RAJA DI TENGAH KITA

Kamis, 24 Desember 2009

Bacaan : Ibrani 2:5-18

2:5. Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini.

2:6 Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

2:7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat,

2:8 segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya.” Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya.

2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

2:10. Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah–yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan–,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

2:12 kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

2:13 dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.”

2:14. Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

RAJA DI TENGAH KITA

Spanyol adalah sebuah kerajaan monarki yang secara teritorial terus terjaga berabad-abad. Terdiri dari 50 provinsi, dan didiami oleh sekitar 43 juta rakyat. Sejak 1975, Raja Juan Carlos didampingi Ratu Sofia, telah menjadi pemimpin yang dekat di hati rakyat. Betapa tidak? Ia selalu berusaha menaruh perhatian pada seluruh warga Spanyol. Ia memberi penghargaan buat seorang pelukis Spanyol yang telah menetap di Bali dan menjadi WNI. Ia menghadiri misa pemakaman 41 orang yang tewas karena kecelakaan di Valencia. Ia bahkan menonton Grand Prix F1 di Catalunya, dan di situ sang pembalap Spanyol, Fernando Alonso, menjadi juaranya. Sang raja lebih memilih bertakhta di hati rakyat, ketimbang di singgasananya.

Ketika Raja Spanyol meletakkan segala keengganan dan arogansinya untuk menghampiri rakyat, rakyat pun mengenal rajanya. Demikian pula ketika Sang Raja di atas segala raja menghampiri manusia ciptaan-Nya. Terlalu besar kedahsyatan-Nya untuk dikenal oleh umat-Nya yang berpengertian kecil. Maka, Dia memilih untuk “menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (ayat 14). Dia rela “untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat” (ayat 7,9) agar manusia mengenal-Nya. Dan supaya dari pengenalan itu, manusia berketetapan mengikuti-Nya dan selamat, seperti yang dikehendaki-Nya (ayat 15-17).

Raja kita sudah meninggalkan takhta. Dia ada di antara kita. Dia mau tinggal bersama, agar hidup kita menjadi berarti. Mari terus sadari keberadaan-Nya di antara kita senantiasa. Jika Dia di tengah kita, bagaimanakah kita hendak memperlakukan hidup ini? –AW

MELAMPAUI SEGALA BATASAN TEMPAT DAN SAAT

DIA SELALU ADA DEKAT

Sumber : www.sabda.org

Iklan

JADI LENGKAP

Rabu, 23 Desember 2009

Bacaan : Lukas 24:13-35

24:13. Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,

24:14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.

24:15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.

24:16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.

24:17 Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram.

24:18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?”

24:19 Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.

24:20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.

24:21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.

24:22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,

24:23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.

24:24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”

24:25 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!

JADI LENGKAP

Kado ulang tahun itu datang terlambat dua bulan, tetapi maknanya tidak berkurang. Seorang kawan yang bekerja di AS mengirimi saya CD Messiah, oratorium dalam tiga bagian karya George Frideric Handel. Sebuah rekaman lengkap karya musik sepanjang hampir dua setengah jam yang menuturkan nubuatan tentang kedatangan Kristus serta kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kemuliaan-Nya. Sebelumnya saya hanya mendengar cuplikan-cuplikannya, terutama chorus Hallelujah yang termashyur itu. Kini saya dapat mengapresiasi keseluruhan karya itu secara utuh. Sungguh indah!

Para murid sudah bersama-sama dengan Yesus selama tiga tahun. Namun, mereka belum mengenal Guru mereka secara utuh, bahkan tidak memahami misi-Nya datang ke dunia ini. Begitu juga dengan dua orang murid yang berjalan ke Emaus setelah penyaliban Yesus ini. Yesus yang telah bangkit secara khusus mendatangi mereka, menjelaskan Mesias seperti yang terurai dalam Perjanjian Lama (PL). Penjelasan Yesus itu mengobarkan hati mereka, melengkapkan pemahaman mereka, dan meneguhkan iman mereka.

Dengan demikian, sangat vital bagi kita untuk mengenal Yesus Kristus secara lengkap. Tanpa PL, pemahaman kita akan Yesus seperti cuplikan oratorium yang tidak utuh. Dari catatan PL, kita menemukan kesaksian tentang bagaimana Allah mempersiapkan kedatangan-Nya. Dari situ kita dapat memahami akar dan latar belakang sosok Mesias: bahwa Dia bukan Juru Selamat yang muncul tiba-tiba dari ruang hampa.

Jadi, kita perlu meluangkan waktu untuk mempelajari PL jika ingin semakin bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus –ARS

TANPA MEMAHAMI PERJANJIAN LAMA, KITA TIDAK AKAN MEMAHAMI

MISI KEDATANGAN YESUS KRISTUS DALAM PERJANJIAN BARU

Sumber : www.sabda.org

Siap memasuki kehidupan baru

PESAN GEMBALA

20 DESEMBER 2009

EDISI 105 TAHUN 2

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, hari-hari ini telah terasa suasana perayaan natal, baik di gereja-gereja yang merayakan, di toko-toko dengan pernak-pernik natal yang dipajang, dan juga di rumah tangga-rumah tangga Kristen. Itu semua baik namun akan lebih baik lagi kalau mengerti akan kehadiran dan kasih Kristus dalam kehidupan kita. Sehingga kita semua bisa memahami arti kehidupan. Ketika Tuhan melewati kehidupan-Nya sebagai manusia, Dia memahami kehidupan dalam hidupnya. Sejak kembalinya Yusuf dan Maria ke Nazareth, Tuhan melewati kehidupan-Nya sejak kecil hingga usia 30 tahun di Nazareth. Dia bertumbuh dalam perawakan, hikmat dan roh, serta menjadi seorang pemuda dewasa. Dalam Lukas 2:52, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besarnya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”

Selama 30 tahun, Tuhan Yesus menjalani kehidupan-Nya dengan sempurna secara normal dan ketaatan, Dia tidak pernah berbuat dosa, sehingga Bapa sungguh berkenan kepada-Nya. Matius 3:16-17, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Laluu terdengarlah suara dari Sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Ketika Tuhan Yesus mencapai usia 30, saat itu Bapa menyatakan panggilan-Nya yang menjadi tujuan kedatangan dan kelahiran-Nya ke dunia (memberitakan Kerajaan Sorga). Saat itulah sesuatu yang baru tiba dalam kehidupan-Nya. Tuhan Yesus menyadari hal itu, bahwa saat itu musim kehidupan sedang bergulir ke musim yang baru, dari tukang kayu lalu dipanggil menjadi guru dan pemberita injil.

Apa yang Dia lakukan? Dia melangkah ke Sungai Yordan untuk memberikan diri dibaptis sehingga Dia dipenuhi Roh Kudus, Lukas 4:1, “Yesus yang penuh dengan Roh Kudus (being filled with Holy Spirit) kembali ke Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke Padang Gurun.” Selanjutnya, Dia dibawa ke padang gurun untuk berpuasa selama 40 hari sehingga Dia berjalan dalam kuasa Roh Kudus. Tuhan telah mengajarkan kita, ketika musim kehidupan berganti, maka tidak ada cara lain kecuali menyiapkan diri dan memakai perlengkapan baru untuk melewati musim baru. Kristus memberikan diri-Nya dibaptis, dipenuhi Roh Kudus, dan berpuasa selama 40 hari, sehingga Dia berjalan dalam kuasa Roh Kudus. Saat itulah Dia siap melangkah ke musim kehidupan yang baru, dari seorang tukang kayu menjadi pemberita injil.

Dalam perjanjian lama dikisahkan tentang Yusuf anak Yakub, sampai dengan usia 17 tahun, Yusuf hidup dengan tenang dan nyaman di rumah ayahnya. Namun, sesuatu terjadi tanpa disangka-sangka. Saudara-saudaranya menjebaknya dan menjualnya sebagai budak dan ia pun dibawa ke Mesir. Yusuf kehilangan semua yang ia miliki dalam hidupnya. Ia kehilangan ayahnya, rumahnya, saudara-saudaranya dan juga kehidupannya yang nyaman, bahkan identitas sosialnya. Dari seorang anak dari keluarga yang cukup berada, tiba-tiba ia manjadi seorang budak yang terdampar di negeri asing dengan keadaan tanpa modal, kedudukan, kenalan bahkan status dan hak.

Lalu apa rahasia keberhasilan Yusuf? Ketika ia tiba di Mesir, ia tidak memiliki apapun, namun ada satu hal yang ia miliki dalam hidupnya, yaitu, penyertaan Tuhan yang menjadi sumber kasih karunia dalam hidupnya. Kejadian 39:2, “tetapi Tuhan menyertai Yususf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya, maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” Yusuf sangat menyadari penyertaan Tuhan, selanjutnya kita semua telah mengetahui proses perubahan dari seorang budak, lalu diangkat Tuhan menjadi seorang yang paling berkuasa di Mesir. Rahasia suksesnya adalah ketika masuk dan melewati masa krisisnya menyadari penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus dapat membawa seseorang menemukan kekuatan/ kejayaannya kembali. Dan berjalan makin lama makin kuat, bahkan memipin seseorang dari kemuliaan yang satu menuju kemuliaan berikutnya. Orang yang hidup dipimpin oleh Roh Kudus akan melangkah seiring pergerakan Roh dalam hidupnya. Seperti halnya angin yang bergerak menurut waktunya, dan tidak dapat diduga sebelumnya, demikianlah Roh Kudus membawa kita berjalan selangkah demi selangkah, sebagaimana burung rajawali terbang, ia akan senantiasa memperhatikan arah angin sebelum terbang. Sebab ia akan terbang bersama dan memanfaatkan pergerakan angin sehingga mampu terbang mencapai ketinggian yang melebihi burung lainnya.

Demikian pula cara bangsa Israel melakukan perjalanan di padang gurun. Selama awan kemuliaan Tuhan tidak bergerak, merekapun akan berkemah di tempat itu, sebaliknya ketika awan Tuhan naik dari kemah suci, itulah saatnya (KAIROS) bangsa Israel meninggalkan tempat itu, mengikuti pergerakan awan Tuhan. Sebab mereka bergantung dan ditopang oleh keberadaan awan kemuliaan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

RUMAH YANG BERSIH

Selasa, 22 Desember 2009

Bacaan : 2Raja-raja 4:1-7

4:1. Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”

4:2 Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”

4:3 Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.

4:4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!”

4:5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang.

4:6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir.

4:7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.”

4:8. Pada suatu hari Elisa pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk makan.

4:9 Berkatalah perempuan itu kepada suaminya: “Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus.

4:10 Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana.”

4:11 Pada suatu hari datanglah ia ke sana, lalu masuklah ia ke kamar atas itu dan tidur di situ.

4:12 Kemudian berkatalah ia kepada Gehazi, bujangnya: “Panggillah perempuan Sunem itu.” Lalu dipanggilnyalah perempuan itu dan dia berdiri di depan Gehazi.

4:13 Elisa telah berkata kepada Gehazi: “Cobalah katakan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah sangat bersusah-susah seperti ini untuk kami. Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Adakah yang dapat kubicarakan tentang engkau kepada raja atau kepala tentara?” Jawab perempuan itu: “Aku ini tinggal di tengah-tengah kaumku!”

4:14 Kemudian berkatalah Elisa: “Apakah yang dapat kuperbuat baginya?” Jawab Gehazi: “Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua.”

4:15 Lalu berkatalah Elisa: “Panggillah dia!” Dan sesudah dipanggilnya, berdirilah perempuan itu di pintu.

4:16 Berkatalah Elisa: “Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki.” Tetapi jawab perempuan itu: “Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!”

4:17 Mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu juga, pada tahun berikutnya, seperti yang dikatakan Elisa kepadanya.

RUMAH YANG BERSIH

Suatu kali saya menemukan kutipan indah berikut, “Andai rumah saya sangat bersih dan segala sesuatu tertata rapi, tetapi tak ada kasih di situ, maka saya adalah seorang pembantu, bukan ibu. Andai saya punya waktu untuk mengelap, mengepel, mendekorasi rumah dan seisinya, tetapi tak punya waktu untuk menunjukkan kasih, maka anak-anak hanya belajar tentang kebersihan, bukan kesalehan. Dulu saya pikir keberhasilan seorang ibu dilihat dari bagaimana ia menata rumah. Namun, kini saya tahu bahwa ukurannya adalah pada bagaimana anak-anak belajar tentang kasih.”

Semasa Elisa melayani, seorang janda meminta pertolongan kepadanya. Ia janda dari seorang nabi Allah, yang telah dibunuh kejam oleh Izebel. Ketika itu sangat sulit bagi seorang janda untuk mencari nafkah. Dan kini ia terdesak; terjerat utang yang besar (ayat 1). Namun, ia tak berbalik setia. Apalagi ia memiliki anak-anak. Ia ingin anak-anaknya melihat dan mengalami bahwa Allah mereka patut diandalkan. Maka, ia mencari Elisa sang hamba Allah. Ia dan anak-anaknya pun mendapatkan mukjizat. Dan itu menyelamatkan serta mengajarkan kebenaran penting pada anak-anaknya (ayat 5-7).

Bertumbuhnya seorang pribadi selalu ditopang oleh kehadiran dan dukungan seorang ibu, atau seorang lain yang berperan sebagai ibu baginya. Bagaimana berkata-kata, mengampuni sesama, berbagi serta menunjukkan kasih, juga memercayai Tuhan, kebanyakan dipelajari orang dari ibu. Maka, kiranya perhatian ibu bukan mengatur urusan rumah jasmani saja. Yang jauh lebih penting adalah menata fondasi hidup seorang anak, yang kelak bisa mengubah dunia dengan cara yang menyenangkan Allah –AW

RUMAH BERSIH TAK MENJAMIN HATI SEKETIKA BERSIH

NAMUN IBU PENUH KASIH TERUS MEMBENTUK HIDUP PENUH KASIH

Sumber : www.sabda.org

SATU-SATUNYA JALAN

Senin, 21 Desember 2009

Bacaan : Yohanes 14:1-7

14:1. “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

14:4. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”

14:5 Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”

14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

SATU-SATUNYA JALAN

Seorang guru Sekolah Minggu memegang dua balon di tangannya, dan meminta anak-anak menebak balon mana yang akan terbang ke atas. Ia lalu melepaskan balon itu. Yang satu langsung membubung ke langit, yang lain melayang sebentar lalu turun ke lantai.

“Dari luar, kedua balon itu tampak sama. Yang membedakan adalah isinya. Yang satu berisi udara biasa, yang lain berisi gas helium,” jelasnya. “Begitu juga dengan jalan ke surga. Tuhan tidak memandang penampilan luar kita. Tidak ada seorang pun yang bisa pergi ke surga karena kemampuan dan kebaikannya sendiri. Yang menentukan adalah apa yang mengisi kita. Apakah kita diisi oleh perkara-perkara dari dunia ini, atau kita diisi oleh Penyelamat dari surga yang hidup dan menghidupkan: Tuhan Yesus Kristus?”

Firman Tuhan telah memberikan jawaban yang gamblang atas pertanyaan yang sangat penting dan mendasar bagi manusia: Bagaimana kita dapat mengenal jalan menuju Allah? Tuhan Yesus Kristus menjawab secara tegas bahwa Dialah satu-satunya Jalan untuk datang kepada Bapa. Dialah satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia karena hanya Dia yang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Dialah Penyelamat yang rohani dan yang kekal, yang sanggup membawa kita kembali ke rumah Bapa.

Dengan apakah kita mengisi kehidupan kita? Moralitas, etika, nilai-nilai dari dunia ini, yang bagaimanapun luhurnya tidak akan dapat mengantarkan kita kembali kepada Allah? Atau, dengan anugerah Allah di dalam Kristus Yesus? Kita dapat memutuskan pada hari ini jalan mana yang akan kita tempuh –ARS

JALAN MENUJU KE SURGA TIDAK DAPAT DIBUKA DARI DUNIA

HARUS ADA UTUSAN DARI SURGA YANG MERINTIS JALAN BAGI KITA

Sumber : www.sabda.org

TUJUH KEAJAIBAN DUNIA

Sabtu, 19 Desember 2009

Bacaan : Matius 11:20-24

11:20 Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya:

11:21 “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.

11:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.

11:23 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.

11:24 Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.”

TUJUH KEAJAIBAN DUNIA

Seorang guru memberi tugas kepada murid-muridnya untuk menyebutkan tujuh keajaiban dunia. Sebagian besar murid segera menuliskan jawabannya di kertas mereka. Namun, Ririn hanya termangu-mangu di bangkunya. Dan ketika jam pelajaran hampir selesai, kertasnya masih kosong. Gurunya heran karena Ririn tergolong anak cerdas.

“Masakan kau tidak tahu satu pun keajaiban dunia, Rin?” tanya gurunya. “Sebenarnya banyak, Bu, tapi saya bingung memilih yang mana.” Kening gurunya berkerut, dan meminta Ririn menjelaskan. Ririn pun menyebutkan keajaiban dunia versinya: bisa melihat, bisa mendengar, bisa berkata-kata, bisa menyayangi, dan sebagainya. Gurunya tertegun, sekaligus tersadar: betapa mudah kita mengagumi karya hebat buatan manusia, dan menganggap biasa saja berbagai keajaiban yang Tuhan karuniakan secara cuma-cuma!

Yesus mengecam Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum karena menyambut dingin karya Tuhan di tengah mereka. Kota-kota itu termasuk daerah yang pertama kali mendengar berita pertobatan yang disampaikan Yesus. Berbagai mukjizat juga Dia lakukan. Yesus bahkan memilih Kapernaum sebagai kediaman-Nya sekeluar dari Nazaret. Namun, kota-kota itu bergeming. Berita Injil dan mukjizat Tuhan tak menggugah mereka bertobat dan berbalik dari kejahatan mereka.

Menurut Roma 2:4, maksud kemurahan Allah ialah menuntun kita ke dalam pertobatan: mengalami perubahan hati, sikap, dan perilaku. Bagaimana tanggapan kita terhadap firman yang kita dengar dan kita baca? Bagaimana sikap kita terhadap kebaikan yang Tuhan limpahkan dalam hidup kita? –ARS

BERSYUKUR ATAS KEAJAIBAN TUHAN DALAM HIDUP KITA

ADALAH TITIK AWAL MENUJU PERTOBATAN DAN PERUBAHAN HIDUP

Sumber : www.sabda.org

Kerajaan Sorga

PESAN GEMBALA

13 DESEMBER 2009

EDISI 104 TAHUN 2

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati Tuhan. dalam Matius 4:17, Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat”. Juga dalam Matius 9:35, “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” Jadi sejak awal pelayanan, Tuhan Yesus sudah memberitakan tentang hadirnya Kerajaan Sorga di bumi. Dari hal tersebut maka Injil yang Dia sampaikan disebut juga sebagai Injil Kerajaan. Dia ingin menghadirkan kerajaan-Nya di muka bumi, dimana Tuhan sendiri sebagai raja di atas segala raja.

Bagaimanakah wujud dan ciri-ciri Kerajaan Tuhan di bumi ini?

Berdasarkan Firman Tuhan di atas ada 3 karakteristik utama dari Kerajaan Sorga:

  1. Kerajaan Tuhan memiliki kehidupan rohani/ spritual

Ciri pertama dari Kerajaan Tuhan adalah setiap orang memiliki kehidupan rohani atau spritual yang baik dengan mengalami pertobatan hidup, yaitu meninggalkan dosa-dosanya dan menerima anugerah keselamatan serta pengampunan dari Tuhan Yesus. Karena syarat untuk dapat masuk dan menjadi warga kerajaan-Nya adalah mengalami kelahiran kembali di dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:3). Di dunia ini hanya ada 2 jenis kerajaan, yaitu kerajaan Tuhan (Kerajaan Terang) dan kerajaan Iblis (Kerajaan Kegelapan). Dan seluruh manusia telah tertawan oleh Kerajaan Iblis. Tetapi Kristus datang untuk membebaskan dan melepaskan manusia dari cengkeraman Kerajaan Iblis serta membangun kerajaanNya di bumi ini dengan wargaNya yang telah ditebus oleh darah-Nya serta mengalami pertobatan. Harus ada perbedaan yang nyata antara kehidupan warga Kerajaan Tuhan dan Kerajaan Iblis, ialah setiap warga Kerajaan Tuhan  memiliki kehidupan yang bertobat terus menerus. Tidak lagi kompromi dengan dosa, serta membenci perbuatan-perbuatan Iblis. Dalam I Yohanes 3:8 dikatakan bahwa barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.

2. Kristus memiliki otoritas dan berdaulat penuh dalam kerajaan-Nya

Di dalam Kerajaan Tuhan, maka Kristuslah sebagai pemenang otoritas tertinggi dan berdaulat penuh. Dengan demikian, setiap warga Kerajaan Tuhan harus tunduk kepada perintah-perintah Tuhan Yesus serta berpegang kepada perjanjian-Nya. Tunduk dan taat kepada Kristus adalah ciri dan kunci warga Kerajaan Tuhan di bumi. Ketaatan mendatangkan berkat, sedangkan ketidaktaatan mendatangkan hukuman. Mengakui otoritas dan kedaulatan Tuhan, juga berarti bahwa umat-Nya mempercayai sepenuhnya apa yang Dia perintahkan dan Dia janjikan. Tidak ada keraguan ataupun kebimbangan. Kalau umat-Nya ingin melihat Kerajaan Tuhan hadir di Indonesia, maka setiap umat Tuhan harus menjadi orang-orang yang bersedia untuk taatt dan tunduk kepada otoritas dan kehendak Kristus dalam hidupnya. Mulai dari para pemimpin sampai kepada anggota jemaat harus memiliki ketaatan yang sama kepada perinta-perintah-Nya. Di setiap aspek kehidupan Tuhan berdaulat dan berotoritas.

3. Kerajaan Tuhan memiliki kehidupan yang sejahtera dan berkelimpahan

Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 10:10, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mepunyainya dalam segala kelimpahan.”

Kehidupan dalam Kerajaan Tuhan harus mempunyai standar dan kualitas yang terbaik dibandingkan kehidupan yang ditawarkan oleh Kerajaan Iblis. Itulah sebabnya, Tuhan memerintahkan umat-Nya agar mendatangkan kesejahteraan bagi kota dimana mereka tinggal (Yeremia 29:7). Tuhan menginginkan di dalam KerajaanNya tidak ada orang miskin, tidak ada kejahatan, tidak ada keadilan, hukum ditegakkan, tidak ada suap dan korupsi, sehingga KerajaanNya disebut sebagai Kerjaan Kekal dan Rajanya Damai (Daniel 7:14; Yesaya 9:5-6).

Gereja Tuhan adalah wakil kerajaanNya di muka bumi. Merupakan suatu tugas terhormat bagi gereja untuk mewujudkan Kerajaan Tuhan di Indonesia ini. Mari kita bergandengan tangan dan bekerjasama dengan sungguh-sungguh agar visi Kerajaan Tuhan itu segera terwujud. Itulah panggilan kita semua. Datanglah KerajaanMu ya Tuhan.

Dalam kesempatan ini juga saya sampaikan untuk terus dukung dan doakan PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA KITA.

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA