RUMAH DUKA

Jumat, 17 Juli 2009

Bacaan : Pengkhotbah 7:1-7

7:1. Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.

7:2 Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.

7:3 Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega.

7:4 Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.

7:5 Mendengar hardikan orang berhikmat lebih baik dari pada mendengar nyanyian orang bodoh.

7:6 Karena seperti bunyi duri terbakar di bawah kuali, demikian tertawa orang bodoh. Inipun sia-sia.

 

7:7. Sungguh, pemerasan membodohkan orang berhikmat, dan uang suap merusakkan hati.

 

RUMAH DUKA

Rumah duka biasanya terkesan suram, kotor, pengap, dan menyeramkan. Untuk menghapus kesan itu, kini mulai banyak dibangun rumah duka modern yang indah, bersih, berpendingin udara, bahkan dilengkapi alat musik. Namun, ini tidak membuat orang lebih suka pergi ke sana, apalagi berlama-lama di situ! Manusia enggan berhadapan dengan kematian dan suasana duka.

Melihat kenyataan ini, nasihat Pengkhotbah terdengar tidak lazim. Menurutnya, lebih baik pergi ke rumah duka daripada pergi ke rumah pesta. Lebih baik bersedih dan meratap di rumah duka, ketimbang tertawa di rumah pesta. Mengapa? Karena kedukaan mengajarkan kita banyak hal. Kita disadarkan bahwa hidup ini singkat. Semua orang akan mati, termasuk kita. Mumpung masih ada kesempatan hidup, pakailah untuk berbenah diri! Keluarga yang meratap juga belajar banyak. Rasa kehilangan mendorong mereka lebih bergantung pada Tuhan. Jadi, di rumah duka kita belajar hidup bijak. Pelajaran ini tidak akan kita dapatkan di rumah pesta. Di situ orang diajak tertawa. Melupakan segala kesusahan dan realitas hidup. Dibawa bersenang-senang sampai lupa daratan!

Kita banyak belajar tentang Tuhan dan iman justru di saat sulit, bukan di saat bersenang-senang. Oleh karena itu, kemalangan ada gunanya. Tidak harus dihindari. Apakah Anda selalu berusaha menghindar dari penderitaan dengan segala cara? Saat Tuhan menempatkan Anda di “rumah duka”, apakah Anda lari ke “rumah pesta”? Lihatlah kemalangan sebagai kesempatan emas untuk belajar sesuatu dari Tuhan! -JTI

TUHAN MEMBUAT HIDUP KITA KAYA

DENGAN MENGAJAR KITA MENCAMPUR CANDA DAN AIR MATA

Sumber : www.sabda.org

Iklan