RELA MENINGGALKAN

Sabtu, 30 Mei 2009

Bacaan : Markus 1:16-20

1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.

1:17 Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

1:18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.

1:19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu.

1:20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

RELA MENINGGALKAN

Ketika seorang pendeta mengunjungi para napi yang akan dieksekusi mati, ia melihat semua tengah menonton televisi di sel masing-masing. Memang setiap napi boleh memiliki televisi hitam putih kecil untuk mengusir kejenuhan. Namun, ada satu napi, John Irving, yang tidak punya televisi. Ia asyik membaca buku rohani. Sang pendeta bertanya apakah ia perlu dibawakan televisi. John menolak. Katanya, “Aku sengaja tidak menonton. Sudah banyak waktu terbuang percuma di masa lalu. Kini hidupku tinggal sebentar. Aku ingin bersiap menghadap Tuhan, dan tak akan kubiarkan televisi menyedot waktu dan perhatianku dari Tuhan!”

Demi memprioritaskan Tuhan, John rela meninggalkan nikmatnya menonton televisi. Simon dan Andreas juga rela meninggalkan jala dengan ikan-ikan di dalamnya. Baca lebih lanjut

Iklan

KKR Malam Pencurahan Roh Kudus

Hadirilah

KKR Malam Pencurahan Roh Kudus


2 Juni 2009

Bertempat di GOR Naga Mas

Jam : 18.00 Wita

Dilayani oleh Pdt. Timotius Hardono


TUHAN YESUS MEMBERKATI

BAGIAN BELAKANG SULAMAN

BAGIAN BELAKANG SULAMAN

Bacaan : Hakim 11:1-11

11:1. Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead.

11:2 Juga isteri Gilead melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: “Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain.”

11:3 Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia.

11:4. Beberapa waktu kemudian bani Amon berperang melawan orang Israel.

11:5 Dan ketika bani Amon itu berperang melawan orang Israel, pergilah para tua-tua Gilead menjemput Yefta dari tanah Tob.

11:6 Kata mereka kepada Yefta: “Mari, jadilah panglima kami dan biarlah kita berperang melawan bani Amon.”

11:7 Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: “Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak?”

11:8 Kemudian berkatalah para tua-tua Gilead kepada Yefta: “Memang, kami datang kembali sekarang kepadamu, ikutilah kami dan berperanglah melawan bani Amon, maka engkau akan menjadi kepala atas kami, atas seluruh penduduk Gilead.”

11:9 Kata Yefta kepada para tua-tua Gilead: “Jadi, jika kamu membawa aku kembali untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka kepadaku, maka akulah yang akan menjadi kepala atas kamu?”

11:10 Lalu kata para tua-tua Gilead kepada Yefta: “Demi TUHAN yang mendengarkannya sebagai saksi antara kita: Kami akan berbuat seperti katamu itu.”

11:11 Maka Yefta ikut dengan para tua-tua Gilead, lalu bangsa itu mengangkat dia menjadi kepala dan panglima mereka. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa.

BAGIAN BELAKANG SULAMAN

Kebanyakan orang melihat karya sulaman dalam bentuk jadi. Sudah terbingkai indah, atau terjahit rapi pada baju. Saya beruntung dapat melihat proses pembuatannya karena istri saya suka menyulam. Kalau kita mengamati sulaman itu dari sebelah belakang, alangkah berbeda penampilannya. Jalinan benang centang-perenang, bertumpukan tidak teratur, jauh dari indah. Singkatnya, amburadul.

Bisa jadi seperti itulah Yefta memandang latar belakang hidupnya. Seperti benang kusut. Ia anak perempuan sundal, dianggap tidak berhak mendapatkan warisan, dan diusir saudara-saudara tirinya. Baca lebih lanjut

AJARAN KASIH

Kamis, 28 Mei 2009

Bacaan : Ibrani 12:6-11

12:6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?

12:8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.

12:9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?

12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.

12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

AJARAN KASIH

Dunia mengenal Hellen Keller sebagai orang buta yang berhasil lulus sarjana, dan dalam keterbatasannya menjadi berkat bagi banyak orang. Sebenarnya, di balik sosok Hellen, ada tokoh yang jarang disorot. Yakni Anne Sullivan, guru privat Hellen. Dialah yang mengajar Hellen banyak hal. Namun, jangan berpikir ia mengajar dengan lemah lembut. Ketika Hellen kecil, Anne bahkan harus mendisiplin Hellen dengan sangat keras supaya ia bisa makan dengan sendok. Awalnya, orangtua Hellen keberatan dengan cara Anne yang menurut mereka terlalu disiplin. Namun, Anne meyakinkan orangtua Hellen bahwa jika mereka ingin anaknya berhasil, Hellen perlu didisiplin. Jika Anne tidak mendisiplin Hellen, dunia mungkin takkan pernah diberkati oleh seorang Hellen Keller.

Demikian pula dengan Bapa di surga. Karena Dia adalah Bapa yang baik, itu sebabnya Dia mendisiplin kita. Penulis surat Ibrani menuliskan didikan Tuhan dari sudut pandang Tuhan. Ia memberi kita petunjuk bagaimana harus bersikap ketika dihajar Tuhan. Pertama, jangan anggap enteng. Baca lebih lanjut

SEANDAINYA

Rabu, 27 Mei 2009

Bacaan : Yohanes 11:17-32

11:17. Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.

11:18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya.

11:19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.

11:20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.

11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.

11:22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”

11:23 Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.”

11:24 Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”

11:25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

11:27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

11:28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.”

11:29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.

11:30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.

11:31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.

11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

SEANDAINYA

Sudah enam hari ibu saya dirawat di ICU. Tiap malam saya atau kakak bergantian menginap di rumah sakit. Karena kondisinya terus membaik, pada malam keenam kami pulang ke rumah untuk beristirahat. Tidak menjagainya. Siapa sangka, malam itu kondisinya merosot! Esok paginya ibu saya tidak sadarkan diri dan meninggal sore harinya. Ada rasa sesal di hati. Mengapa pada saat kritis itu kami tidak ada bersamanya? Seandainya malam itu kami mendampinginya, mungkin kami bisa berbuat sesuatu!

Kita kerap menyesali diri atau situasi ketika tragedi terjadi. “Seandainya aku berbuat ini atau itu, kondisinya pasti tidak separah apa yang terjadi.” Baca lebih lanjut

JADILAH KEHENDAK-MU

Selasa, 26 Mei 2009

Bacaan : Matius 6:9-13

6:9. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

JADILAH KEHENDAK-MU

Kita kerap berdoa, memohon agar kehendak Allah dinyatakan dalam hidup kita. Namun, apakah kita bersungguh-sungguh meminta hal ini? Bagaimana jika kehendak Allah ternyata berseberangan dengan keinginan dan kepentingan kita? Bagaimana jika kehendak Allah ternyata merugikan kita secara pribadi? Pernahkah Anda merenungkan hal ini?

Kehendak Allah, dalam doa yang diajarkan Yesus, baru terwujud jika kita memuliakan nama Allah dan menantikan Kerajaan-Nya. Hal itu merupakan tiga serangkai yang perlu kita utamakan. Ketiganya tidak dapat dipotong, apalagi dipisahkan. Baru setelah kita memuliakan Allah dan hidup di dalam kedaulatan Allah, kita akan bersyukur jika hanya kehendak Allah yang terjadi di dunia ini.

Sebaliknya, jika kita mengutamakan kepentingan pribadi, kita bisa berkehendak dan bertindak berlawanan dengan maksud Allah. Baca lebih lanjut

DI SEBERANG SANA

Senin, 25 Mei 2009

Bacaan : Yohanes 14:1-3

14:1. “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

DI SEBERANG SANA

Saya mendapat cerita ini dari sebuah e-mail. Seorang pasien berkata kepada dokternya selagi sang dokter bersiap pergi dari kamarnya, “Dok, saya takut mati. Bisakah Anda menceritakan bagaimana keadaan di seberang sana?” “Saya tidak tahu, Pak,” sahut dokter itu dengan lembut. “Lo, Anda tidak tahu? Bukankah Anda seorang kristiani?” tanya sang pasien lagi. Baca lebih lanjut