Pekerjaan dan Keluarga

Bacaan: I Timotius 3:4-5
pekerjaan_dan_keluarga
Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.– I Timotius 3:4

Jika tidak hati-hati, pekerjaan kita bisa menghancurkan kehidupan pribadi dan keluarga kita. Semakin pekerjaan kita maju, keluarga kita semakin berantakan. Ini sebenarnya bukan hal yang aneh jika memang kita tidak bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Sudah banyak keluarga menjadi korban dari kesuksesan seseorang dalam pekerjaannya, bukankah ini adalah hal yang sangat ironis? Bukankah sudah seharusnya kesuksesan kita dalam pekerjaan diimbangi kesuksesan kita membangun keluarga?

Norman Brodsky, CEO Citi Postal mengaku bahwa keluarganya mengalami kegagalan selama bertahun-tahun seiring dengan perusahaannya yang berkembang pesat. Hampir semua waktunya tersita hanya untuk pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan. Bahkan ketika berkumpul di meja makan untuk bercengkerama dengan anak-anak, tidak ada yang dipikirkannya selain pekerjaannya. Meski bisnisnya berkembang pesat, namun apalah artinya itu jika keluarganya menjadi berantakan.

Jadilah pemimpin yang hebat di dalam pekerjaan, namun jangan lupa bahwa kita juga harus menjadi pemimpin hebat di dalam keluarga. Jika kita hanya hebat di meja kerja, namun tidak hebat di meja makan saat bersama keluarga, maka kita sebenarnya sedang mengalami kegagalan di dalam hidup. Bagaimanapun juga pekerjaan tidak akan bisa menjadi lebih penting dan lebih berharga daripada keluarga kita. Tidak ada yang bisa menggantikan hal itu, termasuk pekerjaan kita yang sangat sukses sekalipun.

Bisnis bisa mengurus dirinya sendiri dengan cukup baik tanpa kehadiran kita untuk jangka waktu yang singkat. Waktu itulah yang akan kita gunakan untuk memberi perhatian kepada keluarga sehingga mereka tahu bahwa mereka jauh lebih penting daripada bisnis kita. Bagaimana dengan pekerjaan dan keluarga kita? Apakah semuanya berjalan dengan cukup seimbang? Ataukah kita lebih banyak merampas waktu keluarga untuk pekerjaan yang sedang kita geluti? Jadilah lebih bijak sehingga antara keluarga dan pekerjaan bisa berjalan seimbang.

Tidak ada yang bisa menggantikan keluarga kita, termasuk pekerjaan kita.

(Kwik)

» Kiat Sukses ini diambil dari Renungan Harian Spirit Motivator

Iklan

Hanya Perkataan

Rabu, 21 Januari 2009

Bacaan : Matius 25:35-46

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

 

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

 

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

 

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

 

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

 

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

 

25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

 

25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;

25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

 

25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?

 

25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

 

25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

 

Hanya Perkataan

speaker-1

Suatu hari, seorang pendeta dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk dan tak berdaya untuk membantu, pendeta itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut. Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini:

Saya kelaparan …

dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya

Saya terpenjara …

dan Anda menyelinap ke kapel untuk berdoa bagi kebebasan saya

Saya telanjang …

dan Anda mempertanyakan dalam hati kelayakan penampilan saya

Saya sakit …

dan Anda berlutut menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan Anda

Saya tidak punya tempat berteduh …

dan Anda berkhotbah tentang Allah sebagai tempat perteduhan abadi

Saya kesepian …

dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa

Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah

tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedinginan …

Puisi ini barangkali membuat wajah kita merah. Bukan karena marah pada sang pendeta, melainkan karena kita sendiri mungkin tak jauh beda dengan pendeta tersebut. Ya, dalam memberi bantuan, kita kerap lebih banyak menyampaikan teori, nasihat, atau perkataan-perkataan manis. Namun, tak ada satu pun tindakan nyata yang kita lakukan. Jika demikian, ingatlah bahwa kita mesti mengasihi bukan hanya dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan (1 Yohanes 3:8) -PK

SERIBU KATA MUTIARA TIDAK AKAN PERNAH ADA ARTINYAADA SATU SAJA PERBUATAN NYATA

JIKA TIDAK

Sumber : http://www.sabda.org

Fokus Kepada Kristus

Kamis, 22 Januari 2009

Bacaan : Filipi 3:4-16

3:4. Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:

 

3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

 

3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

 

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

 

3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

 

3:9. dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

 

3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

 

3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

 

3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

 

3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

 

3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

 

3:15. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.

 

3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

 

Fokus Kepada Kristus

hp_divine_mercy_06

Paulus punya segudang alasan untuk mengeluh, kecewa, bahkan marah kepada Tuhan. Betapa tidak, ia adalah tokoh muda masyarakat Yahudi pada zamannya. Masa depan karier politiknya sangat cerah. Namun ia tinggalkan semua itu untuk mengikut Kristus dan mengabarkan Injil. Akan tetapi apa yang ia dapatkan? Bukan hidup nyaman dan enak, malah rupa-rupa tekanan dan tantangan; bukan karpet merah nan empuk, malah jalanan terjal penuh onak duri.

Dalam salah satu suratnya ia menulis, “Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.” (1 Korintus 11:24-26). Bahkan doanya pun-ketika memohon kesembuhan dari sakit-sampai tiga kali, tidak Tuhan kabulkan (2 Korintus 12:9).

Akan tetapi Paulus tidak undur dari imannya. Ia tidak surut dari pelayanannya. Ia tetap teguh dan gigih memberitakan Injil. Mengapa Paulus bisa demikian? Karena ia memfokuskan diri hanya kepada Kristus; bukan kepada sikap dan perlakuan orang lain terhadapnya, juga bukan kepada kejadian-kejadian yang dialaminya (ayat 10). Adakah iman dan komitmen pelayanan kita tengah goyah karena rupa-rupa kekecewaan? Seperti Paulus, fokuskan diri pada Kristus saja -AYA

APA YANG MENJADI FOKUS IMAN DAN PELAYANAN KITA

ITU AKAN MENENTUKAN KEGIGIHAN DAN KETEGUHAN KITA

Sumber : http://www.sabda.org

Berkuasa Atas Tubuh

Jumat, 23 Januari 2009

Bacaan : 1Korintus 6:12-20

6:12. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

 

6:13 Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.

 

6:14 Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.

 

6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!

 

6:16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: “Keduanya akan menjadi satu daging.”

 

6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.

 

6:18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.

 

6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

 

6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

 

Berkuasa Atas Tubuh

olahraga

Jessica Biel adalah salah satu aktris Hollywood yang berpendapat bahwa aborsi itu bersifat pribadi. “Setiap orang punya kekuasaan penuh atas tubuhnya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa memaksa kita melakukan sesuatu (aborsi) atas tubuh kita sendiri,” katanya. Kita tak hendak membahas tentang aborsi. Namun, mari cermati alasan yang disampaikan Jessica. Benarkah kita bebas berbuat apa saja atas tubuh kita?

Bila direnungkan lebih jauh, kita akan menemukan banyak contoh bahwa ternyata kita juga rentan tergelincir ke dalam sikap serupa. Kita memang tidak mendukung aborsi, tidak berzinah, tidak menyentuh rokok, alkohol, atau narkoba. Namun, bagaimana dengan perut yang mulai membuncit karena pola makan yang tidak teratur? Bagaimana dengan kemalasan berolahraga? Bagaimana pula dengan kebiasaan menonton film sampai larut malam hingga esoknya kita terlambat bangun dan membuat pekerjaan terbengkalai? Saat kita bersikap sembrono atau memperlakukan tubuh dengan sesuka hati, itu berarti kita tidak berkuasa atas tubuh yang Tuhan karuniakan.

Paulus menegaskan bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri. Kita tidak berhak menyalahgunakan atau menelantarkannya. Tubuh kita adalah milik Allah, dan kita diberi kepercayaan untuk merawatnya agar dapat digunakan untuk melayani Dia. Seperti perkakas di tangan tukang, tubuh kita disiapkan untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Ketika becermin, kita dapat bertanya: Apakah saya merawat tubuh ini dengan baik sehingga dapat menjadi “alat” yang efektif di tangan-Nya? Apakah tubuh saya cukup bugar untuk berkarya bagi-Nya? -ARS

TUBUH ANDA ADALAH PERKAKAS ALLAH; PELIHARALAH.

TUBUH ANDA ADALAH BAIT ALLAH; HORMATILAH-Max Lucado

Sumber : http://www.sabda.org

Yang Harus Dibuang

Sabtu, 24 Januari 2009

Bacaan : Yakobus 4:11,12

4:11. Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.

 

4:12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?

 

Yang Harus Dibuang

fitnah

Ada pendapat demikian: “Orang bijaksana membicarakan gagasan, orang biasa membicarakan kejadian, orang bodoh membicarakan orang.” Tingkat kebijaksanaan seseorang terukur dari apa yang dibicarakannya. Membicarakan orang alias menggosip tergolong tingkat pembicaraan yang paling rendah. Mengapa? Sebab dari satu gosip saja, percakapan bisa berkembang ke mana-mana. Termasuk bisa menjadi fitnah.

Apakah fitnah itu? Dalam bahasa aslinya, Yakobus menggunakan kata yang maknanya “berucap hal yang jahat”. Fitnah berarti membicarakan orang dengan niat yang sejak semula jahat. Mau mencelakakan orang. Kitab Imamat menyebutnya “mengancam hidup sesama”. Benar! Akibat fitnah, persahabatan bisa rusak, pernikahan menjadi retak, karier terjegal, karakter serta nama baik seseorang tercemar. Masa depan hancur. Bahkan ada yang sampai mati bunuh diri akibat difitnah orang. Tak salah bila ada ungkapan, “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Menurut Yakobus, sebenarnya si pemfitnah sedang berlagak memainkan peran sebagai “tuhan”, bahkan menghakimi lebih dahsyat daripada Tuhan. Maka ia memberi peringatan agar kita jangan saling memfitnah. Fitnah itu jahat, Tuhan membenci fitnah.

Kehidupan ini sudah banyak kesusahannya. Penyakit, krisis ekonomi, kriminalitas, beban keluarga, stres, depresi, keputusasaan, dan sebagainya. Persekutuan kristiani harus menjadi tempat yang teduh bagi jiwa yang diterpa berbagai problema kehidupan. Bukan malah menambah beban dengan hadirnya fitnah di antara kita -PAD

IBARAT SAMPAH

FITNAH PUN HARUS DIBUANG DARI ANTARA KITA

Sumber : http://www.sabda.org