Siap memasuki kehidupan baru

PESAN GEMBALA

20 DESEMBER 2009

EDISI 105 TAHUN 2

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, hari-hari ini telah terasa suasana perayaan natal, baik di gereja-gereja yang merayakan, di toko-toko dengan pernak-pernik natal yang dipajang, dan juga di rumah tangga-rumah tangga Kristen. Itu semua baik namun akan lebih baik lagi kalau mengerti akan kehadiran dan kasih Kristus dalam kehidupan kita. Sehingga kita semua bisa memahami arti kehidupan. Ketika Tuhan melewati kehidupan-Nya sebagai manusia, Dia memahami kehidupan dalam hidupnya. Sejak kembalinya Yusuf dan Maria ke Nazareth, Tuhan melewati kehidupan-Nya sejak kecil hingga usia 30 tahun di Nazareth. Dia bertumbuh dalam perawakan, hikmat dan roh, serta menjadi seorang pemuda dewasa. Dalam Lukas 2:52, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besarnya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”

Selama 30 tahun, Tuhan Yesus menjalani kehidupan-Nya dengan sempurna secara normal dan ketaatan, Dia tidak pernah berbuat dosa, sehingga Bapa sungguh berkenan kepada-Nya. Matius 3:16-17, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Laluu terdengarlah suara dari Sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Ketika Tuhan Yesus mencapai usia 30, saat itu Bapa menyatakan panggilan-Nya yang menjadi tujuan kedatangan dan kelahiran-Nya ke dunia (memberitakan Kerajaan Sorga). Saat itulah sesuatu yang baru tiba dalam kehidupan-Nya. Tuhan Yesus menyadari hal itu, bahwa saat itu musim kehidupan sedang bergulir ke musim yang baru, dari tukang kayu lalu dipanggil menjadi guru dan pemberita injil.

Apa yang Dia lakukan? Dia melangkah ke Sungai Yordan untuk memberikan diri dibaptis sehingga Dia dipenuhi Roh Kudus, Lukas 4:1, “Yesus yang penuh dengan Roh Kudus (being filled with Holy Spirit) kembali ke Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke Padang Gurun.” Selanjutnya, Dia dibawa ke padang gurun untuk berpuasa selama 40 hari sehingga Dia berjalan dalam kuasa Roh Kudus. Tuhan telah mengajarkan kita, ketika musim kehidupan berganti, maka tidak ada cara lain kecuali menyiapkan diri dan memakai perlengkapan baru untuk melewati musim baru. Kristus memberikan diri-Nya dibaptis, dipenuhi Roh Kudus, dan berpuasa selama 40 hari, sehingga Dia berjalan dalam kuasa Roh Kudus. Saat itulah Dia siap melangkah ke musim kehidupan yang baru, dari seorang tukang kayu menjadi pemberita injil.

Dalam perjanjian lama dikisahkan tentang Yusuf anak Yakub, sampai dengan usia 17 tahun, Yusuf hidup dengan tenang dan nyaman di rumah ayahnya. Namun, sesuatu terjadi tanpa disangka-sangka. Saudara-saudaranya menjebaknya dan menjualnya sebagai budak dan ia pun dibawa ke Mesir. Yusuf kehilangan semua yang ia miliki dalam hidupnya. Ia kehilangan ayahnya, rumahnya, saudara-saudaranya dan juga kehidupannya yang nyaman, bahkan identitas sosialnya. Dari seorang anak dari keluarga yang cukup berada, tiba-tiba ia manjadi seorang budak yang terdampar di negeri asing dengan keadaan tanpa modal, kedudukan, kenalan bahkan status dan hak.

Lalu apa rahasia keberhasilan Yusuf? Ketika ia tiba di Mesir, ia tidak memiliki apapun, namun ada satu hal yang ia miliki dalam hidupnya, yaitu, penyertaan Tuhan yang menjadi sumber kasih karunia dalam hidupnya. Kejadian 39:2, “tetapi Tuhan menyertai Yususf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya, maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” Yusuf sangat menyadari penyertaan Tuhan, selanjutnya kita semua telah mengetahui proses perubahan dari seorang budak, lalu diangkat Tuhan menjadi seorang yang paling berkuasa di Mesir. Rahasia suksesnya adalah ketika masuk dan melewati masa krisisnya menyadari penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus dapat membawa seseorang menemukan kekuatan/ kejayaannya kembali. Dan berjalan makin lama makin kuat, bahkan memipin seseorang dari kemuliaan yang satu menuju kemuliaan berikutnya. Orang yang hidup dipimpin oleh Roh Kudus akan melangkah seiring pergerakan Roh dalam hidupnya. Seperti halnya angin yang bergerak menurut waktunya, dan tidak dapat diduga sebelumnya, demikianlah Roh Kudus membawa kita berjalan selangkah demi selangkah, sebagaimana burung rajawali terbang, ia akan senantiasa memperhatikan arah angin sebelum terbang. Sebab ia akan terbang bersama dan memanfaatkan pergerakan angin sehingga mampu terbang mencapai ketinggian yang melebihi burung lainnya.

Demikian pula cara bangsa Israel melakukan perjalanan di padang gurun. Selama awan kemuliaan Tuhan tidak bergerak, merekapun akan berkemah di tempat itu, sebaliknya ketika awan Tuhan naik dari kemah suci, itulah saatnya (KAIROS) bangsa Israel meninggalkan tempat itu, mengikuti pergerakan awan Tuhan. Sebab mereka bergantung dan ditopang oleh keberadaan awan kemuliaan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

RUMAH YANG BERSIH

Selasa, 22 Desember 2009

Bacaan : 2Raja-raja 4:1-7

4:1. Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”

4:2 Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”

4:3 Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.

4:4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!”

4:5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang.

4:6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir.

4:7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.”

4:8. Pada suatu hari Elisa pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk makan.

4:9 Berkatalah perempuan itu kepada suaminya: “Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus.

4:10 Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana.”

4:11 Pada suatu hari datanglah ia ke sana, lalu masuklah ia ke kamar atas itu dan tidur di situ.

4:12 Kemudian berkatalah ia kepada Gehazi, bujangnya: “Panggillah perempuan Sunem itu.” Lalu dipanggilnyalah perempuan itu dan dia berdiri di depan Gehazi.

4:13 Elisa telah berkata kepada Gehazi: “Cobalah katakan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah sangat bersusah-susah seperti ini untuk kami. Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Adakah yang dapat kubicarakan tentang engkau kepada raja atau kepala tentara?” Jawab perempuan itu: “Aku ini tinggal di tengah-tengah kaumku!”

4:14 Kemudian berkatalah Elisa: “Apakah yang dapat kuperbuat baginya?” Jawab Gehazi: “Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua.”

4:15 Lalu berkatalah Elisa: “Panggillah dia!” Dan sesudah dipanggilnya, berdirilah perempuan itu di pintu.

4:16 Berkatalah Elisa: “Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki.” Tetapi jawab perempuan itu: “Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!”

4:17 Mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu juga, pada tahun berikutnya, seperti yang dikatakan Elisa kepadanya.

RUMAH YANG BERSIH

Suatu kali saya menemukan kutipan indah berikut, “Andai rumah saya sangat bersih dan segala sesuatu tertata rapi, tetapi tak ada kasih di situ, maka saya adalah seorang pembantu, bukan ibu. Andai saya punya waktu untuk mengelap, mengepel, mendekorasi rumah dan seisinya, tetapi tak punya waktu untuk menunjukkan kasih, maka anak-anak hanya belajar tentang kebersihan, bukan kesalehan. Dulu saya pikir keberhasilan seorang ibu dilihat dari bagaimana ia menata rumah. Namun, kini saya tahu bahwa ukurannya adalah pada bagaimana anak-anak belajar tentang kasih.”

Semasa Elisa melayani, seorang janda meminta pertolongan kepadanya. Ia janda dari seorang nabi Allah, yang telah dibunuh kejam oleh Izebel. Ketika itu sangat sulit bagi seorang janda untuk mencari nafkah. Dan kini ia terdesak; terjerat utang yang besar (ayat 1). Namun, ia tak berbalik setia. Apalagi ia memiliki anak-anak. Ia ingin anak-anaknya melihat dan mengalami bahwa Allah mereka patut diandalkan. Maka, ia mencari Elisa sang hamba Allah. Ia dan anak-anaknya pun mendapatkan mukjizat. Dan itu menyelamatkan serta mengajarkan kebenaran penting pada anak-anaknya (ayat 5-7).

Bertumbuhnya seorang pribadi selalu ditopang oleh kehadiran dan dukungan seorang ibu, atau seorang lain yang berperan sebagai ibu baginya. Bagaimana berkata-kata, mengampuni sesama, berbagi serta menunjukkan kasih, juga memercayai Tuhan, kebanyakan dipelajari orang dari ibu. Maka, kiranya perhatian ibu bukan mengatur urusan rumah jasmani saja. Yang jauh lebih penting adalah menata fondasi hidup seorang anak, yang kelak bisa mengubah dunia dengan cara yang menyenangkan Allah –AW

RUMAH BERSIH TAK MENJAMIN HATI SEKETIKA BERSIH

NAMUN IBU PENUH KASIH TERUS MEMBENTUK HIDUP PENUH KASIH

Sumber : www.sabda.org