PELATIHAN HIDUP

Rabu, 4 November 2009

Bacaan : 1Timotius 4:1-11
4:1. Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan

4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.

4:6. Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.

4:11 Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu.

PELATIHAN HIDUP

Ketika atlet Dean Karnazes menyelesaikan Maraton New York sejauh 42 kilometer pada bulan November 2006, hal itu menjadi tanda berakhirnya sebuah pertunjukan daya tahan tubuh yang hampir tidak mungkin terjadi. Karnazes telah mengikuti 50 lari maraton di 50 negara bagian dalam waktu 50 hari. Pertunjukan daya tahan ultra para atlet yang sangat langka ini mencakup: lari sejauh 563 kilometer tanpa henti, bersepeda gunung selama 24 jam tanpa henti, dan berenang menyeberangi Teluk San Francisco. Tingkat kebugaran tubuh semacam ini menuntut disiplin latihan yang harus dilakukan terus menerus.

Kebugaran rohani, demikian kata Paulus kepada Timotius, juga menuntut lebih daripada sekadar melakukan pendekatan yang santai untuk menjalani hidup yang menghormati Allah. Dalam budaya yang ditandai dengan pengajaran palsu dan disertai bentuk-bentuk ekstrem pemuasan dan penyangkalan diri, Paulus menulis, “Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:7,8).

Tubuh dan pikiran kita harus diarahkan kepada Allah serta disiapkan untuk melayani-Nya (Roma 12:1,2). Tujuannya bukan kehebatan rohani, melainkan ibadah, hidup yang menyukakan Tuhan. Mempelajari firman dengan giat, doa yang terfokus, dan disiplin tubuh menjadi bagian proses ini.

Seberapa baik latihan kita sangat menentukan seberapa baik kita menjalani arena kehidupan ini –DCM

LATIHAN YANG SESUAI KEHENDAK ALLAH
ADALAH KUNCI MENUJU KARAKTER YANG SALEH

Sumber : www.sabda.org

Iklan

PROMOSI BURUK

Jumat, 4 Desember 2009

Bacaan : Kolose 3:12-17

3:12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

PROMOSI BURUK

Di sebuah gereja terjadi perselisihan tajam. Masalahnya sederhana. Paduan Suara A dijadwalkan mengisi pujian sesudah khotbah di kebaktian Minggu. Namun, rupanya ada salah komunikasi. Pada Minggu itu ternyata ada Paduan Suara tamu yang akan membawakan dua pujian, sebelum dan sesudah khotbah. Setelah berunding, diputuskan Paduan Suara A digeser mengisi pujian sebelum Doa Syafaat. Beberapa angota Paduan Suara A tidak terima, merasa tersinggung, lalu “meledak”. Sampai ada yang mundur dari pelayanan, bahkan yang pindah gereja.

Perselisihan di gereja tidak jarang dipicu dan dipacu oleh masalah kecil. Namun, karena disikapi dengan kekerasan hati, tidak mau mengalah, prasangka buruk, dan sikap egoistis, akhirnya menjadi masalah besar yang menguras waktu, tenaga, pikiran, dan perasaaan. Padahal, seperti dikatakan oleh Paulus, “Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu” (1 Korintus 6:7). Dengan kata lain, kalau orang-orang di dalam gereja berantem, tidak ada yang akan diuntungkan. Malah yang rugi gereja sendiri; persekutuan jemaat jadi terganggu, sukacita melayani hilang, dan keluar juga jadi promosi buruk.

Maka, penting sekali untuk kita kembali ke identitas kita sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasih-Nya (ayat 12). Dan hidup berpadanan sesuai identitas tersebut, yaitu dengan menunjukkan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Kiranya damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, sehingga kita dijauhkan dari segala pikiran dan perasaan yang tidak membangun –AYA

JANGAN BIARKAN IBLIS MENGACAK-ACAK PERSEKUTUAN JEMAAT

MELALUI PIKIRAN DAN PERILAKU BURUK KITA

Sumber : www.sabda.org