Anda Unik!

Sabtu, 31 Januari 2009

Bacaan : Keluaran 4:1-17

4:1. Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?”

 

4:2 TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.”

 

4:3 Firman TUHAN: “Lemparkanlah itu ke tanah.” Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya.

 

4:4 Tetapi firman TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya” –Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya

 

4:5 –“supaya mereka percaya, bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu.”

 

4:6 Lagi firman TUHAN kepadanya: “Masukkanlah tanganmu ke dalam bajumu.” Dimasukkannya tangannya ke dalam bajunya, dan setelah ditariknya ke luar, maka tangannya kena kusta, putih seperti salju.

 

4:7 Sesudah itu firman-Nya: “Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu.” Musa memasukkan tangannya kembali ke dalam bajunya dan setelah ditariknya ke luar, maka tangan itu pulih kembali seperti seluruh badannya.

 

4:8 “Jika mereka tidak percaya kepadamu dan tidak mengindahkan tanda mujizat yang pertama, maka mereka akan percaya kepada tanda mujizat yang kedua.

 

4:9 Dan jika mereka tidak juga percaya kepada kedua tanda mujizat ini dan tidak mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus mengambil air dari sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu.”

 

4:10. Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”

 

4:11 Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?

 

4:12 Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.”

 

4:13 Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.”

 

4:14 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: “Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya.

 

4:15 Maka engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan.

 

4:16 Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya.

 

4:17 Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat.”

 

Anda Unik!

unik

Dalam bukunya, “Temukan \’Sweet Spot\’ Anda!”, Max Lucado menulis demikian, “Jangan khawatir akan keahlian-keahlian yang tidak Anda miliki. Jangan mengingini kekuatan-kekuatan yang dipunyai orang lain. Anda hanya perlu mengembangkan keunikan Anda. Dan lakukanlah itu untuk membuat perkara besar bagi Allah.”

Saat Musa hendak diutus Tuhan, berbagai keraguan muncul di hatinya. Ragu bangsa Israel akan menerimanya sebagai utusan Tuhan (ayat 1). Ragu bahwa ia dapat berbicara sebagai pemimpin (ayat 10). Ia berkata, “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus” (ayat 13), sehingga Tuhan marah mendengarnya terus berdalih. Musa merasa tak sepandai kakaknya untuk berbicara (ayat 14). Ya, walaupun bersaudara, Musa dan Harun memiliki kemampuan yang berbeda. Namun bila masing-masing melakukan bagiannya, maka mereka dapat memenuhi kerinduan Allah.

Ada banyak orang kristiani ragu untuk terjun dalam pelayanan karena merasa dirinya tak memiliki talenta yang dimiliki orang lain. Padahal Roh Allah mengaruniakan kepada kita masing-masing karunia yang khusus. Khas. Unik (1 Korintus 12:7,11). Yang perlu kita lakukan adalah menemukan keunikan kita, dan melakukan karya terbaik yang dapat kita capai dengan itu. Bagi kemuliaan-Nya. Kadang kita tak menyadari bahwa keunikan kita berharga. Kita kerap melihat orang lain dapat melakukan sesuatu yang tampak sulit bagi kita. Padahal sebaliknya, pasti ada hal-hal yang mudah kita lakukan, tetapi sulit bagi orang lain. Biarlah Tuhan dipermuliakan oleh setiap keunikan kita -AW

ADA BEGITU BANYAK PEKERJAAN DALAM KERAJAAN ALLAH

MARI LAKUKAN SETIAP BAGIAN KITA DENGAN SETIA

Iklan

Pekerjaan dan Keluarga

Bacaan: I Timotius 3:4-5
pekerjaan_dan_keluarga
Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.– I Timotius 3:4

Jika tidak hati-hati, pekerjaan kita bisa menghancurkan kehidupan pribadi dan keluarga kita. Semakin pekerjaan kita maju, keluarga kita semakin berantakan. Ini sebenarnya bukan hal yang aneh jika memang kita tidak bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Sudah banyak keluarga menjadi korban dari kesuksesan seseorang dalam pekerjaannya, bukankah ini adalah hal yang sangat ironis? Bukankah sudah seharusnya kesuksesan kita dalam pekerjaan diimbangi kesuksesan kita membangun keluarga?

