PANDANGLAH LANGIT DI ATASMU

Senin, 3 Agustus 2009

Bacaan : Mazmur 19:2-7

19:2 (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.

19:3 (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;

19:4 (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,

19:5 (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.

19:6 (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.

 

19:7. (19-8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.

 

PANDANGLAH LANGIT DI ATASMU

Pada sebuah siang yang panas, Badu-sebut saja demikian, mengeluh kepanasan. Mukanya terlipat, tak ada senyuman. Baju kerjanya mulai basah oleh keringat. Ini memperpanjang daftar keluhannya. Sorenya masih di hari yang sama, sekali lagi Badu mengeluh. Hujan turun sangat lebat disertai kilat, dan angin menusuk tubuhnya yang tak mengenakan jaket. Dalam hati ia berkata, “Tuhan, jangan berlebihan dong! Bukankah akan lebih baik jika tadi siang tak sepanas itu, dan sore ini tak sedingin ini?”

Mungkin itu juga yang ada dalam hati kebanyakan orang saat merespons cuaca. Saat panas, mengeluh. Saat hujan, mengeluh. Mendung pun mengeluh. Astaga! Siapakah kita? Apakah kita memiliki kuasa untuk mengendalikan alam, sampai-sampai kita mengeluh terhadap apa yang Tuhan jadikan? Bukankah yang seharusnya terjadi adalah bersyukur atas semua hal, termasuk atas cuaca?

Lihatlah pemazmur yang mengungkapkan kebesaran Allah, saat memandang ke langit. Ia bahkan menemukan tutur Sang Pencipta saat memandang cakrawala. Betapa luar biasa kepekaannya untuk mengerti pernyataan kemahakuasaan Tuhan melalui alam ciptaan-Nya! Sungguh, ini acap disepelekan dan diabaikan manusia.

Bagaimana dengan kita? Setiap hari kita hidup di bawah kolong langit. Namun, sempatkah kita memandang langit hari ini? Mahakarya ilahi yang sayang untuk diabaikan begitu saja! Luangkan waktu sejenak untuk menikmati keindahan karya Tuhan dan bersyukur; entah pada saat panas, mendung, maupun hujan. Jangan terjebak pada keluhan, melainkan ingatlah Dia yang menciptakannya. Dan, mulailah bersyukur atas semua ini -HA

SEPERTI TUHAN MENAUNGI KITA DENGAN LANGIT

DEMIKIANLAH DIA MENAUNGI KITA DENGAN KESETIAAN-NYA

DARI HARI KE HARI

Sumber : www.sabda.org

Iklan