PERUBAHAN RADIKAL

Selasa, 30 Juni 2009

Bacaan : Markus 9:2-9

9:2 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,

9:3 dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.

9:4 Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.

9:5 Kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

9:6 Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.

9:7 Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

9:8 Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

9:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.

 

PERUBAHAN RADIKAL

Operasi plastik, belakangan ini makin banyak saja peminatnya. Orang rela menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk mengubah bentuk wajah maupun tubuhnya. Lewat operasi itu, diharapkan bagian tubuh yang tidak menarik bisa langsung diubah menjadi lebih cantik. Orang gemuk bisa mendadak menjadi kurus. Pendeknya, orang merindukan terjadinya perubahan radikal. Sebuah metamorfosis. Bagai ulat buruk rupa berubah menjadi kupu-kupu nan jelita. Hasil akhirnya beda jauh dari asal mulanya.

Kata “metamorfosis” terdapat di Alkitab. Istilah Yesus “berubah rupa” dalam Markus 9:2 memakai kata metamorpheo dalam bahasa aslinya. Di depan ketiga murid-Nya, Tuhan Yesus bermetamorfosis. Tubuh fisik-Nya berubah. Bersinar memancarkan kemuliaan Allah. Baca lebih lanjut

TAAT SETELAH MELIHAT HASIL

PESAN GEMBALA

21 JUNI 2009

Edisi 79 Tahun 2

 

 

TAAT SETELAH MELIHAT HASIL

 

Shallom… Salam Miracle

Jemaat Bethany yang dikasihi Tuhan,

 

Dalam perjalanan bangsa Israel menuju Kanaan ada dua halangan perairan yang harus mereka hadapi.

  1. LAUT TEBERAU, yang menjadi batas antara Mesir dan padang gurun.
  2. SUNGAI YORDAN (ketika itu sedang meluap), yang menjadi batas antara padang gurun dan tanah perjanjian.

 

Di tepi laut Teberau, Musa mengangkat tongkatnya, maka laut terbelah sehingga mereka bias melewatinya, setelah mereka lolos dari kejaran Firaun, barulah mereka memuji Tuhan dengan meriah. Mari kita perhatikan ketika mereka menyebrang sungai Yordan mereka tidak bisa lagi menunggu Tuhan untuk membelah sungai itu seperti ketika Musa membelah Laut Teberau. Tuhan tidak memakai cara yang sama untuk tingkat rohani yang berbeda. Mereka tidak bisa berteriak-teriak dalam kepanikan seperti waktu melihat tentara Firaun mendekat. Tetapi mereka harus membuat persiapan berupa pengudusan pribadi dulu. Kemudian kaki imamlah yang harus melangkah lebih dulu dicelupkan ke sungai, barulah alliran sungai itu terbelah dan berbalik ke hulu.

 

Yosua 3:15, “Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu–sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai—“

 

Jadi pada saat iman mereka masih kanak-kanak, Tuhan membuat mujizat lebih dahulu, barulah mereka percaya dan memuji Tuhan, tetapi untuk masuk Kanaan, mereka harus taat dan percaya terlebih dahulu, setelah itu mujizat terjadi. Jadi iman yang melihat dahulu baru percaya adalah iman yang mengantar orang percaya kepada suasana padang gurun. Di padang gurun-lah iman mengalami pertumbuhan dan ujian. Tetapi iman yang melakukan bagiannya yaitu percaya dan taat, menghantar orang percaya keluar dari padang gurun, masuk Tanah Perjanjian.

 

Banyak umat Tuhan yang ingin segera keluar dari padang gurun hidupnya, tetapi mereka tidak pernah mengambil langkah iman lebih dulu. Terobosan yang besar seringkali tidak terjadi karena orang percaya jarang menyerah total pada rencana Tuhan yang meliputi panggilan, proses pembentukan, ujian-ujian dan pemakaian Tuhan tahap demi tahap. Mereka ingin kegenapan total janji Tuhan tanpa pernah menyerah total kepada-Nya. Jarang terjadi, ibadah ucapan syukur diadakan oleh umat Tuhan yang sedang dalam pergumulan, tetapi sangat biasa dilakukan setelah menerima jawaban, pertolongan, berkat Tuhan, ulang tahun dan sebagainya.

 

Padahal dalam beberapa peristiwa Tuhan Yesus mengajar mengucap syukur dulu baru mujizat terjadi. Dengan dua ekor dan lima potong roti, setelah mengucap syukur, Ia memberikan makan lima ribu orang bukan hanya sampai kenyang tetapi ada sisanya. Di depan kubur Lazarus, Ia bersyukur dan Lazarus bangkit dari kematian.

 

Mata yang tertuju pada upah akan melakukan sesuatu semata-mata untuk upah. Ini menunjukkan ketidakdewasaan seseorang. Seorang anak yang pergi ke sekolah hanya karena ingin mendapatkan uang saku, tidaklah mengerti bahwa ia dikirim sekolah untuk masa depannya sendiri. Umat Tuhan yang taat setelah melihat hasil, adalah umat yang tujuannya semata-mata upah sementara di dunia. Dan selama mata memandang kepada upah, tidak pernah puas, tetapi akan menuntut dan menuntut lebih lagi, akibatnya hanya upah yang diinginkan, bukan Tuhan Yesus yang dirindukan dan diinginkan.

 

Kiranya jemaat Tuhan senantiasa memiliki ketaatan yang lebih lagi.

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

BAHASA ROH (Bagian 2)

PESAN GEMBALA

14 JUNI 2009

Edisi 78 Tahun 2

 

BAHASA ROH

(Bagian 2)

 

Shallom… Salam Miracle.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, minggu ini kita akan melanjutkan pemahaman kita tentang bahasa Roh.

  • BERBICARA DALAM BAHASA ROH ADALAH KARUNIA ALLAH BAGI SETIAP ORANG PERCAYA

“Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dalam  bahasa roh..” (1 Korintus 14:5). Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil, membaptiskan mereka yang menerima keselamatan. Kemudian Dia berjanji: “tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya… mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka…” (Markus 16:7).

 

  • BERBICARA DALAM BAHASA ROH DIBERIKAN AGAR ORANG PERCAYA DAPAT BERBICARA SECARA SUPRANATURAL KEPADA ALLAH

Setiap orang percaya dalam Kristus merasa pada saat-saat tertentu tidak dapat mengungkapkan isi hati mereka kepada Allah dalam kata-kata. Dengan berbicara dalam bahasa roh Alkitab berkata: “siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia” (tidak bias dimengerti) (1 Korintus 14:2).

 

Tidak ada istilah “jika ini kehendakMu, Tuhan” mengenai cara berdoa supranatural ini. Roh Allah mengetahui kehendak Allah; demikianlah kita meminta “sesuai dengan kehendak-Nya”, “Dia mendengarkan kita”, dan “kita tahu behawa kita memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya” (1 Yohanes 5:14-15). Berdoa dalam bahasa roh membuka seluruh konsep baru tentang doa, persekutuan intim dengan Bapa, dan jawaban doa bagi mereka yang percaya.

 

  • BERBICARA DALAM BAHASA ROH ADALAH CARA YANG DITETAPKAN ALLAH BAGI SETIAP ORANG PERCAYA UNTUK MEMUJI TUHAN

Pada hari Pentakosta, ke-120 murid memuji Allah dalam bahasa-bahasa lain. Mereka menceritakan “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kisah 10:46). Ketika Roh Kudus turun atas Kornelius dan rombongannya, mereka mulai BERKATA-KATA DALAM BAHASA ROH DAN MEMUJI ALLAH.

 

  • BERBICARA DALAM BAHASA ROH DIBERIKAN SUPAYA ROH KITA BERDOA

Alkitab membuat hal ini jelas “sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa” (1 Korintus 14:14). Ayat 15 dari pasal yang sama ini berbicara tentang doa dan nyanyian “oleh Roh Kudus yang ada dalamku” yang jelas berbeda dari doa, pujian dan perkataan kita kepada Allah dalam bahasa yang tidak dimengerti lebih diperlukan bagi saat teduh pribadi, dan persekutuan dengan Tuhan.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan janji-janji Tuhan ini diberikan bagi mereka yang percaya (bagi SEMUA yang percaya), sejak hari Pentakosta sampai kedatangan Tuhan kembali.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua… amien

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

 

 

BUKAN SEKADAR HASIL

Senin, 29 Juni 2009

Bacaan : 1Raja 21:1-29

21:1. Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria.

21:2 Berkatalah Ahab kepada Nabot: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang.”

21:3 Jawab Nabot kepada Ahab: “Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!”

21:4 Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: “Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku.” Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.

 

21:5. Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: “Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?”

21:6 Lalu jawabnya kepadanya: “Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu.”

21:7 Kata Izebel, isterinya, kepadanya: “Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu.”

21:8 Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot.

21:9 Dalam surat itu ditulisnya demikian: “Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat.

21:10 Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.”

21:11 Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka.

21:12 Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat.

21:13 Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: “Nabot telah mengutuk Allah dan raja.” Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati.

21:14 Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: “Nabot sudah dilempari sampai mati.”

21:15 Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: “Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati.”

21:16 Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

 

21:17. Tetapi datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya:

21:18 “Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia telah pergi ke kebun anggur Nabot untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

21:19 Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membunuh serta merampas juga! Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu.”

21:20 Kata Ahab kepada Elia: “Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?” Jawabnya: “Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.

21:21 Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel.

21:22 Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hati-Ku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa.

21:23 Juga mengenai Izebel TUHAN telah berfirman: Anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizreel.

21:24 Siapa dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara.”

21:25 Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya.

21:26 Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel.

21:27 Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban.

21:28 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu:

21:29 “Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya.”

BUKAN SEKADAR HASIL

Di antara sekian banyak kejadian kontroversial di dunia tinju, kejadian pada tanggal 28 Juni 1997 mungkin adalah yang paling diingat orang. Ketika itu, Evander Holyfield berhadapan dengan Mike Tyson. Itu adalah pertandingan ulang. Pada pertandingan pertama tanggal 9 November 1996, Holyfield menang TKO di ronde ke-11. Event yang disebut-sebut sebagai pertarungan terdahsyat dalam sejarah tinju itu ternyata berakhir memalukan. Pertandingan dihentikan di ronde ketiga karena Tyson menggigit telinga Holyfield, sebuah tindakan yang sangat tercela di ring tinju. Tyson dinyatakan kalah dan mendapat hukuman.

Mempunyai keinginan untuk mencapai atau meraih sesuatu tentunya tidak salah. Jadi, sangatlah wajar jika seseorang itu berupaya keras untuk mencapai cita-citanya, bekerja mati-matian untuk meraih sukses. Yang jadi masalah adalah, kalau untuk mencapai keinginannya itu, orang lalu menghalalkan segala cara; termasuk melakukan kecurangan dan kekejian, tidak peduli norma dan melanggar hukum. Baca lebih lanjut

IBU BIJAK, ANAK BAHAGIA

Sabtu, 27 Juni 2009

Bacaan : 2Timotius 3:1-15

3:1. Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.

3:2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

3:3 tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,

3:4 suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

3:5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

3:6 Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu,

3:7 yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.

3:8 Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.

3:9 Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang.

 

3:10. Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.

3:11 Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.

3:12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,

3:13 sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.

3:14 Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.

3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

 

IBU BIJAK, ANAK BAHAGIA

Seorang filsuf Cina terkenal, Meng Zi, memiliki ibu yang sangat bijak. Konon ketika Meng Zi masih kecil, mereka tinggal dekat kuburan. Siang-malam Meng Zi meniru gerak-gerik dan perkataan orang-orang yang melayat. Maka, ibu Meng Zi mengajak keluarganya pindah ke dekat pasar. Kali ini Meng Zi menirukan kata-kata para penjual daging. Si ibu merasa lingkungan pasar juga kurang baik bagi masa depan Meng Zi. Akhirnya, mereka pindah ke dekat sekolah. Sejak itu Meng Zi rajin menirukan murid-murid membaca buku. Setelah besar Meng Zi berguru kepada seorang filsuf. Akhirnya, ia sendiri pun menjadi filsuf besar di zamannya. Meng Zi berhasil karena ia memiliki ibu yang sangat memperhatikan pendidikannya.

Alkitab mencatat jasa seorang ibu bernama Eunike. Ia adalah ibu dari pemimpin muda gereja, Timotius. Eunike dan Lois (nenek Timotius) adalah orang Yahudi yang taat mengajarkan firman Tuhan sejak Timotius kecil (1 Timotius 1:5; 2 Timotius 3:15). Menurut NIV Life Application, Timotius bertobat bukan karena khotbah seorang penginjil, tetapi karena peran ibu dan neneknya yang mengajarkan firman Tuhan sejak kecil. Baca lebih lanjut

ANGSA HITAM

Bacaan : Ester 6:1-11

6:1. Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah, lalu dibacakan di hadapan raja.

6:2 Dan di situ didapati suatu catatan tentang Mordekhai, yang pernah memberitahukan bahwa Bigtan dan Teresh, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, telah berikhtiar membunuh raja Ahasyweros.

6:3 Maka bertanyalah raja: “Kehormatan dan kebesaran apakah yang dianugerahkan kepada Mordekhai oleh sebab perkara itu?” Jawab para biduanda raja yang bertugas pada baginda: “Kepadanya tidak dianugerahkan suatu apapun.”

 

6:4. Maka bertanyalah raja: “Siapakah itu yang ada di pelataran?” Pada waktu itu Haman baru datang di pelataran luar istana raja untuk memberitahukan kepada baginda, bahwa ia hendak menyulakan Mordekhai pada tiang yang sudah didirikannya untuk dia.

6:5 Lalu jawab para biduanda raja kepada baginda: “Itulah Haman, ia berdiri di pelataran.” Maka titah raja: “Suruhlah dia masuk.”

6:6 Setelah Haman masuk, bertanyalah raja kepadanya: “Apakah yang harus dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya?” Kata Haman dalam hatinya: “Kepada siapa lagi raja berkenan menganugerahkan kehormatan lebih dari kepadaku?”

6:7 Oleh karena itu jawab Haman kepada raja: “Mengenai orang yang raja berkenan menghormatinya,

6:8 hendaklah diambil pakaian kerajaan yang biasa dipakai oleh raja sendiri, dan lagi kuda yang biasa dikendarai oleh raja sendiri dan yang diberi mahkota kerajaan di kepalanya,

6:9 dan hendaklah diserahkan pakaian dan kuda itu ke tangan seorang dari antara para pembesar raja, orang-orang bangsawan, lalu hendaklah pakaian itu dikenakan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya, kemudian hendaklah ia diarak dengan mengendarai kuda itu melalui lapangan kota sedang orang berseru-seru di depannya: Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya!”

6:10 Maka titah raja kepada Haman: “Segera ambillah pakaian dan kuda itu, seperti yang kaukatakan itu, dan lakukanlah demikian kepada Mordekhai, orang Yahudi, yang duduk di pintu gerbang istana. Sepatah katapun janganlah kaulalaikan dari pada segala yang kaukatakan itu.”

6:11 Lalu Haman mengambil pakaian dan kuda itu, dan dikenakannya pakaian itu kepada Mordekhai, kemudian diaraknya Mordekhai melalui lapangan kota itu, sedang ia menyerukan di depannya: “Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya.”

 

ANGSA HITAM

Nassim Nicholas Taleb menulis buku “Black Swan” untuk memperkenalkan fenomena angsa hitam. Fenomena ini mengacu pada peristiwa-peristiwa tak terduga yang berdampak masif. Orang baru bisa mereka-reka penjelasannya setelah peristiwa itu terjadi. Contohnya bencana tsunami, larisnya Harry Potter, kemenangan Obama, atau anak tukang becak yang kaya mendadak karena menjadi juara kontes menyanyi. Fenomena semacam itu ditelaah melalui ilmu ketidakpastian, teori kemungkinan, dan masalah kemujuran.

Mordekhai mengalami fenomena angsa hitam yang menyenangkan. Haman, wakil raja Persia yang membencinya, menyusun siasat untuk membunuhnya dan bahkan sudah menyiapkan tiang gantungan. Namun, malamnya raja secara tak terduga sulit tidur. Ia meminta dibacakan kitab sejarah dan mendapati bahwa Mordekhai pernah berjasa menyelamatkan nyawanya. Esoknya, bukannya dihukum gantung, Mordekhai malah mendapatkan penghargaan dari raja.

Apakah itu kebetulan belaka? Alkitab tidak mengenal kebetulan. Baca lebih lanjut

MEREDAKAN KEMARAHAN

Kamis, 25 Juni 2009

Bacaan : Mazmur 37:1-11

37:1. Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang;

37:2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.

37:3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,

37:4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

 

37:7. Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.

37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

37:9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.

37:10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.

37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang melimpah -limpah.

 

MEREDAKAN KEMARAHAN

Di buku rekor Guinness 2005, Percy Arrowsmith dan Florence tercatat sebagai suami istri tertua di dunia. Mereka telah menikah selama 80 tahun. Percy berusia 105 tahun, sedangkan istrinya 100 tahun. Namun, keduanya masih saling mencintai. Apa rahasianya? “Sederhana!” kata mereka. “Kami tidak akan pergi tidur sebelum menyelesaikan konflik. Tidak enak tidur membawa kemarahan. Jika bertengkar, kami berusaha saling mengampuni sebelum larut malam, supaya hari itu bisa ditutup dengan ciuman dan genggaman tangan.”

Kemarahan bisa mampir mendadak; ketika kita dicurangi, dituduh bersalah, atau saat melihat ketidakadilan. Mazmur 37 ditulis bagi orang muda yang panas hatinya ketika melihat orang-orang jahat sukses. Mereka berbuat curang (ayat 1), melakukan tipu daya, tetapi hidup lebih berhasil ketimbang dirinya yang hidup lurus (ayat 7). Kemarahan pun muncul. Jika dipendam, kemarahan ini akan berbuahkan iri hati dan kepahitan. Baca lebih lanjut