SATU IDENTITAS

Minggu, 23 Agustus 2009

Bacaan : Efesus 2:11-22

2:11. Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, —

2:12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.

2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.

 

2:14. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,

2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,

2:16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.

2:17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”,

2:18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.

2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,

2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

2:21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

 

SATU IDENTITAS

Pengalaman ikut acara “nonton bareng” selama Olimpiade 2008 yang lalu adalah pengalaman menarik bagi saya. Sebab, di situ berbagai macam orang dengan beragam latar belakang dan status sosial dipersatukan oleh satu identitas yang sama, yaitu kebangsaan mereka dan keinginan supaya atlet negara mereka meraih kesuksesan. Orang-orang ini, yang mungkin biasanya tidak saling peduli atau bahkan bermusuhan, saat itu bisa duduk dan bersorak bersama.

Keberagaman serupa juga terdapat dalam jemaat Allah sejak awal berdiri. Di dalamnya ada orang-orang Yahudi dan non Yahudi, orang kaya dan miskin, orang merdeka dan budak, laki-laki dan perempuan, orang tua dan kanak-kanak. Namun, mereka semua dipersatukan oleh satu identitas yang sama, yaitu anggota keluarga Allah oleh karya Yesus Kristus.

Jemaat Tuhan yang ada pada zaman sekarang pun tidak kalah beragamnya. Namun sedihnya, kerap kali keragaman ini memunculkan tembok pemisah yang memecahbelah umat Allah. Sebagai contoh, orang-orang kaya di gereja yang tidak mau bergaul dengan orang yang tidak sekaya mereka. Sebaliknya, mereka yang ekonomi atau pendidikannya pas-pasan terkadang merasa rendah diri dan malu untuk melayani bersama dengan mereka yang lebih kaya atau terpandang. Atau, seorang dari suku tertentu merasa tidak pantas untuk duduk berdampingan dengan jemaat dari suku lainnya dalam ibadah.

Sudah saatnya itu semua diubah. Caranya? Dengan berhenti memperhatikan perbedaan yang ada dan lebih mengingat kesamaan identitas kita semua, yaitu anggota keluarga Allah -ALS

WALAU TERDIRI DARI BERBAGAI STATUS DAN LATAR BELAKANG

JEMAAT ALLAH TETAPLAH SATU KELUARGA

Sumber : www.sabda.org