Nantikanlah Pengertian Tuhan

Pesan Gembala

4 Januari 2009

Edisi 56 Tahun 2

 

Nantikanlah Pengertian Tuhan

 

Shallom…

Salam Miracle

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati Tuhan.

Nantikan pengertian dari Allah, “Sekiranya umatKu mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan dan terhadap para lawan Aku balikkan tanganKu” janganlah bersandar kepada alasan-alasan yang terbatas atau pada kecakapan/kecerdasan manusia belaka.

 

Dalam keseharian kita sering dihadapkan pada peperangan rohani. Peperangan rohani hanya dimenangkan melalui ketaatan dalam mengikuti kemauan Allah yang sudah diberikanNya melalui Roh Kudus. Bila kita mendengar kepada Allah dengan ketergantungan seperti anak kecil, maka Ia akan menuntun kita masuk ke dalam kemenangan.

 

Ayat-ayat yang ada di dalam Alkitab penuh dengan nasehat untuk menanti-nantikan Tuhan: lalu ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.” Kita sudah dijanjikan bahwa Allah akan berbicara bila kita mau mencari Dia. Yohanes 10:27 mengatakan: “Domba-dombaKu mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”

 

Ketika menanti-nantikan Tuhan dan memberi ruang gerak kepada-Nya untuk bergerak, maka Ia selalu bergerak. Teladan dari Yesus adalah bahwa Dia senantiasa meminta petunjuk dari Bapa perihal firman yang seharusnya Ia katakan. Yohanes 12:49-50 “sebab Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup; yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaKu.”

 

Alkitab memperingatkan kita tentang dosa kesombongan kita yang mencoba untuk memperluas kerajaan Allah tanpa meminta arah yang jelas dari Dia. Mari kita melihat bangsa Israel, setelah kemenangan besar di Yerikho, umat Israel mengalami kekalahan yang menyakitkan di Ai. Kekalahan itu karena mereka tidak meminta petunjuk dari Tuhan, atau tidak menanti dan berharap kepada Tuhan, maka di kemudian hari mereka masih melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Inilah yang dinamakan kebebalan umat Israel.

 

Ini menjadi peringatan bagi umat Tuhan sekarang ini, seringkali hati kita bisa dengan cepat diperdaya masuk ke dalam rasa kepercayaan yang berlebihan, bahwa kita sudah merasa memiliki pengertian akan kebenaran rohani yang tinggi dan akhirnya merasa bisa. Harus kita ingat, bahwa musuh kita adalah bapanya penipu. Kita tidak akan bisa menandinginya, kecuali kalau Roh Allah menyertai dan memimpin kita. Galatia 5:16,”maksudnya ialah: hiduplah oleh Roh”. Tidak lama setelah kekalahan di Ai, bangsa Israel ditipu habis-habisan oleh suku bangsa Gibeon. Mereka membuat perjanjian yang lancang dengan musuh mereka karena mereka mempercayai alasan dan keputusan sendiri dan TIDAK meminta keputusan Tuhan.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan…

Kita bisa saja membuat rencana yang besar, dan kemudian dengan mantap membuat keputusan, tetapi Allah sendirilah yang sanggup meraih kemenangan. Dia hanya memberkati apa yang sudah Dia mulai dengan rencanaNya. Untuk itu kiranya kita tetap bertindak sesuai dengan rencanaNya, sehingga Allah memberkati kita. Tetaplah berharap kepada Allah.

 

Kiranya tahun 2009 menjadi tahun berkat dan penuaian berlipat ganda bagi kita semua… Amin.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

Optimalkan Hidup

Bacaan: Lukas 23:33-43

23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.

 

23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.

 

23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”

 

23:36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya

 

23:37 dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!”

 

23:38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”.

23:39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

 

23:40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?

 

23:41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

 

23:42 Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

 

23:43 Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

 

Optimalkan Hidup

optimalkan_hidupSeorang dokter memvonis John Brandrick, seorang pria London, bahwa umurnya tinggal satu tahun saja karena mengidap kanker pankreas. Setelah menerima vonis mati tersebut, Brandrick memutuskan untuk menikmati hidupnya. Ia memilih berhenti dari pekerjaannya, menjual semua harta bendanya, menghabiskan uangnya untuk makan-makan, berlibur dan memuaskan sisa hidupnya. Namun kemudian, satu tahun berlalu tanpa terjadi apa-apa, bahkan setelah dua tahun dari vonis mati tersebut ia tetap hidup. Brandrick senang bahwa ia tak jadi mati, tapi sayang ia sudah bangkrut, kehilangan pekerjaan dan tidak punya apa-apa lagi. Itu sebabnya dia menuntut kepada dokter yang telah menjatuhkan vonis mati tersebut untuk mengembalikan uang yang selama ini telah dihambur-hamburkannya. *

