JALAN YANG SEPI

Sabtu, 31 Oktober 2009

Bacaan : Markus 6:30-46

6:30. Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.

6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.

6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.

6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.

6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

6:35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.

6:36 Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.”

JALAN YANG SEPI

Delapan puluh kilometer di sebelah barat Asheville, North Carolina, saya membawa mobil saya keluar dari jalan bebas hambatan yang padat dan melanjutkan perjalanan ke kota melalui jalur Blue Ridge Parkway yang berpemandangan indah. Pada sore hari di akhir bulan Oktober itu, saya mengemudi dengan lambat dan sering berhenti untuk menikmati pemandangan pegunungan serta dedaunan musim gugur yang berkilauan. Perjalanan itu memang tidak membawa saya sampai tujuan dengan cepat, tetapi perjalanan itu menyegarkan jiwa saya.

Pengalaman itu membuat saya bertanya, “Seberapa sering saya melewati jalan yang sepi bersama Yesus? Adakah saya keluar dari jalan bebas hambatan yang penuh tanggung jawab dan kesibukan untuk memusatkan perhatian kepada-Nya selama beberapa saat setiap hari?”

Setelah para murid Yesus menyelesaikan sebuah pelayanan yang penuh tantangan, Dia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak” (Markus 6:31). Bukannya memperoleh liburan panjang, mereka justru hanya melakukan sebuah perjalanan singkat di atas perahu bersama Yesus sebelum kemudian mereka dikerumuni orang banyak. Para murid menyaksikan belas kasihan Tuhan dan berpartisipasi dengan-Nya dalam memenuhi kebutuhan orang banyak tersebut (ayat 33-43). Saat hari yang melelahkan itu berakhir, Yesus mencari penyegaran melalui doa kepada Bapa surgawi (ayat 46).

Yesus Tuhan kita selalu beserta kita, baik di tengah hiruk pikuk atau ketenangan. Namun demikian, kita perlu mengambil waktu setiap hari untuk melewati jalan yang sepi bersama-Nya –DCM

SANGATLAH BAIK UNTUK MELUANGKAN
WAKTU BERSAMA ALLAH

Sumber : www.sabda.org

Iklan

SELAMAT JALAN

Jumat, 30 Oktober 2009

Bacaan : 2Timotius 4:1-8

4:1. Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:

4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.

4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

4:5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.

4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

SELAMAT JALAN

Kata kematian yang diucapkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:6 memiliki arti penting. Alkitab versi King James menggunakan kata keberangkatan (departure) untuk menggantikan kata kematian pada ayat itu. Kata keberangkatan berarti “melonggarkan” atau “melepaskan tambatan”. Paulus menggunakan kata yang sama saat mendesah, “Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama-sama dengan Kristus” (Filipi 1:23).

Keberangkatan adalah istilah kelautan yang berarti “berlayar” — membongkar sauh, melepas tambatan yang mengikat kita pada dunia ini, dan pergi. Kata itu merupakan kata ganti yang bagus untuk “meninggal dunia”.

Bagi orang percaya, kematian bukan akhir, melainkan awal. Itu berarti kita meninggalkan dunia yang lama ini dan menuju tempat yang lebih baik untuk menyempurnakan tujuan hidup kita. Kematian merupakan saat bersukacita dan bergembira serta berkata lantang, “Selamat jalan!”

Namun, semua perjalanan dipenuhi ketidakpastian, terutama saat melewati lautan yang belum pernah dilayari. Kita lebih takut akan jalan yang kita lalui daripada kematian itu sendiri. Siapakah yang tahu bahaya seperti apa yang menghadang kita?

Namun, perjalanan itu sudah dipetakan. Seseorang telah melaluinya, dan Dia kembali untuk membawa kita melaluinya dengan selamat. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, Allah selalu menyertai kita (Mazmur 23:4). Tangan-Nya memegang kemudi, sementara Dia membimbing kita ke rumah surgawi yang telah disiapkan-Nya bagi kita (Yohanes 14:1-3) –DHR

ORANG-ORANG YANG TAKUT AKAN ALLAH
TIDAK PERLU TAKUT AKAN KEMATIAN

Sumber : www.sabda.org

HANYA SEBUAH KELING

Kamis, 29 Oktober 2009

Bacaan : Yakobus 3:13-18

3:13. Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.

3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!

3:15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.

3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.

HANYA SEBUAH KELING

Para ilmuwan telah sepakat bahwa keling yang cacat merupakan penyebab tenggelamnya kapal Titanic yang “tak dapat tenggelam” itu. Menurut para peneliti yang baru-baru ini menyelidiki bagian-bagian kapal yang berhasil dikumpulkan dari puing-puing Titanic, keling kapal yang terbuat dari besi tempa, bukannya baja, menyebabkan badan kapal terbuka seperti resleting. Nasib Titanic membuktikan bahwa menghabiskan uang untuk peralatan mewah dan promosi publik, tetapi mengabaikan bagian-bagian yang “kecil” adalah tindakan bodoh.

Dalam beberapa hal, gereja hampir sama seperti kapal, dan banyak orang di dalam gereja bertindak sebagai keling kapal. Meskipun keling sepertinya tidak penting, merekalah yang menyatukan bagian-bagian kapal dan menjaganya agar tetap mengapung.

Banyak orang merasa tidak penting, bahkan perasaan itu juga menyerang orang-orang kristiani, dan beberapa orang melakukan hal-hal yang menyakitkan untuk membuat mereka merasa penting. Yakobus berkata, “Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (3:16). Orang-orang yang terkorupsi oleh keinginan duniawi akan kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan dapat meruntuhkan gereja-gereja besar, tetapi orang-orang yang murni dan tak bercacat (1:27) menyatukan gereja.

Sebagai anggota gereja, kita harus menjadi “keling-keling” yang tak bercacat. Jika kita murni (Yakobus 3:17), kuat (Efesus 6:10), dan berdiri teguh (1 Korintus 15:58), kita akan dipakai Tuhan untuk menjaga kapal-Nya agar tetap mengapung di tengah krisis –JAL

ADALAH HAL YANG BESAR UNTUK SETIA
DALAM HAL-HAL YANG KECIL

Sumber : www.sabda.org

KEKUATAN ILAHI (Bagian 2)

PESAN GEMBALA

25 OKTOBER 2009

Edisi 97 Tahun 2

KEKUATAN ILAHI (Bagian 2)

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita melanjutkan renungan minggu lalu  tentang kekuatan Ilahi.

Mazmur 68:29 mengatakan: “Kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, Engkau yang telah bertindak bagi kami”.

Tuhan kita yang mengerahkan kekuatan. Ini tidak berasal dari pikiran manusia; kekuatan itu berasal dari Allah yang dalam bahasa Ibrani disebut Elohim. Mazmur 27:1 Daud menyatakan “…Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar”. Dan dalam Mazmur 29:11 “Tuhan kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya…” berulangkali Alkitab menyatakan bahwa ALLAH SAJALAH SUMBER KEKUATAN KITA.

Menarik untuk diperhatikan apa yang tertulis dalam Mazmur 68, pertama Daud menggambarkan “ALLAH KEKUATAN” sebelum dia mengatakan “KEKUATAN ALLAH”. Allah dinyatakan sebagai:

  1. BAPA KITA (ayat 6-7)
  2. PEMIMPIN KITA (ayat 8-11)
  3. KOMANDAN KITA (ayat 12-15)
  4. TEMPAT KEDIAMAN KITA (ayat 16-19)
  5. PENOPANG KITA (ayat 20-21)
  6. PENGAJAR KITA (ayat 22)
  7. PENUNTUT BALAS KITA (ayat 23-24)
  8. RAJA KITA (ayat 25-27)
  9. KEKUATAN KITA (ayat 28-29)

Alkitab menyatakan Allah seperti seorang Bapa yang membawa anak-anakNya dalam rasa aman, keadilan, kesatuan dan kemerdekaan. Kita melihat Dia menuntun dan menyediakan kebutuhan umatNya dalam perjalanan melalui padang gurun. Kita mengamati dengan terheran-heran saat Dia dalam kasihNya menghajar, mengampuni, dan menuntun keluargaNya yang tidak menurut berulang kali.

Kita terkagum-kagum ketika melihat Dia dalam kuasa, kemuliaan dan keagungan. Dan inilah Allah Maha Kuasa. “Tuhan kiranya memberikan kekuatan kepada (mu)…” Sesungguhnya, kekuatan Allah tidak bisa dipisahkan dari Allah. Kuasa Allah tidak bisa dipisahkan dari pribadi-Nya. Sementara berdiri di tempat kudus di dalam tabernakel, Daud berseru: “Akuilah kekuasaan Allah; kemegahan-Nya ada di atas Israel, kekuasaan-Nya di dalam awan-awan. Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat-Nya. Terpujilah Allah!” (Mazmur 68:35-36). Di tempat kudus inilah Allah menunjukkan kekuatan dan kuasa-Nya.

