BATAS UMUR

Kamis, 20 Agustus 2009

Bacaan : Yakobus 4:13-17

4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”,

4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.

4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

 

BATAS UMUR

Tuhan sudah memanggil Mbak Suryati pulang. Ke tempat yang tak kenal duka atau air mata. Keluh atau sakit. Pergulatannya dengan kanker yang tanpa ampun menyerangnya dalam bulan-bulan terakhir, telah usai. Segala perih dan sakit yang menyiksa sudah tidak ada lagi. Empat puluh tiga tahun Tuhan memberinya waktu. Sepertinya kurang lama, begitu mungkin keluarga dan kerabat merasa. Namun Tuhan bilang, ia sudah menamatkan tugasnya.

Bagi setiap pribadi, Allah telah menetapkan batas umur. Itu sebabnya Yakobus mengingatkan, alangkah baiknya jika kita menyandarkan setiap hari pada kemurahan-Nya. Dan, apabila Tuhan masih menghendaki kita hidup pada hari ini, itu tandanya kita mesti bekerja bagi-Nya. Melakukan “ini dan itu” yang Allah rancang-tugaskan bagi kita (ayat 15). Jika tidak, maka kita berdosa. Sebab, menyia-nyiakan “masa hidup” yang Tuhan tetapkan berarti kita seperti orang yang tahu bagaimana harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya (ayat 17).

Memandangi tanah yang diurukkan ke atas peti jenazah Mbak Suryanti, saya bertanya-tanya, “Tuhan, seberapa batas umur yang Engkau tetapkan ketika mencipta saya? Jika waktunya tak banyak lagi, adakah saya sudah melakukan ‘ini dan itu’ yang Tuhan kehendaki untuk saya lakukan?” Mbak Suryanti telah menjadi pribadi yang berhasil. Membesarkan dua putra menjadi anak Tuhan yang setia, menjadi saksi bahkan di tengah sakit, dan terus mempertahankan iman dan kasih kepada Tuhan hingga waktunya berakhir. Kita tidak pernah tahu batas umur kita, tetapi tentunya kita dapat mencari tahu “ini itu” yang mesti kita lakukan, selagi masih ada waktu -AW

SEBAB TAK KUTAHU BATAS UMURKU

TAK KAN KUBUANG WAKTU UNTUK MENCINTAI TUHANKU

Sumber : www.sabda.org

Iklan