Apa yang akan kita lakukan seandainya kita divonis mati seperti halnya kisah nyata tersebut di atas? Barangkali sebagian besar di antara kita akan berbuat seperti yang dilakukan oleh John Brandrick. Kita akan memilih untuk santai-santai, memuaskan keinginan kita begitu rupa atau bahkan menghambur-hamburkan uang yang kita miliki, toh sebentar lagi kita akan mati. Sebenarnya ini adalah cara berpikir yang keliru. Jika kita tahu umur kita tinggal sedikit, bukankah seharusnya kita menggunakan waktu yang ada begitu rupa dengan maksimal? Saya sangat kagum dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Dia benar-benar tahu bagaimana mengoptimalkan waktu yang ada selama di dunia ini. Bahkan saat-saat terakhir menjelang Dia mati di atas kayu salib, Yesus masih juga membawa satu jiwa lagi untuk diselamatkan!

Memang kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati. Kematian bisa datang kapan saja dalam hidup kita, itu sebabnya kita justru harus memaksimalkan dan mengoptimalkan hidup kita begitu rupa. Ketika kematian menjemput, kita sudah melakukan banyak hal yang berarti bagi kerajaan sorga dan sesama. Lakukan hidup yang terbaik, seolah-olah inilah kesempatan terakhir yang Tuhan berikan kepada kita.

Kita tidak tahu berapa lama kita hidup di dunia, sebab itu optimalkan waktu yang ada bagi Tuhan.


(Kwik – Reuters 7/5/2007)

» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit

Kristus Jawaban

Bacaan: Filipi 3:1-16

3:1. Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (3-1b) Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.

 

3:2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,

 

3:3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.

 

3:4. Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:

 

3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

 

3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

 

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

 

3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

 

3:9. dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

 

3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

 

3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

 

3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

 

3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

 

3:15. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.

 

3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

 

Kristus Jawabannya

kristus_jawabanSiapa yang tak ingin kaya? Siapa yang tak ingin menjadi orang besar dan terkenal? Siapa yang tak ingin menjadi orang dengan jabatan penting? Hanya saja kita perlu hati-hati terhadap kebohongan lama yang terus disebarkan oleh iblis, bahwa kekayaan, kedudukan dan popularitas akan menjamin kehidupan yang berbahagia. Sesungguhnya menjadi kaya atau menjadi besar atau menjadi semakin populer bukan jaminan bahwa kita pasti akan lebih berbahagia.

Anda tentu pernah mendengar tentang Joseph Stalin, PM Rusia pada rezim komunis. Dengan kekuasaan yang dimilikinya sudah seharusnya ia tak kenal rasa takut. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Stalin takut pergi tidur. Ia memiliki tujuh kamar tidur berbeda, untuk mengecoh orang yang mencoba membunuhnya. Kalau pergi, ia menggunakan lima limousine dengan gordyn tertutup, supaya tidak tahu mobil mana yang berisi Stalin. Kekuasaan tak menjamin Stalin menjadi lebih bahagia!

Mendiang miliarder Howard Hughes lebih unik lagi. Kisah hidupnya difilmkan dengan title Aviator. Meski menjadi konglomerat, ia memiliki kecurgiaan yang berlebihan terhadap orang lain bahkan sampai mengalami paranoid soal kuman sehingga ia meninggal seperti pertapa kurus kering dengan jenggot sampai di perut. Tak jauh beda, John “The Beatles” Lennon memiliki kehidupan yang menyedihkan meski ia seorang artis yang sangat populer di jamannya. Bahkan penulis biografinya mengisahkan bahwa Lennon takut jika lampu padam dan takut menyentuh apapun karena kotor.

