PELAYANAN YANG PENUH BUAH (1)

PESAN GEMBALA

9 AGUSTUS 2009

Edisi 86 Tahun 2

 

PELAYANAN YANG PENUH BUAH (1)

Shalom… Salam miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita belajar dalam Injil Yohanes 4:1-42 (baca terlebih ayat-ayat ini), dimana Tuhan Yesus bertemu dengan wanita Samaria. Dalam pembacaan pasal 1 ini, ada banyak prinsip-prinsip yang dapat kita teladani ketika Yesus melayani perempuan Samaria tersebut.

 

  1. MEMPRIORITASKAN KEHENDAK ALLAH

Ketika Yohanes mengatakan kepada kita yang membaca kisah ini bahwa “Yesus harus melintasi daerah Samaria” (Yohanes 4:4). Apakah sebenarnya yang mendorong Dia untuk melakukan hal tersebut? Sebenarnya ada 2 jalan yang bisa Dia lewati untuk sampai ke daerah Galilea, yaitu rute yang melalui Samaria dan rute yang satunya adalah melewati Lembah Yordan. Meskipun jalan yang melalui Samaria merupakan rute alternatif atau suatu arah alternatif, tetapi rute ini jarang dilewati oleh orang-orang Yahudi, disebabkan  adanya pertentangan eksistensi antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Samaria dan secara keturunan kesukuan Yesus termasuk orang Yahudi, tetapi Yesus memilih rute ini. Hal ini bukan disebabkan karena jaraknya yang lebih pendek, atau lebih cepat sampai atau alasan-alasan lainnya, tetapi dikarenakan suara yang disampaikan secara pribadi dari Bapanya yang di Surga. Inilah yang dimaksud memprioritaskan kehendak Allah.

 

Allah mempunyai misi tersendiri supaya Yesus melakukan dan menggenapinya. Allah mengetahui di jalan tersebut ada hati yang lapar dan haus akan kebenaran Allah. Allah meletakkan suara tersebut di dalam hati Yesus yang akhirnya membawa Dia pada rute yang telah ditetapkan dan kepada suatu tempat pertemuan yang tepat, yaitu sumur Yakub.

 

Saudara, kita juga perlu memiliki kepekaan yang demikian dan kemampuan untuk dapat melihat serta menerjemahkan saran Allah di dalam roh kita. Ada banyak kesempatan bagi Allah untuk bersaksi dengan cara khusus tetapi Dia perlu mempunyai keyakinan bahwa kita tidak hanya mendengar tetapi juga menaati saran-saranNya.

 

Untuk menjamin bahwa kita memiliki kepercayaan kepada Allah kita perlu memprioritaskan kehendak-Nya dan menyerahkan terlebih dahulu di atas semua komitmen kita. Kita dapat melihat sikap seperti ini di dalam kehidupan Yesus bahkan sejak Ia berumur belasan tahun. Ia bertanya kepada Maria dan Yusuf “tidakkah engkau mengetahui bahwa Aku harus melakukan kehendak Bapa?” (Lukas 2:49). Di sini sangat terlihat walaupun Ia sangat menghormati orang tuanya di dunia dan di dalam asuhan mereka, Dia memberikan kehendak BapaNya yang di Sorga sebagai prioritas yang tertinggi.

 

Pada kesempatan lain Ia mengatakan “kesukaanKu adalah mengerjakan kehendak BapaKu yang di Sorga yang telah mengutus Aku”. Kita juga harus menjadi sumber kesukaan untuk menaati kehendak Bapa kita.  

 

  1. KASIHNYA YANG TULUS KEPADA ORANG BERDOSA

Pada ayat 4 Yesus mengatakan bahwa “harus pergi melalui Samaria”, hal ini dilakukan bukan karena kondisi geografis atau adanya pertentangan dengan yang lainnya, namun yang sebenarnya adalah Yesus sengaja ingin melewati Samaria untuk memberitakan kabar kesukaan kepada perempuan Samaria dan para tetangganya di Samaria.

 

KasihNya kepadanya (orang berdosa) yang membuat Yesus melakukan hal ini. Dia sangat dikenal sebagai “sahabat orang berdosa”. Sebutan tersebut tidak membuatNya risih atau terganggu. Karena orang-orang yang terhina itulah sehingga Dia mendatangiNya, seperti yang dilakukanNya ketika mendatangi perempuan Samaria. Dia tidak bermaksud menghakiminya, tetapi rindu untuk memberikan belas kasihan dengan tulus kepada mereka yang berdosa, bahkan memberikan pertolonganNya. Yang patut kita teladani adalah “melihat orang-orang berdosa dengan cara pandang Allah”. Sebagai orang Kristen kita harus hati-hati untuk tidak menganggap diri kita benar atau menganggap orang lain salah tanpa melibatkan Kristus……(BERSAMBUNG)

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati….Amien.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt.Ir.Joko Susanto, MA

Iklan

PENGARUHNYA SEMAKIN BESAR

Senin, 10 Agustus 2009

Bacaan : Matius 13:31-33

13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.

13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

13:33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”

 

PENGARUHNYA SEMAKIN BESAR

Di Indonesia, arus listrik sering padam. Entah karena kerusakan teknis atau pemadaman bergilir. Hal ini sangat meresahkan, karena masyarakat sudah sangat bergantung pada listrik. Dulu, listrik dipakai hanya sebatas menyalakan lampu. Kini, pemakaiannya merambah ke segala bidang. Hampir semua kegiatan memerlukan listrik: mendinginkan ruangan, menjalankan mesin, menonton televisi, menyalakan komputer, dan lain-lain. Pengaruhnya semakin besar. Tidak bisa lagi kita hidup nyaman tanpanya!

Pengaruh atau dampak Kerajaan Surga juga begitu. Ia seumpama biji sesawi. Mula-mula kecil mungil. Tak terasa hadirnya, apalagi dampaknya. Namun, setelah tumbuh, ia menjadi pohon besar tempat bernaung burung-burung. Dampaknya sangat terasa. Burung-burung tak bisa hidup nyaman tanpanya. Kerajaan Surga juga seumpama ragi dalam adonan. Ketika ditaruh sejumput, tampaknya tidak terjadi apa-apa. Namun, perlahan tetapi pasti, 3 sukat adonan (hampir 40 liter) akan dipengaruhi hingga mengembang. Itulah yang terjadi saat kita hidup dalam Kerajaan Surga. Sewaktu baru beriman pada Kristus, mungkin Tuhan dan Firman-Nya belum terlalu memengaruhi hidup. Tetapi, makin lama dampaknya makin besar. Kristus dan Firman-Nya memengaruhi pikiran dan hati. Mewarnai setiap aksi. Menjadi sumber inspirasi.

Hidup dalam Kerajaan Allah tak pernah statis. Ada pertumbuhan. Pengaruh Kristus seharusnya semakin terasa, hingga kita tak nyaman lagi hidup tanpa merasakan hadir-Nya. Seberapa besar Yesus telah memengaruhi cara pikir, sikap, dan tindakan Anda? -JTI

IMAN YANG HIDUP SELALU BERGERAK MAJU

TIDAK PERNAH BERHENTI DI TEMPAT

Sumber : www.sabda.org