TUGAS LUHUR

Rabu, 30 September 2009

Bacaan : Kejadian 1

1:1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

 

1:3. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.

1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

 

1:6. Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”

1:7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.

1:8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.

 

1:9. Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.

1:10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:11 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.

1:12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:13 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.

 

1:14. Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,

1:15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.

1:16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.

1:17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,

1:18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.

 

1:20. Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.”

1:21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”

1:23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.

 

1:24. Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian.

1:25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

 

1:26. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

 

1:29. Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.

1:30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.

 

1:31. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

 

TUGAS LUHUR

Setelah kekacauan musim, satu lagi dampak pemanasan global seperti yang diberitakan Kompas 26 Maret 2007 pada halaman depannya: bongkah es Antartika yang sudah terbentuk 1.500 tahun sebesar sepertiga luas kota Jakarta, pecah dan terlepas ke laut lepas. Bahaya ke depan adalah meningkatnya volume air laut. Akibatnya, banyak pulau akan tenggelam. Pemanasan global terkait erat dengan kelalaian manusia mengurus bumi.

Bumi dengan segala isinya diciptakan oleh Allah dalam keadaan yang “sungguh amat baik” (ayat 31). Dan, kepada manusia diberikan tanggung jawab pengelolaannya (ayat 28). Sayangnya, kata “taklukkanlah” dan “berkuasalah” dalam ayat itu lalu disalahartikan. Seolah-olah itu adalah “surat izin untuk melakukan apa saja, sesuka-suka dan semau-mau kita” terhadap bumi. Padahal itu adalah sebuah penugasan luhur kepada kita, manusia, agar memelihara dan menjaga bumi. Kita memang boleh mengeksplorasinya, tetapi jangan mengeksploitasinya.

Untuk turut serta menjaga dan memelihara bumi, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri dan dari hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan. Recycle, sebisa-bisanya hindari penggunaan benda-benda plastik yang sulit terurai secara alami. Reduce, kita perlu mengurangi penggunaan bahan bakar dan benda-benda yang bisa merusak lapisan ozon. Reuse, menggunakan kembali barang-barang yang ada untuk mengurangi sampah yang tidak perlu. Dan yang paling penting, kita bisa memulainya sekarang! Tidakkah kita rindu melihat bumi kita menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman? -AYA

BUMI INI ADALAH WARISAN UNTUK ANAK CUCU

YANG HARUS DIPERTANGGUNGJAWABKAN KEPADA TUHAN

Sumber : www.sabda.org

PENGHANCURAN CITRA ALLAH

Selasa, 29 September 2009

Bacaan : Kejadian 9:1-7

9:1. Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.

9:2 Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan.

9:3 Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.

9:4 Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.

9:5 Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.

9:6 Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.

9:7 Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya.”

 

 

PENGHANCURAN CITRA ALLAH

Pada era Hitler, prajurit Nazi mendatangi sebuah rumah sakit di Jerman yang dikepalai seorang dokter Lutheran. Mereka bermaksud menghabisi pasien-pasien yang tak berdaya, agar prajurit-prajurit yang terluka dapat dirawat. Menurut prajurit Nazi tadi, pasien-pasien itu sudah tidak memiliki harapan untuk disembuhkan, sehingga mestinya digantikan oleh orang-orang yang masih dapat ditolong. Sang dokter menahan mereka di pintu gerbang rumah sakit. Ia bersikeras menolak, “Orang-orang ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.”

Menurut Alkitab, manusia diciptakan secara berbeda dari alam dan ciptaan lainnya. Manusia adalah mahkota ciptaan Allah, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Keserupaan manusia dengan Allah ini mencakup kerohanian, moralitas, martabat, kecerdasan, dan kreativitas. Meskipun manusia telah jatuh ke dalam dosa, citra Allah tetap ada padanya. Itulah sebabnya Allah secara tegas melarang manusia membunuh sesamanya karena pembunuhan berarti penghancuran citra Allah tersebut.

Bukan hanya dengan senjata, kita juga dapat “membunuh” seseorang dengan perkataan dan perlakuan. Pengertian akan citra Allah dapat menolong kita mengelakkan godaan itu. Ketika berinteraksi dengan sesama, kita berinteraksi dengan orang yang diciptakan oleh Allah. Seburuk apa pun orang itu, Allah juga menawarkan kehidupan kekal kepadanya. Allah mau kita mengenali dan menghormati citra-Nya di dalam diri setiap orang. Dengan begitu, kita mengambil bagian dalam pelayanan yang membawa kehidupan, bukan kematian -ARS

SIKAP KITA TERHADAP SESAMA DAN DIRI SENDIRI

MENCERMINKAN SIKAP KITA TERHADAP ALLAH

Sumber : www.sabda.org

KEBERUNTUNGAN

Senin, 28 September 2009

Bacaan : Yeremia 32:36-44

32:36 Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN, Allah Israel, mengenai kota ini, yang engkau katakan telah diserahkan ke dalam tangan raja Babel karena pedang, kelaparan dan penyakit sampar:

32:37 Sesungguhnya, Aku mengumpulkan mereka dari segala negeri, ke mana Aku menceraiberaikan mereka karena murka-Ku, kehangatan amarah-Ku dan gusar-Ku yang besar, dan Aku akan mengembalikan mereka ke tempat ini dan akan membuat mereka diam dengan tenteram.

32:38 Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka.

32:39 Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepada-Ku sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian.

32:40 Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepada-Ku ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari pada-Ku.

32:41 Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka dan Aku akan membuat mereka tumbuh di negeri ini dengan kesetiaan, dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap jiwa-Ku.

32:42 Sebab beginilah firman TUHAN: Seperti Aku mendatangkan kepada bangsa ini segenap malapetaka yang hebat ini, demikianlah Aku mendatangkan ke atas mereka keberuntungan yang Kujanjikan kepada mereka.

32:43 Orang akan membeli ladang lagi di negeri ini yang kamu katakan: Itu adalah tempat tandus tanpa manusia dan hewan; itu telah diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim!

32:44 Orang akan membeli ladang-ladang dengan perak, menulis surat pembelian, memeteraikannya dan memanggil saksi-saksi di daerah Benyamin, di sekitar Yerusalem, di kota-kota Yehuda, di kota-kota Pegunungan, di kota-kota Daerah Bukit dan di kota-kota Tanah Negeb. Sebab Aku akan memulihkan keadaan mereka, demikianlah firman TUHAN.”

 

KEBERUNTUNGAN

Banyak orang rela membayar mahal untuk mendapat nomor cantik bagi telepon atau plat mobilnya. Nomor cantik disukai karena unik dan mudah diingat, tetapi ada pula yang meyakini nomor itu bisa membawa keberuntungan! Seorang pria di Hongkong rela membayar lebih dari lima ratus juta rupiah untuk membeli plat mobil bernomor CCUE (Baca: see see you yee). Dalam bahasa Kanton, kata-kata itu berarti “semua berjalan menurut keinginan seseorang”. Pemiliknya percaya, jika mengendarai mobil berplat nomor itu, keberuntungan menyertainya ke mana pun ia pergi.

Alkitab menyaksikan bahwa keberuntungan datang bukan dari nomor, barang, atau situasi tertentu. Tidak ada hari baik atau hari buruk. Waktu kota Yerusalem hancur karena perang, kelaparan, dan penyakit (ayat 36), Tuhan menegaskan semua itu terjadi bukan karena mereka tertimpa nasib sial, melainkan karena Tuhan murka. Umat tidak lagi hidup taat kepada Tuhan (ayat 37). Tuhan berjanji kelak mereka akan diberi hati yang takut akan Tuhan (ayat 40). Jika umat kembali taat, pasti keberuntungan akan datang (ayat 42). Pemulihan terjadi. Tanah tandus akan menjadi ladang subur yang diperebutkan orang (ayat 43,44). Apa yang tadinya merugikan bisa diubah Tuhan jadi menguntungkan!

Masihkah Anda percaya bahwa benda tertentu-semisal: roti atau air anggur perjamuan, bisa membawa keberuntungan? Masihkah Anda mencari “hari baik” saat hendak menentukan hari pernikahan? Di dalam Kristus, tidak ada hari yang layak disebut hari buruk atau nasib sial. Jika kita taat pada Tuhan, setiap hari adalah hari keberuntungan! -JTI

KEBERUNTUNGAN ADA DI TANGAN TUHAN KITA

TERSEDIA BAGI MEREKA YANG MENGGENGGAM TANGAN-NYA

Sumber : www.sabda.org

MANUSIA SEPERTI RUMPUT

Minggu, 27 September 2009

Bacaan : Yesaya 40:6-8

40:6 Ada suara yang berkata: “Berserulah!” Jawabku: “Apakah yang harus kuserukan?” “Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang.

40:7 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.

40:8 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”

 

 

MANUSIA SEPERTI RUMPUT

Suatu kali dalam sebuah perjalanan, suami saya memperhatikan sebuah spanduk yang terpampang di salon dan bertanya kepada saya, “Ada keriting bulu mata, sambung rambut, tato alis, setrika muka, kenapa makin banyak penampilan yang enggak alami pada zaman ini? Padahal pasti mahal, ya biayanya?” Saat itu saya hanya tersenyum mendengarnya. Namun, berhari-hari setelah pertanyaan itu terlontar, diam-diam saya terus memikirkannya.

Manusia pada zaman ini-baik laki-laki maupun perempuan, banyak yang sibuk memperhatikan penampilan dengan mengikuti berbagai program pembentukan tubuh, kecantikan wajah dan rambut, serta berbagai “penampilan penunjang” lainnya. Untuk sebuah penampilan yang oke, orang rela berkorban waktu, tenaga, dan materi.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan, bahwa hidup kita seperti rumput dan bunga di padang, semaraknya akan segera berlalu. Sementara. Orang Jawa menggambarkan perjalanan hidup di dunia seperti orang yang mampir ngombe (mampir minum). Namun, bukan berarti hidup yang fana ini dapat kita pakai seenaknya untuk memuaskan segala keinginan, justru karena hidup itu sementara, kita mesti memaknainya; menjalin relasi yang semakin akrab dengan Dia yang kekal.

Merawat tubuh dan memperindah penampilan tentu tidak salah. Namun, jika untuk penampilan ragawi yang sefana rumput saja kita memperhatikannya begitu rupa, bukankah hidup rohani kita semestinya diperhatikan lebih dari itu? Marilah kita belajar untuk lebih menikmati keakraban kita dengan-Nya, yang membuat hidup ini jadi berarti -HA

SEKALIPUN FANA, HIDUP ADALAH ANUGERAH TUHAN YANG BERHARGA

WARNAILAH DENGAN KEAKRABAN BERSAMA TUHAN DAN FIRMAN-NYA YANG KEKAL

Sumber : www.sabda.org

PEDIH PERIH TUHAN

Sabtu, 26 September 2009

Bacaan : Hosea 11:1-4

11:1. Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu.

11:2 Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung.

11:3 Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Aku menyembuhkan mereka.

11:4 Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan.

 

PEDIH PERIH TUHAN

Bayangkan anak kita. Sejak kecil kita merawatnya dengan penuh kasih sayang. Kita tidak pernah lelah menjaganya; tidak pernah bosan memberinya segala sesuatu yang baik. Kita rela berkorban apa pun demi kebahagiaannya. Hingga ia tumbuh menjadi dewasa, sehat, dan kuat. Namun, apa balasannya? Ia justru memberontak terhadap kita, melakukan hal-hal buruk yang tidak kita harapkan. Bahkan ia juga pergi meninggalkan kita, mengikuti orangtua lain yang tidak jelas asal usulnya. Alangkah menyakitkan, bukan?

Tuhan pun merasakan hal serupa ketika umat-Nya, Israel, memberontak. “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku, mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung.” (ayat 1,2). Pedih dan perih. Mereka seolah tidak ingat lagi akan karya kasih-Nya di masa lalu; bagaimana Dia membebaskan mereka dari perbudakan di negeri Mesir, dan bagaimana Dia dengan kasih setianya yang begitu besar membimbing, menjaga, dan memelihara mereka selama masa pengembaraannya di padang gurun.

Bisa jadi kita kesal dan geleng-geleng kepala dengan “kedegilan” Israel. Sungguh tidak tahu diri. Namun, tidakkah kita pun kerap tidak jauh berbeda dengan mereka? Betul, kita tidak sampai menyembah patung-patung dan meninggalkan Tuhan, tetapi bahwa kita dengan sadar melakukan hal-hal yang menyakitkan-Nya, kita abaikan perintah-Nya, kita anggap sepi teguran-Nya, kita dahulukan hal-hal lain daripada-Nya, tidakkah itu sama dan serupa? Semoga kita segera insaf -AYA

MASIHKAH KITA TERUS MENYAKITI-NYA?

Sumber : www.sabda.org

KULTUS

Jumat, 25 September 2009

Bacaan : Ulangan 34:1-12

34:1. Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan,

34:2 seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat,

34:3 Tanah Negeb dan lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar.

34:4 Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.”

 

34:5. Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN.

34:6 Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini.

34:7 Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang.

34:8 Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya. Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu.

 

34:9. Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

34:10 Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel,

34:11 dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya,

34:12 dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel.

 

KULTUS

Satu pelajaran yang bisa diambil dari sejarah adalah bahwa tak ada seorang pun yang layak dikultuskan (didewakan). Sebab tak ada orang yang sempurna. Atau, dapat hidup selamanya. Namun, kesalahan ini terus terulang dalam sejarah, terutama ketika orang-orang besar muncul sebagai pemimpin.

Ini tampak nyata dalam sebuah tayangan dokumenter tentang Korea Utara yang pernah saya saksikan. Korea Utara adalah negara komunis yang begitu mengagung-agungkan Kim Il Sung, pendiri negara mereka yang diberi gelar Presiden Abadi dan Pemimpin Agung. Namun pada 1994, ia meninggal dunia. Dalam tayangan tersebut diperlihatkan bagaimana rakyat menjadi begitu kacau ketika ia meninggal. Bahkan ada yang sangat putus asa dan bunuh diri mendengar kabar kematian sang pemimpin agung.

Melihat sepak terjang Musa dan kebergantungan orang Israel kepadanya, Musa pun sangat mungkin dikultuskan oleh bangsa Israel. Mungkin itu sebabnya mengapa Allah “menyembunyikan” makam Musa (ayat 6). Supaya bangsa Israel mampu terus berjalan bersama TUHAN (dan Yosua) memasuki tanah Kanaan serta menyadari bahwa Musa hanyalah alat Tuhan demi perwujudan rencana agung-Nya.

Di sekitar kita, mungkin ada orang yang berkarisma, mengagumkan. Mungkin seorang pemimpin masyarakat, rohaniwan, atau pembina. Walau demikian, tak seorang pun layak dikultuskan. Ingatlah, ia ciptaan Allah. Yang hadir di dunia sebagai “alat” demi terwujudnya rancangan Allah. Di sisi lain masing-masing kita mesti selalu ingat bahwa jika kita menjadi pribadi yang berarti, itu bukan demi keagungan diri sendiri, melainkan demi kemuliaan Allah -ALS

JIKA MANUSIA MENJADI HEBAT

PASTI TUHAN PUNYA RENCANA BESAR DI MANA IA HARUS TERLIBAT

Sumber : www.sabda.org

MELIHAT YANG TAK TERLIHAT

Kamis, 24 September 2009

Bacaan : Ibrani 11:1-13

11:1. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

11:2 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.

11:3 Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

 

11:4. Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.

11:5 Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.

11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

11:7 Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.

11:8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

11:9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.

11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.

11:11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.

11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

11:13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

 

MELIHAT YANG TAK TERLIHAT

Di tembok sebuah kamp konsentrasi tertulis sebuah puisi. “Aku percaya matahari ada, walau sinarnya tak terlihat. Aku percaya kasih ada, walau tak dapat diwujudkan. Aku percaya Tuhan ada, walau Dia tidak berbicara.” Tidak dikenal siapa penulisnya. Yang pasti, ia seorang tahanan yang beriman. Setiap hari ia melihat rekan-rekannya mati dibantai satu per satu. Cepat atau lambat, ia sendiri akan dapat giliran. Namun, di tengah suasana suram dan gelap, ia berusaha melihat yang tak terlihat: Tuhan!

Iman adalah keyakinan bahwa Tuhan ada dan berkarya dalam hidup kita (ayat 6), sekalipun buktinya belum terlihat. Waktu Nuh membuat bahtera di atas gunung, belum ada bukti bahwa air bah akan datang. Nuh taat karena beriman bahwa nubuatan Tuhan pasti terjadi. Waktu Abram meninggalkan kampung halamannya, ia sudah mapan. Buat apa pindah ke tempat baru yang lokasinya pun belum ia ketahui? Ia berangkat karena beriman bahwa janji Tuhan bukan pepesan kosong. Tanah perjanjian itu kelak pasti jadi miliknya! Masih banyak lagi orang yang seumur hidup berjuang menaati perintah Tuhan, walau belum pernah melihat Tuhan (ayat 13). Iman memampukan kita melihat apa yang belum atau tidak terlihat secara kasatmata.

Apakah Anda melihat banyak hal yang mengecewakan terjadi dalam hidup? Apakah situasi di sekitar Anda tampak suram? Adakah janji-janji Tuhan yang belum terlihat buktinya? Cobalah belajar melihat dengan mata iman. Jika kita bisa melihat apa yang tak terlihat, maka cara kita menghadapi setiap persoalan hidup pasti jadi berbeda! -JTI

IMAN ADALAH KEYAKINAN BAHWA TUHAN PASTI BERBAIK HATI

WALAU JALAN-JALAN-NYA BELUM KITA PAHAMI SAAT INI

Sumber : www.sabda.org