KESADARAN

Sabtu, 13 Februari 2010

Bacaan : Yunus 2

2:1. Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,

2:2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.

2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.

2:4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?

2:5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku

2:6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.

2:7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

2:8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.

2:9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!”

2:10. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

KESADARAN

Terlambat jika engkau menyadari kesalahanmu sekarang, harusnya kamu dengarkan saya sejak dulu!” Mungkin kalimat tersebut pernah kita dengar. Semua orang tahu penyesalan selalu datang terlambat. Jika datangnya di awal, itu namanya kewaspadaan. Namun, ironisnya dunia selalu mencibir orang-orang yang menyesal setelah “benjol terbentur tembok”. Itulah dunia. Sangat berbeda dengan Tuhan. Bagi-Nya, tidak ada kata terlambat untuk sebuah kesadaran dan pertobatan.

Kapan Yunus sungguh-sungguh menyadari kesalahannya? Tatkala ia ada di perut ikan; dalam situasi yang seolah-olah ia tidak mungkin lagi selamat. Sampai-sampai ia mengatakan bahwa pintu sudah terpalang baginya selamanya, artinya tidak ada jalan keluar lagi dari maut (ayat 6). Dalam kondisi seperti itulah Yunus mengingat Tuhan (ayat 7) dan sadar bahwa tidak ada gunanya lari meninggalkan Tuhan (ayat 8). Kalau kita mendengar doa Yunus, mungkin kita akan mencibir, “Mengapa engkau tidak mau sadar ketika hendak lari ke Tarsis? Jika ya, mungkin ceritanya tidak akan sampai begini. Sekarang, tanggunglah sendiri akibatnya!” Namun, Tuhan tidak mencibir penyesalan Yunus. Dia mendengar dan menerima seruan pertobatan Yunus dan merespons doa Yunus dengan memerintah ikan tersebut agar memuntahkannya ke darat.

Ada baiknya sadar sebelum berbuat dosa. Namun, jika sudah telanjur berdosa, ingatlah bahwa kesadaran itu tidak mengenal kata terlambat. Cepat bangkit, jangan berdiam terus dalam dosa, dan bertobatlah. Selain itu, sebagai sesama kita pun harus mau menjadi saudara bagi mereka yang mau menyesali kesalahan dan sungguh-sungguh bertobat –RY

DOSA TIMBUL DARI HATI YANG TIDAK TAAT

DAN TUHAN SENANTIASA MENANTI LANGKAH KITA UNTUK BERTOBAT

Sumber : www.sabda.org