Find and See

find_see

Bacaan: Amsal 22:24-25

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak.– Amsal 13:20

Pelikan adalah burung penangkap ikan yang ulung. Tetapi di kota Monterey, California hal seperti ini tidak terjadi. Di kota ini, burung-burung pelikan tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan ikan, karena banyak sekali pabrik-pabrik pengalengan ikan. Selama bertahun-tahun mereka berpesta dengan ikan-ikan yang berserakan. Tetapi hal yang menakutkan terjadi ketika ikan di sepanjang pesisir mulai habis, dan pabrik-pabrik pengalengan mulai tutup, burung-burung tersebut mengalami kesulitan. Karena sudah bertahun-tahun tidak menangkap ikan, mereka menjadi gemuk dan malas. Ikan-ikan yang dulu mereka dapatkan dengan mudah sudah tidak ada, sehingga satu persatu dari mereka mulai sekarat dan mati.

Para pencinta lingkungan hidup berusaha keras untuk menyelamatkan mereka. Berbagai cara dicoba untuk mencegah populasi burung ini agar tidak punah. Sampai suatu saat terpikirkan oleh mereka untuk mengimport burung-burung pelikan dari daerah lain, yaitu pelikan-pelikan yang berburu ikan setiap hari. Pelikan-pelikan tersebut lalu bergabung bersama pelikan-pelikan setempat. Hasilnya luar biasa. Pelikan-pelikan baru tersebut dengan segera berburu ikan dengan giatnya, perlahan-lahan pelikan-pelikan yang kelaparan tersebut tergerak untuk berburu ikan juga. Akhirnya pelikan-pelikan di daerah tersebut hidup dengan memburu ikan lagi.

Les Giblin, seorang pakar hubungan manusia menjelaskan bahwa manusia belajar sesuatu dari panca inderanya. 1% dari rasa, 1½ % dari sentuhan, 3½ % dari penciuman, 11% dari pendengaran, dan 83% dari pengelihatan. John C Maxwel, seorang pakar kepemimpinan dalam sebuah surveinya membuktikan bahwa, “Bagaimana seorang menjadi pemimpin?” 5% akibat dari sebuah krisis, 10% adalah karunia alami, dan 85% adalah dikarenakan pengaruh dari pemimpin mereka.

Demikian halnya jika Anda ingin semakin maju, maka salah satu cara terbaik adalah dengan bergaul dengan orang-orang yang berprestasi yang bisa anda temui. Perhatikan cara mereka bekerja, lihat hidup mereka, pelajari cara berpikir mereka, lihat bagaimana mereka mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup mereka. Memang benar kita dapat belajar dari Tuhan langsung atau melalui pimpinan Roh Kudus, tapi kita juga harus terbuka ketika Tuhan menempatkan orang-orang terbaik yang bisa memacu hidup kita.

Carilah pergaulan yang dapat membangun kerohanian dan kehidupan Anda!

(Dhany)

» Ilustrasi Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit

Firman Tuhan Yang Terutama

Pesan Gembala

25 Januari 2009

Edisi 59 Tahun 2

 

FIRMAN TUHAN YANG TERUTAMA

Shallom…

Salam Miracle…

Jemaat yang diberkati  Tuhan, waktu terus berlalu dan sekarang sudah pada minggu terakhir di bulan Januari 2009. Kiranya waktu yang Allah berikan kepada kita, bisa kita manfaatkan sebaik mungkin, baik dalam kita berurusan dengan pekerjaan, mengatur rumah tangga, pelayanan, bermasyarakat, dan lain sebagainya.

 

Dalam ilmu sosial dikenal istilah masyarakat legalities. Yang dimaksud dengan masyarakat legalities adalah kumpulan manusia yang seluruh kehidupannya ditentukan oleh pelaksanaan hukum dan aturan secara tepat. Salah satu contoh masyaraka legalities adalah bangsa Yahudi terutama pada masa Yesus ketika itu. Selain sekian banyak aturan keagamaan yang tertera dalam kitab Taurat, juga masih ada aturan-aturan dan adat istiadat tambahan yang mereka buat sendiri yang harus mereka lakukan dan patuhi. Kepatuhan terhadap aturan-aturan yang dimaksud diyakini akan mendatangkan berkat. Sebaliknya, sikap atau tindakan yang tidak bersesuaian dengan aturan-aturan yang ada akan mendatangkan cercaan, hinaan, bahkan hukuman.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan…

Selama menjalani kehidupanNya di dunia ini, Yesus berkali-kali berhadapan dengan sikap legalities dari para tetua Yahudi baik ahli Taurat maupun para Imam Yahudi. Mari kita melihat dan merenungkan ketika beberapa orang Farisi datang makan bersama. Mereka (orang Farisi) menegur Yesus karena murid-murid-Nya makan tanpa mencuci tangan (terdapat dalam Markus 7:1-13).

Menurut hukum Taurat, para murid Yesus dianggap makan dengan tangan najis, bagi orang Farisi, mereka tidak akan makan sebelum cuci tangan sebab hal itu melanggar hukum Yahudi. Teguran dan gerutu orang-orang Farisi ini justru membuat Yesus menjadi gusar. Bahkan Yesus pun berbalik mengecam mereka yang selama hidupnya telah mengorbankan Firman Allah demi pelaksanaan warisan adat istiadat dan aturan-aturan yang nyata-nyata hanyalah buatan manusia. Yesus berkata “…hai orang-orang munafik… bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia…Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”. Maksudnya adalah Yesus menunjukkan bahwa Firman Allah jauh berada di atas aturan manusia. Namun, orang-orang Farisi terlalu tegar tengkuk untuk mengakuinya.

Kehidupan kita yang semakin rumit di tengah masyarakat sering makin diperumit lagi dengan banyaknya aturan yang harus kita jalani.

 

Bagaimana sikap dan tanggapan kita?
Kita perlu menaati aturan demi keteraturan dan ketertiban dalam masyarakat. Akan tetapi ketaatan terhadap peraturan dunia yang dibuat oleh manusia hendaknya tidak mengatasi atau mencegah kita untuk lebih taat kepada Firman dan peraturan Allah yang kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari kita. Peraturan dunia memang menawarkan keamanan dan kenyaman, namun keselamatan kekal hanya ditawarkan oleh seluruh hukum Allah yang tertera dalam Alkitab. Kiranya Firman Allah yang adalah KEBENARAN tetap yang terutama dalam kehidupan kita semua.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Mencapai Puncak

Senin, 26 Januari 2009

Bacaan : Filipi 3:10-16

3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

 

3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

 

3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

 

3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

 

3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

 

3:15. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.

 

3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

 

Mencapai Puncak

edmund_hillary_everest

Pagi-pagi buta, dua orang pemuda mendaki gunung untuk melihat matahari terbit. Dua jam berlalu. Selama waktu tersebut, semestinya para pendaki sudah tiba di puncak. Namun, mereka baru menempuh setengah jalan, karena kerap berhenti kelelahan. Tiap kali beristirahat, mereka melihat pemandangan indah di bawah. Godaan di hati acap kali muncul: “Buat apa naik lagi? Di sini saja pemandangannya sudah indah!” Setelah tiba di puncak, barulah mereka menyadari betapa mereka rugi apabila berhenti mendaki. Pemandangan di puncak ternyata jauh lebih indah daripada di tempat-tempat perhentian.

Perjalanan iman kita ibarat pendakian menuju puncak; menuju kesempurnaan dan kekudusan. Jalannya sulit dan mendaki. Pada saat kita penat, godaan terbesar yang kerap muncul adalah perasaan cukup. Kita merasa sudah cukup lama berjuang. Bukankah hasilnya sudah tampak, buat apa berjuang lagi? Akhirnya kita mandek; berhenti. Rasul Paulus tidak ingin hal itu terjadi atas dirinya. Karena itu, ia bertekad untuk “melupakan apa yang di belakangku” (ayat 13). Ia tidak mau terpukau dengan segala prestasi yang telah ia raih. Ia berprinsip “aku belum menangkapnya”. Garis akhir belum terlihat. Yang terbaik masih harus diraih. Kesadaran ini mendorongnya untuk terus maju berjuang-berlari menuju tujuan.