Kunci hidup bahagia hanya ada di dalam Kristus. Jangan buru-buru memicingkan mata hanya karena kata-kata tersebut terdengar begitu klise. Jutaan orang sudah mengalaminya. Saya bisa menulis hal seperti ini karena Kristus sudah membuat hidup saya lebih berbahagia. Bahkan kalau masih ragu, tanya saja kepada Paulus. Sebelumnya dia adalah seorang muda dengan jabatan penting di jajaran Farisi. Selain itu dia pintar, kaya, populer dan punya banyak hal yang bisa dibanggakan. Namun semenjak ia berjumpa dengan Yesus, semua yang dimilikinya itu menjadi sama sekali tak berarti, bahkan ia menganggapnya sebagai sampah! Semuanya itu menjadi tak berarti dibandingkan dengan pengenalannya akan Kristus. Jadi, jika kita ingin berbahagia dalam hidup ini, Kristus adalah jawabannya.

Fokuskan hidup kepada Kristus, bukan kepada jabatan, kekayaan dan popularitas.

(Kwik)

» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit

Rencana dan Kenyataan

Sabtu, 10 Januari 2009

Bacaan : Amsal 16:1-9

16:1. Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.

 

16:2. Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.

 

16:3. Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.

 

16:4. TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.

 

16:5. Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman.

 

16:6. Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan.

 

16:7. Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia.

 

16:8. Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.

 

16:9. Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.

 

Rencana dan Kenyataan

pelangi-indah-di-awan-kelabu

Saat berusia 18 tahun, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti program pendeta di Moody Bible Institute. Saya dapat membayangkan diri saya berkhotbah dan memimpin sebuah gereja sama seperti yang dilakukan oleh pendeta di gereja saya. Kemudian, setelah mendengar tentang lima misionaris setia yang melayani orang-orang Indian Auca yang terbunuh secara tragis di Ekuador, saya bahkan sempat berpikir untuk mengabdikan hidup saya untuk karya misi.

Akan tetapi, Allah memiliki jalan yang berbeda dengan apa yang saya rencanakan. Melalui pimpinan-Nya yang jelas, dan sesuai dengan karunia yang telah diberikan-Nya, saya akhirnya menjadi seorang guru, editor, dan penulis.

Banyak dari kita yang memiliki pengalaman yang sama. Kita berpikir ke depan dan dengan hati-hati menyusun rencana. Kita membayangkan dengan sangat rinci bagaimana masa depan kita nantinya. Akan tetapi, banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Beberapa pintu tertutup, sementara pintu-pintu lainnya terbuka. Jika ini terjadi kepada Anda, barangkali Allah memiliki rencana yang jauh berbeda.

Membuat rencana, bermimpi, dan berpikir ke depan itu memang baik. Namun, kita harus selalu terbuka kepada perubahan arah yang ditentukan Allah. “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya,” Salomo menulis, “tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” (Amsal 16:9).

Allah tidak akan pernah menyesatkan kita. Apabila kita memercayai-Nya dengan sepenuh hati, maka Dia akan mengarahkan langkah-langkah kita (Amsal 3:5,6). Jalan-Nya selalu yang terbaik –DCE

Sumber : http://www.sabda.org

KE MANA ALLAH MENUNJUK
TANGAN-NYA MEMBUKA JALAN

Saksi Diam

Jumat, 9 Januari 2009

Bacaan : Filipi 1:21-27

1:21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

 

1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

 

1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik;

 

1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

 

1:25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,

 

1:26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

 

1:27. Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil,

 

Saksi Diam

wanitaalkitab

Pada suatu pagi yang indah dan hangat di bulan Januari, saya bersama seorang rekan kerja sedang menikmati sarapan di sebuah kedai kopi terbuka di MacRitchie Reservoir Park, Singapura. Danau yang indah dan taman-taman yang sangat bersih mengelilingi kami. Suasananya sunyi, tenang, dan permai dengan angin sepoi-sepoi yang berembus melintasi permukaan air.

Di sebuah meja tak jauh dari tempat duduk kami , seorang wanita muda duduk tenang sambil membaca Alkitabnya. Ia asyik membaca, sambil sekali-kali mengangkat kepala untuk merenungkan apa yang telah dibacanya. Ia tidak mengeluarkan satu kata pun, namun setiap orang di kedai kopi itu dapat melihat hati dan prioritasnya. Itu merupakan sebuah kesaksian yang lembut, meyakinkan, dan diam.

Wanita itu tidak malu terhadap Kristus atau kitab-Nya. Ia memang tidak berkhotbah atau bernyanyi. Ia bersedia dikenal sebagai pengikut Sang Juru Selamat, namun ia tidak perlu mengumumkan kesetiaan itu.

Dalam usaha membagikan pesan tentang Yesus, kita pada akhirnya harus menggunakan kata-kata, karena kata-kata diperlukan untuk menyampaikan Injil. Akan tetapi, kita pun dapat belajar dari teladan wanita ini.

Kadang-kadang kesunyian dari tindakan kita sehari-hari berbicara dengan lantang, mengungkapkan kasih kita kepada Tuhan. Dalam kerinduan kita untuk membagikan Kristus kepada dunia yang telah rusak ini, janganlah kita mengabaikan kuasa kesaksian diam kita –WEC

Sumber : http://www.sabda.org

BERSAKSILAH BAGI KRISTUS MELALUI HIDUP
DAN BIBIR ANDA

Who Am I?

Who Am I, that The Lord of all the earth

Would care to know my name
Would care to feel my hurt
Who am I, that the Bright and Morning Star
Would choose to light the way
For my ever wandering heart

Not because of who I am
But because of what You’ve done
Not because of what I’ve done
But because of who You are

I am a flower quickly fading
Here today and gone tomorrow
A wave tossed in the ocean
A vapor in the wind
Still You hear me when I’m calling
Lord, You catch me when I’m falling
And You’ve told me who I am
I am Yours, I am Yours

Who Am I, that the eyes that see my sin
Would look on me with love and watch me rise again
Who Am I, that the voice that calmed the sea
Would call out through the rain
And calm the storm in me

Not because of who I am
But because of what You’ve done
Not because of what I’ve done
But because of who You are

[ Who Am I lyrics from http://www.lyricsyoulove.com/ ]

I am a flower quickly fading
Here today and gone tomorrow
A wave tossed in the ocean
A vapor in the wind
Still You hear me when I’m calling
Lord, You catch me when I’m falling
And You’ve told me who I am
I am Yours, I am Yours

Not because of who I am
But because of what You’ve done
Not because of what I’ve done
But because of who You are

I am a flower quickly fading
Here today and gone tomorrow
A wave tossed in the ocean
A vapor in the wind
Still You hear me when I’m calling
Lord, You catch me when I’m falling
And You’ve told me who I am
I am Yours, I am Yours

I am Yours
Whom shall I fear
Whom shall I fear
‘Cause I am Yours
I am Yours

 

 

 

Siapakah Saya?

Kamis, 8 Januari 2009

Bacaan : Mazmur 8

8:1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud. (8-2) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.

 

8:2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

 

8:3. (8-4) Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:

 

8:4 (8-5) apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

 

8:5 (8-6) Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

 

8:6 (8-7) Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:

 

8:7 (8-8) kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;

 

8:8 (8-9) burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.

 

8:9 (8-10) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

 

Siapakah Saya?

Lagu yang berjudul Who Am I? [Siapakah Saya?] karangan Mark Hall dari kelompok musik Casting Crowns, dimulai dengan kalimat demikian: “Siapakah diri saya, sehingga Tuhan segala bumi ingin mengetahui nama saya, ingin merasakan luka yang saya alami?”

Dalam lagu ini, Hall membandingkan hidup kita dengan “bunga yang cepat layu, yang muncul hari ini dan lenyap keesokan harinya … seperti setitik uap air di udara”. Ia merenungkan, “Apabila kita mengerti betapa kecilnya kita sebenarnya dan betapa luar biasanya Allah, maka kasih Allah akan menjadi lebih besar bagi kita.”

Saya kemudian teringat akan pertanyaan Daud dalam Mazmur 8. Saat ia merenungkan langit, bulan, dan bintang, ia merasa takjub oleh Allah alam semesta yang menciptakan dan menopang semuanya itu. Dalam perasaan kagum, ia melontarkan pertanyaan, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” (ayat 5).

Mengapa kita menjadi objek kasih, perhatian, dan pemikiran Allah? Dalam lagunya, Hall menjawab pertanyaan itu dengan: “Bukan karena siapa saya, namun karena apa yang telah Engkau lakukan; bukan karena apa yang telah saya lakukan, namun karena siapa Engkau.”

Siapakah Allah? Dia adalah kasih. Apakah yang telah Allah lakukan? Dia memberikan Putra-Nya yang tunggal Yesus untuk mati bagi kita dan membayar hukuman dosa kita (1 Yohanes 4:7-9). Tidak mengherankan apabila kita ingin berseru bersama sang pemazmur, “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mazmur 8:2,10) –AMC

Sumber : http://www.sabda.org

ALLAH MENGASIHI KITA, BUKAN KARENA SIAPA KITA
NAMUN KARENA SIAPA DIA