Sementara kita menyembah Allah dalam kelemahan kita. Dalam penyembahan, kita disatukan dengan kehidupan-Nya dalam cara yang luar biasa. Rasul Paulus mengungkapkan kebenaran ini dengan kata-kata: “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Menarik untuk diperhatikan bahwa Paulus tidak menyatakan bahwa kuasa Kristus terpisah dari Pribadi Kristus. Dia malah berkata “di dalam Kristus” Paulus menemukan kekuatan. Kuasa Paulus berasal dari hubungannya dengan Tuhan.

Yesus berusaha menjelaskan kebenaran ini kepada murid-murid-Nya “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Dialah pokok anggur, kita adalah carang-carangNya. Jika kita tidak menyatu dengan Pokok, kita akan dipotong dari kehidupan-Nya. Bila tidak tertancap kita tidak akan menghasilkan buah, tetapi menjadi layu dan mati. Hanya jika kita bersatu dengan kehidupan di dalam Kristus Yesus, maka Allah akan “memberikan kekuatan-Nya”. Di luar Dia, kita tidak memiliki kekuatan untuk dikerahkan. Sebelum bertemu Yesus, kita tidak mempunyai kekuatan rohani dan tanpa kekuatan rohani. Oleh karena itu, jika kita mencari sumber lain dari Tuhan untuk kuasa kehidupan, kita akan kecewa.

Sebagai orang-orang berdosa, kita perlu kuasa Allah untuk menyelamatkan kita dari dosa. Sebagai orang Kristen, kita masih membutuhkan kuasa Allah agar bertumbuh dalam kasih karunia, dan berperang melawan dunia, kedagingan dan setan. Tidak mungkin memulai dalam roh dan melanjutkan di dalam daging. Kita tidak dapat bergantung pada kekuatan, akal atau emosi kita sendiri untuk hidup berkemenangan di dalam Kristus. Jika kita berusaha dengan kekuatan sendiri, kita hanya akan menjadi kelelahan / kehabisan tenaga. Kita tidak dapat mengambil air dari sumur yang kering.

Allah mengetahui lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Dia tidak pernah menyuruh kita menyatakan kuasa yang tidak kita miliki. Daud menulis “sebab Tuhan sendiri tahu siapa kita, Dia ingat bahwa kita ini debu”. (Mazmur 103:14). Ketika Allah menuntut kekuatan kita, Dia tidak meminta kita mengambilnya dari diri kita sendiri. Tetapi, Dia sedang menawarkan kuasa hadirat-Nya. Kata Ibrani untuk menuntut adalah tsavah. Sedikitnya ada empat arti yang terkandung di dalamnya, yaitu:

  1. Mengirim seorang utusan
  2. Menunjuk
  3. Mempercayakan
  4. Mengatur kembali

(BERSAMBUNG)

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

SEDANG TIDAK INGIN

Rabu, 28 Oktober 2009

Bacaan : Matius 21:28-32
21:28. “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.

21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.

21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

SEDANG TIDAK INGIN

Pernahkah Anda menghadapi tugas yang tidak ingin Anda lakukan? Menyiangi rumput, mencuci pakaian, membersihkan rumah, atau bahkan mempersiapkan pelajaran Sekolah Minggu setelah menjalani satu minggu yang melelahkan dapat membuat kita ingin menunda semua pekerjaan itu.

Saat kami juga mengalami hal yang sama, saya dan istri memiliki sebuah semboyan yang kami katakan kepada satu sama lain, “Saya tidak ingin melakukannya, tetapi saya tetap akan melakukannya.” Dengan mengakui bahwa kami kurang bersemangat, tetapi kemudian memilih untuk bertanggung jawab, membuat kami berhasil melakukan hal yang tak kami sukai tersebut.

Penilaian Allah terhadap iman dan ketaatan dapat kita lihat melalui perumpamaan-perumpamaan Yesus. Kristus berbicara tentang dua anak yang diminta oleh sang ayah untuk bekerja di kebun anggur. Anak yang pertama berkata tidak, tetapi “kemudian ia menyesal dan pergi” (Matius 21:29). Anak yang kedua berkata ya, tetapi tidak melakukannya. Lalu Tuhan bertanya, “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” (ayat 31). Jawabannya sudah jelas, yaitu anak yang menyelesaikan tugasnya.

Perumpamaan Tuhan itu menggaris bawahi sebuah prinsip rohani yang sangat penting. Allah menginginkan iman dan ketaatan kita, bukan hanya niat baik kita. Lain kali, saat Anda tergoda untuk melalaikan tugas Anda, berkatalah, “Saya sedang tidak ingin melakukannya,” kemudian mohonlah anugerah untuk tetap melakukannya kepada Allah –DHF

KETAATAN ADALAH IMAN DALAM PERBUATAN

Sumber : www.sabda.org

MENDORONG ORANG LAIN

Selasa, 27 Oktober 2009

Bacaan : Kisah 11:19-26

11:19. Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.

11:20 Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan.

11:21 Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.

11:22 Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia.

11:23 Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,

11:24 karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.

11:25 Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.

11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

MENDORONG ORANG LAIN

Saat masih remaja, Jean sering berjalan-jalan dan melihat ibu-ibu duduk di bangku sambil bercakap-cakap di taman. Anak-anak mereka yang masih kecil duduk di ayunan, berharap agar ada orang yang mau mendorong mereka. “Saya mendorong mereka,” kata Jean. “Dan, tahukah Anda apa yang terjadi saat Anda mendorong seorang anak di atas ayunan? Tak lama kemudian anak itu akan melakukannya sendiri. Itulah peran saya dalam kehidupan; saya mendorong orang lain.”

Dalam hidup, mendorong orang lain adalah tujuan hidup yang mulia. Yusuf, seorang saleh dalam kitab Kisah Para Rasul, memiliki karunia itu. Pada zaman gereja mula-mula, ia menjual tanahnya dan memberikan uangnya kepada gereja supaya digunakan untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung (4:36,37). Ia juga pergi bersama Paulus dalam perjalanan misi dan mengabarkan Injil (11:22-26; 13:1-4).

Anda mungkin telah mengenal Yusuf sebagai “Barnabas”, yaitu nama yang diberikan para rasul kepada “Anak Penghiburan”. Saat gereja yang berada di Yerusalem mendengar bahwa orang-orang di Antiokhia mulai mengenal Yesus sebagai Juru Selamat, mereka mengirim Barnabas karena “Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman” (11:24). Ia “menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati setia kepada Tuhan” (ayat 23).

Kita pun dapat memberikan “dorongan” semangat kepada orang-orang lainnya dalam perjalanan mereka bersama Tuhan –AMC

SEDIKIT PERCIKAN SEMANGAT
DAPAT MEMANTIK USAHA YANG BESAR

Sumber : http://www.sabda.org

BERHARAP KEPADA ALLAH

Senin, 26 Oktober 2009

Bacaan : Mazmur 42
42:1. Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah. (42-2) Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

42:2 (42-3) Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

42:3 (42-4) Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?”

42:4 (42-5) Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.

42:5 (42-6) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

42:6. (42-7) Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.

42:7 (42-8) Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku.

42:8 (42-9) TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.

42:9 (42-10) Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: “Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?”

42:10 (42-11) Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: “Di mana Allahmu?”

42:11 (42-12) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

BERHARAP KEPADA ALLAH

Setelah melihat pantai sebelah barat Sri Lanka, saya tidak bisa membayangkan bahwa bencana tsunami pernah melanda daerah itu hanya beberapa bulan sebelumnya. Laut itu kelihatan tenang dan indah, banyak pasangan kekasih berjalan-jalan di bawah sinar matahari yang cerah, dan orang-orang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Semuanya itu memberi sebuah perasaan yang aneh kepada saya. Dampak dari bencana itu masih tetap ada, tetapi telah menyusup jauh ke dalam lubuk hati dan pikiran orang-orang yang selamat. Trauma itu sendiri tidak akan mudah mereka lupakan.

Malapetaka yang besar mendorong sang pemazmur untuk berseru dalam keluh kesahnya, “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: ‘Di mana Allahmu?’” (Mazmur 42:4). Pergumulan hati sang pemazmur pun telah menyusup ke dalam. Pada saat orang-orang lainnya melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa, ia membawa kebutuhan akan kesembuhan yang dalam dan sempurna di dalam hatinya.

Hanya dengan menyerahkan kehancuran kita kepada Gembala hati kita yang baik dan besar, kita dapat menemukan kedamaian yang memampukan kita untuk menanggapi hidup: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (ayat 6).

Marilah kita berharap hanya kepada Allah. Karena, itu merupakan satu-satunya jawaban bagi trauma hati kita yang mendalam –WEC

ORANG-ORANG YANG BERHARAP KEPADA ALLAH
TIDAK AKAN PERNAH PUTUS ASA

Sumber : www.sabda.org