PERSEMBAHAN TERLALU BANYAK

Minggu, 20 September 2009

Bacaan : Keluaran 36:2-7

36:2 Lalu Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian, setiap orang yang tergerak hatinya untuk datang melakukan pekerjaan itu.

36:3 Mereka menerima dari pada Musa seluruh persembahan khusus, yang telah dibawa oleh orang Israel untuk melaksanakan pekerjaan mendirikan tempat kudus. Tetapi orang Israel itu masih terus membawa pemberian sukarela kepada Musa tiap-tiap pagi.

36:4 Dan segala orang ahli yang melakukan seluruh pekerjaan untuk tempat kudus itu, datanglah masing-masing dari pekerjaan yang dilakukannya,

36:5 dan berkata kepada Musa: “Rakyat membawa lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan.”

36:6 Lalu Musa memerintahkan, supaya dimaklumkan di mana-mana di perkemahan itu, demikian: “Tidak usah lagi ada orang laki-laki atau perempuan yang membuat sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat kudus.” Demikianlah rakyat itu dicegah membawa persembahan lagi.

36:7 Sebab bahan yang diperlukan mereka telah cukup untuk melakukan segala pekerjaan itu, bahkan berlebih.

 

PERSEMBAHAN TERLALU BANYAK

Pengurus bidang misi di sebuah gereja berencana mengajak jemaat memberi persembahan rutin untuk mendukung kegiatan misi gereja. Untuk itu mereka membuat rancangan anggaran, lalu mempresentasikannya kepada jemaat. Setelah itu mereka mengajak jemaat memberi janji persembahan sukarela. Berapa jumlahnya, bukan masalah, yang penting rela. Namun, seorang jemaat menyeletuk, “Rela ya rela, tetapi kalau yang terkumpul lebih dari yang dibutuhkan, bagaimana? Rugi dong?”

Cerita tentang persembahan yang terlalu banyak juga kita baca dalam perikop Alkitab hari ini. Saat itu bangsa Israel mengumpulkan persembahan untuk membuat Kemah Suci dan segala isinya. Ternyata yang terkumpul lebih dari yang dibutuhkan, sampai-sampai Musa meminta mereka berhenti. Dan tak seperti jemaat di atas, situasi ini justru diceritakan dengan nada sukacita.

Mengapa? Karena bangsa Israel memberikan persembahan dengan hati yang rindu terlibat dalam “mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan” (ayat 5), yakni membangun Kemah Suci. Maka, mereka masing-masing memberikan apa yang mereka bisa berikan tanpa berpikir berapa yang telah terkumpul, atau membanding-bandingkan dengan persembahan orang lain. Jadi, ketika ternyata yang terkumpul terlalu banyak, mereka tidak menyesal atau merasa rugi. Melainkan bersukacita karena itu artinya pekerjaan Tuhan bisa segera dirampungkan.

Apabila ada kesempatan lagi untuk memberi bagi pekerjaan Tuhan, izinkan hati kita bersukacita memberi. Sebab dari setiap pemberian sukarela kita, pasti ada pekerjaan Tuhan yang dapat diselesaikan -ALS

BERIKAN PERSEMBAHAN TANPA BERHITUNG-HITUNG

SEBAB BERKAT TUHAN TIAP HARI PUN SUDAH TAK TERHITUNG

Sumber : www.sabda.org

Iklan