Norman Brodsky, CEO Citi Postal mengaku bahwa keluarganya mengalami kegagalan selama bertahun-tahun seiring dengan perusahaannya yang berkembang pesat. Hampir semua waktunya tersita hanya untuk pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan. Bahkan ketika berkumpul di meja makan untuk bercengkerama dengan anak-anak, tidak ada yang dipikirkannya selain pekerjaannya. Meski bisnisnya berkembang pesat, namun apalah artinya itu jika keluarganya menjadi berantakan.

Jadilah pemimpin yang hebat di dalam pekerjaan, namun jangan lupa bahwa kita juga harus menjadi pemimpin hebat di dalam keluarga. Jika kita hanya hebat di meja kerja, namun tidak hebat di meja makan saat bersama keluarga, maka kita sebenarnya sedang mengalami kegagalan di dalam hidup. Bagaimanapun juga pekerjaan tidak akan bisa menjadi lebih penting dan lebih berharga daripada keluarga kita. Tidak ada yang bisa menggantikan hal itu, termasuk pekerjaan kita yang sangat sukses sekalipun.

Bisnis bisa mengurus dirinya sendiri dengan cukup baik tanpa kehadiran kita untuk jangka waktu yang singkat. Waktu itulah yang akan kita gunakan untuk memberi perhatian kepada keluarga sehingga mereka tahu bahwa mereka jauh lebih penting daripada bisnis kita. Bagaimana dengan pekerjaan dan keluarga kita? Apakah semuanya berjalan dengan cukup seimbang? Ataukah kita lebih banyak merampas waktu keluarga untuk pekerjaan yang sedang kita geluti? Jadilah lebih bijak sehingga antara keluarga dan pekerjaan bisa berjalan seimbang.

Tidak ada yang bisa menggantikan keluarga kita, termasuk pekerjaan kita.

(Kwik)

» Kiat Sukses ini diambil dari Renungan Harian Spirit Motivator

Hanya Perkataan

Rabu, 21 Januari 2009

Bacaan : Matius 25:35-46

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

 

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

 

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

 

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

 

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

 

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

 

25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

 

25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;

25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

 

25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?

 

25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

 

25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

 

Hanya Perkataan

speaker-1

Suatu hari, seorang pendeta dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk dan tak berdaya untuk membantu, pendeta itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut. Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini:

Saya kelaparan …

dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya

Saya terpenjara …

dan Anda menyelinap ke kapel untuk berdoa bagi kebebasan saya

Saya telanjang …

dan Anda mempertanyakan dalam hati kelayakan penampilan saya

Saya sakit …

dan Anda berlutut menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan Anda

Saya tidak punya tempat berteduh …

dan Anda berkhotbah tentang Allah sebagai tempat perteduhan abadi

Saya kesepian …

dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa

Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah

tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedinginan …

Puisi ini barangkali membuat wajah kita merah. Bukan karena marah pada sang pendeta, melainkan karena kita sendiri mungkin tak jauh beda dengan pendeta tersebut. Ya, dalam memberi bantuan, kita kerap lebih banyak menyampaikan teori, nasihat, atau perkataan-perkataan manis. Namun, tak ada satu pun tindakan nyata yang kita lakukan. Jika demikian, ingatlah bahwa kita mesti mengasihi bukan hanya dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan (1 Yohanes 3:8) -PK

SERIBU KATA MUTIARA TIDAK AKAN PERNAH ADA ARTINYAADA SATU SAJA PERBUATAN NYATA

JIKA TIDAK

Sumber : http://www.sabda.org

Fokus Kepada Kristus

Kamis, 22 Januari 2009

Bacaan : Filipi 3:4-16

3:4. Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:

 

3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

 

3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

 

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

 

3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

 

3:9. dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

 

3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

 

3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

 

3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

 

3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

 

3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

 

3:15. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.

