Fokus Natal

Selasa, 23 Desember 2008

Bacaan : Matius 2:1-12

2:1. Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem

 

2:2 dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

 

2:3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.

 

2:4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.

 

2:5 Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:

 

2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”

 

2:7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.

 

2:8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.”

 

2:9. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

 

2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

 

2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

 

2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

 

Fokus Natal

orang-majus

Seorang ibu tengah menyusun daftar hadiah Natal buat para kerabat dan sahabat keluarga. Anaknya yang berumur tujuh tahun duduk di sampingnya dan asyik memerhatikan. “Nak, Ibu sudah menyusun daftar nama penerima hadiah Natal kita. Coba kamu lihat, apakah ada nama yang lupa Ibu tulis?” tanyanya. Si anak menyimak daftar nama yang ditulis ibunya dengan teliti. “Ibu lupa mencantumkan nama Yesus,” sahutnya kemudian.

Sebetulnya sangat ironis ketika Natal tidak lagi berfokus pada Kristus. Bukankah Natal adalah peringatan akan hari kedatangan-Nya? Sayangnya, yang kerap terjadi sekarang adalah orang-orang malah sibuk dengan kepentingan dan kesenangannya sendiri, sehingga pertanyaan yang muncul bukan, “Apa yang bisa aku berikan buat Sang Bayi Kudus?”, melainkan, “Hadiah apa yang akan aku dapat? Mau shopping ke mana? Bisnis apa lagi yang bisa aku garap?”. Fokusnya adalah “aku”, bukan Kristus.

Di gereja pun demikian. Orang begitu sibuk dengan berbagai persiapan acara, hingga tidak jarang orang saling berkelahi. Kita lupa untuk duduk tenang dan bertanya, “Apakah memang ini yang Kristus inginkan sebagai peringatan atas kelahiran-Nya?” Tidak heran kalau kemudian Natal berlalu tanpa makna. Hanya sebuah rutinitas. Tidak mengubah atau memperbarui apa-apa.

Hari ini kita kembali membaca kisah para Majus. Mereka datang ke Betlehem dari negeri yang jauh; melewati berbagai rintangan dan bahaya; membawa hadiah-hadiah bermakna untuk Kristus. Fokus mereka adalah: menyembah Kristus, bukan menuruti keinginan atau kepentingan sendiri -AYA

Iklan

Selamat Hari Ibu

happy_mothers_day

Bangku Natal

Senin, 22 Desember 2008

Bacaan : Roma 15:1-6

15:1. Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.

 

15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.

 

15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.”

 

15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.

 

 

15:5. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,

 

15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.

 

Bangku Natal

bangku-gereja

Ketika saya tengah menempuh studi di China, seorang sahabat menceritakan sebuah pengalaman malam Natal di suatu gereja rumah. Sebelum Natal, pendeta di gereja itu mengingatkan jemaat untuk mengundang sebanyak mungkin keluarga dan teman yang belum percaya, agar hadir dalam kebaktian malam Natal. Saat Natal tiba, rumah tempat mereka mengadakan ibadah dibanjiri banyak orang. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali beribadah di gereja. Karena banyak sekali yang datang, bangku yang tersedia tidak mencukupi. Tanpa perlu dikomando, beberapa jemaat yang melihat hal itu segera memberikan bangku mereka. Lalu mereka masuk ke kamar dan berdoa supaya orang yang duduk di bangku mereka mendengar Injil dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Mendengar kisah itu, saya ingat kata Paulus dalam surat Filipi. Bahwa Kristus, sekalipun setara dengan Allah, rela mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:7) ketika datang ke dunia ini. Dia merelakan hak yang sesungguhnya patut Dia nikmati. Dia tidak hendak dilayani, tetapi hendak melayani dan memberikan nyawa-Nya.

Bagaimana dengan kita? Kerap kali Natal kita buat semegah dan semeriah mungkin demi kepuasan diri. Mungkin kita menyisihkan uang untuk kegiatan sosial, tetapi terkadang itu hanya embel-embel dan bukan inti acara Natal. Ini saatnya kita kembali ke berita Natal, yaitu meneladani Allah yang memberi. Merelakan hak-hak kita, agar orang lain dimudahkan untuk mengenal Tuhan. Kita dapat segera memulainya, bahkan dari hal kecil seperti berbagi bangku -GS

Silsilah Kristus

Sabtu, 20 Desember 2008

Bacaan : Matius 1:1-17

1:1. Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.

