Yesus mengosongkan diri-Nya

PESAN GEMBALA

6 DESEMBER 2009

EDISI 103 TAHUN 2

Shallom… Salam Miracle…

Yesus mengosongkan diri-Nya

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati Tuhan, bulan ini umat Kristen memperingati, merayakan kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Karena kasih Allah yang besar sehingga saya dan Saudara dapat diselamatkan. Mari kita melihat proses Yesus mengosongkan diri-Nya. Dalam kitab King James dalam Filipi 2:7 memberitahukan kita bahwa “Ia membuat diri-Nya tanpa reputasi”. Arti harafiah dalam teks asli menunjukkan bahwa Ia mengosongkan diriNya atau menghampakan diriNya. Yesus, Allah Putra, yang sudah ada sebelumnya bersama Bapa, mengesampingkan hak-hak dan hak istimewa yang ada pada-Nya sebagai pribadi kedua Trinitas.

Ia mengosongkan diri-Nya. Yesus menjalani kehidupan-Nya sebagai manusia yang dipenuhi kuasa Roh Kudus. Lebih khusus lagi, Yesus tidak mengalahkan pencobaan dengan keillahian-Nya sebagai Allah Putra, sebaliknya kemanusiaan-Nya yang dipenuhi Roh Kuduslah yang mengalahkan pencobaan di padang gurun. Karena telah menghadapi dan mengalahkan pencobaan, Ia benar-benar dapat bersimpati terhadap kelemahan kita. Karena itu kita memiliki pengharapan. Bahkan seperti Tuhan kita, kitapun dapat mengalahkan pencobaan ketika Roh Kudus memberi kuasa pada kemanusiaan kita.

Alkitab mengatakan bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus dan meskipun demikian, kita juga telah dibangkitkan bersama Kristus dan meskipun demikian, kita juga telah dibangkitkan bersama Kristus. Seperti Yesus hidup sebagai Allah manusia, demikian pula kita. Yohanes 3:16 mengatakan “ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Bila kita menerjemahkan kalimat terakhir kita dapat menemukan arti ”Ia akan memiliki kehidupan Satu Pribadi yang kekal”. Kita semua akan mengalami kehidupan yang kekal selamanya. Tidak peduli apakah kita menerima atau menolak Yesus Kristus, kita akan hidup selamanya. Namun permasalahannya hidup kekal dimana? Surga atau neraka.

Sebagai orang Kristen, kita memiliki kehidupan Satu Pribadi yang kekal yang hidup di dalam diri kita. Paulus mengatakan dalam II Korintus 8:9 “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu telah menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinannya”. Ia mengesampingkan hak-hak dan hak istimewa yang dimiliki-Nya. Ia meninggalkan kekayaan surga dan menjadi miskin. Yesus tidak hanya meninggalkan Surga, namun juga mengosongkan diri-Nya. Yesus, Allah Putra, ada bersama Bapa.

Meskipun demikian, salah satu kebenaran Alkitab yang indah adalah bahwa meskipun Ia telah ada bersama Bapa dalam kesetaraan, Yesus tidak menganggap kesetaraan bersama Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, sebaliknya, Ia mengosongkan diri-Nya sendiri. Meskipun Yesus adalah Allah Putra, Ia tidak pernah memaksakan kedudukanNya sebagai Anak. Ia tidak pernah merebut otoritas atau kekuasaan Bapa. Sungguh ini bertentangan sekali dengan setan.

Dalam Yesaya 14:12-14 “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar!”  Dalam Alkitab King James ditulis : Oh Lucifer, Bintang Timur… Engkau sudah dipecahkan dan jatuh je bumi; hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau tadinya berkata dalam hatimu; aku hendak ke langit, aku hendak mendirikan tahtaku, mengatasi bintang-bintang Allah dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naikmengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai yang Mahatinggi.’ Lucifer adalah malaikat ciptaan Allah yang paling indah. Yehezkiel memberitahu kita bahwa ia adlah kerubim yang diurapi, yang menutupi dan berdiri di hadapan Tahta Anugerah. Namun pada saat itu ia menuntut dan lima kali ia memaksa agar ia menjadi sama dengan Allah dan naik mengatasi langit. Ia berkata “Allah, Tahtamu akan menjadi milikku. Kekuasaan-Mu akan menjadi milikku pula. Aku akan memiliki segala sesuatu yang Engkau miliki.” Ini adalah sifat dari musuh kita, dahulu dan sekarang.

Masalah yang ada dalam konsep setan mengenai seperti Allah adalah ia percaya bahwa yang menjadi seperti Allah berarti seperti Dia dalam hal kuasa. Setan didorong, ia digerakkan oleh kehausannya yang buta akan kuasa dan inilah yang menyebabkan ia jatuh. Ia ditinggikan karena keindahannya yang ada padanya. Ia menginginkan keunggulan. Namun setan tidak memahami apa yang telah didemonstrasikan dengan begitu indah oleh Yesus; yaitu bahwa menjadi seperti Allah artinya seperti Allah dalam hal sifat. Bila kita ingin melihat dan mengalami kuasa Allah dimanifestasikan dalam dan melalui kehidupan kita, maka kita harus mengizinkan Roh Kudus untuk menciptakan sifat Allah dalam diri kita. Sifat Allah adalah sumber kuasa kita.

Apakah yang Yesus kosongkan?
Yesus mengosongkan diri-Nya dari kesetaraan-Nya dengan Bapa. Namun Ia tidak berusaha merebut kekuasaan Bapa. Ia telah bersama Bapa dan meskipun demikian Ia meninggalkan kesetaraan-Nya dengan Bapa. Perhatikan apa yang Yesus katakan dalam Yohanes 14 mengenai dir-Nya dalam hubungan dengan Bapa:” Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapaku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.” Yesus menunjuk pada dukacita yang dirasakan oleh murid-murid-Nya karena Ia akan meninggalkan mereka. Sementara Ia berbicara kepada murid-murid-Nya, Ia berkata: “Kamu harus bersukacita.” Mengapa? Dalam ayat 28 “Sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.”

Sebagai orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus kita seringkali mengklaim I Yohanes 4:4 “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.” Namun kita lupa bahwa sebelum kita dapat mengalahkan setan, kita harus tunduk, taat kepada Allah. Sebaiknya kita semakin menyadari bahwa kita tidak berarti tanpa Yesus. Yesus sendiri tidak pernah berani berkata “Aku setara dengan Allah”. Meskipun Ia setara dengan Allah. Namun Yesus mengesampingkan kesetaraan-Nya itu untuk kepentingan kita. Ia merendahkan diri-Nya ketika Ia mengesampingkan kesetaraan-Nya dengan Allah dengan datang ke dunia.

SELAMAT NATAL….KASIH ALLAH MEMENUHI KITA SEMUA…

Tuhan Yesus memberkati… Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

JIKA KITA MENJADI MARAH

Kamis, 10 Desember 2009

Bacaan : Efesus 4:17-32

4:17. Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia

4:18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

4:19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

4:21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,

4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allaha

sadi dalam Kristus telah mengampuni kamu.

JIKA KITA MENJADI MARAH

Dengan wajah ketakutan dan suara pelan terbata-bata, anak saya berkata, “Mama kalau marah, mengerikan. Aku takut!” Saya tertegun mendengarnya. Kemarahan ternyata membuat saya tampak mengerikan!

Marah yang tidak terkendali, bisa merugikan. Apabila seseorang begitu dikuasai kemarahan, ia bisa dibuat buta; seperti kehilangan akal sehat, bersikap ngawur, tak peduli dan tak kenal siapa yang menjadi sasaran kemarahannya. Marah semacam itu bisa menghancurkan semangat, hubungan, juga kedamaian. Maka, firman Tuhan hari ini mengingatkan agar jika kita sedang marah, kita jangan bersikap seperti manusia lama yang belum mengenal Kristus. Manusia lama yang ketika marah cenderung bersikap bodoh, berhati degil, dan berperasaan tumpul (ayat 17-19).

Kemarahan yang tidak terkendali bisa membuat kita mudah berbuat dosa karena itu bisa menyakiti dan melukai diri kita sendiri dan orang lain. Namun, pengenalan akan Kristus dan pembaruan roh serta pikiran akan memampukan kita menahan diri untuk tidak berbuat dosa (ayat 21-23). Menyimpan kemarahan menumbuhkan akar pahit di hati dan pikiran. Lama-lama ia bisa merusak jiwa dan raga. Kita diingatkan supaya membuang kemarahan sebelum matahari terbenam (ayat 26). Kemarahan bisa sangat mungkin menjadi tempat iblis memorak-porandakan kehidupan. Maka, Tuhan meminta kita untuk tidak memberi kesempatan kepada iblis (ayat 27).

Di dalam Kristus, kita mengenakan manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan (ayat 24). Jadi, mari terus berubah oleh pembaruan budi di dalam Dia –CDW

SEMOGA RUMAH ANDA SEPERTI NAZARET

DI MANA YESUS MENETAP DAN MEMBAWA DAMAI DI RUMAH ANDA –IBU TERESA

Sumber : www.sabda.org