 

3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

 

Fokus Kepada Kristus

hp_divine_mercy_06

Paulus punya segudang alasan untuk mengeluh, kecewa, bahkan marah kepada Tuhan. Betapa tidak, ia adalah tokoh muda masyarakat Yahudi pada zamannya. Masa depan karier politiknya sangat cerah. Namun ia tinggalkan semua itu untuk mengikut Kristus dan mengabarkan Injil. Akan tetapi apa yang ia dapatkan? Bukan hidup nyaman dan enak, malah rupa-rupa tekanan dan tantangan; bukan karpet merah nan empuk, malah jalanan terjal penuh onak duri.

Dalam salah satu suratnya ia menulis, “Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.” (1 Korintus 11:24-26). Bahkan doanya pun-ketika memohon kesembuhan dari sakit-sampai tiga kali, tidak Tuhan kabulkan (2 Korintus 12:9).

Akan tetapi Paulus tidak undur dari imannya. Ia tidak surut dari pelayanannya. Ia tetap teguh dan gigih memberitakan Injil. Mengapa Paulus bisa demikian? Karena ia memfokuskan diri hanya kepada Kristus; bukan kepada sikap dan perlakuan orang lain terhadapnya, juga bukan kepada kejadian-kejadian yang dialaminya (ayat 10). Adakah iman dan komitmen pelayanan kita tengah goyah karena rupa-rupa kekecewaan? Seperti Paulus, fokuskan diri pada Kristus saja -AYA

APA YANG MENJADI FOKUS IMAN DAN PELAYANAN KITA

ITU AKAN MENENTUKAN KEGIGIHAN DAN KETEGUHAN KITA

Sumber : http://www.sabda.org

Berkuasa Atas Tubuh

Jumat, 23 Januari 2009

Bacaan : 1Korintus 6:12-20

6:12. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

 

6:13 Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.

 

6:14 Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.

 

6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!

 

6:16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: “Keduanya akan menjadi satu daging.”

 

6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.

 

6:18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.

 

6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

 

6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

 

Berkuasa Atas Tubuh

olahraga

Jessica Biel adalah salah satu aktris Hollywood yang berpendapat bahwa aborsi itu bersifat pribadi. “Setiap orang punya kekuasaan penuh atas tubuhnya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa memaksa kita melakukan sesuatu (aborsi) atas tubuh kita sendiri,” katanya. Kita tak hendak membahas tentang aborsi. Namun, mari cermati alasan yang disampaikan Jessica. Benarkah kita bebas berbuat apa saja atas tubuh kita?

Bila direnungkan lebih jauh, kita akan menemukan banyak contoh bahwa ternyata kita juga rentan tergelincir ke dalam sikap serupa. Kita memang tidak mendukung aborsi, tidak berzinah, tidak menyentuh rokok, alkohol, atau narkoba. Namun, bagaimana dengan perut yang mulai membuncit karena pola makan yang tidak teratur? Bagaimana dengan kemalasan berolahraga? Bagaimana pula dengan kebiasaan menonton film sampai larut malam hingga esoknya kita terlambat bangun dan membuat pekerjaan terbengkalai? Saat kita bersikap sembrono atau memperlakukan tubuh dengan sesuka hati, itu berarti kita tidak berkuasa atas tubuh yang Tuhan karuniakan.

Paulus menegaskan bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri. Kita tidak berhak menyalahgunakan atau menelantarkannya. Tubuh kita adalah milik Allah, dan kita diberi kepercayaan untuk merawatnya agar dapat digunakan untuk melayani Dia. Seperti perkakas di tangan tukang, tubuh kita disiapkan untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Ketika becermin, kita dapat bertanya: Apakah saya merawat tubuh ini dengan baik sehingga dapat menjadi “alat” yang efektif di tangan-Nya? Apakah tubuh saya cukup bugar untuk berkarya bagi-Nya? -ARS

TUBUH ANDA ADALAH PERKAKAS ALLAH; PELIHARALAH.

TUBUH ANDA ADALAH BAIT ALLAH; HORMATILAH-Max Lucado

Sumber : http://www.sabda.org

Yang Harus Dibuang

Sabtu, 24 Januari 2009

Bacaan : Yakobus 4:11,12

4:11. Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.

 

4:12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?

