SUJUD MENYEMBAH

Senin, 6 Juli 2009

Bacaan : Mazmur 95

95:1. Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.

95:2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

95:3 Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.

95:4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaan-Nya.

95:5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.

95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

 

95:7. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

95:8 Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun,

95:9 pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

95:10 Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku.”

95:11 Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

 

SUJUD MENYEMBAH

Orang-orang Yunani dan orang-orang Roma zaman kuno menolak posisi berlutut sebagai bagian dari ibadah penyembahan. Mereka berkata bahwa posisi berlutut tidak patut dilakukan oleh orang merdeka. Posisi itu tidak cocok dengan budaya Yunani dan hanya sesuai untuk orang-orang yang belum beradab. Cendekiawan Plutarch dan Theophrastus menganggap bahwa berlutut merupakan ungkapan kepercayaan kepada takhayul. Aristoteles bahkan mengatakan bahwa berlutut merupakan bentuk kelakuan yang tidak beradab. Meskipun demikian, keyakinan ini sama sekali tidak pernah diikuti oleh umat Allah.

Dalam Mazmur 95:6, pemazmur menyatakan bahwa berlutut menunjukkan penghormatan yang sangat dalam kepada Allah. Di dalam satu ayat ini, pemazmur menggunakan tiga kata Ibrani yang berbeda untuk menunjukkan bagaimana seharusnya sikap dan posisi seorang penyembah.

Yang pertama, pemazmur menggunakan kata sujud, yakni posisi berlutut dengan dahi merapat ke lantai sebagai tanda hormat kepada Tuhan yang berarti setia kepada-Nya. Kata kedua yang digunakannya ialah menyembah, yang artinya bertelut untuk memberi hormat dan menyembah Tuhan. Kemudian, ia menggunakan kata berlutut, yang berarti melipat lutut sebagai tumpuan berdiri untuk memuji Allah.

Menurut pemazmur, berlutut di hadirat Allah adalah tanda penghormatan, bukan bentuk kelakuan tidak beradab. Meskipun demikian, yang penting bukan hanya posisi tubuh kita, melainkan juga sikap kerendahan hati kita –MLW

SIKAP KITA DALAM PENYEMBAHAN LEBIH BERHARGA
DARIPADA POSISI TUBUH KITA KALA MENYEMBAH

Sumber : http://www.sabda.org

Iklan

KRISTEN SEJATI (1)

PESAN GEMBALA

5 JULI 2009

Edisi 81 Tahun 2

 

 

Shallom… Salam Miracle.

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, kita telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kemudian hidup berkomitmen melakukan perintah-Nya.

 

Dalam Yohanes 1:12-13 Firman Allah berkata:”Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam namaNya orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging,  bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari ALLAH”.

 

 Oleh karena kita mengambil keputusan menerima Yesus Kristus, Allah memberikan kepada kita kehidupan baru, kita menjadi anggota keluarga Allah. Dalam Matius 6:9-10 ketika kita berdoa, berdoalah seperti ini: “Bapa kami yang ada di Sorga dikuduskanlah namaMu”. Penyebutan Allah sebagai Bapa adalah gambaran hubungan yang dekat antara umat Tuhan dan Allah.

 

Menjadi seorang Kristen itu lebih daripada seorang yang rutin mengunjungi gereja, berdoa, membaca Alkitab atau buku-buku rohani, melakukan hal-hal yang saleh. Bukan agama yang membuat seseorang menjadi Kristen, tetapi karena persekutuan. Dosa memisahkan semua manusia dan keturunannya dari Allah. Pertobatanlah yang mengubah pikiran tentang diri kita sendiri dan Allah, yaitu memimpin kepada perubahan tingkah laku. Dengan mengaku kepada Allah atas segala dosa kita dan memiliki Iman di dalam Yesus Kristus yang telah mati di Kalvari sebagai pengganti kita, yang telah mengubur dosa kita supaya menjadi selamat, dan membawa pengampunan kepada Allah.

 

Melalui kasih dan kemurahan Allah kita diampuni, dibawa untuk mendekat kepada Allah, menjadi orang yang dipelihara, dilindungi, dan disiapkan untuk rencanaNya. Kelahiran kita secara ROHANI oleh Roh Kudus dan Firman Tuhan, melalui pengakuan, pertobatan dan oleh Iman telah membawa kehidupan Allah masuk ke dalam kehidupan pribadi kita dan kita menjadi ciptaan baru.

 

Bagaimana supaya kita dapat bertumbuh kuat dan semangat dalam kehidupan rohani kita?

  1. JADILAH ORANG KRISTEN YANG MENJADIKAN ALKITAB SEBAGAI MAKANAN.

Yeremia 15:16 mengatakan :”FirmanMu aku menikmatiNya dan firmanMu menjadi kegirangan bagiku dan hatiku bersukacita.” Apakah yang dimaksud Firman Allah ini? Yaitu dengan membaca dan memikirkan atau merenungkan Firman Allah ini siang dan malam. Dan Allah berkata kepada Yosua “janganlah engkau lupa memperkatakan Kitab Taurat ini tetapi renungkanlah itu siang dan malam…” Tuhan kemudian meneruskan dengan mengatakan bahwa jalannya atau kehidupannya akan dibuat berkelimpahan dan berhasil. Yesus berkata dalam Matius 4:4,”Manusia tidak hidup dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Setiap orang yang normal pasti ingin hidup sehat. Firman Allah menyehatkan seluruh bagian tubuh kita. Mazmur 107:20 menyatakan: “Dia mengirimkan FirmanNya dan disembuhkanNyalah mereka.” Ada lebih 30 ribu janji Allah dalam Alkitab. Bacalah 2 Korintus 1:20,”sebab semua janji Allah adalah Ya dan Amin bagi kemuliaanNya melalui kita.” Serukan dan percayalah bahwa janji Allah tersebut untuk kebutuhan kita. Berapa kali kita harus membaca Alkitab? Sesering mungkin sebab hal itu akan menyegarkan kehidupan kita.

 

  1. JADILAH ORANG KRISTEN YANG RAJIN BERDOA.

Setelah Rasul Paulus menjadi orang percaya di jalan menuju Damsyik, kita membaca di dalam Kisah 9:22 “IA SEDANG BERDOA”, ini adalah satu hal yang wajar bagi seorang Kristen untuk berdoa, untuk berbicara dengan Bapanya di Sorga, membawa ucapan syukurnya, pujiannya, kasihnya dan juga supaya Allah mengetahui kebutuhannya, permasalahannya, dan untuk meminta bimbingan dan pimpinan. Doa secara pribadi akan tetap menjaga hubungan kita dengan Allah dalam persekutuan yang benar.

(…BERSAMBUNG…)

 

TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA…

 

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA