SAHABAT SEJATI

Kamis, 30 April 2009

Bacaan : Yesaya 40:25-31

40:25 Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.

 

40:26 Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.

 

40:27. Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”

 

40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

 

40:29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

 

40:30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,

 

40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

 

SAHABAT SEJATI

 tangan-1

Ada gula, ada semut. Peribahasa ini tampak begitu nyata dalam kehidupan orang-orang yang ditinggalkan teman-temannya pada saat mengalami kegagalan. Kenyataan membuktikan bahwa lebih mudah mendapatkan teman pada saat segala sesuatunya berjalan dengan baik, sukses, dan gemilang. Tetapi di saat-saat yang sulit; dalam kebangkrutan, kegagalan dan penderitaan, mereka berpaling pergi. Teman sejati adalah mereka yang tidak meninggalkan temannya sekalipun dalam duka dan keadaan sulit.

Melebihi seorang teman sejati di dunia, Tuhan adalah Sahabat sejati bagi kita. Dia tak pernah meninggalkan kita dalam situasi seburuk apa pun. Firman-Nya, “Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yosua 1:5). Saat dunia mencampakkan orang yang gagal, Dia justru datang untuk menolong orang-orang yang sakit, menghibur yang berduka, memberikan kelegaan kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat, memberikan kekuatan kepada yang lelah, dan menambah semangat kepada yang tak berdaya. Dia sangat peduli kepada kita!

Saat ini, apakah Anda sedang membutuhkan dukungan semangat dari seorang teman? Sekalipun Anda tidak dapat melihat-Nya secara fisik, Anda dapat merasakan kehadiran-Nya dengan nyata. Dia memberikan dukungan semangat setiap saat kepada kita untuk terus berjuang melakukan yang terbaik. Dia tak pernah mengabaikan kita. Dia selalu ada bagi kita, Dia sangat mengasihi kita. Hidup kita begitu berharga bagi-Nya, sehingga Dia memberikan nyawa-Nya untuk menebus kita. Maka, bersandarlah teguh kepada-Nya. Andalkanlah Dia, Sahabat kita, Sang Sumber kekuatan kita —HA

MELANGKAHLAH BERSAMA-NYA, SAHABAT SEJATI KITA
MAKA TIDAK ADA ALASAN BAGI KITA UNTUK MENYERAH
DALAM HIDUP!

Sumber : http://www.sabda.org

Iklan

INVESTASI DI MASA DEPAN

Rabu, 29 April 2009

Bacaan : Maleakhi 4

4:1. Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.

 

4:2 Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.

 

4:3 Kamu akan menginjak-injak orang-orang fasik, sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan itu, firman TUHAN semesta alam.

 

4:4. Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hamba-Ku, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum.

 

4:5 Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.

 

4:6 Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.

 

INVESTASI DI MASA DEPAN

honesty1

Suatu hari, tanpa sengaja saya mematahkan sebuah bangku milik sekolah. Lalu saya berinisiatif untuk melaporkan hal itu kepada seorang guru. Sebenarnya saya punya kesempatan untuk tidak melapor, karena tidak ada seorang pun yang tahu saat bangku itu patah. Namun, karena ingin berlaku jujur, saya secara sportif melaporkannya. Pada waktu saya melaporkan kejadian tersebut, terjadilah hal yang tidak saya harapkan. Saya terkena semprot kemarahan guru saya. Hati saya sangat dongkol saat itu. Berbuat jujur, tetapi malah tidak mujur. “Huh … percuma saya jujur, tahu gini mendingan tidak usah lapor.”

Kadang-kadang kita merasa bahwa berbuat baik itu tidak ada gunanya. Bahkan yang lebih menguntungkan justru jika kita berbuat hal yang tidak baik. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa hal tersebut bisa saja terjadi dalam hidup kita. Kita bisa memandang bahwa menjadi orang fasik lebih enak dibandingkan menjadi orang yang takut akan Tuhan. Akan tetapi, semuanya akan benar-benar teruji pada hari ketika Tuhan mengadakan penghakiman. Nabi Maleakhi menyatakan bahwa pada hari tersebut orang-orang fasik yang tampak “beruntung” selama masa hidupnya akan seperti jerami yang habis terbakar dalam murka Allah. Sedangkan orang-orang yang takut akan Tuhan akan keluar dengan sorak- sorai dan kegirangan (ayat 1,2).

Ternyata berbuat hal yang baik di dalam Tuhan itu tidak akan percuma. Walaupun kelihatannya “rugi’, hal itu sesungguhnya adalah “investasi” kita untuk hari penghakiman kelak. Pada hari terakhir, semuanya akan terbukti —RY

JANGAN PERNAH MERASA “RUGI” BERBUAT BAIK
KARENA ITU AKAN MENGUNTUNGKAN KITA PADA MASA MENDATANG

Sumber : http://www.sabda.org

KEMATIAN YANG TRAGIS

Selasa, 28 April 2009

Bacaan : Lukas 13:1-9

13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.

 

13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

 

13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.

 

13:4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,

 

13:5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.

 

13:6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?”

 

13:7 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

 

13:8 Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”

 

13:9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!”

 

KEMATIAN YANG TRAGIS

 wash-feet

Sebuah pesawat terbang jatuh di laut dan menenggelamkan semua penumpangnya. Sebuah mobil berpenumpang terjun dari atas tempat parkir bertingkat di mal. Seorang pejalan kaki tewas tertimpa papan reklame. Yang lain mati tersambar petir. Ketika melihat orang meninggal dengan cara tragis, terkadang muncul pertanyaan: “Apa dosa mereka, hingga mesti mati dengan cara demikian?” Orang kerap menuduh hal itu terjadi karena ada “dosa besar” yang telah dilakukan sang korban.

Pandangan semacam itu sudah muncul sejak zaman Yesus. Suatu hari, delapan belas pekerja bangunan mati tertimpa menara Siloam yang baru mereka bangun. Menara ini adalah proyek pemerintah Romawi, sang penjajah. Maka, orang pun berkata, “Itulah hukuman bagi mereka yang mau bekerja sama dengan penjajah!” Mereka mengira, jika Allah membiarkan seseorang mati secara tragis, pasti ada yang tidak beres dalam hidupnya. Ada “dosa serius”. Namun, Yesus membantah pandangan ini. “Dosa mereka tidak lebih besar dari dosamu,” kata-Nya. Kita tak boleh menilai layak tidaknya seseorang di mata Tuhan dari cara matinya, tetapi dari cara hidupnya. Sudahkah ada buah pertobatan? Orang yang matinya “terhormat” pun bisa kualat jika seumur hidup tidak bertobat.

Sudahkah kita memiliki buah pertobatan? Apakah tingkah laku kita saat ini sudah lebih baik dibanding dengan tahun-tahun lalu? Apakah kita sudah menjadi lebih sabar dan mampu menyangkal diri? Hidup beriman yang tidak menghasilkan perubahan adalah kehidupan yang tragis. Ini jauh lebih parah dan berbahaya daripada sebuah kematian yang tragis. Maka, hasilkanlah buah pertobatan —JTI

YANG PENTING BUKAN CARA KITA MATI

MELAINKAN CARA KITA HIDUP

Sumber : http://www.sabda.org

BUKTIKAN DULU DONG!

Senin, 27 April 2009

Bacaan : Yohanes 20:24-29

20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.

 

20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

 

20:26. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

 

20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

 

20:28 Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

 

20:29 Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

 

BUKTIKAN DULU DONG!

st20thomas20the20apostle

Ratu Victoria dari Inggris suka berjalan-jalan di pedesaan dengan menyamar sebagai orang biasa. Sementara berjalan, ia selalu diikuti oleh pelayannya dari jauh. Suatu kali ia bertemu dengan sekawanan domba yang digembalakan seorang anak kecil. Melihat sang ratu di tengah jalan, anak itu berteriak, “Hei, minggir kamu, dasar perempuan goblok!” Ratu Victoria hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa. Ketika pelayannya muncul, ia menjelaskan pada anak itu bahwa perempuan yang diteriakinya tadi adalah ratu Inggris. “Ah, masa?” kata anak itu, “Harusnya ia pakai baju kayak ratu dong.”

Tomas tidak langsung percaya pada cerita murid-murid lain bahwa mereka sudah melihat Yesus yang bangkit. Meskipun ia mengenal mereka sebagai orang-orang yang jujur, ia tidak menerima begitu saja kesaksian mereka. Mirip dengan sikap bocah gembala tadi, ia menuntut Yesus membuktikan kebangkitan-Nya kepadanya.

Yesus tidak meninggalkan Tomas dalam keraguannya. Dia mendatangi Tomas dan mengulurkan bukti yang dimintanya. Tidak diceritakan apakah Tomas benar-benar mencucukkan jarinya ke dalam bekas paku di tangan Yesus. Yang jelas, keyakinannya pulih. Ia berseru bahwa Yesus adalah “Tuhanku dan Allahku!” (ayat 28).

Ketika melewati lembah keraguan iman, kita dapat mengikuti jejak Tomas. Ia tetap setia kepada Tuhan dan tidak menjauh dari komunitas para murid. Ia tidak mengeraskan hati, tetapi menantikan jawaban atas keraguan itu. Dan Yesus tidak mengecewakan harapannya. Keraguan, dengan demikian, pada akhirnya malah dapat semakin menguatkan iman kita —ARS

LAWAN DARI IMAN BUKANLAH KERAGUAN
LAWAN DARI IMAN ADALAH KETAKUTAN

Sumber : http://www.sabda.org

Memberikan Hati

Shallom… Salam Miracle.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, firman Allah dalam Matius 22:37 mengatakan,”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu.”

 

Ketika Tuhan memberikan penawaran kepada Salomo untuk menyampaikan permintaan, Salomo tidak meminta harta kekayaan tetapi meminta hikmat. Tuhan mengabulkan permintaan itu, dan karena permintaan itu sangat baik, harta dan kekayaan pun diberikan-Nya. Hikmat menyangkut pertimbangan akal budi dan ketetapan hati. Hal tersebut merupakan sentral dari hidup manusia. Salomo memiliki hati yang bijak, dan sebagai akibatnya ia memiliki segalanya.

 

Memberi hati berarti memberi semuanya untuk Tuhan. Dia menghendaki hati kita, bukan sebagian tetapi semuanya. Kebanyakan kita mudah untuk mengatakan,”Hatiku milik Tuhan” tanpa mengerti apa tuntutan di balik pernyataan tersebut. Sesungguhnya jika kita rela menyerahkan hati kita kepada Tuhan, berarti kita juga menyerahkan keseluruhan harta, kejayaan, kedudukan atau apapun milik kita.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan… Hukum Allah ini nampaknya tidak mungkin kita lakukan, ketidakmungkinan itu terjadi dikarenakan kebanyakan kita salah mengerti maksud penyerahan semua milik kita kepada Tuhan. Ketika kita menyerahkan segenap hati kita kepada Allah, sesungguhnya tidak satupun dari kita yang berkurang. Allah tidak mengambil kedudukan kita untuk membuat-Nya memiliki jabatan, Allah tidak mengambil ketenaran kita supaya Dia menjadi terkenal. Allah sudah memiliki semuanya itu dan jauh lebih banyak dari yang kita miliki.

 

Yang Ia kehendaki adalah kita dapat memusatkan seluruh hidup kita untuk mempermuliakan Allah. Bukan sebagian kehidupan kita yang berurusan dengan gereja dan pelayanan, tetapi semuanya. Termasuk dalam lingkup keluarga, pekerjaan maupun masyarakat. Allah tidak menghendaki pemisahan antara hal yang rohani ataupun sekuler. Ia menghendaki segenap hati kita.

 

Pikiran dan tindakan sebagai ukuran hati, dalam pengertian kita bukanlah benda yang bewarna merah ataupun jantung yang berdebar-debar. Hati bukanlah benda. Hati adalah pusat kehendak, dimana hasrat dan rasa dibangun. Oleh karena itu, ketika kita menyerahkan hati kita kepada Allah, ukuran yang dapat kita kontrol adalah pikiran dan tindakan kita. Bagaimana dengan pikiran anda? Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang kita pikirkan. Itu adalah area yang paling pribadi dan tersembunyi. Hanya kita dan Tuhan yang tahu, kita tetap dapat berpikir pada saat beraktivitas, apalagi saat merenung.

 

Pikiran itu bisa baik ataupun tidak baik. Dan Allah menghendaki bagian yang baik. Jika kita menyerahkan hati kita, kita menyerahkan pikiran kita. Inilah yang dihendaki Tuhan ”semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

 

Allah telah memakai banyak orang dalam Alkitab untuk menjadi teladan dari setiap tindakan kita. Orang yang bijak akan belajar dari kesalahan orang lain sehingga ia tidak mengambil tindakan serupa yang membahayakan dirinya. Sebaliknya akan memilih teladan yang baik, supaya kita melakukan kehendak Allah dan menikmati damai sejahtera. Demikian juga kita bertindak atas harta dan kedudukan kita yang duniawi, untuk maksud-maksud Allah bagi manusia.

 

 

Tuhan Yesus memberkati

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

TETAP BERKECUKUPAN

Sabtu, 25 April 2009

Bacaan : 1 Raja-raja 17:7-16

17:7 Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.

 

17:8. Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia:

 

17:9 “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

 

17:10 Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.”

 

17:11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.”

 

17:12 Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

 

17:13 Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.

 

17:14 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

 

17:15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

 

17:16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

 

TETAP BERKECUKUPAN

the_widow_of_zaraphath

Berilah persembahan jika Anda ingin gereja ini tetap berdiri.” Kalimat ini ditulis dekat kotak persembahan, di sebuah gereja tua di Eropa. Memprihatinkan! Gereja bersejarah ini kekurangan uang karena anggotanya terus berkurang. Hanya segelintir orang tua yang masih setia berbakti di sana. Generasi mudanya telah pergi. Kesulitan makin terasa di tengah krisis keuangan global ini. Saat penghasilan orang pas-pasan, siapa rela memberi persembahan?

Pada masa keuangan seret, wajar jika orang membuat skala prioritas. Yang dianggap terpenting didahulukan, yang lain terpaksa diabaikan. Begitulah juga sikap janda di Sarfat ketika Nabi Elia datang minta dibuatkan roti. Mulanya ia menolak karena tepung miliknya tinggal segenggam lagi. Hanya cukup untuk dimakan berdua bersama anaknya. Ini prioritas pertama! Namun, Elia memberinya janji ilahi. Jika sang janda berani membalik prioritasnya—mendahulukan pemberian untuk sang hamba Tuhan, tepung itu tak akan habis. Janji ini tampaknya tak masuk akal, tetapi sang janda mengimani. Mukjizat pun terjadi. Ia bisa memberi, tetapi tetap berkecukupan!

Kisah ini bicara tentang pemeliharaan Allah. Hidup matinya kita tidak melulu bergantung pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang Tuhan beri. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Jika Tuhan ditempatkan sebagai prioritas pertama, masakan Dia menempatkan kita sebagai prioritas terakhir-Nya? Jadi, meski zaman ini tampak begitu sulit, jangan sampai kehilangan kemurahan hati! —JTI

JIKA TUHAN DIDAHULUKAN
JANGAN KHAWATIR AKAN APA YANG KITA PERLUKAN

Sumber : http://www.sabda.org

DIUBAHKAN OLEH PUJIAN

Jumat, 24 April 2009

Bacaan : Amsal 16:20-24

16:20. Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.

 

16:21. Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan.

 

16:22. Akal budi adalah sumber kehidupan bagi yang mempunyainya, tetapi siksaan bagi orang bodoh ialah kebodohannya.

 

16:23. Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan.

 

16:24. Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.

 

DIUBAHKAN OLEH PUJIAN

honey

Bocah itu bercita-cita menjadi penulis. Ia hidup di London saat krisis ekonomi abad ke-19—tak kalah buruk dari krisis saat ini. Ia hanya bersekolah empat tahun dan ayahnya dipenjara karena tak sanggup melunasi utang. Ia bekerja menempelkan label di botol dan tidur di gudang kumuh penuh tikus. Walau demikian, ia gigih menulis; dan malam- malam ia menyelinap diam-diam—agar tidak ditertawakan orang—guna mengirimkan naskah. Berkali-kali tulisannya ditolak. Namun, suatu hari seorang editor menerima dan memuji karangannya. Ia pun berjalan pulang dengan pandangan mengabur, air mata berlelehan di pipinya. Pujian dari sang editor berpengaruh kuat baginya, dan turut membentuk jalan hidupnya. Kata-kata itu mengobarkan semangat untuk mengasah keterampilannya. Nyatanya, anak ini di kemudian hari benar-benar menjadi salah satu penulis terhebat sepanjang masa: Charles Dickens.

Ketika berbicara tentang perkataan yang menyenangkan, Salomo juga mengacu pada perkataan yang berpengaruh positif bagi pendengarnya. Tentu saja bukan sekadar kata-kata manis yang enak didengar. Salomo mengacu pada perkataan orang bijak—nasihat, petunjuk, dan penghiburan yang tepat pada waktunya, yang bersumber dari kebenaran firman Tuhan. Jadi, bukan hanya manis, melainkan juga menguatkan, menyembuhkan, dan membangkitkan harapan.

Kita dapat menemukan perkataan yang menyenangkan itu dengan menekuni dan merenungkan firman Tuhan. Selanjutnya, kita dapat menggunakannya untuk membangun satu sama lain, sehingga kita bersama-sama mendapatkan kekuatan untuk menghadapi pergumulan hidup ARS

MEREKA YANG MENGGUGAH SEMANGAT SESAMANYA
MENGUBAH KEHIDUPAN MENJADI LEBIH BAIK

Sumber : http://www.sabda.org