JERAT KEBOHONGAN

Sabtu, 27 Februari 2010

Bacaan : 2Samuel 12:1-14

12:1. TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.

12:2 Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;

12:3 si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.

12:4 Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu.”

12:5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.

12:6 Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan.”

12:7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: “Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.

12:8 Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.

12:9 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.

12:10 Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.

12:11 Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.

12:12 Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.”

12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.

12:14 Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.”

JERAT KEBOHONGAN

Kebohongan atau dusta itu beranak pinak. Begitu seseorang berbohong, maka selanjutnya ia akan terus diseret dalam kebohongan-kebohongan lainnya. Jadinya seperti lingkaran setan. Kebohongan satu ditutupi oleh kebohongan lainnya. Akibatnya bisa sangat fatal.

Itulah yang terjadi pada Marion Jones-Thompson, pelari putri terkenal dari Amerika. Jones berbohong tentang skandal doppingnya saat merebut medali di Olimpiade Sidney, Australia, tahun 2000. Jones berbohong kepada keluarganya, kepada agen dan sponsornya, kepada para penggemarnya, seterusnya kepada para polisi, terakhir kepada tim juri pengadilan. Ia beralasan, hidupnya yang sedang bergelimang kesuksesan akan hancur lebur jika skandal itu terbongkar. Jadi, ia memilih berbohong. Namun, Jones salah. Ia memang sempat “tertolong”, tetapi hanya untuk sementara. Selanjutnya ia justru terjerumus pada kehancuran yang lebih parah. Karier dan reputasinya benar-benar amblas.

Daud pernah melakukan tindakan “kotor”; mencemari Batsyeba, lalu merekayasa kematian Uria, suami Batsyeba, prajuritnya yang setia. Natan memperingatkan Daud atas kekejiannya tersebut. Sebagai raja yang berkuasa, Daud bisa saja “membungkam” Natan. Lalu hidup dalam kebohongan. Akan tetapi, Daud tidak melakukan itu. Ia bertobat; mengakui, dan menyesali perbuatannya. Betul, Daud tetap harus menanggung akibat dari dosanya itu (ayat 14), namun setidaknya ia terhindar dari akibat yang lebih parah (ayat13).

Maka, berhati-hatilah dengan kebohongan. Sebab di balik “kelegaan” sementara yang didapat, di sana tersimpan kepahitan yang sangat –AYA

KEJUJURAN ADALAH PILIHAN TERBAIK

SEPAHIT APA PUN

Sumber : www.sabda.org