MENJAGA KOMITMEN

Kamis, 31 Desember 2009

Bacaan : Yohanes 4:31-38

4:31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah.”

4:32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”

4:33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?”

4:34 Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

4:35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

4:36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.

4:37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.

4:38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

MENJAGA KOMITMEN

Setiap tahun baru, banyak orang membicarakan resolusi: tahun baru, komitmen baru. Namun, apa yang terjadi dengan komitmen kita saat nanti, bulan demi bulan berlalu? Terkadang gemanya hampir tak terdengar lagi; bahkan terlupakan atau tak dipedulikan lagi. Ironis, bukan?

Mari belajar dari Yesus. Meskipun hidup-Nya di dunia diwarnai penolakan dari para pemimpin agama waktu itu, penyangkalan murid-Nya, bahkan berujung pada penderitaan di kayu salib, Dia tetap setia. Komitmen-Nya teguh dalam berbagai keadaan. Bagaimana Dia dapat tetap setia sampai akhir? Kuncinya terungkap dari ucapan-Nya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (ayat 34).

Dia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, dan selama itu Dia tak pernah absen melakukan kehendak Bapa. Dia pernah meminta agar cawan penderitaan berlalu dari-Nya, tetapi Dia menyerahkan kembali keputusan akhirnya ke tangan Bapa. Dia tidak pernah hidup di luar kehendak Bapa, sebab hidup-Nya adalah untuk melakukan kehendak Bapa. Inilah yang membuat hidup-Nya menjadi teladan komitmen yang sempurna. Komitmen yang dijaga dengan setia sampai akhir.

Bagaimana dengan kita? Hidup kita perlu diisi tidak hanya dengan berbagai perbuatan baik menurut ukuran dunia, tetapi juga dengan melakukan kehendak Bapa setiap saat. Tantangan pasti ada, tetapi mari kita teladani kesungguhan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa dalam segala keadaan. Buatlah komitmen untuk setia menjadi saksi-Nya dan lakukanlah dengan setia hingga akhir. Dengan demikian, hidup kita memuliakan-Nya –HA

SEBUAH KOMITMEN MENJADI BERARTI

JIKA KITA MAU BERJUANG UNTUK TERUS MELAKUKANNYA

Sumber : www.sabda.org

PENGUJUNG TAHUN

Rabu, 30 Desember 2009

Bacaan : Yakobus 4:13-16

4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”,

4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.

PENGUJUNG TAHUN

Kita sudah berada di pengujung tahun 2009. Sebetulnya pengujung tahun atau bukan, itu hanya soal penanggalan (kalender). Di dunia ini ada banyak sekali penanggalan; ada kalender Yahudi, kalender Persia, kalender Jawa, kalender Hindu, kalender China, dan sebaginya. Setiap kalender memiliki perhitungan sendiri. Tahun ini seperti yang kita kenal sekarang adalah penanggalan barat (tahun masehi). Kalender ini adalah karya Paus Gregorius XIII tahun 1508 (karena itu sering juga disebut Kalender Gregorius), perhitungannya dimulai dari kelahiran Tuhan Yesus.

Akan tetapi, terlepas kalender apa pun yang digunakan, pemahaman tentang “pengujung tahun” tetaplah sangat penting. Itu mengingatkan kita akan kefanaan hidup ini, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan berakhir. Hidup kita, dengan segala suka dan dukanya, kesuksesan dan kegagalannya, cepat atau lambat akan berlalu. Yakobus mengumpamakan hidup ini seperti uap “yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (ayat 14). Ya, betapa ringkih dan rapuhnya hidup kita di dunia ini.

Maka, baiklah kita bijak dalam menjalani hari-hari kita, agar kita tidak salah melangkah, yaitu dengan senantiasa melibatkan Tuhan dalam setiap rencana (ayat 15). Jangan berpikir, bahwa kita akan mampu menentukan dan melakukan segala-galanya seorang diri, tanpa Tuhan. Itu adalah sebuah kecongkakan (ayat 16). Sebab, betapa pun hebatnya kita, tetaplah kita ini mahluk yang fana. Mari, dalam setiap langkah, kita selalu ingat dan lekat pada Sang Pencipta. Hanya dengan demikian hidup kita akan terjaga. Selamat menyongsong tahun yang baru –AYA

HIDUP INI BUKAN WARISAN YANG BISA KITA PERGUNAKAN SEENAKNYA

TETAPI TITIPAN TUHAN YANG HARUS KITA PERTANGGUNGJAWABKAN

Sumber : www.sabda.org

BERSIH TANGANNYA

Selasa, 29 Desember 2009

Bacaan : Mazmur 24

24:1. Mazmur Daud. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.

24:2 Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.

24:3. “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”

24:4 “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.

24:5 Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.

24:6 Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.” Sela

24:7. Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!

24:8 “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” “TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!”

24:9 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!

24:10 “Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?” “TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!” Sela

BERSIH TANGANNYA

Pada hari Pemilu Presiden Juli 2009 lalu, saya menerima beberapa SMS. Isinya menuduh calon presiden tertentu berniat jahat terhadap umat kristiani, sehingga umat dihimbau tidak memilihnya. Tidak jelas dari mana asalnya berita itu. Yang jelas, SMS itu telah menjadi pesan berantai yang diteruskan ke mana-mana, tanpa diteliti dulu kebenarannya. Teknologi SMS memudahkan orang menyebarluaskan berita dengan cepat ke banyak orang, cukup dengan menekan tombol “send”. Orang tidak sadar bahwa ketika ia meneruskan pesan berisi fitnah, ia pun masuk dalam jaringan pemfitnah!

Menipu dan memfitnah adalah persoalan serius di mata Tuhan. Di Mazmur 24, pemazmur bertanya: “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan?” Gunung Tuhan adalah Bukit Sion, sebuah bukit di Yerusalem tempat Bait Allah berdiri. Lokasi ini dipandang sangat kudus, sebab kehadiran Tuhan nyata disana. Maka, tidak semua orang boleh naik ke situ untuk mendekati Tuhan dan menikmati hadirat-Nya. Hanya “orang yang bersih tangannya dan murni hatinya” (ayat 4). Bersih tangannya berarti tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Tidak menipu dan memfitnah. Sedang murni hatinya berarti tulus. Tidak memakai intrik untuk menjatuhkan sesama. Itulah syarat untuk mendekat dan menerima berkat serta keadilan Allah (ayat 5).

Penipuan dan fitnah bisa terjadi lewat gosip dari mulut ke mulut, lewat SMS, e-mail, maupun internet. Waspadalah! Jagalah agar tangan dan hati kita selalu bersih, dengan tidak menyebarkan pesan yang belum jelas kebenarannya. Keakraban kita dengan Tuhan terkait erat dengan perbuatan dan hati yang bersih –JTI

TANPA KEMURNIAN DALAM KATA DAN PERBUATAN

TIDAK DAPAT KITA MENDEKAT PADA TUHAN

Sumber : www.sabda.org

Edisi Natal 2009

PESAN GEMBALA

25 DESEMBER 2009

EDISI NATAL

Ada dua macam pandangan tentang sejarah. Yang pertama, sejarah sebagai lingkaran. Sejarah dipandang sebagai rentetan peristiwa yang berputar dan berulang kembali tanpa arah dan tujuan. Seperti perputaran matahari atau bulan, sejarah adalah perputaran peristiwa yang tak berujung pangkal. Sejarah adalah ibarat lingkaran yang tidak ada habis-habisnya. Apa yang dulu lenyap akan muncul lagi untuk kemudian lenyap lagi dan kemudian muncul lagi.

Yang kedua, sejarah sebagai garis lurus. Sejarah dipandang sebagai rentetan peristiwa yang berkaitan satu sama lain dan mempunyai satu arah dan suatu tujuan. Jadi, sejarah mempunyai makna. Sejarah adalah ibarat garis lurus yang terus memajang dan bahkan menanjak menuju masa depan.

Pandangan kedua inilah yang dikembangkan umat Israel sepanjang kitab Perjanjian Lama. Umat itu menghayati peristiwa demi peristiwa sebagai titik demi titik yang terus memajang dan membentuk garis lurus.

Penghayatan umat itu mulai timbul karena mereka menyaksikan dan mengalami perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah. Misalnya, pembebasan dari perbudakan di Mesir, penyebrangan di Laut Merah, perjanjian dengan Allah di Sinai dan puluhan peristiwa lainnya sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian. Umat mulai biasa berpikir, berorientasi dan berpengharapan mengarah ke masa depan.

Apa isi pengharapan itu? Datangnya Mesias, datangnya Kerajaan Allah. Pengharapan itu bukan timbul karena umat mencita-citakan sesuatu yang belum ada. Sebaiknya, pengharapan itu timbul karena umat sudah menyaksikan perbuatan Allah di masa lampau, dalam  hal ini, sepanjang perjalanan “exodus” ke tanah perjanjian.

Lalu terjadilah kelahiran Yesus. Kejadian ini adalah satu titik dan momen yang menentukan dalam garis sejarah. Yesus datang sebagai pewujud yang mula-mula dalam Kerajaan Allah yang dinantikan itu. Yesus berkata, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allaah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 4:18, 19). Sebab itu, kelahiran dan kedatangan Yesus membuka babak baru dalam garis sejarah. Sejarah memasuki babak di mana tanda-tanda Kerajaan Allah mulai ditampakkkan oleh Yesus. Tanda-tanda yang ditampakkan Yesus secara sempurna, yaitu keadaan baru di bumi ini dan dimana kedaulatan dan pemerintahan Allah ditaati manusia.

Mungkin Anda berkata, “Mengapa tidak langsung saja Yesus mendirikan Kerajaan Allah yang sempurna itu, dan mengapa masih banyak ketidakberesan di dunia padahal Yesus sudah datang?”

Baiklah pertanyaan Anda dijawab dengan satu contoh. Dalam Perang Dunia II seluruh daratan Eropa dikuasai Hilter. Pada suatu hari, tibalah saat yang menentukan. Pasukan sekutu mendarat untuk membebaskan Eropa. Hari itu disebut “D-Day” atau “Decision Day” atau Hari Penentuan. Tetapi D-day tidak berarti bahwa daratan Eropa langsung menjadi bebas. Sama sekali tidak. Yang terjadi adalah peningkatan dan percepatan pertempuran. D-Day malah menimbulkan pertempuran besar yang mengakibatkan banyak penderitaan. Pertempuran itulah yang kemudian membebaskan daratan Eropa. Akhirnya seluruh daratan Eropa bebas. Itulah yang disebut “V-Day” yaitu “Victory Day” atau Hari Kemenangan.

Natal adalah D-Day. Yesus datang dengan Injil yang membebaskan, yaitu berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan yang tersedia bagi manusia (Markus 1:15), serta kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan yang dikehendaki Allah untuk dunia (Lukas 4:18-21). Sesudah mengutip ayat-ayat itu, Tuhan Yesus menegaskan, “Pada hari ini genaplah nas ini…” (Lukas 4:21).

Lalu apa yang harus kita lakukan? Dalam perumpamaan di Matius 24 Yesus berkata,”Berjaga-jagalah kamu.” Ini bukan berarti menunggu atau meramalkan masa depan. Melainkan turut bekerja dengan Yesus menampakkan tanda-tanda Kerajaan Allah itu. Akan tibalah nanti suatu “V-Day”, dimana Allah sendiri akan menyempurnakan Kerajaan-Nya itu (Baca Wahyu 21).

Sekarang kita hidup dalam babak sejarah antara D-Day dan V-Day. Inilah babak peningkatan dan percepatan tugas. Babak untuk mendengarkan dan memperdengarkan Injil. Sekarang kita hidup di babak sejarah dimana, dalam garis lurus yang memanjang dan menanjak ke masa depan, kita diberi kesempatan menjadi “kawan sekerja Allah” (I Korintus 3:9). Dan Yesus berkata, “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang” (Matius 24:46)

BUKU PANDUAN

Senin, 28 Desember 2009

Bacaan : Mazmur 119:88-105

119:88. Hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, supaya aku berpegang pada peringatan yang Kauberikan.

119:89. Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.

119:90 Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan; Engkau menegakkan bumi, sehingga tetap ada.

119:91 Menurut hukum-hukum-Mu semuanya itu ada sekarang, sebab segala sesuatu melayani Engkau.

119:92. Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.

119:93. Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku.

119:94. Aku kepunyaan-Mu, selamatkanlah aku, sebab aku mencari titah-titah-Mu.

119:95. Orang-orang fasik menantikan aku untuk membinasakan aku; tetapi aku hendak memperhatikan peringatan-peringatan-Mu.

119:96. Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali.

119:97. Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.

119:98. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.

119:99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.

119:100 Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu.

119:101. Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu.

119:102. Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku.

119:103. Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.

119:104 Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.

119:105. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

BUKU PANDUAN

Belum lama saya membeli handphone baru. Saya merasa begitu kesulitan saat pertama kali memakainya karena tidak mengerti cara menggunakannya. Lalu saya membaca buku panduan penggunaannya. Dan terperangah mendapati begitu banyak fasilitas yang tersedia dan dapat dipergunakan. Namun, ada juga banyak larangan dan peringatan, demi keamanan saya dan orang-orang yang berkomunikasi dengan saya. Sayangnya, banyak orang tidak mematuhi peringatan itu, sehingga terjadi kecelakaan yang tak diinginkan. Ada juga yang enggan membaca buku panduan, sehingga tak maksimal memakai fitur yang ada.

Demikian juga Tuhan sudah memberi kita buku panduan hidup, yaitu firman Tuhan agar kita hidup dengan baik, sesuai maksud dan rencana-Nya mencipta kita. Namun, kita kerap kali malas membaca firman Tuhan, dan hidup semau kita seperti orang bebal. Karena itu jangan heran jika hidup kita terasa kacau dan tidak efektif. Bahkan, menjadi malapetaka bagi orang lain. Kita membaca bahwa pemazmur terus merenungkan firman Tuhan dalam hari-harinya. Itulah yang menjadikannya lebih bijak daripada musuh, pengajar, dan bahkan orangtua. Hidupnya pun tidak menyimpang dari hukum-hukum Tuhan. Firman Tuhan pula yang menjadi kekuatannya saat mengalami kesengsaraan. Firman Tuhan begitu penting baginya seperti pelita yang menerangi jalannya yang gelap (ayat 105).

Sebab Tuhan yang menciptakan kita, Dia pula yang paling tahu bagaimana kita harus menjalani hidup ini. Jika kita mau hidup maksimal seperti yang Tuhan inginkan, tak ada jalan lain kecuali setia merenungkan dan melakukan firman-Nya –VT

FIRMAN TUHAN ADALAH PETUNJUK MENJALANI HIDUP

MENGABAIKANNYA BERARTI MENYIA-NYIAKAN HIDUP

Sumber : www.sabda.org

SAATNYA UNTUK MEMBERI

Sabtu, 26 Desember 2009

Bacaan : Matius 1:18-25, 2:9-11

1:18. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.

1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

2:9. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

SAATNYA UNTUK MEMBERI

Tanggal 26 Desember di Inggris dikenal sebagai Boxing Day. Sejarahnya, dulu di Inggris, para pelayan diharuskan tetap bekerja pada hari Natal. Tenaga mereka dibutuhkan karena majikan mereka biasanya mengadakan pesta Natal. Sehari setelah Natal barulah mereka bisa pulang kepada keluarganya. Biasanya pada saat mereka pulang itu, para majikan membekali mereka dengan berbagai hadiah. Saat ini, Boxing Day berkembang menjadi saat memberi hadiah kepada orang-orang yang sepanjang tahun telah mengabdikan dirinya melayani di berbagai bidang. Misalnya, para pekerja rumah tangga, penjaga mercusuar, tukang sampah, dan polisi lalu lintas.

Semangat utama yang melandasi Natal adalah semangat memberi. Berawal dari Allah yang memberi Putra-Nya Yang Tunggal untuk menyelamatkan manusia. Lalu, Maria dan Yusuf yang memberi dirinya untuk dipakai Allah sebagai sarana karya penyelamatan-Nya (Matius 1:18-25). Juga para majus yang datang jauh-jauh dari Timur untuk memberi benda-benda berharga sebagai persembahan buat Sang Bayi Kudus (Matius 2:9-11).

Maka, sebaiknyalah semangat memberi ini pula yang kita hidupi pada masa Natal ini; memberi kepada para sahabat dan handai taulan; memberi kepada orang-orang yang sehari-hari kita temui di kantor, di jalan, di gereja. Pemberian kita bisa berupa materi, bisa juga berupa tangan yang siap membantu, telinga yang siap mendengar, hati yang terbuka untuk menjadi saluran kasih sayang dan tercermin dalam senyum ramah, ungkapan terima kasih yang tulus, dan sapaan hangat. Mari kita jadikan Natal sebagai saat untuk memberi –AYA

PADA MASA NATAL INI BERAPA BANYAK ORANG

YANG TELAH MERASAKAN SUKACITA KARENA PEMBERIAN KITA?

Sumber : www.sabda.org

BINTANG DI JENDELA

Jumat, 25 Desember 2009

Bacaan : 1Yohanes 4:10-15

4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.

4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.

4:14. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.

4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.

BINTANG DI JENDELA

Pada masa Perang Dunia I, keluarga-keluarga yang mengirim putranya untuk berperang akan memasang sebuah tanda bintang di salah satu jendela rumah mereka. Seorang kakek sedang berjalan-jalan dengan cucunya ketika sang cucu menanyakan apa arti tanda bintang di jendela itu. Setelah dijelaskan, si anak selalu tersenyum dan bertepuk tangan setiap kali menjumpai sebuah rumah dengan tanda bintang di jendela. Beberapa saat kemudian, si cucu tiba-tiba menunjuk ke langit dan menuding sebuah bintang besar. “Kek, lihat! Allah juga mengirimkan Putra-Nya, ya?”

Pemberian Allah yang terbesar telah direncanakan dengan sempurna. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Allah sudah membuat sebuah rancangan luar biasa agar manusia dilepaskan dari hukuman atas dosanya itu (Kejadian 3:15). Dan, tak ada pemberian lain yang cukup untuk menebus manusia-manusia itu, kecuali Sang Putra sendiri. Inilah inisiatif Allah. “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (ayat 10).

Natal mengusung sebuah pengingat bahwa Allah sungguh-sungguh mewujudkan rancangan besar-Nya, dengan menghadirkan Bayi Yesus ke dunia. Tak ada omong besar. Yang ada hanya insiatif kasih kepada kita, manusia. Dia memberikan milik-Nya yang terbesar. Maka, jika begitu besar kasih Allah kepada kita, apakah respons kita? “Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita saling mengasihi” (ayat 11). Adakah kita sungguh-sungguh berdamai dengan semua orang? Hanya kita dan Tuhan yang tahu –AW

KELAHIRAN KRISTUS BERAWAL DARI IDE PENDAMAIAN

MAKA MASIH LAYAKKAH KITA TAK BERDAMAI DENGAN SAUDARA?

Sumber : www.sabda.org