Susahnya Berubah

Senin,16 Februari 2009

Bacaan : Lukas 7:29-35

7:29 Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes.

 

7:30 Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.

 

7:31 Kata Yesus: “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?

 

7:32 Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.

 

7:33 Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.

 

7:34 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

 

7:35 Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”

 

Susahnya Berubah

heart2

Setiap tahun, 600.000 orang Amerika menjalani operasi bypass jantung. Ini hanya solusi sementara. Pasca operasi, mereka selalu diingatkan supaya mengubah gaya hidup. Mereka harus mengubah pola makan, berhenti merokok, dan berolahraga. Jika tidak, kondisi jantung akan memburuk dan membahayakan jiwa. Penelitian menunjukkan ternyata 90% pasien tidak mengubah gaya hidupnya sekalipun terancam maut. Mengapa? Karena sikap membenarkan diri sendiri. Banyak yang berpikir, “Bukankah soal mati hidup di tangan Tuhan? Itu tidak ditentukan oleh gaya hidup saya!”

Orang akan sulit berubah jika ia terus membenarkan diri sendiri. Lukas menceritakan, ada dua kelompok orang yang sama-sama telah mendengar firman dan melihat karya Yesus, namun reaksi keduanya sangat berbeda. Kelompok orang banyak dan pemungut cukai langsung mengakui kesalahannya, dibaptiskan, dan mengubah cara hidup mereka (ayat 29). Sedangkan kelompok orang Farisi dan ahli Taurat bereaksi sebaliknya. Mereka “menolak maksud Allah terhadap diri mereka” (ayat 30). Bukannya mengubah diri, mereka malah membenarkan diri sambil mencari-cari kesalahan Yesus dan Yohanes Pembaptis yang memberitakan kebenaran (ayat 33-34).

Apakah Anda merasa sulit berubah? Berhentilah membenarkan diri sendiri. Jika Anda terus mencari-cari alasan untuk memaklumi dan memaafkan diri sendiri, Anda akan segan berubah. Perhadapkanlah diri sendiri dengan kebenaran, walaupun terasa pahit. Memang berubah itu sulit, sakit, dan memakan waktu lama. Namun tanpa perubahan, tak akan ada kemajuan -JTI

ORANG YANG TAK PERNAH BERUSAHA BERUBAH

BAGAI ATLET YANG BELUM BERTANDING

SUDAH MENGAKU KALAH

Sumber : http://www.sabda.org

Iklan

Masa Lalu

Bacaan: Filipi 3:13-17

Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka– Amsal 4:25

masalalu1Mark Twain pernah mengatakan, “Kalau seekor kucing pernah duduk di atas tungku panas, kucing itu tidak akan duduk di atas tungku panas lagi. Kucing itu juga tidak akan duduk lagi di atas tungku dingin.” Kesimpulannya adalah kucing tersebut mengasosiasikan tungku dengan pengalaman yang buruk dan panas. Pengalaman yang buruk tersebut dibawanya terus, hingga ia menganggap setiap tungku (tidak

Bacaan: Filipi 3:13-17

Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka– Amsal 4:25

Mark Twain pernah mengatakan, “Kalau seekor kucing pernah duduk di atas tungku panas, kucing itu tidak akan duduk di atas tungku panas lagi. Kucing itu juga tidak akan duduk lagi di atas tungku dingin.” Kesimpulannya adalah kucing tersebut mengasosiasikan tungku dengan pengalaman yang buruk dan panas. Pengalaman yang buruk tersebut dibawanya terus, hingga ia menganggap setiap tungku (tidak peduli bahwa tungku itu dingin) adalah panas dan berbahaya.

Sedikit banyak kita juga seperti kucing tersebut. Sikap kita pada hari ini terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang terjadi di waktu lalu. Jika dalam sebuah situasi yang terjadi di masa lalu kita mengalami kegagalan, maka pada situasi yang sama di waktu yang berbeda pun, kita sering percaya bahwa kita akan gagal lagi.

Sederet pengalaman buruk di masa lalu mungkin pernah kita alami. Kegagalan-kegagalan yang terjadi di sepanjang perjalanan hidup kita. Kesalahan-kesalahan fatal yang sebenarnya bisa dihindarkan. Pengambilan keputusan yang salah, yang menyisakan sederet akibat sampai hari ini. Juga masa kecil yang buruk, tindakan-tindakan kekerasan yang kita terima, baik secara fisik maupun psikis, ucapan atau tindakan yang merendahkan, miskinnya kasih sayang dari orang tua dan masih banyak hal yang menimbulkan kepahitan dalam hati.

Jadikan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran berharga bagi kita. Namun jangan pernah biarkan diri kita hidup di masa lalu. Jangan sampai pengalaman buruk di masa lalu menghantui dan membayangi kehidupan kita di masa kini. Jika tidak, hidup kita hanya akan dikuasai oleh ketakutan dan kekuatiran. Kita takut untuk mencoba hal-hal yang baru (yang mirip dengan kejadian buruk yang pernah kita alami). Kita takut untuk melihat masa depan, karena hidup kita masih dikuasai buruknya masa lalu. Kita takut untuk bersikap optimis. Kita takut menatap hidup dengan keberanian. Tapi, orang yang hidup dengan ketakutan tidak akan pernah sukses. Jadi, tinggalkan pengalaman buruk di masa lalu kita.

Saya lebih menyukai mimpi masa depan daripada sejarah masa lalu.

(Kwik)

» Ilustrasi Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit

Jangan Takut Bermimpi

Senin, 9 Februari 2009

Bacaan : Roma 1:8-15

1:8. Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia.

 

1:9 Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu:

 

1:10 Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.

 

1:11 Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu,

 

1:12 yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.

 

1:13 Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu–tetapi hingga kini selalu aku terhalang–agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain.

 

1:14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.

 

1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

 

Jangan Takut Bermimpi

i_have_a_dream_black_background_poster

Mempunyai mimpi itu tidak salah. Bahkan baik. Mimpi dalam arti keinginan atau cita-cita untuk meraih atau mencapai sesuatu yang besar di masa depan. Sebab mimpi bisa mengarahkan ke mana kita harus melangkah. Orang yang tidak punya mimpi bagai orang yang bepergian tanpa tahu mau ke mana; luntang-lantung tanpa arah, tanpa tujuan. Banyak karya besar di dunia ini berawal dari sebuah mimpi. Pesawat terbang, misalnya, dimulai dari mimpi Wright bersaudara untuk terbang.

Waktu remaja, saya suka sekali ke toko buku. Tidak selalu untuk membeli. Lebih kerap sekadar untuk “melihat-lihat” dan “menikmati” suasana berada di antara deretan buku yang tersusun di rak. Rasanya menyenangkan. Saya lalu suka membayangkan, suatu saat buku-buku saya akan “berada” di rak-rak toko buku. Bisa jadi itu turut memotivasi saya menulis. Ketika itu sama sekali tidak terpikirkan, bagaimana “bayangan” tersebut bisa terwujud. Sekarang, hal itu bukan lagi mimpi. Hingga saat ini, saya sudah menulis beberapa buku yang di pajang di rak-rak toko buku.

Rasul Paulus juga mempunyai mimpi, yaitu pergi ke Roma, ibu kota kekaisaran Romawi. Ia sangat ingin memberitakan Injil di sana (ayat 15). Ketika itu, mungkin tidak terbayangkan bagaimana ia bisa sampai ke kota yang merupakan pusat dunia pada zaman itu; transportasi yang ada sangat terbatas, secara fisik ia sakit-sakitan, belum lagi berbagai ancaman menghampirinya. Akan tetapi, Paulus tidak pernah kendor dengan mimpinya itu. Ia terus membawanya dalam doa (ayat 10). Hingga pada akhirnya, ia sampai juga di Roma, walaupun tidak berstatus sebagai orang bebas (Kisah 28:11-16). Apakah mimpi Anda? -AYA

JANGAN MEREMEHKAN SEBUAH “MIMPI”

HIDUPI, YAKINI, TELATENI, DAN TEKUNI DALAM DOA

Sumber : http://www.sabda.org

Hanya Sebuah Belokan

Selasa,10 Februari 2009

Bacaan : Pengkhotbah 3:1-13

3:1. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

 

3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;

 

3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;

 

3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;

 

3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;

 

3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;

 

3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;

 

3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

 

3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?

 

3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.

 

3:11. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

 

3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.

 

3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.

 

Hanya Sebuah Belokan

jam-4

Seorang petani mempunyai seekor kuda jantan yang sangat disayanginya. Setiap hari, dengan telaten ia merawat kuda itu. Suatu kali kuda itu kabur. Para tetangga datang menyampaikan rasa simpati atas kehilangan yang dialami si petani. Sebulan kemudian kuda itu balik lagi disertai serombongan kuda liar dari gunung. Rupanya kuda itu lari ke hutan. Dan, ketika kembali ia diikuti oleh teman-temannya. Para tetangga datang memberi ucapan selamat karena kini ia memiliki banyak kuda.

Suatu hari anak laki-laki si petani berusaha mengendarai salah seekor kuda liar itu. Entah bagaimana ia terjatuh. Kakinya terinjak oleh si kuda liar hingga patah. Akibatnya ia menjadi lumpuh. Para tetangga datang lagi menyatakan rasa simpati. Satu tahun berselang terjadilah perang. Semua pemuda harus berangkat ke medan perang. Hanya anak laki-laki si petani yang dibebaskan untuk tidak ikut berperang karena ia lumpuh. Dan ia satu-satunya pemuda yang selamat dari desa itu.

Di balik musibah kerap tersimpan berkat. Sebaliknya, di balik berkat tidak jarang tersembunyi kesusahan. Maka penting sekali untuk kita selalu mawas diri. Jangan kecil hati ketika tertimpa musibah, sebab dari situ bisa saja kita menuai kebahagiaan. Tetapi juga tidak lupa diri saat bergelimang berkat, sebab bisa saja kemudian kita mengalami kesusahan. Apa yang tampaknya seperti “ujung jalan” kerap hanya sebuah “belokan”, masih ada kelanjutannya. Seperti kata Pengkhotbah, untuk segala sesuatu di dunia ini ada waktunya; waktu suka waktu duka, waktu manis waktu pahit. Kita tidak bisa menyelami sepenuhnya pekerjaan Tuhan -AYA

APABILA DUKA MENIMPA INGAT SAAT SUKA

SUPAYA TIDAK KECIL HATI.

APAILA SUKA MENGHAMPIRI INGAT SAAT DUKA

SUPAYA TIDAK LUPA DIRI

Sumber : http://www.sabda.org

Hujan Dari Allah

Pesan Gembala

8 Februari 2009

Edisi 61 Tahun 2

 

Hujan Dari Allah

Shallom…

Salam Miracle…

Jemaat yang dikasihi Tuhan, beberapa minggu yang telah kita lalui banyak terdengar terjadinya banjir hampir di seluruh Indonesia, hal ini tentunya berkaitan dengan tingginya curah hujan. Di Tarakan, akhir-akhir ini juga sering (hampir setiap hari) mengalami “hujan” yang terdapat dalam Alkitab:

1.    Hujan kedatangan Mesias

Hosea 6:3. “Marilah kita mengenal dan berusaha bersungguh-sungguh mengenal Tuhan; ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita, seperti hujan, seperti hujan akhir musim yang mengairi bumi”.

Fajar akan muncul jika setelah lewat malam hari, dan kita akan melihat fajar berupa:

·        Hujan awal, yaitu benih yang ditabur oleh murid-murid Yesus dan rasul-rasul pada waktu gereja mula-mula. Dasar-dasar pondasi kekristenan mulai dibangun.

·        Hujan akhir, sangat deras, akan terjadi kebangunan rohani yang besar. Semua pondasi kekristenan akan dikembangkan secara luar biasa.

 

2.    Hujan Pencurahan Roh Kudus

Yehezkiel 39:29 Aku tidak lagi menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, kalau Aku mencurahkan Roh-Ku ke atas kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH.”

Wajah Allah berbicara tentang kemuliaan hadirat Allah bukan hanya aturan-aturan agamawi, dalam hal ini pujian dan penyembahan akan mewarnai hati setiap generasi. Ada masanya orang bertobat bukan lagi karena khotbah, tetapi pada saat memuji dan menyembah Tuhan.

 

3.    Hujan Berkat

Mazmur 84:6 Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.

Artinya adalah orang-orang percaya akan melintasi dan mengubah lembah baja menjadi berkat. Masalah,pergumulan dan tantangan Saudara akan diubah menjadi berkat bagi Saudara. Bahkan dalam Yehezkiel 34:26 mengatakan, “Aku akan menjadikan mereka dan semua yang di sekitar gunung-Ku menjadi berkat; Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; ITU ADALAH HUJAN YANG MEMBAWA BERKAT.”

Saudara yang akan menjadi berkat bagi sekitar Saudara. Bukan karena shio, garis tangan, atau ramalan-ramalan paranormal, tetapi kehadiran orang-orang percaya di sekeliling mereka, itulah yang akan membawa hujan berkat.  

 

4.    Hujan Pengajaran

Ulangan 32:2,”Mudah-mudahan pengajaran-Ku menitik laksana hujan, perkataan-Ku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan”. Mengimbangi hujan kuasa dan hujan berkat, Tuhan akan membangkitkan pula rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya untuk menyampaikan pengajaran yang hidup dan benar. Untuk mengalahkan ajaran-ajaran dari guru-guru palsu dan nabi-nabi palsu.

 

5.    Hujan Kebenaran dan Keadilan

Hosea 10:12, “Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah menurut kasih setia! Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan.  

Di tengah-tengah dunia yang cenderung menggunakan ketidakadilan atau ketidakbenaran, maka sebaliknya kita makin setia dalam menabur kebenaran dan keadilan. Maka Saudara akan menuai kasih setia, sehingga seisi rumah tangga Saudara akan disebut keluarga bahagia.

 

Marilah kita takut akan Tuhan yang memberi hujan pada waktunya dan yang menjamin kehidupan kita pada minggu-minggu yang tetap untuk panen.

 

Tuhan Yesus memberkati…amien

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

 

 

 

 

Pembebas atau Penindas?

Rabu,11 Februari 2009

Bacaan : Lukas 9:49-56

9:49 Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”

 

9:50 Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

 

9:51. Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,

 

9:52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.

 

9:53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.

 

9:54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”

 

9:55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.

 

9:56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

 

Pembebas atau Penindas?

freedom_girl

Ada dua tipe manusia, ditinjau dari caranya memperlakukan sesama. Tipe pertama adalah penindas. Cirinya: suka memaksa orang lain menuruti keinginannya. Jika kemauannya tidak dituruti, mereka akan memakai kuasanya untuk menindas. Tipe kedua adalah pembebas. Mereka bisa menghargai orang yang berbeda pendapat, bahkan tidak menyukai dirinya. Mereka membebaskan orang lain untuk menjadi diri sendiri.

Para murid termasuk tipe penindas. Baru saja menerima kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit (Lukas 9:1,2), sikap arogan mulai muncul. Yohanes berniat mencegah orang lain mengusir setan, karena ia “bukan pengikut kita”. Ia bersama Yakobus bahkan siap “menyuruh api turun dari langit” untuk membinasakan orang-orang Samaria yang tidak mau menerima kedatangan Yesus. Padahal Yesus sendiri tidak marah terhadap penolakan mereka. Dia menghargai perbedaan pendapat. Dia memahami sikap orang Samaria dan tidak memaksa mereka menuruti kehendak-Nya. Yesus adalah pembebas. Kedua murid tersebut Dia tegur karena bersikap sebagai tuan yang menindas sesama.

Kita diberi kuasa untuk melayani. Membebaskan. Namun, kuasa bisa disalahgunakan untuk menindas; si kaya menindas si miskin, majikan menindas karyawan, penguasa menindas rakyat; kelompok mayoritas menindas minoritas. Sungguh tak adil memaksa orang menuruti kemauan kita. Thomas à Kempis berkata, “Jangan marah karena engkau tidak bisa membuat orang lain menjadi seperti yang kauinginkan, sebab engkau sendiri tidak bisa membuat dirimu menjadi seperti yang kauinginkan” -JTI

ANDA DAPAT MEMBANGUN TAKHTA DI ATAS BAYONET

TETAPI ANDA TAK DAPAT DUDUK DI ATASNYA UNTUK WAKTU LAMA

Sumber : http://www.sabda.org

Pemandu Ada Di Perahu

Kamis,12 Februari 2009

Bacaan : Matius 7:24-27

9:49 Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”

 

9:50 Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

 

9:51. Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,

 

9:52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.

 

9:53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.

 

9:54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”

 

9:55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.

 

9:56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

 

Pemandu Ada Di Perahu

arung-jeram

Saat diadakan retret penulis Renungan Harian di Magelang, peserta ditawari berwisata arung jeram di Kali Progo. Saya bersemangat menjajal pengalaman baru itu. Sebelum berangkat, sang pemandu memberi petunjuk tentang aba-aba yang harus diperhatikan, cara dan arah mendayung, serta potensi bahaya yang mesti diantisipasi peserta. Mendengar penjelasan itu, dan karena saya tidak bisa berenang, jantung saya jadi sedikit berdebar. Amankah perjalanan ini? Namun sungguh melegakan, arung jeram selama dua jam itu ternyata menjadi petualangan kecil yang mengasyikkan.

Apa rahasianya? Karena sang pemandu ikut serta di perahu. Ia sudah sangat menguasai medan yang dilewati, sehingga bisa mengarahkan peserta dan memberikan aba-aba yang tepat. Kami tinggal mengikuti arahannya untuk berperahu dengan aman dan menikmati perjalanan.

Bukankah keadaan itu mirip dengan perjalanan rohani kita? Di satu sisi, Tuhan Yesus tidak menjanjikan kehidupan yang mulus dan aman tanpa tantangan. Dia menyatakan bahwa kehidupan kita akan didera oleh hujan, banjir, dan angin pencobaan. Di sisi lain, Dia mengutus Roh Kudus untuk menyertai kita dan diam di dalam perahu kehidupan kita, membimbing perjalanan kita.

Tak ayal kita masing-masing menghadapi persoalan hidup tertentu. Syukurlah, Sang Pemandu ada di dalam perahu dan siap sedia mengarahkan kita. Kita hanya perlu membuka hati untuk memerhatikan bimbingan-Nya. Sepanjang kita menaati petunjuk-Nya, kita dapat tetap bersukacita dan mendapatkan kekuatan untuk mengatasi persoalan tersebut. Nikmatilah perjalanan Anda! -ARS

TUHAN ADA DI DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA

DAN DIA TIDAK BERDIAM DIRI

Sumber : http://www.sabda.org