BERBUAT BAIK

Rabu, 11 November 2009

Bacaan : Yakobus 1:1-13

1:1. Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.

1:2. Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,

1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.

1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.

1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

1:13. Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.

BERBUAT BAIK

Dalam buku Flags of Our Fathers, James Bradley menceritakan pertempuran Iwo Jima dalam Perang Dunia II dengan peristiwa pengibaran benderanya yang terkenal di Gunung Suribachi. Ayah Bradley, John, adalah salah seorang pengibar bendera itu. Namun yang lebih penting, ayah Bradley tersebut adalah seorang anggota korps kesehatan angkatan laut, yakni sebagai seorang dokter.

Di tengah-tengah sengitnya pertempuran, menghadapi berondongan tembakan dari kedua sisi, John mengambil risiko yang membahayakan dirinya agar dapat merawat orang-orang yang terluka dan sekarat. Pengorbanan diri ini menunjukkan kemauan dan tekadnya untuk memedulikan orang lain, meskipun itu berarti membahayakan dirinya sendiri.

Dokter Bradley memenangkan Navy Cross atas kepahlawanan dan keberaniannya, tetapi ia tidak pernah membicarakan itu dengan keluarganya. Bahkan pada kenyataannya, mereka baru tahu ia mendapat bintang kehormatan militer, setelah ia meninggal. Bagi sang dokter, yang penting bukan masalah memenangkan medali kehormatan, melainkan bagaimana ia memedulikan teman-temannya.

Dalam Yakobus 2:8 kita membaca, “Jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’, kamu berbuat baik.” Yakobus mengatakan bahwa kita “berbuat baik” ketika sengaja memerhatikan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Kata baik berarti “dengan benar, mulia, sehingga tidak mungkin disalahkan”.

“Berbuat baik” tanpa mementingkan diri sendiri berarti mencerminkan hati Allah, dan memenuhi hukum kasih-Nya –WEC

SESUNGGUHNYA KASIH ADALAH INTI DARI KETAATAN

Sumber : www.sabda.org

Iklan

KEHIDUPAN YANG BAIK

Selasa, 10 November 2009

Bacaan : Lukas 12:13-21

12:13. Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”

12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”

12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.

12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.

12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

KEHIDUPAN YANG BAIK

Ketika menyusuri jalan raya di Houston, saya melewati papan iklan dengan tulisan besar berbunyi: “KEHIDUPAN YANG BAIK!” Saya tak sabar mendekatinya agar bisa membaca tulisan kecil yang menjelaskan bahwa maksud “kehidupan yang baik” adalah membeli rumah di tepi danau yang harganya mulai 300.000 dolar [kira-kira 2,7 miliar rupiah]. Saya lalu bertanya-tanya bagaimana seandainya yang tinggal di rumah-rumah itu adalah keluarga tidak bahagia, yang anak-anaknya tidak pernah bertemu orangtuanya, atau pasangan yang, meskipun tinggal di tepi danau, berharap agar mereka tidak hidup bersama.

Saya lalu teringat pada kisah dalam Lukas 12 tentang seorang lelaki yang meminta Yesus untuk memberi tahu saudaranya agar berbagi warisan dengannya. Sangat keliru jika ia meminta Yesus melakukan hal itu! Dia menjawab dengan peringatan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu” (ayat 15). Dia kemudian bercerita tentang seorang kaya raya yang menurut pandangan Allah adalah orang bodoh, bukan karena ia berhasil menjadi kaya, melainkan karena ia tidak kaya di hadapan Allah.

Kita akan hidup semakin baik jika kita semakin cepat menghilangkan anggapan bahwa semakin banyak kekayaan yang terkumpul berarti semakin damai, bahagia, dan puas. Dan, kita akan semakin mampu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sudah lama dirindukan, yaitu “kehidupan baik” yang sejati, yang hanya bisa diberikan oleh Yesus –JMS

“KEHIDUPAN YANG BAIK” DITEMUKAN
DALAM KEKAYAAN DI HADAPAN ALLAH

Sumber : www.sabda.org

WABAH

Senin, 9 November 2009

Bacaan : Bilangan 21:1-9

21:1. Raja negeri Arad, orang Kanaan yang tinggal di Tanah Negeb, mendengar, bahwa Israel datang dari jalan Atarim, lalu ia berperang melawan Israel, dan diangkutnya beberapa orang tawanan dari pada mereka.

21:2 Maka bernazarlah orang Israel kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau serahkan bangsa ini sama sekali ke dalam tangan kami, kami akan menumpas kota-kota mereka sampai binasa.”

21:3 TUHAN mendengarkan permintaan orang Israel, lalu menyerahkan orang Kanaan itu; kemudian orang-orang itu dan kota-kotanya ditumpas sampai binasa. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Horma.

21:4. Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan.

21:5 Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.”

21:6 Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.

21:7 Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.

21:8 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”

21:9 Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

WABAH

Pada Maret 1918, Albert Gitchell, seorang juru masak tentara di Fort Riley, Kansas, didiagnosa terserang flu. Sebelum tahun itu berakhir, penyakit ini telah menyebar ke seluruh dunia, menewaskan sekitar 40 juta orang. Virus yang sangat menular ini menjadi wabah — kasus penyebaran penyakit secara global.

Seorang dokter melaporkan bahwa para pasien dengan cepat menunjukkan gejala-gejala seperti terserang flu, yang berkembang menjadi sejenis radang paru-paru terparah, kemudian mati lemas hanya dalam hitungan jam. Untungnya, influenza tersebut segera menghilang dengan cara yang sama misteriusnya ketika ia menyerang. Namun, para dokter tetap heran akan penyebabnya dan tak mampu menemukan obatnya.

Bangsa Israel kuno juga menderita wabah yang mengerikan, tetapi mereka tahu penyebabnya dan minta obatnya kepada Musa. Mereka tak tahu berterima kasih dan mengeluh kepada Allah atas manna yang telah disediakan-Nya. Dalam murka-Nya, Allah mengirimkan ular yang gigitannya akan meninggalkan luka mematikan. Lalu, Dia menyuruh Musa untuk membuat ular tembaga dan meletakkannya pada sebuah tiang. Siapa saja yang melihat tiang itu akan disembuhkan (Bilangan 21:1-9).

Berabad-abad kemudian, Yesus mengatakan bahwa ular tembaga itu adalah simbol atas kematian-Nya di kayu salib, “Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:14,15).

Apakah Anda memercayai Yesus untuk menyembuhkan jiwa Anda? –HDF

CARILAH KRISTUS SEKARANG
ATAU ANDA AKAN TERSESAT SELAMANYA

Sumber : www.sabda.org

PERLINDUNGAN DAN KEKUATAN

Sabtu, 7 November 2009

Bacaan : Yesaya 31

31:1. Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.

31:2 Akan tetapi Dia yang bijaksana akan mendatangkan malapetaka, dan tidak menarik firman-Nya; Ia akan bangkit melawan kaum penjahat, dan melawan bala bantuan orang-orang lalim.

31:3 Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Apabila TUHAN mengacungkan tangan-Nya, tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama.

31:4 Sebab beginilah firman TUHAN kepadaku: Seperti seekor singa atau singa muda menggeram untuk mempertahankan mangsanya, dan tidak terkejut mendengar teriakan seluruh pasukan gembala yang dikerahkan melawan dia, dan tidak mengalah terhadap keributan mereka, demikianlah TUHAN semesta alam akan turun berperang untuk mempertahankan gunung Sion dan bukitnya.

31:5 Seperti burung yang berkepak-kepak melindungi sarangnya, demikianlah TUHAN semesta alam akan melindungi Yerusalem, ya, melindungi dan menyelamatkannya, memeliharanya dan menjauhkan celaka.

31:6. Bertobatlah, hai orang Israel, kepada Dia yang sudah kamu tinggalkan jauh-jauh!

31:7 Sungguh pada hari itu kamu masing-masing akan membuang berhala-berhala peraknya dan berhala-berhala emasnya yang dibuat oleh tanganmu sendiri dengan penuh dosa.

31:8 Asyur akan rebah oleh pedang, tetapi bukan pedang orang, dan akan dimakan habis oleh pedang, tetapi bukan pedang manusia; mereka akan melarikan diri terhadap pedang, dan teruna-terunanya akan menjadi orang rodi.

31:9 Pelindung mereka akan lenyap karena gentar, dan panglimanya akan lari terkejut meninggalkan panji-panji, demikianlah firman TUHAN yang mempunyai api di Sion dan dapur perapian di Yerusalem.

PERLINDUNGAN DAN

KEKUATAN

Pada bulan Agustus 2004, Badai Charley mengakibatkan kehancuran hebat di wilayah Florida, Amerika Serikat. Selama badai berlangsung, Danny Williams yang berusia 25 tahun pergi ke luar untuk mencari perlindungan di salah satu tempat kesukaannya, yaitu sebuah lumbung yang berada di bawah naungan cabang-cabang pohon beringin yang rindang. Akan tetapi, ternyata pohon beringin itu tumbang, lalu menimpa lumbung dan menewaskan Williams. Kadang kala, tempat yang kita datangi untuk berlindung justru dapat menjadi tempat yang paling berbahaya bagi kita.

Nabi Yesaya mengingatkan Raja Hizkia dari Yehuda akan kebenaran ini. Hizkia adalah raja yang baik, tetapi ia mengulang dosa ayahnya, Ahaz, yaitu mencari perlindungan dan bersekutu dengan kekuatan asing (2 Raja-Raja 16:7; Yesaya 36:6). Seharusnya, ia mendorong rakyatnya untuk menaruh kepercayaan kepada Tuhan.

Dengan mencari bantuan dari Mesir, Hizkia menunjukkan bahwa ia gagal belajar dari sejarah. Mesir tidak boleh dijadikan sekutu oleh Israel. Hizkia juga telah melupakan Kitab Suci. Mengumpulkan kuda untuk dijadikan kavaleri adalah melawan hukum ilahi bagi raja (Ulangan 17:16).

Akhirnya, Hizkia mencari bantuan dari Tuhan (Yesaya 37:1-6,14-20). Dan, Allah secara ajaib melenyapkan bangsa Asyur yang menyerang (ayat 36-38).

Yehuda melakukan kesalahan dengan menilai kekuatan Mesir melebihi Allah yang hidup. Semoga kepercayaan kita selalu dalam nama Tuhan Allah kita (Mazmur 20:8) –MLW

TIDAK ADA KEHIDUPAN YANG LEBIH AMAN
DARIPADA KEHIDUPAN YANG BERSERAH KEPADA ALLAH

Sumber : www.sabda.org

LEBIH BAIK LAGI

Jumat, 6 November 2009

Bacaan : Filipi 1:19-26

1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

1:21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik;

1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

1:25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,

1:26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

LEBIH BAIK LAGI

Sir Francis Bacon mengatakan, “Saya tidak percaya bahwa ada orang yang takut mati, mereka hanya takut pada serangan kematian.” Woody Allen berkata, “Saya tidak takut mati. Saya hanya tidak ingin berada di sana ketika hal itu terjadi.”

Yang sangat menakutkan bukanlah kematian, melainkan detik-detik menghadapi kematian. Ketika Paulus dalam tahanan dan ada kemungkinan ia akan mati di sel penjara, ia membagikan pandangannya mengenai kehidupan dan kematian, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Benar-benar cara pandang yang luar biasa!

Kematian adalah musuh kita (1 Korintus 15:25-28), tetapi kematian bukanlah suatu akhir yang mesti ditakuti sedemikian banyak orang. Bagi orang percaya, ada sesuatu yang menunggu mereka di luar kehidupan ini, yaitu sesuatu yang lebih baik.

Seseorang pernah berkata, “Bagi kepompong, sesuatu yang sepertinya adalah akhir kehidupan, bagi kupu-kupu, hal itu barulah awal kehidupan.” George MacDonald menulis, “Alangkah anehnya ketakutan akan kematian! Kita tidak pernah takut saat melihat matahari terbenam.”

Saya menyukai ungkapan dari Filipi 1:21, “Bagi saya, hidup berarti kesempatan melayani Kristus, dan mati — ya, berarti lebih baik lagi!” (FAYH). Selama menjalani kehidupan jasmani, kita berkesempatan untuk melayani Yesus. Namun suatu hari, kita akan benar-benar berada dalam hadirat-Nya. Ketakutan kita akan luntur ketika kita melihat-Nya muka dengan muka.

Itulah “sesuatu yang lebih baik lagi” yang dimaksudkan Rasul Paulus! –CHK

BAGI ORANG KRISTIANI, KETAKUTAN AKAN KEMATIAN
JUSTRU MENUNTUN PADA KEHIDUPAN YANG PENUH KRISTUS

Sumber : http://www.sabda.org

BATASAN

Kamis, 5 November 2009

Bacaan : Yeremia 5:20-29

5:20. Beritahukanlah ini di antara kaum keturunan Yakub, kabarkanlah itu di Yehuda dengan mengatakan:

5:21 “Dengarkanlah ini, hai bangsa yang tolol dan yang tidak mempunyai pikiran, yang mempunyai mata, tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar!

5:22 Masakan kamu tidak takut kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN, kamu tidak gemetar terhadap Aku? Bukankah Aku yang membuat pantai pasir sebagai perbatasan bagi laut, sebagai perhinggaan tetap yang tidak dapat dilampauinya? Biarpun ia bergelora, ia tidak sanggup, biarpun gelombang-gelombangnya ribut, mereka tidak dapat melampauinya!

5:23 Tetapi bangsa ini mempunyai hati yang selalu melawan dan memberontak; mereka telah menyimpang dan menghilang.

5:24 Mereka tidak berkata dalam hatinya: Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.

5:25. Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu.

5:26 Sesungguhnya, di antara umat-Ku terdapat orang-orang fasik yang memasang jaringnya; seperti penangkap burung mereka memasang perangkapnya, mereka menangkap manusia.

5:27 Seperti sangkar menjadi penuh dengan burung-burung, demikianlah rumah mereka menjadi penuh dengan tipu; itulah sebabnya mereka menjadi orang besar dan kaya,

5:28 orang gemuk dan gendut. Di samping itu mereka membiarkan berlalu kejahatan-kejahatan, tidak mengindahkan hukum, tidak memenangkan perkara anak yatim, dan tidak membela hak orang miskin.

5:29 Masakan Aku tidak menghukum mereka karena semuanya ini?, demikianlah firman TUHAN. Masakan Aku tidak membalas dendam-Ku kepada bangsa yang seperti ini?”

BATASAN

Tidak ada tahun yang berlalu tanpa bencana alam yang menyebabkan kekacauan di suatu tempat di dunia ini. Banjir, badai, dan tsunami menghancurkan kehidupan, rumah-rumah, dan sumber penghidupan.

Tak seorang pun berpendapat bahwa laut memiliki “hak” untuk melanggar batas yang ditetapkan dan menerjang garis pantai. Sebenarnya, semua orang setuju bahwa bencana akan muncul jika laut melanggar garis pantai. Allah sendiri telah “membuat pantai pasir sebagai perbatasan bagi laut” (Yeremia 5:22).

Allah juga menetapkan batas-batas untuk perilaku manusia. Namun, tak ada hari berlalu tanpa pelanggaran yang tak terhitung banyaknya terhadap perintah-Nya. Dan, itu semua menyebabkan kerusakan fisik dan rohani. Yang mengherankan, kita sering berpendapat bahwa kita memiliki “hak” untuk melanggar batas-batas ini.

Pada zaman Nabi Yeremia, umat Allah juga telah melanggar batas. Mereka menggunakan tipu daya untuk menjadi kaya dan menolak untuk membela orang-orang miskin (5:27,28). Akibatnya adalah bencana. Allah berkata, “Dosamu menghambat yang baik dari padamu” (ayat 25).

Dalam diri setiap ciptaan Allah, terdapat suatu tatanan yang sudah melekat sejak awal. Melanggar tatanan berarti menanggung konsekuensi yang melekat pada pelanggaran itu. Allah dalam kebaikan-Nya, dengan penuh kasih dan dalam cara yang mudah dipahami, mengomunikasikan tantanan tersebut kepada kita supaya kita bisa menghindari akibatnya. Mengetahui dan tinggal dalam batas-batas yang telah ditetapkan-Nya adalah tindakan yang bijaksana –JAL

MENGABAIKAN TATANAN ALLAH
MEMBAWA KEPADA KEKACAUAN!

Sumber : http://www.sabda.org

PELATIHAN HIDUP

Rabu, 4 November 2009

Bacaan : 1Timotius 4:1-11
4:1. Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan

4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.

4:6. Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.

4:11 Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu.

PELATIHAN HIDUP

Ketika atlet Dean Karnazes menyelesaikan Maraton New York sejauh 42 kilometer pada bulan November 2006, hal itu menjadi tanda berakhirnya sebuah pertunjukan daya tahan tubuh yang hampir tidak mungkin terjadi. Karnazes telah mengikuti 50 lari maraton di 50 negara bagian dalam waktu 50 hari. Pertunjukan daya tahan ultra para atlet yang sangat langka ini mencakup: lari sejauh 563 kilometer tanpa henti, bersepeda gunung selama 24 jam tanpa henti, dan berenang menyeberangi Teluk San Francisco. Tingkat kebugaran tubuh semacam ini menuntut disiplin latihan yang harus dilakukan terus menerus.

Kebugaran rohani, demikian kata Paulus kepada Timotius, juga menuntut lebih daripada sekadar melakukan pendekatan yang santai untuk menjalani hidup yang menghormati Allah. Dalam budaya yang ditandai dengan pengajaran palsu dan disertai bentuk-bentuk ekstrem pemuasan dan penyangkalan diri, Paulus menulis, “Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:7,8).

Tubuh dan pikiran kita harus diarahkan kepada Allah serta disiapkan untuk melayani-Nya (Roma 12:1,2). Tujuannya bukan kehebatan rohani, melainkan ibadah, hidup yang menyukakan Tuhan. Mempelajari firman dengan giat, doa yang terfokus, dan disiplin tubuh menjadi bagian proses ini.

Seberapa baik latihan kita sangat menentukan seberapa baik kita menjalani arena kehidupan ini –DCM

LATIHAN YANG SESUAI KEHENDAK ALLAH
ADALAH KUNCI MENUJU KARAKTER YANG SALEH

Sumber : www.sabda.org