 

1:2 Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,

 

1:3 Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram,

 

1:4 Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,

 

1:5 Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,

 

1:6 Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,

 

1:7 Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa,

 

1:8 Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia,

 

1:9 Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia,

 

1:10 Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia,

 

1:11 Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.

 

1:12 Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel,

 

1:13 Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor,

 

1:14 Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud,

 

1:15 Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub,

 

1:16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

 

1:17 Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.

 

Silsilah Kristus

Silsilah barangkali merupakan bagian Alkitab yang paling “membosankan”. Betapa tidak, di sana kita hanya menemukan deretan nama orang. Tidak heran kalau banyak orang, ketika membaca Alkitab sampai pada bagian ini, lebih suka melewatinya atau membacanya secara sekilas. Padahal, jika silsilah itu dimuat dalam firman Tuhan, tentu ada maknanya; tidak asal ada atau sebagai pelengkap belaka.

Orang Yahudi pada masa itu sangat mengagungkan asal-usul atau keturunan seseorang. Bagi mereka, silsilah sangat penting. Selain untuk membuktikan “keaslian” ras mereka, silsilah juga akan menunjukkan “keunggulan” nenek moyang mereka. Itu sebabnya mereka membenci orang Samaria karena ras mereka dianggap sudah tidak murni. Itu sebabnya pula Raja Herodes pernah memerintahkan agar catatan silsilahnya dibakar untuk menutupi fakta bahwa ia bukan keturunan Yahudi asli.

Bertolak dari latar belakang itu, sangat menarik kalau dalam silsilah Yesus justru terdapat nama-nama yang bereputasi “minus”. Ada Tamar yang pernah melacurkan diri terhadap Yehuda, ayah mertuanya, hingga mengandung (Kejadian 38:1-30). Ada Rut, perempuan bangsa Moab (Rut 1:3,4). Disebut juga di sana “istri Uria”, Batsyeba, yang dizinahi Daud (2Samuel 11:1-27).

Apa artinya? Kelahiran Kristus menyediakan pemulihan bagi mereka yang di masa lalu “tercemar oleh kelamnya dosa”; meruntuhkan tembok pemisah antara “ras unggul” dan “rasa rendahan”; sekaligus meniadakan sekat penghalang antara suku bangsa. Inilah kabar baik yang dibawa Kristus ke dalam dunia. Tugas kita sebagai umat kristiani adalah meneruskannya -AYA

”Setrum” yang menyenangkan

Jumat, 19 Desember 2008

Bacaan : Lukas 1:39-45

1:39. Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

 

1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.

 

1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,

 

1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.

 

1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

 

1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.

 

1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

 

”Setrum” yang menyenangkan

smiley

Kesedihan dan kegembiraan itu menular. Apabila Anda sedih, orang di sekitar Anda dapat merasakannya. Bahkan mereka bisa ikut sedih. Sebaliknya, jika Anda bergembira, suasana hati Anda akan memendar hangat, sehingga terasa oleh orang lain. Bahkan bisa menghangatkan hati mereka juga. Jadi bukan hanya penyakit, pengalaman rasa dalam diri manusia dapat menular. Lalu, bagaimana dengan pengalaman batin? Bisakah itu menular? Tentu saja! Bila batin seseorang damai, maka kedamaian itu akan memancar lembut di mata, wajah, dan seluruh tubuhnya. Siapa pun yang berhubungan dengannya, sedikit banyak akan “tersetrum” damainya.

Suatu ketika, Maria mengunjungi Elisabet untuk meneguhkan hatinya sehubungan dengan pernyataan malaikat Gabriel (ayat 36). Saat mereka berjumpa, Elisabet merasakan “setrum”-anak dalam rahimnya melonjak dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus (ayat 41). Bahkan ia dapat berkata, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (ayat 43). Padahal Kitab Suci tidak mengatakan bahwa malaikat juga menyampaikan pesan itu kepada Elisabet!

Perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi juga bisa terasa seperti “setrum” yang menyenangkan. Dan itu bisa Anda bagikan kepada dunia. Namun, tak usah merasa gagal bila tak ada orang yang menyatakannya, sebab hal ini memang tak menuntut pengakuan. Rasakan, hayati, dan nikmati setrum perjumpaan dengan Tuhan sebagai penguatan bagi diri Anda. Dan orang-orang yang murni hatinya, seperti Maria dan Elisabet, dengan sendirinya akan “saling setrum”. Semoga kita juga -DKL

Inkarnasi, Sumber Inspirasi

Kamis, 18 Desember 2008

Bacaan : Filipi 2:1-11

2:1. Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

 

2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

 

2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

 

2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

 

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

 

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

 

2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

 

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

 

2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

 

2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

 

2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

 

Inkarnasi, Sumber Inspirasi

 

Apa kesamaan Fransiskus Asisi, Ibu Teresa, dan Romo Mangun? Salah satu hal yang paling menonjol dari ketiganya adalah mereka rela meninggalkan kenyamanan hidup untuk tinggal dan melayani orang-orang miskin; baik di Eropa berabad-abad yang lalu, di India, maupun di Indonesia. Kita percaya mereka melakukannya karena iman kepada Kristus. Kita pun percaya inspirasi mereka datang dari peristiwa dua ribu tahun lalu, pada suatu malam di Betlehem.

Malam itu, Allah Pencipta dan Penguasa semesta meninggalkan segala kemuliaan-Nya, berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Bukan dalam rupa seorang raja, bangsawan, atau orang terhormat, melainkan sebagai anak dari sepasang wong cilik (rakyat jelata), yang bahkan tak sanggup menyewa tempat untuk melahirkan bayi dengan layak (Lukas 2:7). Paulus menggambarkan peristiwa ini dengan kalimat: “Dia mengosongkan diri-Nya” (ayat 6).

Peristiwa inkarnasi Allah menjadi manusia biasa memang patut dikagumi dan disyukuri. Namun tak hanya itu, peristiwa ini mesti menginspirasi dan menggerakkan kita untuk melayani orang lain, seperti ketiga tokoh di atas. Mereka bersedia keluar dari kenyamanan; untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Ada begitu banyak orang di sekitar kita dan di dunia ini yang menderita; baik secara fisik, mental, atau spiritual. Mereka memerlukan makanan, pakaian, dan perawatan. Mereka perlu dihibur, ditemani, dan dikasihi. Terlebih mereka perlu mendengar Injil. Tuhan telah memulai. Kini giliran kita yang hidup pada zaman ini untuk meneruskannya -ALS

Obat Dalam Luka

Rabu, 17 Desember 2008

Bacaan : 2 Korintus 1:3-11

1:3. Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan,

 

1:4 yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.

 

1:5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.

 

1:6 Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.

 

1:7. Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami.

 

1:8 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami.

 

1:9 Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.

 

1:10 Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi,

 

1:11 karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.

 

Obat Dalam Luka

jesus_blessing_children

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang memiliki ilmu kebal; yang tak mempan ditembus senjata tajam, bahkan peluru? Mungkin pernah. Namun, adakah orang yang kebal terhadap penderitaan? Selama punya rasa dan hati, orang tidak dapat kebal dari kesesakan hidup. Akan tetapi, penderitaan yang berat belum tentu “menggilas” manusia. Mari cermati pesan Paulus tentang hal ini.

Mengawali suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata bahwa Allah telah menghiburnya dalam penderitaan. Ya, ia memang sedang harus menanggung kesengsaraan Kristus ketika surat ini ditulis (ayat 5). Namun, saat ia mengalami penderitaan berat, ada juga penghiburan yang besar. Bahkan penderitaan itu pada gilirannya justru menjadi penghiburan. Inilah pesannya; di tengah impitan beban hidup, kita mesti membuka hati untuk merasakan penguatan Allah. Dan ada satu kenyataan ilahi yang memampukan kita untuk menghadapi segala beban hidup, yakni bahwa Allah kita sungguh berkuasa, bahkan dapat membangkitkan orang mati (ayat 9). Hal ini terbukti melalui peristiwa kebangkitan Kristus. Dan itulah pengharapan Paulus.

Jika kita menghadapi beban hidup bersama-sama dengan Allah, maka sebuah “luka” pun dapat berubah menjadi “obat”. Bagaimana tidak? Penderitaan yang kita alami akan membuat kita memiliki pengalaman iman dengan Tuhan. Melalui hal itu, kita pun dikuatkan untuk tetap tegar di tengah badai. Dan pada gilirannya, orang yang kuat akan dapat meneguhkan orang lain. Bukan dengan penghiburan yang klise, tetapi penghiburan yang berdasarkan pengalaman nyata -DKL