MENIKAM DALAM GELAP

Jumat, 19 Februari 2010

Bacaan : Mazmur 50:16-22

50:16. Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: “Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu,

50:17 padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?

50:18 Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah.

50:19 Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya.

50:20 Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu.

50:21 Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu.

50:22 Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan.

MENIKAM DALAM GELAP

Winston Churchill bukan hanya perdana menteri yang hebat, tetapi juga pribadi yang berintegritas tinggi serta menjaga sikap hormat saat berhadapan dengan lawan politiknya. Menjelang akhir masa jabatannya, ia menghadiri sebuah upacara kenegaraan. Beberapa deret di belakangnya, dua pria mulai saling berbisik. “Itu Winston Churchill.” “Kata mereka ia sudah mulai uzur.” “Harusnya ia sudah turun dan menyerahkan urusan bangsa ini kepada orang yang lebih dinamis dan lebih cakap.” Ketika upacara usai, Churchill mendekati kedua pria itu dan berkata, “Bung, kata mereka, ia juga tuli!”

Desas-desus, kabar burung, atau cerita bohong tentang seseorang yang disebarkan dengan maksud menjelekkan atau mencederai reputasinya, termasuk dosa lidah yang dikecam dengan keras oleh Alkitab. Penyebaran kabar ini cenderung diwarnai oleh kebencian dan dendam pribadi. Menurut pemazmur, orang fasiklah yang gemar dengan aktivitas licik itu. Ia “duduk” — mengacu pada sikap malas, pasif, dan berpuas diri. Akan tetapi, mulutnya aktif — menyemburkan kejahatan. Dan, korbannya bisa bukan orang asing, melainkan saudara kandungnya sendiri. Seperti musuh dalam selimut, ia menikam dalam kegelapan.

Kita mungkin seperti Winston Churchill, yang mesti cerdik berkelit dalam menghadapi omongan yang tidak nyaman. Namun, tidak jarang kita berada pada posisi dua pria pembisik itu. Ketika tergoda untuk menyebarkan cerita buruk tentang orang lain, pertimbangkanlah: Apakah cerita itu benar? Apakah itu berguna? Apakah itu menggugah semangat? Apakah itu perlu? Apakah itu baik? Jika tidak, lebih arif apabila kita menutup mulut –ARS

APABILA ANDA TIDAK MENYEBARKAN FITNAH

ORANG LAIN TIDAK AKAN DAPAT MENERUSKANNYA –Charles Swindoll

Sumber : http://www.sabda.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: