JERAT KEBOHONGAN

Sabtu, 27 Februari 2010

Bacaan : 2Samuel 12:1-14

12:1. TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.

12:2 Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;

12:3 si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.

12:4 Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu.”

12:5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.

12:6 Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan.”

12:7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: “Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.

12:8 Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.

12:9 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.

12:10 Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.

12:11 Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.

12:12 Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.”

12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.

12:14 Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.”

JERAT KEBOHONGAN

Kebohongan atau dusta itu beranak pinak. Begitu seseorang berbohong, maka selanjutnya ia akan terus diseret dalam kebohongan-kebohongan lainnya. Jadinya seperti lingkaran setan. Kebohongan satu ditutupi oleh kebohongan lainnya. Akibatnya bisa sangat fatal.

Itulah yang terjadi pada Marion Jones-Thompson, pelari putri terkenal dari Amerika. Jones berbohong tentang skandal doppingnya saat merebut medali di Olimpiade Sidney, Australia, tahun 2000. Jones berbohong kepada keluarganya, kepada agen dan sponsornya, kepada para penggemarnya, seterusnya kepada para polisi, terakhir kepada tim juri pengadilan. Ia beralasan, hidupnya yang sedang bergelimang kesuksesan akan hancur lebur jika skandal itu terbongkar. Jadi, ia memilih berbohong. Namun, Jones salah. Ia memang sempat “tertolong”, tetapi hanya untuk sementara. Selanjutnya ia justru terjerumus pada kehancuran yang lebih parah. Karier dan reputasinya benar-benar amblas.

Daud pernah melakukan tindakan “kotor”; mencemari Batsyeba, lalu merekayasa kematian Uria, suami Batsyeba, prajuritnya yang setia. Natan memperingatkan Daud atas kekejiannya tersebut. Sebagai raja yang berkuasa, Daud bisa saja “membungkam” Natan. Lalu hidup dalam kebohongan. Akan tetapi, Daud tidak melakukan itu. Ia bertobat; mengakui, dan menyesali perbuatannya. Betul, Daud tetap harus menanggung akibat dari dosanya itu (ayat 14), namun setidaknya ia terhindar dari akibat yang lebih parah (ayat13).

Maka, berhati-hatilah dengan kebohongan. Sebab di balik “kelegaan” sementara yang didapat, di sana tersimpan kepahitan yang sangat –AYA

KEJUJURAN ADALAH PILIHAN TERBAIK

SEPAHIT APA PUN

Sumber : www.sabda.org

GELAP GULITA

Jumat, 26 Februari 2010

Bacaan : Mazmur 13:1-6

13:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (13-2) Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?

13:2 (13-3) Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

13:3 (13-4) Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,

13:4 (13-5) supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.

13:5 (13-6a) Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu.

13:6 (13-6b) Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

GELAP GULITA

Saya suka tidur dalam keadaan gelap gulita. Lampu kamar saya matikan, jendela saya tutup dengan tirai, sehingga tidak ada cahaya masuk sama sekali. Namun, meski mata saya hampir tidak bisa melihat apa-apa saat itu, jarang sekali saya tersandung sesuatu ketika berjalan di situ. Sebab saya sudah hafal seluk-beluk kamar saya. Memori inilah yang menjadi penerang bagi saya dalam kegelapan kamar tersebut.

Hidup manusia juga kadang terasa gelap gulita, seperti yang dialami oleh Daud dalam perikop Alkitab hari ini. Jiwanya terancam. Hari-harinya dilalui dengan berat dan penuh kekhawatiran. Ia berdoa, tetapi Tuhan diam, menyembunyikan wajah-Nya. Dalam situasi demikian, Daud mengingat kasih setia Tuhan. Berdasarkan pengenalannya akan Tuhan, Daud yakin bahwa Tuhan tetap setia, bahkan ketika Dia tampak bungkam. Keyakinan ini memampukannya untuk terus melangkah dalam kegelapan hidupnya. Terang itu datang bukan dari luar, tetapi dari dalam.

Sama seperti Daud, hidup kita terkadang juga terasa begitu berat, bahkan gelap. Berbagai masalah dan kesedihan menekan hidup kita. Sementara Tuhan, seakan-akan diam saja. Dalam situasi yang demikian, sama seperti Daud, yang bisa kita lakukan adalah meyakini saja kasih setia Tuhan. Ingatlah hal-hal di masa lalu ketika kita mampu melihat kasih setia Tuhan secara nyata. Berdasarkan memori tersebut, yakinkan diri kita bahwa sama seperti waktu itu, saat ini pun Tuhan tetap setia. Kesetiaan-Nya ini cukup untuk menjadi sinar yang memampukan kita melewati masa-masa gelap dalam hidup kita –ALS

JIKA ANDA TIDAK DAPAT MERABA TANGAN-NYA

PERCAYAILAH HATI-NYA –Babbie Mason

Sumber : www.sabda.org

TERLALU MULUK?

Kamis, 25 Februari 2010

Bacaan : Yohanes 3:16-18

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

TERLALU MULUK?

Sebuah lembaga keuangan di negeri kita mengiklankan dirinya: “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah.” Betapa baiknya jika ada lembaga keuangan yang sanggup menolong kita mengatasi masalah keuangan, tanpa disertai berbagai masalah sampingan. Namun kalau tidak, pernyataan itu menjadi janji yang terlalu muluk.

Berita Injil sejatinya penuh dengan pernyataan-pernyataan yang terdengar “terlalu muluk”, tetapi sekaligus sangat indah. Ketika membacanya, kita diperhadapkan pada dua alternatif saja: pernyataan itu mutlak benar atau pernyataan itu hanya dusta besar. Nas hari ini, misalnya. Benarkah ayat itu menyatakan “setiap orang”? Benarkah undangan untuk percaya itu berlaku bagi siapa saja? Tidak ada pengecualian?

Apabila kelompok tertentu, atau bahkan satu orang saja, ada yang terkecualikan, maka ayat tadi hanyalah kata-kata manis tanpa substansi. Sebaliknya jika pernyataan itu benar, maka setiap orang — siapa saja, dari presiden sampai pengemis, dari Hitler sampai Ibu Teresa, dari orang kulit putih sampai orang kulit legam, dari anak kecil sampai orang yang sudah sangat tua — sungguh-sungguh mendapatkan kesempatan yang sama untuk menanggapi undangan radikal tersebut.

Syukurlah, berita Injil dari Tuhan kita bukan sekadar iklan, melainkan kebenaran. Siapa saja kita, apa pun latar belakang kita, bagaimanapun kondisi kita, di mana pun kita berada, kapan saja — undangan untuk percaya dan beroleh hidup kekal itu berlaku bagi setiap orang. Setiap orang! Maukah kita menerima undangan itu? –ARS

KARENA BERITA INJIL ITU KEBENARAN

PILIHAN TANGGAPAN KITA HANYA MENOLAK ATAU MENERIMANYA

Sumber : www.sabda.org

Kesatuan (Bagian Kedua)

PESAN GEMBALA

21 FEBRUARI 2010

EDISI 114 TAHUN 3

Shalom, Salam Miracle…

Dalam pencapaian “The Golden Years” bagi kita semua, salah satu faktor yang menentukan adalah kesatuan. Ulangan 32:30, “Satu orang akan mengejar seribu orang, dan dua orang akan membuat sepuluh ribu orang lari”. Ada kuasa yang luar biasa tatkala dua orang bekerjasama secara harmonis, daripada saling menentang. “Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di Sorga” (Matius 18:19).

Di dalam Kejadian 11:6, manusia memiliki satu bahasa dan satu tujuan. Karena itu Tuhan mendeklarasikan: “sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.” Allah benar-benar mengerti akan kuasa kesatuan, namun setanpun juga tahu akan hal itu, sehingga memiliki keinginan untuk memecah belah dan menaklukkan umat Tuhan.

Kesatuan dalam Gereja dimulai dari kesatuan pribadi-pribadi di keluarga-keluarga. Gereja itu adalah kumpulan dari keluarga-keluarga. Kesatuan adalah sebuah pesan yang ada di hati Allah. Kristus berkata:”… setiap rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan”.

Semua problem masa kini berasal dari rumah tangga. Allah ingin melawat rumah tangga kita. Ada gerakan-gerakan Roh yang terbatas di dalam Gereja yang disebabkan karena kondisi-kondisi di dalam keluarga-keluarga. Perasaan yang tersinggung, konflik yang belum terpecahkan, dan lain sebagainya.

Ada empat tingkatan KESATUAN

  1. KESATUAN ROH (Efesus 4:1-3)
  2. KESATUAN DI DALAM KITA (Mazmur 86:11)
  3. KESATUAN IMAN (Efesus 4:11-13)

Kesatuan iman membutuhkan suatu tingkat kedewasaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kesatuan Roh. Memang sudah baik kita semua denominasi dapat menyembah bersama-sama, tetapi lebih baik lagi kalau mereka setuju dalam hal kepercayaan-kepercayaan umum mereka (I Korintus 1:10). Kesatuan iman adalah kemampuan untuk setuju sepenuhnya dalam semua kebenaran utama dalam kekristenan. Ini menuntut adanya penyerahan opini-opini kita kepada Allah. Musuh terbesar dari kesatuan adalah pikiran-pikiran alami. Dinding-dinding yang memisahkan manusia terdapat di dalam pikiran dan hati mereka.

  1. KESATUAN SAUDARA SEIMAN (Mazmur 133:1-3)

“Lihat, alangkah baiknya dan menyenangkannya apabila saudara-saudara seiman diam bersama dalam kesatuan”. Kesatuan yang indah ini disamakan dengan minyak urapan yang mengalir turun dari kepala Harun kepada jubahnya. Agar kita dapat menghargai makna dari minyak urapan yang spesial ini, perlu bagi kita untuk mempelajari bahan-bahan dasar dari minyak urapan ini, dan arti rohaninya. Ini ditemukan di dalam Keluaran 30:22-25. Ada sembilan tumbuhan yang tercantum dalam Kidung Agung yang berhubungan dengan kesembilan buah-buah Roh di dalam Galatia 5.

Delima                  : kasih

Bunga Pacar       : sukacita

Narwastu             : damai sejahtera

Kunyit                   : kesabaran

Tebu                       : kemurahan

Kayu manis         : kebaikan

Kemenyan           : Kesetiaan / iman

Mur                        : Kelemahlembutan

Gaharu                 : penguasaan diri

Hati yang remuk, hati yang lunak, belas kasihan, pengertian, dan damai sejahtera semua dibutuhkan untuk mewujudkan kesatuan. Ini adalah kekristenan dan kedewasaan yang sejati, ketika kita umat-Nya dapat memiliki kecocokan dalam tingkat kesatuan ini dan memiliki belas kasihan satu terhadap yang lain. Ke tempat inilah Tuhan memerintahkan berkat dan kehidupan sampai selama-lamanya. Inilah tujuan utama dari kekristenan. Kasih adalah pengikat yang menyempurnakan. Kolose 3:14 “dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Empat cara kita membuktikan Kasih kita kepada Allah:

  1. dengan menantikan Tuhan (Yes 64:4)
  2. dengan menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:15-17)
  3. dengan memelihara perintah-perintah-Nya (Yoh 14:15)
  4. dengan mengasihi saudara-saudara seiman (I Tim 5:10)

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

FOKUS PADA ORANG LAIN

Rabu, 24 Februari 2010

Bacaan : Roma 15:1-13

15:1. Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.

15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.

15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.”

15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.

15:5. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,

15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.

15:7. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.

15:8 Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita,

15:9 dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”

15:10 Dan selanjutnya: “Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya.”

15:11 Dan lagi: “Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia.”

15:12 Dan selanjutnya kata Yesaya: “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.”

15:13. Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.

FOKUS PADA ORANG LAIN

William Ward, penulis berbagai artikel dan puisi, pernah berkata, “Ada tiga kunci menuju kehidupan yang lebih berlimpah: memedulikan orang lain, memberi dorongan kepada orang lain, dan berbagi dengan orang lain.” Ketiganya melibatkan orang lain. Apa yang dikatakan Ward adalah gaya hidup yang seharusnya dimiliki oleh orang kristiani, yaitu mengutamakan orang lain dan membuat mereka memiliki keadaan yang lebih baik setelah bertemu dengan kita.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk memperhatikan sesama. Yang kuat wajib menanggung yang lemah (ayat 1). Selalu memberikan perhatian kepada orang lain akan membuat hidup kita lebih berarti. Dan yang terpenting, Allah akan dimuliakan melalui hidup kita (ayat 6-9). Jadi, jika ternyata kita meninggalkan seseorang dalam keadaan yang sama seperti saat kita menemuinya, berarti kita perlu berintrospeksi. Jangan-jangan selama ini kita hanya berpusat pada diri sendiri dan mengabaikan sesama. Ini salah satu hal yang membuat hidup kita tidak memuliakan Tuhan. Ingatlah bahwa kita tidak akan pernah mencapai kehidupan yang memuliakan Tuhan, sebelum kita melakukan hal berarti bagi orang lain.

Buatlah orang lain tersenyum, bersukacita, tertawa, kembali bersemangat, tabah menghadapi kenyataan hidup. Buatlah orang lain merasa dirinya berarti dan berharga. Ketika kita mencoba membuat orang lain lebih berbahagia, otomatis kita pun akan merasakan kebahagiaan. Jika kita mau lebih sedikit peka, kita tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk membuat orang lain merasa lebih baik saat bertemu dengan kita –PK

BUATLAH SESEORANG MERASAKAN KEADAAN YANG LEBIH BAIK

SETELAH BERTEMU DENGAN ANDA

Sumber : www.sabda.org

PERTUMBUHAN YANG TERIMPIT

Selasa, 23 Februari 2010

Bacaan : Lukas 8:4-15

8:4. Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:

8:5 “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.

8:6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.

8:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.

8:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

8:9 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.

8:10 Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.

8:11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.

8:12 Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

8:13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

8:14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

8:15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

PERTUMBUHAN YANG TERIMPIT

Saya punya seorang teman yang gemar membaca buku rohani, mengikuti kegiatan pembinaan iman, dan bersemangat sekali ketika berbicara tentang teologia. Ia juga aktif melayani. Banyak orang menghormatinya sebagai orang kristiani yang baik. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika suatu hari ia mengaku telah meninggalkan iman kristiani. Ternyata dari pengakuan teman-teman dekatnya, ia sesungguhnya belum melepaskan gaya hidup foya-foya. Itu sebabnya dalam keseharian pun ia sangat labil. Bisa tiba-tiba kehilangan antusiasme dalam pelayanan atau susah bekerja sama dengan rekan lain.

Yesus berbicara tentang hal seperti ini ketika membicarakan firman yang jatuh di tanah bersemak duri. Firman itu memang bertumbuh. Memang menghasilkan buah. Namun, pertumbuhannya terimpit, sehingga buahnya tidak matang. Ada pengaruh lain yang mengimpit pertumbuhan firman. Kekhawatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup adalah tiga pengimpit yang disebut Yesus di sini. Dan pada masa modern sekarang ini, kenikmatan hidup merupakan salah satu tantangan berat yang kita hadapi. Ia meracuni pikiran kita, sehingga firman yang kita terima tak dapat bertumbuh.

Dalam dunia yang semakin menekan kita untuk mengejar kenikmatan hidup, sangatlah penting bagi kita untuk lebih banyak membaca firman Allah. Dengan menyerap sebanyak mungkin kebenaran firman, kita akan memiliki hikmat untuk menjaga hati. Dunia ini terus menaburkan “semak kenikmatan hidup” — melalui apa yang kita baca, tonton, dan nikmati — yang bisa berakar di hati kita. Maka, kita perlu memilih aktivitas yang mendukung kerohanian. Agar firman-Nya leluasa membarui hidup kita –DBS

CEGAHLAH KEDUNIAWIAN

MENGIMPIT PERTUMBUHAN FIRMAN TUHAN DI HATI KITA

Sumber : www.sabda.org

KETEKUNAN

PESAN GEMBALA

14 FEBRUARI 2010

EDISI 113 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di gereja Bethany yang diberkati Allah.

Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus mengalir atas hidup kita di dalam kasih setia-Nya yang selalu baru setiap hari. Mari perhatikan dengan seksama bagaimana hidup kita..!! sebab hari-hari ini kita harus lebih bersungguh-sungguh beribadah, lebih berkonsentrasi dalam melakukan kehendak Allah, lebih menyukakan hati Tuhan dan lebih bisa membawa diri untuk mempermuliakan nama Tuhan.

Mengapa demikian?

Sebab saat ini kita sedang masuk ke dalam era akhir zaman. Pengaruh dunia sekuler demikian maraknya, belum lagi tantangan dan persoalan yang kita hadapi, sehingga tatkala kita lengah, maka hal itu harus melintasi Samaria, padahal ada jalur lain yang mudah ditempuh dan lebih aman secara manusia sebau bisa mempengaruhi dan menggeser iman kita, apalagi jika kita tidak bersungguh-sungguh.

Tuhan Yesus sendiri memberikan suatu peringatan :”waspadalah! Sebab Aku mengutus kamu seperti domba di tengah-tengah serigala, hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16). Sebab bisa saja yang terdahulu menjadi yang terakhir, sedangkan yang terakhir bisa menjadi yang terdahulu.

Jangan menjadi terlena tetapi waspadalah, jangan sampai terbawa oleh arus dunia. Tanda-tanda akhir zaman sudah mulai digenapi. Allah berkehendak supaya hidup kita berkenan kepada-Nya, bukan untuk suatu masa tertentu tetapi untuk seterusnya.

Lalu bagaimana supaya kita berkenan? Salah satu kuncinya adalah bertekun di dalam Dia. Bertekun itu artinya rajin dan setia untuk terus hidup di dalam firman-Nya setiap hari dan setiap waktu, dan hidup dengan mengandalkan Tuhan.

Ada banyak alasan mengapa kita harus bertekun, namun hal yang perlu disadari adalah selama kita menumpang di dunia ini, kita masih bertemu dengan masalah dan tantangan baik besar maupun kecil, dari yang mudah sampai dengan yang sukar. Dan perlu dicatat, kalau hari-hari ini kita diizinkan untuk menghadapi masalah, bahkan masuk ke dalam kesengsaraan, maka hal ini dimaksudkan supaya kita bertekun di dalam Dia, sebab ketekunan itu akan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan kepada Allah (Roma 5:3-4). Dan apabila ketekunan itu menjadi buah yang matang, hal itu akan menghantar kita kepada kesempurnaan, karena-Nya iman yang kita miliki harus kita kerjakan dan bangun dengan penuh ketekunan.

Ada pertanyaan dari seorang penginjil muda kepada pemimpin rohaninya demikian “mengapa injil sekarang susah masuk kepada orang-orang yang mampu atau kaya?” Jawab seniornya demikian “sebab penghasilan mereka tinggi secara otomatis segala kebutuhan terpenuhi jadi everything is fine, bahkan mereka terkadang berkata “buat apa ke gerja?” toh semua serba ada dan tercukupi”.

Jemaat yang dikasihi Tuhan..

Mari kita perhatikan bahwa kita datang kepada Tuhan ukan hanya karena Tuhan mampu menjawab doa-doa kebutuhan sehari-hari kita saja, tetapi ada satu alasan yang jauh lebih penting yaitu supaya kita didamaikan dengan Allah dan diselamatkan. Untuk itu perlu ketekunan, sebab kita harus bersungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada iman kita kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, dan kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada dengan berlimpah-limpah, maka kita dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan Yesus Kristus (2 Petrus 1:5-8).

Pada akhirnya ketekunan kita sebagai orang-orang kudus-Nya akan menghantar kita masuk ke Kerajaan Allah.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Kasih karunia