KEHADIRAN YANG MENGHIBUR

Sabtu, 20 Februari 2010

Bacaan : 2Korintus 7:2-7

7:2 Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorangpun, tidak seorangpun yang kami rugikan, dan tidak dari seorangpun kami cari untung.

7:3 Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan, bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati.

7:4 Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.

7:5. Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan.

7:6 Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus.

7:7 Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, kesungguhanmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku.

KEHADIRAN YANG MENGHIBUR

Pernahkah Anda merasa sangat gembira karena kehadiran seseorang? Saya pernah. Tepatnya ketika saya masih kanak-kanak. Waktu itu saya sudah beberapa hari merasa lesu tanpa sebab yang jelas. Suatu malam, seorang saudara sepupu yang juga adalah teman bermain saya, datang ke rumah. Tiba-tiba saya merasa sehat dan langsung bermain dengannya di halaman seperti biasa. Ajaibnya, setelah itu saya benar-benar sembuh total. Orangtua saya bingung melihat apa yang terjadi. Mereka hanya bisa menyimpulkan bahwa saya sangat terhibur didatangi saudara sepupu itu, sehingga tubuh saya terpengaruh hingga benar-benar sembuh.

Paulus juga pernah merasa sangat bersukacita atas kedatangan seseorang. Peristiwanya terjadi di Makedonia. Pada saat itu Paulus merasa sangat tertekan. Kedatangan Titus, anak rohani yang sangat dikasihi Paulus, di saat yang demikian membuat Paulus merasa sangat terhibur. Belum lagi berita yang dibawa Titus tentang bagaimana kasih jemaat Korintus bagi Paulus, membuatnya semakin merasakan sukacita yang melimpah-limpah. Dalam refleksinya, Paulus kemudian mengimani bahwa itulah cara Tuhan menguatkan dirinya agar mampu menanggung penderitaannya saat itu.

Kehadiran seseorang, terutama bagi mereka yang sedang berkesusahan, kerap kali menghadirkan sukacita tersendiri. Sebab orang-orang yang demikian biasanya membutuhkan teman yang peduli. Karena itu, jika kita tahu bahwa ada orang yang membutuhkan kehadiran kita, jangan berpikir dua kali untuk mengunjunginya. Waktu dan perhatian yang kita berikan pasti akan dipakai Tuhan untuk menguatkannya –ALS

ADAKAH ORANG YANG SEDANG MEMBUTUHKAN KEHADIRAN KITA?

SEGERA KUNJUNGI DIA!

Sumber : www.sabda.org


MENIKAM DALAM GELAP

Jumat, 19 Februari 2010

Bacaan : Mazmur 50:16-22

50:16. Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: “Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu,

50:17 padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?

50:18 Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah.

50:19 Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya.

50:20 Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu.

50:21 Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu.

50:22 Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan.

MENIKAM DALAM GELAP

Winston Churchill bukan hanya perdana menteri yang hebat, tetapi juga pribadi yang berintegritas tinggi serta menjaga sikap hormat saat berhadapan dengan lawan politiknya. Menjelang akhir masa jabatannya, ia menghadiri sebuah upacara kenegaraan. Beberapa deret di belakangnya, dua pria mulai saling berbisik. “Itu Winston Churchill.” “Kata mereka ia sudah mulai uzur.” “Harusnya ia sudah turun dan menyerahkan urusan bangsa ini kepada orang yang lebih dinamis dan lebih cakap.” Ketika upacara usai, Churchill mendekati kedua pria itu dan berkata, “Bung, kata mereka, ia juga tuli!”

Desas-desus, kabar burung, atau cerita bohong tentang seseorang yang disebarkan dengan maksud menjelekkan atau mencederai reputasinya, termasuk dosa lidah yang dikecam dengan keras oleh Alkitab. Penyebaran kabar ini cenderung diwarnai oleh kebencian dan dendam pribadi. Menurut pemazmur, orang fasiklah yang gemar dengan aktivitas licik itu. Ia “duduk” — mengacu pada sikap malas, pasif, dan berpuas diri. Akan tetapi, mulutnya aktif — menyemburkan kejahatan. Dan, korbannya bisa bukan orang asing, melainkan saudara kandungnya sendiri. Seperti musuh dalam selimut, ia menikam dalam kegelapan.

Kita mungkin seperti Winston Churchill, yang mesti cerdik berkelit dalam menghadapi omongan yang tidak nyaman. Namun, tidak jarang kita berada pada posisi dua pria pembisik itu. Ketika tergoda untuk menyebarkan cerita buruk tentang orang lain, pertimbangkanlah: Apakah cerita itu benar? Apakah itu berguna? Apakah itu menggugah semangat? Apakah itu perlu? Apakah itu baik? Jika tidak, lebih arif apabila kita menutup mulut –ARS

APABILA ANDA TIDAK MENYEBARKAN FITNAH

ORANG LAIN TIDAK AKAN DAPAT MENERUSKANNYA –Charles Swindoll

Sumber : http://www.sabda.org

TIDAK AMBIL PUSING

Kamis, 18 Februari 2010

Bacaan : 2Samuel 16:5-14

16:5. Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang dari kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk.

16:6 Daud dan semua pegawai raja Daud dilemparinya dengan batu, walaupun segenap tentara dan semua pahlawan berjalan di kiri kanannya.

16:7 Beginilah perkataan Simei pada waktu ia mengutuk: “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila!

16:8 TUHAN telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.”

16:9 Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.”

16:10 Tetapi kata raja: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?”

16:11 Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: “Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian.

16:12 Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.”

16:13 Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu.

16:14 Dengan lelah sampailah raja dan seluruh rakyat yang ada bersama-sama dengan dia ke Yordan, lalu mereka beristirahat di sana.

TIDAK AMBIL PUSING

Dalam bukunya Don’t Sweat the Small Stuff (Jangan memusingkan hal-hal sepele), Richard Carlson menulis, “Dalam hidup kita setiap hari, banyak hal kecil terjadi … kendaraan kita disalip dengan sembrono, dikritik secara tidak fair, kita memikul lebih banyak tugas dari yang lain, dan sebagainya … semua itu akan membebani hati dan pikiran kita, apabila kita tidak belajar untuk tidak memusingkan hal-hal kecil tersebut.”

Suatu kali, dalam masa pelarian dari kejaran Absalom, anaknya yang memberontak, tanpa diduga-duga Daud mendapat cercaan pedas dari Simei, salah seorang kerabat Saul. Begitu pedas dan tajam cercaan itu sampai-sampai Abisai, salah seorang pengawalnya, panas hati dan berkata, “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya” (ayat 9). Akan tetapi, Daud tidak mau ambil pusing. Ia menegur Abisai dan kemudian melanjutkan perjalanan.

Mungkin sekarang ini kita pun tengah mengalami situasi tidak menyenangkan akibat sikap atau perilaku buruk orang-orang di sekitar kita; entah itu kelakuan rekan sekerja yang tidak pada tempatnya, sikap tetangga yang tidak bersahabat, atau gosip-gosip tidak benar yang disebarkan para pendengki. Daripada kita terus memikirkan dan memasukkannya ke dalam hati, malah bikin susah sendiri, lebih baik kita tidak ambil pusing. Sayang waktu dan tenaga kita. Apalagi kita juga jadi tidak bisa menikmati hidup ini. Serahkan saja semuanya itu kepada Tuhan. Biarkan Tuhan yang menjadi “hakim”. Seperti kata Daud, siapa tahu hal-hal itu justru Tuhan pakai sebagai sarana untuk mencurahkan kebaikan-Nya kepada kita (ayat 12) –AYA

KADANG TIDAK AMBIL PUSING

DENGAN KELAKUAN BURUK ORANG LAIN ITU PERLU

Sumber : http://www.sabda.org

PENGGANTI ALLAH?

Rabu, 17 Februari 2010

Bacaan : Kejadian 50:15-21

50:15. Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”

50:16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:

50:17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.

50:18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.”

50:19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?

50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

50:21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

PENGGANTI ALLAH?

Ada ungkapan negatif yang berkata, “Pembalasan harus lebih kejam dari perbuatan jahat seseorang.” Maksudnya orang akan merasa puas ketika berhasil membalas dendam pada orang yang pernah berbuat salah kepadanya. Menurut Anda, bolehkah kita membalas dendam?

Mari amati pengalaman Yusuf. Dari segi kepentingan, Yusuf “paling pantas untuk membalas”. Tanpa berbuat salah, ia dijual demi kepuasan hati kakak-kakak yang iri kepadanya. Ia harus berpisah dari bapa yang sangat dikasihinya. Dari seorang anak yang sangat dilindungi, secepat kilat ia harus menyesuaikan diri untuk bekerja keras menaati peraturan bagi budak. Yusuf mengalami semua itu di Mesir.

Kini, kakak-kakaknya sudah tak memiliki “tempat berlindung”. Ayah mereka telah meninggal. Dalam ketakutan, mereka memohon agar Yusuf sudi mengampuni. Bahkan demi pengampunan itu, mereka siap menjadi budak Yusuf (ayat 18)! Tetapi jawab Yusuf, “… aku inikah pengganti Allah?” (ayat 19).

Sebenarnya, itulah saat paling mudah bagi Yusuf untuk membalas dendam. Namun, Yusuf mengerti, pembalasan adalah hak Tuhan — bukan haknya. Maka, ia tidak membalas kejahatan saudara-saudaranya itu. Sebaliknya, ia justru mengingatkan mereka bahwa semuanya itu ada dalam rencana Tuhan yang indah (ayat 20)!

Bagaimana pandangan kita tentang “pembalasan”? Belajar dari Yusuf, kita disadarkan bahwa kita tidak layak mengambil alih hak Tuhan. Bagian yang harus kita kerjakan adalah menyatakan pengampunan bagi sesama. Selebihnya adalah bagian Tuhan. Biarlah melalui pengampunan yang tulus, kita menyatakan kebaikan Tuhan terhadap orang yang telah berbuat salah kepada kita –HA

LAKUKAN TUGAS UNTUK MENGAMPUNI, JANGAN MEMBALAS

SEBAB MANUSIA TIDAK LAYAK UNTUK MENJADI PENGGANTI ALLAH

SELALU BARU

Selasa, 16 Februari 2010

Bacaan : Kisah 17:10-21

17:10. Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi.

17:11 Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

17:12 Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani.

17:13 Tetapi ketika orang-orang Yahudi dari Tesalonika tahu, bahwa juga di Berea telah diberitakan firman Allah oleh Paulus, datang jugalah mereka ke sana menghasut dan menggelisahkan hati orang banyak.

17:14 Tetapi saudara-saudara menyuruh Paulus segera berangkat menuju ke pantai laut, tetapi Silas dan Timotius masih tinggal di Berea.

17:15 Orang-orang yang mengiringi Paulus menemaninya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.

17:16. Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.

17:17 Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.

17:18 Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: “Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?” Tetapi yang lain berkata: “Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing.” Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya.

17:19 Lalu mereka membawanya menghadap sidang Areopagus dan mengatakan: “Bolehkah kami tahu ajaran baru mana yang kauajarkan ini?

17:20 Sebab engkau memperdengarkan kepada kami perkara-perkara yang aneh. Karena itu kami ingin tahu, apakah artinya semua itu.”

17:21 Adapun orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru.

SELALU BARU

Anda sempat terkena demam Facebook (Fb)? Melalui situs jaringan sosial ini, kita dapat saling berbagi informasi dan aktivitas dengan teman-teman kita melalui komentar, tulisan, foto, atau video. Para pengguna Fb rata-rata rajin memperbarui informasi tentang diri mereka, sehingga setiap kali menilik situs ini biasanya ada saja kabar yang baru. Unsur kebaruan ini berdaya pikat kuat sampai membuat sebagian orang ketagihan.

Seandainya penduduk Atena hidup pada zaman ini, kemungkinan besar mereka juga akan keranjingan Fb. Mereka selalu haus akan kebaruan dan senang bergunjing. Mereka tertarik pada ajaran Paulus bukan karena menganggapnya sebagai ajaran yang baik, melainkan sebagai “barang baru” yang asyik untuk dipergunjingkan — sampai mereka bosan, dan menemukan barang baru yang lain lagi.

Gaya hidup orang Atena itu nyatanya terus membuntuti kita sampai sekarang, termasuk dalam hal pemahaman Alkitab. Kita menyukai dan menginginkan topik khotbah atau ajaran yang baru. Kita juga sudah merasa puas dengan mendengarkan dan membicarakan firman Tuhan. Akibatnya, kita bisa tahu banyak hal seputar firman Tuhan, tetapi hanya secara dangkal.

Untuk menghindari sindrom orang Atena ini, kita dapat mengikuti jejak orang Berea (ayat 11). Mereka tidak begitu saja terpukau pada suatu ajaran baru, tetapi meneliti apakah hal itu benar-benar baik dan selaras dengan firman Tuhan. Kita juga bukan hanya menjadikan firman Tuhan sebagai bahan pembicaraan, melainkan menghayati dan mempraktikkannya dalam keseharian. Dengan demikian, pemahaman kita akan semakin kuat dan mendalam –ARS

JARAK ANTARA KEDANGKALAN DAN KEDALAMAN PEMAHAMAN

HANYA DAPAT DIJEMBATANI OLEH KETEKUNAN UNTUK BELAJAR

Sumber : www.sabda.org

MENABUR KEBAIKAN

Senin, 15  Februari 2010

MENABUR KEBAIKAN

Bacaan : Amsal 11:24-25

11:24. Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.

11:25. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

MENABUR KEBAIKAN

Di desa Arjasari, Bandung Selatan, terdapat sebuah gedung berlantai dua bergaya minimalis. Gedung megah menurut ukuran desa itu adalah perpustakaan. Bermula dari keinginan sederhana seorang tukang gorden keliling bernama Ayi Rohman untuk mendirikan perpustakaan bagi anak-anak di desanya. Mang Ayi, begitu ia biasa disapa, percaya bahwa sumber kemiskinan adalah kebodohan. Dan kebodohan bisa dientaskan dengan meningkatkan budaya baca masyarakat sekitar.

Berawal dari tujuh puluh buah buku hasil cari sana-sini, berdirilah perpustakaan seadanya di ruang tamu rumahnya. Untuk menambah koleksi bukunya, Mang Ayi biasa menyisihkan hasil jualan gordennya. Sekarang, bantuan donatur telah mengalir; gedung permanen, koleksi buku yang terbilang lengkap, dan terutama minat baca anak-anak di desanya meningkat pesat. Mang Ayi tidak lagi berjualan gorden, ia total mengurus perpustakaannya. Dan yang tidak pernah ia bayangkan adalah kesejahteraannya justru meningkat. “Dulu waktu jadi tukang gorden, melihat uang satu juta saja sudah sebuah keajaiban. Kini, setelah saya memikirkan orang lain, saya malah mendapatkan hidup yang lebih baik,” tuturnya.

Firman Tuhan hari ini berkata: “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan. Siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” (ayat 25). Tentu bukan berarti kita kemudian berbuat baik kepada sesama dengan prinsip memancing, “Melempar teri untuk mendapat kakap”. Sebab itu artinya berpamrih, tidak tulus. Sebaliknya, yang ditekankan di sini adalah jangan pelit berbuat kebaikan kepada orang lain. Sebab hukum Tuhan berkata bahwa dengan memberi, kita bukannya habis, melainkan justru akan mendapat –AYA

SIAPA YANG MENABUR KEBAIKAN

AKAN MENUAI BERKAT

Sumber : www.sabda.org