Apakah Anda penat karena sudah lama berjuang untuk pemulihan diri ataupun keluarga? Apakah kelelahan membuat Anda ingin berhenti sampai di sini? Apakah Anda merasa cukup puas hidup di bawah standar yang Tuhan inginkan? Jangan berhenti sebelum mencapai puncak! Di sana tersedia berkat yang jauh lebih indah -JTI

DI SEPANJANG JALAN MENUJU KESEMPURNAAN

ADA BANYAK TEMPAT PERHENTIAN YANG PENUH GODAAN

Sikap Hati

Selasa, 27 Januari 2009

Bacaan : Yunus 4

4:1. Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.

 

4:2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

 

4:3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”

 

4:4 Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?”

 

4:5. Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.

 

4:6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.

 

4:7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.

 

4:8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.”

 

4:9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”

 

4:10 Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.

 

4:11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

 

Sikap Hati

sikap-hati

Perbedaan antara melayani Tuhan dan melayani diri sendiri sangatlah tipis. Kita bisa saja memakai alasan melayani Tuhan, tetapi sebenarnya kita tengah melayani kepentingan dan kepuasan diri sendiri. Salah satu cara untuk menguji hal tersebut adalah dengan melihat respons yang kita berikan tatkala pelayanan kita tidak dihargai oleh orang lain, atau tatkala pendapat dan keinginan kita dalam pelayanan tidak diterima. Apabila respons kita adalah marah, bahkan sampai mengundurkan diri dari pelayanan, itu berarti kita tidak sedang melayani Tuhan tetapi melayani diri sendiri.

Salah seorang tokoh Alkitab yang pernah bersikap demikian adalah Yunus. Yunus marah tatkala melihat bahwa apa yang Tuhan lakukan ternyata tidak sesuai dengan keinginan dirinya (ayat 1). Yunus kecewa tatkala Tuhan mau mengampuni Niniwe, musuh besar bangsa Israel ketika itu. Akan tetapi, Tuhan tidak membiarkan Yunus terus menerus larut dalam kemarahannya. Tuhan menghibur dan mengubah sikap hati Yunus melalui tumbuh dan matinya sebuah pohon jarak. Tuhan mengajarkan bahwa yang seharusnya Yunus layani adalah keinginan Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Niniwe. Bukan keinginan hati Yunus yang menghendaki agar bangsa itu dihukum saja. Sikap hati yang lebih mementingkan keinginan Tuhanlah yang seharusnya dimiliki oleh setiap hamba-Nya.

Salah satu kesalahan yang kerap dihadapi para pelayan Tuhan adalah tatkala ia tidak lagi bisa membedakan mana keinginan Tuhan dan mana keinginan diri sendiri. Oleh sebab itu, marilah kita berubah. Milikilah sikap hati yang benar -RY

MELAYANI BERARTI MENGERJAKAN URUSAN TUHAN

BUKAN URUSAN KITA

Sumber : http://www.sabda.org

Tetap Bertekun

Rabu, 28 Januari 2009

Bacaan : Yakobus 5:7-11

5:7 Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.

 

5:8 Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!

 

5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.

 

5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.

 

5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

 

Tetap Bertekun

agatha-christie

Agatha Christie adalah penulis cerita misteri terkenal di dunia. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa lima buku pertama yang ia tulis gagal total. Tidak laku. Menghadapi kegagalan tersebut, Christie tidak putus asa. Ia bertekad untuk menulis lagi sambil belajar dari kegagalannya. Hasilnya? Buku keenamnya mendapat sambutan luar biasa. Sejak saat itu Christie sukses. Ia pun bertekad untuk terus menulis. Minimal satu buku dalam setahun. Ketekunannya tersebut mendorongnya menjadi penulis produktif. Ia berhasil menulis 66 cerita misteri, ditambah 6 novel, dan banyak cerita pendek.

Kerja keras yang kita lakukan biasanya tidak langsung memberi hasil seperti yang kita harapkan. Inilah nasihat Yakobus kepada umat Tuhan yang telah berusaha keras hidup kudus. Dengan melakukannya, mereka berharap Tuhan akan datang segera. Namun ternyata tidak. Mereka pun menjadi jemu dan patah semangat. Yakobus mengingatkan bahwa kerja keras kita harus dibarengi dengan ketekunan. Seorang petani, misalnya, tidak cukup hanya bekerja keras merawat tanamannya tiap hari. Ia harus sabar dan bertekun; menunggu sampai hujan turun dan musim panen tiba (ayat 7). Tanpa ketekunan, ia akan menjadi jemu bahkan berhenti bekerja sebelum panen tiba. Sudah keburu patah semangat melihat tanamannya tak kunjung berbuah.

Apakah Anda tengah berjuang mengatasi sifat buruk? Ataukah Anda tengah bekerja keras untuk mencapai target tertentu dalam pekerjaan? Jangan mundur jika hasilnya belum tampak seperti yang Anda harapkan. Bertekunlah sambil menantikan pertolongan Tuhan -JTI

BANYAK ORANG GAGAL BUKAN KARENA KURANG KEMAMPUAN

MELAINKAN KARENA KURANG KETEKUNAN

Sumber : http://www.sabda.org

Kamis, 29 Januari 2009

Bacaan : Keluaran 17:1-7

17:1. Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu.

 

17:2 Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”

 

17:3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”

 

17:4 Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”

 

17:5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah.

 

17:6 Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.

 

17:7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”

 

Kelangkaan Air?

kesulitan-air1

Di Indonesia air mudah didapat. Tidak demikian halnya di gurun pasir Mesir. Medannya sangat gersang. Kering. Suhu di siang hari mencapai lebih dari 400C. Disitu air menjadi sangat berharga. Ini soal hidup-mati. Tanpa air cukup, Anda akan mengalami dehidrasi, bahkan kematian. Di gurun itu, Anda bisa membeli 1,5 liter air botolan seharga 20-50 ribu rupiah. Namun pada zaman Musa, tidak ada penjual air! Bisa dipahami betapa paniknya orang Israel ketika mereka kekurangan air. Kematian sudah membayang. Mereka pun bersungut-sungut.

Dalam situasi panik dan stres, bersungut-sungut adalah respons alami yang sangat manusiawi. Masalahnya, umat Israel punya cukup alasan untuk tidak bersungut-sungut. Bukankah selama ini mereka hidup dari mukjizat Tuhan hari demi hari? Tiang awan dan tiang api tampak memimpin di depan. Baru saja Tuhan membuat air pahit di Mara menjadi manis sehingga bisa diminum (Keluaran 15:22-27). Sebelumnya, Tuhan telah membelah laut Merah sehingga mereka bisa berjalan di tengahnya (Keluaran 14:15-31). Tidak cukupkah semua pengalaman penuh mukjizat itu meyakinkan mereka bahwa kali ini pun Tuhan akan menolong lagi? Bahwa Tuhan tak akan membiarkan mereka mati kehausan?

Jadi, masalah mendasar umat Tuhan saat itu bukanlah kelangkaan air, melainkan kelangkaan iman. Kita pun bisa mengalami hal serupa. Lain kali, jika Anda mulai bersungut-sungut, ingat lagi berapa banyak pertolongan Tuhan yang pernah Anda alami di masa lalu. Yang mustahil telah dibuat menjadi mungkin. Tidakkah Anda yakin bahwa Tuhan akan menolong Anda sekali lagi? -JTI

SETIAP KALI TUHAN MENOLONG KITA,

TIDAK PERNAH DIA BERKATA: “INI KALI YANG TERAKHIR!”

Jangan ngomporin!

Jumat, 30 Januari 2009

Bacaan : Ester 5:9-14

5:9. Pada hari itu keluarlah Haman dengan hati riang dan gembira; tetapi ketika Haman melihat Mordekhai ada di pintu gerbang istana raja, tidak bangkit dan tidak bergerak menghormati dia, maka sangat panaslah hati Haman kepada Mordekhai.

 

5:10 Tetapi Haman menahan hatinya, lalu pulanglah ia ke rumahnya dan menyuruh datang sahabat-sahabatnya dan Zeresh, isterinya.

 

5:11 Maka Haman menceriterakan kepada mereka itu besarnya kekayaannya, banyaknya anaknya laki-laki, dan segala kebesaran yang diberikan raja kepadanya serta kenaikan pangkatnya di atas para pembesar dan pegawai raja.

 

5:12 Lagi kata Haman: “Tambahan pula tiada seorangpun diminta oleh Ester, sang ratu, untuk datang bersama-sama dengan raja ke perjamuan yang diadakannya, kecuali aku; dan untuk besokpun aku diundangnya bersama-sama dengan raja.

 

5:13 Akan tetapi semuanya itu tidak berguna bagiku, selama aku masih melihat si Mordekhai, si Yahudi itu, duduk di pintu gerbang istana raja.”

 

5:14 Lalu kata Zeresh, isterinya, dan semua sahabatnya kepadanya: “Suruhlah orang membuat tiang yang tingginya lima puluh hasta, dan persembahkanlah besok pagi kepada raja, supaya Mordekhai disulakan orang pada tiang itu; kemudian dapatlah engkau dengan bersukacita pergi bersama-sama dengan raja ke perjamuan itu.” Hal itu dipandang baik oleh Haman, lalu ia menyuruh membuat tiang itu.

 

Jangan Ngomporin!

candle

Ngomporin adalah istilah lain dari memanas-manasi. Sesuai asal katanya, kompor, benda dapur yang fungsinya memanaskan atau memasak. Misalnya, Pak Kutut jengkel sekali dengan pendeta di gereja. Ia bercerita kepada Pak Towil, teman main tenisnya. Respon Pak Towil, “Iya tuh, memang pendetamu itu begitu. Payah. Gila hormat. Kamu sih masih baik, masih mau menyapa. Kalau aku, melihatnya saja sudah ingin muntah!” Di sini Pak Towil sudah ngomporin Pak Kutut.

Sikap suka ngomporin ini berbahaya karena bisa mendatangkan celaka. Hal inilah yang terjadi pada Haman. Haman jengkel sekali dengan Mordekhai. Penyebabnya sebetulnya sepele, yaitu karena Mordekhai tidak mau berlutut dan sujud kepada Haman (Ester 3:5). Celakanya, istri dan para sahabatnya bukannya meredakan panas hati Haman, melainkan malah ngomporin. “Suruhlah orang membuat tiang yang tingginya lima puluh hasta, dan persembahkanlah besok pagi kepada raja, supaya Mordekhai disulakan orang pada tiang itu; kemudian dapatlah engkau dengan bersukacita pergi bersama-sama dengan raja ke perjamuan itu” (ayat 14). Pada akhirnya, justru Haman sendiri yang mati digantung, bukan Mordekhai (Ester 7:1-10). Istri dan para sahabat Haman, bisa dibilang punya andil dalam tragedi yang menimpa Haman itu.

Maka, jauhkanlah dari kita sikap suka ngomporin. Sebaliknya, berusahalah menjadi orang yang mengademkan, menenangkan, sehingga orang lain bisa berpikir jernih dan tidak salah mengambil keputusan. Kita ikut bertanggung jawab, apabila ada orang lain yang celaka karena kita telah ngomporin -AYA

JANGAN JADI KOMPOR

JADILAH LILIN YANG MENERANGI KEGELAPAN HATI

Sumber : http://www.sabda.org