TEOLOGIA ARSIK

Senin, 11 Mei 2009

Bacaan : Kejadian 50:15-21

50:15. Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”

50:16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:

50:17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.

50:18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.”

50:19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?

50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

50:21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

TEOLOGIA ARSIK

Arsik adalah makanan tradisional Batak. Terbuat dari bahan dasar ikan mas, arsik diolah dengan beragam bumbu; cabe, bawang, kunyit, jahe, lengkuas, merica, dan banyak lagi bumbu lain yang membuatnya kaya cita rasa. Arsik akan sangat nikmat jika bumbunya telah bercampur dan meresap dalam ikan mas tersebut. Setiap bahan dari masakan ini tidak akan terasa enak jika dipisah-pisahkan. Ikan mas saja ditumis tanpa bumbu, pasti hambar. Memakan cabe saja, pasti pedas. Kunyit pun tak enak dan pahit. Lengkuas terasa panas. Merica, tak ada yang mau makan. Namun ketika dipadukan, jadilah arsik — ikan mas yang lezat.

Begitulah hidup dalam Tuhan. Jika dilihat sebagian bisa terasa pahit, pedas, dan tidak enak. Namun paduan yang pedas, pahit, dan hambar bisa menjadi nikmat. Yusuf bertumbuh bijaksana justru lewat pengalaman pahit dan pedas selama di Mesir. Dibenci saudara, dijual ke Mesir, menjadi budak Potifar, difitnah istri Potifar, dipenjara dan dilupakan, semuanya adalah pengalaman pahit di hidup Yusuf. Itu bisa saja menjadikannya pribadi yang penuh amarah, benci, dan dendam. Namun, Yusuf belajar melihat hal itu sebagai cara Tuhan memelihara Israel demi menggenapi janji-Nya kepada Abraham.

Inilah teologia arsik. Hidup kita ibarat arsik. Jangan hanya melihatnya sepenggal-sepenggal. Jangan terfokus pada sisi buruknya saja. Lihatlah secara keseluruhan. Pengalaman hidup yang pahit akan membuat iman dan karakter kita bertumbuh dewasa dan berbuah. Segala sesuatu yang awalnya tampak buruk adalah resep Tuhan meramu sebuah keindahan rohani dalam hidup kita. Tuhan, arsitek hidup manusia, akan menjadikan semua indah pada waktunya –DBS

HIDUP SEPERTI ADONAN KUE YANG TERDIRI DARI

BERBAGAI BAHAN
YANG TAK DAPAT DIRASA NIKMAT HINGGA

KUE ITU DISAJIKAN

Sumber : www.sabda.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: