PELAYANAN YANG PENUH BUAH (3)

PESAN GEMBALA

23 AGUSTUS 2009

Edisi 88 Tahun 2

 

PELAYANAN YANG PENUH BUAH (3)

Shalom… Salam Miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita akan melanjutkan pembahasan minggu lalu dalam Injil Yohanes 4:1-42 (baca terlebih dahulu ayat-ayat ini) dimana Tuhan Yesus bertemu dengan perempuan Samaria. Dalam pembacaan pasal 1 ini, ada banyak prinsip-prinsip yang dapat kita teladani ketika Yesus melayani perempuan Samaria tersebut.

  1. MEMPRIORITASKAN KEHENDAK ALLAH
  2. KASIHNYA YANG TULUS KEPADA ORANG BERDOSA
  3. MENARUH PERHATIAN KEPADA BANYAK ORANG DAN BERSOSIALISASI.

… (sambungan minggu lalu). Lukas 2:52 menceritakan kepada kita sesuatu yang menarik mengenai pertumbuhanNya dimulai sejak anak-anak. Dikatakan bahwa “Dia bertumbuh dalam hikmat (intelektual), besarNya (fisik), hubunganNya dengan Allah (rohani), dan dengan manusia (sosial).

 

Banyak orang Kristen saat ini yang hanya mengembangkan aspek rohani dan mengesampingkan hal-hal yang lainnya. Tidak demikian dengan Yesus. PertumbuhanNya seimbang dalam segala segi yang kita sebutkan, dan Dia menjadi teladan atas kita. Pelayanan yang sukses membutuhkan pertumbuhan dan kedewasaan.

 

Dalam seluruh hidupNya banyak waktu yang diberikan untuk bergaul dengan berbagai macam orang, salah satu diantaranya Dia berkhotbah di hadapan satu orang saja, yaitu Nikodemus, tetapi juga bisa berhadapan dengan ribuan orang, jadi selalu bisa membuat kontak sosial dan menjadi sahabat masyarakat.

 

Gunakan iman kitauntuk mengatasai rasa malu dan keengganan dalam bermasyarakat. Keluarlah dari rumah, berbicaralah dengan tetangga kita. Bersahabatlah dengan penjaga toko, sopir, polisi, birokrat, dokter, tukang ojek dan lain sebagainya. Jika Yesus adalah sahabat orang berdosa, kita dapat menjadi sahabat para tetangga kita. Berusahalah untuk dapat menjadi sahabat mereka, ambil waktu untuk membangun hubungann yang tulus dengan mereka.

 

       4. MEMBANGUN FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENARIK PERHATIAN

Ketika Tuhan Yesus mendapati perempuan Samaria, pada waktu itu ia sedang mengambil air. Lalu dengan segera Dia membangun hubungan dengannya dengan mengatakan kalau Ia haus dan sangat senang kalau perempuan itu mau memberikan air untukNya. Dalam hal ini Dia membuat hubungan dengannya secara bijaksana dan tepat. Yaitu meminta bantuannya. Cara Tuhan Yesus dapat membuat orang terpedaya, memikat dan bersahabat. Sikap ini menghilangkan permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Yesus berhasil mematahkan penghalang budaya, penghalang ras, dan penghalang agama.

 

Orang-orang seringkali terpikat dan terpedaya ketika kita mengungkapkan rasa tertarik kita terhadap apa yang mereka lakukan atau segala sesuatu yang menarik perhatian mereka. Mereka akan membuka percakapan dengan seseorang yang mengungkapkan rasa tertarik dan antusiasnya terhadap segala sesuatu yang mereka sendiri merasa tertarik. Rasa tertarik akan membangun hubungan dengan orang lain, dan dapat membuka jalan untuk percakapan yang lebih serius.

 

     5.  TIDAK MENGHAKIMI DAN MENGHUKUM ORANG

Wanita Samaria muncul sebagai figur orang yang berdosa. Namun Yesus tidak menunjukkan sikap yang angkuh atau menghakimi. Dia tidak memulainya dengan kecaman terhadap perkawinannya dengan banyak orang dan hubungan yang bebas dengan semua orang. Ini bukan berarti Dia menyetujui atau memaklumi cara hidup wanita ini. Tetapi dengan jelas menandakan bahwa Dia datang bukan untuk menghakimi wanita itu. Hal ini juga bisa kita temui dalam Yohanes 8:1-11. Ketika Yesus menorehkan jariNya di atas tanah untuk memenuhi permintaan orang-orang Farisi yang marah, karena mengharapkan Dia menghakimi wanita yang kedapatan berzinah… (BERSAMBUNG).

 

TUHAN YESUS MEMBERKATI… AMIEN

 

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

TAMAK MEMBAWA PETAKA

Selasa, 25 Agustus 2009

Bacaan : 1Timotius 6:6-10

6:6. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

TAMAK MEMBAWA PETAKA

Ada sebuah cerita tentang seorang kaya raya bernama Brojo. Ia memiliki tanah pertanian sangat luas. Suatu hari seorang perantau bertamu ke rumahnya, dan bercerita tentang negeri penuh berlian di seberang lautan. Timbul sifat tamak Brojo. “Aku harus memiliki negeri itu,” katanya dalam hati. Ia kemudian menjual seluruh tanah pertaniannya, dan pergi ke seberang lautan mencari negeri berlian. Tetapi pencariannya itu ternyata sia-sia. Bertahun-tahun ia merantau dengan tangan hampa. Akhirnya, ia jatuh miskin.

Sementara itu orang yang membeli tanah pertaniannya suatu hari melihat cahaya berkilau dari sebuah batu. Ia mendekati untuk melihatnya lebih jelas. Dan apa yang dilihatnya? Tak dinyana tak diduga, ternyata batu itu sebuah berlian. Ia pun lalu menggali tanahnya, dan menemukan batu-batu berlian lainnya.

Hikmah dari cerita itu adalah, betapa pentingnya kita belajar tahu batas. Jangan tamak. Syukuri apa yang ada. Nikmati apa yang dipunya. Sebab kalau terus merasa kurang, tidak pernah puas dengan apa yang ada, selalu ingin lebih dan lebih lagi, salah-salah kita malah akan kehilangan segala-galanya.

Paulus mengingatkan Timotius untuk belajar mencukupkan diri. Lebih dari itu supaya Timotius juga bisa menjaga diri dari sifat tamak. Sebab “mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (ayat 9). Kiranya kita dijauhkan dari ketamakan -AYA

DENGAN MENJAUHKAN DIRI DARI KETAMAKAN

KITA TELAH MENJAGA DIRI DARI KEHANCURAN

Sumber : www.sabda.org