BINTANG DI JENDELA

Jumat, 25 Desember 2009

Bacaan : 1Yohanes 4:10-15

4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.

4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.

4:14. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.

4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.

BINTANG DI JENDELA

Pada masa Perang Dunia I, keluarga-keluarga yang mengirim putranya untuk berperang akan memasang sebuah tanda bintang di salah satu jendela rumah mereka. Seorang kakek sedang berjalan-jalan dengan cucunya ketika sang cucu menanyakan apa arti tanda bintang di jendela itu. Setelah dijelaskan, si anak selalu tersenyum dan bertepuk tangan setiap kali menjumpai sebuah rumah dengan tanda bintang di jendela. Beberapa saat kemudian, si cucu tiba-tiba menunjuk ke langit dan menuding sebuah bintang besar. “Kek, lihat! Allah juga mengirimkan Putra-Nya, ya?”

Pemberian Allah yang terbesar telah direncanakan dengan sempurna. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Allah sudah membuat sebuah rancangan luar biasa agar manusia dilepaskan dari hukuman atas dosanya itu (Kejadian 3:15). Dan, tak ada pemberian lain yang cukup untuk menebus manusia-manusia itu, kecuali Sang Putra sendiri. Inilah inisiatif Allah. “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (ayat 10).

Natal mengusung sebuah pengingat bahwa Allah sungguh-sungguh mewujudkan rancangan besar-Nya, dengan menghadirkan Bayi Yesus ke dunia. Tak ada omong besar. Yang ada hanya insiatif kasih kepada kita, manusia. Dia memberikan milik-Nya yang terbesar. Maka, jika begitu besar kasih Allah kepada kita, apakah respons kita? “Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita saling mengasihi” (ayat 11). Adakah kita sungguh-sungguh berdamai dengan semua orang? Hanya kita dan Tuhan yang tahu –AW

KELAHIRAN KRISTUS BERAWAL DARI IDE PENDAMAIAN

MAKA MASIH LAYAKKAH KITA TAK BERDAMAI DENGAN SAUDARA?

Sumber : www.sabda.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: