluangkan waktu untuk mengevaluasi pertumbuhan rohani. Apakah Kristus “semakin besar” di dalam hidup kita? Apakah kita semakin penuh kasih, sabar, rendah hati, lemah lembut, dan mudah mengampuni-seperti Tuhan kita? Mari bulatkan hati untuk semakin bertumbuh pada tahun yang akan datang. Andalkan anugerah dan pertolongan Tuhan untuk mengubah perkara-perkara yang perlu diubah -ARS