 

Yang Harus Dibuang

fitnah

Ada pendapat demikian: “Orang bijaksana membicarakan gagasan, orang biasa membicarakan kejadian, orang bodoh membicarakan orang.” Tingkat kebijaksanaan seseorang terukur dari apa yang dibicarakannya. Membicarakan orang alias menggosip tergolong tingkat pembicaraan yang paling rendah. Mengapa? Sebab dari satu gosip saja, percakapan bisa berkembang ke mana-mana. Termasuk bisa menjadi fitnah.

Apakah fitnah itu? Dalam bahasa aslinya, Yakobus menggunakan kata yang maknanya “berucap hal yang jahat”. Fitnah berarti membicarakan orang dengan niat yang sejak semula jahat. Mau mencelakakan orang. Kitab Imamat menyebutnya “mengancam hidup sesama”. Benar! Akibat fitnah, persahabatan bisa rusak, pernikahan menjadi retak, karier terjegal, karakter serta nama baik seseorang tercemar. Masa depan hancur. Bahkan ada yang sampai mati bunuh diri akibat difitnah orang. Tak salah bila ada ungkapan, “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Menurut Yakobus, sebenarnya si pemfitnah sedang berlagak memainkan peran sebagai “tuhan”, bahkan menghakimi lebih dahsyat daripada Tuhan. Maka ia memberi peringatan agar kita jangan saling memfitnah. Fitnah itu jahat, Tuhan membenci fitnah.

Kehidupan ini sudah banyak kesusahannya. Penyakit, krisis ekonomi, kriminalitas, beban keluarga, stres, depresi, keputusasaan, dan sebagainya. Persekutuan kristiani harus menjadi tempat yang teduh bagi jiwa yang diterpa berbagai problema kehidupan. Bukan malah menambah beban dengan hadirnya fitnah di antara kita -PAD

IBARAT SAMPAH

FITNAH PUN HARUS DIBUANG DARI ANTARA KITA

Sumber : http://www.sabda.org

Sekantung Uang Jatuh

Selasa, 20 Januari 2009

Bacaan : 2Korintus 9:6-15

9:6. Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

 

9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

 

9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

 

9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”

 

9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

 

9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.

 

9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.

 

9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,

 

9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.

9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

 

Sekantung Uang Jatuh

Sekantung besar uang jatuh-benar-benar jatuh-ke pangkuan Damian, bocah berumur delapan tahun. Karena menganggap uang itu dikirim oleh Tuhan, Damian, yang akrab dengan sejarah para santo, berupaya menggunakan uang itu untuk memberkati sesama, terutama menolong orang-orang miskin. Anthony, kakaknya yang berusia sepuluh tahun, menganggap uang itu sekadar sebagai durian runtuh; suatu keberuntungan yang tak terduga. Ia hanya ingin berfoya-foya dengan uang itu, antara lain dengan menawar apartemen dan membayar sejumlah anak nakal di sekolah untuk menjadi pelindungnya.

Perbedaan sikap kakak adik itu menjadi benang merah film Millions karya Danny Boyle. Film itu dengan jujur memperlihatkan bahwa mempergunakan uang secara murah hati tak jarang malah lebih pelik daripada menghambur-hamburkannya secara tidak bertanggung jawab. Bukankah memang demikian tantangan yang kita hadapi?

Kalau kita meneliti Alkitab, akan jelas bahwa Tuhan tidak menghendaki kita menghambur-hamburkan uang. Dia juga tidak mau kita menimbun harta dan mengandalkan banyaknya kekayaan sebagai penopang rasa aman. Yang satu menunjukkan kesembronoan, yang lain mengisyaratkan ketamakan dan penyembahan berhala.

Alkitab-sebaliknya-justru lebih banyak berbicara tentang perlunya membagikan kekayaan kita dengan mereka yang kurang beruntung. Tuhan mau kita belajar mengembangkan kedermawanan. Seperti dikatakan John Wesley, “Dapatkan uang sebanyak-banyaknya, tabunglah sebanyak-banyaknya, berikan sebanyak-banyaknya” -ARS

SEMAKIN BESAR JUMLAH UANG YANG KITA TERIMA

SEMAKIN BESAR TANGGUNG JAWAB UNTUK MEMAKAINYA

DENGAN BIJAK

Sumber : http://www.sabda.org