HATI YANG TULUS

Senin, 8 Februari 2010

Bacaan : Kisah 1:15-26

1:15. Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata:

1:16 “Hai saudara-saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu.

1:17 Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini.”

1:18 –Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah kejahatannya, lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar.

1:19 Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri “Hakal-Dama”, artinya Tanah Darah–.

1:20 “Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain.

1:21 Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami,

1:22 yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.”

1:23 Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias.

1:24 Mereka semua berdoa dan berkata: “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini,

1:25 untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya.”

1:26 Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.

HATI YANG TULUS

Wajahny:a lugu. Sederhana. Tutur katanya simpatik. “Soal gaji sih terserah saja. Saya terima. Yang penting bisa kerja membantu Tuan dan Nyonya,” ujar Yati. Sang majikan terkesan. Yati diterima menjadi pembantu rumah tangga. Ia dipercaya. Kunci-kunci rumah dipegangnya. Dua bulan kemudian, majikannya sangat kaget ketika tiba di rumah. Semua barang berharga mereka habis terkuras. Yati lenyap. Rupanya ia adalah anggota sindikat perampok yang beraksi dengan bepura-pura menjadi pembantu. Wajahnya tulus, namun hatinya bulus!

Sulit mencari orang berhati tulus. Langka, tetapi sangat berharga. Waktu mencari pengganti Yudas, para murid tidak mencari orang hebat. Belajar dari pengkhianatan Yudas, mereka sadar bahwa faktor terpenting yang harus ada dalam diri seorang murid adalah ketulusan hati. Namun siapa yang bisa mengenal isi hati? Tuhan! Mereka pun lantas berdoa: “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih” (ayat 24). Soal hati itu perkara penting. Percuma menjadi orang berprestasi apabila tanpa ketulusan hati. Akhirnya, Tuhan memilih Matias, tokoh yang tidak terkenal. Namanya tak pernah muncul dalam kitab Injil maupun surat Rasuli. Ia bekerja dibalik layar. Namun, ketulusan hatinya membuat Tuhan berkenan.

Orang yang tulus hati membuat rencana tanpa intrik. Berbicara tanpa melebih-lebihkan. Memberi bantuan tanpa pamrih. Menampilkan diri apa adanya tanpa berusaha terlihat suci. Ia benci kemunafikan dan kepalsuan. Seperti itukah Anda? Apakah Anda dikenal sebagai orang yang tulus hati? –JTI

Tanpa hati yang diwarnai ketulusan

Anda tidak bisa membuat Allah terkesan

Sumber : http://www.sabda.org

Iklan

BERANI MEMBERI

PESAN GEMBALA

7 FEBRUARI 2010

EDISI 112 TAHUN 3

BERANI MEMBERI

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita belajar mengenai berani memberi.Kitab Amsal menyatakan “ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu kekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia seendiri akan diberi minum. Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum”. Hukum ini sungguh-sungguh bekerja. Jika Saudara berani mengujinya, Allah akan memberi Saudara lebih banyak berkat daripada apa yang dapat Saudara tampung.

Buatlah sebuah keputusan berkualitas dengan cara selalu melakukan apa yang Allah perintahkan agar Saudara lakukan. Jika Allah berkata YA, sementara buku tabungan kita berkata TIDAK, maka akan lebih baik menuruti kata Tuhan. Tetapi jangan ssekalipun melakukan sesuatu yang Allah katakana TIDAK, walaupun buku tabungan kita berkata YA atau BISA. Mari belajar dipimpin oleh Roh Kudus, bukan saldo tabungan kita.

Paulus berkata bahwa siapa menabur sedikit akan menuai sedikit pula, tetapi ia juga berkata “dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelimpahan di dalam pelbagai kebijakan”. Di sini Allah berkata bahwa Dia adalah pemberi dan kita adalah penabur. Dia menyediakan benih bagi penabur dan roti sebagai makanan sehari-hari. Dia akan memberikan kepada kita benih untuk ditabur. Jika kita menyerahkan diri agar Tuhan pakai, maka hukum tabur tuai ini akan berlaku bagi kita.

Allah senantiasa melihat motivasi kita. Jika motivasi kita benar, dan melakukan pemberian menurut kemampuan kita sekarang ini, maka akan masuk ke dalam kelimpahan. Tetapi, sebagian orang berhenti memberi setelah mereka menerima cukup uang. Sumber daya yang mereka miliki menjadi kering dan habis, dan uang tersebut menjadi lenyap tidak bersisa.

Hal lain adalah jangan menunda-nunda ketika Allah berbicara kepada Saudara untuk menabur dalam suatu proyek tertentu. Ketika Roh Kudus berbicara untuk menabur, maka kita harus segera menabur. Tidak ada kepuasan yang lebih besar daripada memberi bagi pekerjaan Tuhan. Betapa menyenangkan karena kita independent dari dunia ini dan memiliki kebebasan untuk bertindak dan melakukan apa yang Allah perintahkan agar kita lakukan.

Rasul Paulus meminta kepada jemaat di Korintus untuk memberi bagi pelayanan kasih atau bagi orang-orang miskin di Yerusalem, hal tersebut dikarenakan Kristus Yesus sendiri telah menjadi miskin, agar melalui kemiskinan-Nya, mereka boleh menjadi kaya dan lalu dapat memberi.

Jemaat yang dikasihi Tuhan…

Usahakanlah untuk selalu menabur benih-benih di tanah yang subur dan jangan menabur padda saat di bawah tekanan, namun dengan sukacita ketika memberi. Seperti rasul Paulus yang emnasehatkan demikian “sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu”.

Allah telah mendirikan dan menyiapkan sebuah rencana keuangan bagi Kerajaan-Nya dan ini melibatkan kita untuk memberi secara sukarela bagi pekerjaan-Nya. Ini adalah sebuah pelayanan kepada Tuhan, yang mana sama berharganya dengan pujian dan penyembahan.

Kesempatan ini juga saya menyampaikan kepada seluruh jemaat untuk tetap berdoa bagi pembangunan Gereja.

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA