Memperoleh Kesatuan dan Damai Sejahtera

PESAN GEMBALA

07 MARET 2010

EDISI 116 TAHUN 3

Memperoleh Kesatuan dan Damai Sejahtera

Shalom… Salam Miracle.

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, seringkali kita mendengar ajaran tentang kerendahan hati, dimana setiap orang mendahulukan kepentingan diri sendiri. Alkitab memerintahkan kita menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri, Filipi 2:3-4, “Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.”

Orang yang memiliki hati yang remuk tidak mudah tersinggung atau marah. Tetapi tidak demikian dengan orang yang memiliki keakuan yang besar. Percekcokan dan konflik berhenti bila kita memiliki hati yang remuk, Amsal 13:10,”Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasehat mempunyai hikmat.”

Kepribadian yang kasar, pemarah, sombong, suka mendominasi, suka menuntut, dan keras perlu diremukkan. Orang-orang di sekitar kita tidak boleh merasakan roh kita; mereka harus merasakan Roh Allah yang bekerja melalui kita. Bila orang lebih merasakan roh kita daripada Roh Allah, itu berarti kita membutuhkan hati yang remuk. Dan ini memerlukan banyak penghancuran.

Hati yang tidak remuk dimiliki oleh orang yang tidak disiplin dan dididik secara benar ketika ia masih kecil. Hanya TUAN-TUAN yang sering seringkali mudah tersinggung, bukan anak domba-anak domba.

Orang yang rendah hati dan memiliki hati yang lembut dan remuk, tidak pernah tersinggung seperti orang disebutkan dalam Amsal 18:19. orang menjadi tersinggung karena keakuannya terluka. Kasih karunia telah ditolaknya dan ia telah mengeraskan hatinya serta menjadi pahit hati, Ibrani 4:16, ”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Bandingkan denganIbrani 12:15, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan mudah tumbuh AKAR YANG PAHIT yang menimbulkan KERUSUHAN dan MENCEMARKAN BANYAK ORANG”. Orang menjadi tersinggung karena memelihara suatu luka hati dan mencebloskan dirinya sendiri ke dalam suatu lubang yang dalam. Ia tidak dapat disembuhkan, tidak dengan permintaan maaf atau apapun juga, sebelum mengalami jamahan Allah.

Hati yang mudah tersinggung yang dibiarkan tidak diobati akan menjadi SANGAT JAHAT. Dihari-hari terakhir banyak orang akan tersinggung, dan ini akan membuat mereka saling membenci dan mengkhianati (Matius 24:10). Apakah kita sadar betapa seriusnya problem kita bila membiarkan hati kita tersinggung? Saya ingin mengulangi hal ini. Orang yang tersinggung itu bukan anak domba, ia adalah seorang Tuan, sombong serta tidak memiliki hati yang remuk. Ia memiliki suatu pendapat yang tinggi tentang dirinya sendiri dan “SOK PENTING”. Ia mempertahankan hak-haknya dan menuntut pembelaan atas dirinya.

Salah satu tipuan yang memperdayai seseorang yang tersinggung adalah ia percaya bahwa ia memiliki hak untuk tersinggung, dan bahwa ia dibenarkan untuk marah dan melukai orang-orang lain. (Ia tidak benar-benar percaya bahwa Allah memakai ketidakadilan untuk meningkatkan kerohanian untuk meningkatkan kerohanian anak-anakNya).

Karena itu, hatinya mulai tersipu. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari lubang yang menyeramkan ini adalah dengan menjadi ANAK DOMBA, menyerahkan hak-hak kita, dan meneladani Kapten Keselamatan kita yang memeprcayakan segala ketidakadilan yang ia alami kepada Bapa Surgawi-Nya.

I Petrus 2:21-23, ”Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutNya. Ketika Ia dicaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, Yang menghakimi dengan adil.”

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tersinggung. Neraka dipenuhi dengan orang-orang yang tersinggung, yang menolak kasih karunia Allah ketika mereka disakiti. Mereka meninggal dengan memegang erat kepahitan mereka terhadap Allah dan orang-orang yang tidak mau mereka maafkan. Kini mereka sendiri tersiksa dengan pelanggaran-pelanggaran yang tidak mau mereka maafkan dalam diri orang lain. Akan sangat penting bagi kita anak-anakNya untuk senantiasa rendah hati dan menikmati damai sejahtera bersama dengan kasih Tuhan.

Allah tinggal bersama mereka yang rendah hati. Hadirat Tuhan ditolak oleh hati yang keras, tetapi kekerasan tidak dimiliki oleh orang yang rendah hati. Allah menolak orang yang sombong, karena kesombongan juga menolakNya. Allah tidak akan berjalan dengan orang yang sombong. Ia berjalan bersama orang yang rendah hati karena Ia sendiripun rendah hati. Dalam hati yang lembut Allah menuliskan hukum-hukumNya, tetapi Allah tidak dapat bekerja di hati yang keras. Hati yang keras itu tidak peka dan tidak mampu mendengar suara Roh yang lembut. Allah membimbing orang-orang yang lembut hati.

Salam mujizat…

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

GARAM TAWAR

Rabu, 10 Maret 2010

Bacaan : Matius 5:13-16

5:13. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

GARAM TAWAR

Ketika garam dikumpulkan dari wilayah Laut Mati, ada garam yang asin dan baik untuk bumbu dapur, ada pula garam yang tawar. Garam yang tawar ini tidak dibuang, tetapi disimpan di Bait Allah di Yerusalem. Pada musim dingin ketika hujan turun, ubin pelataran Bait Allah menjadi licin, dan garam tawar itu ditaburkan untuk mengurangi kelicinan. Begitulah, garam yang tawar itu diinjak-injak orang banyak.

Garam memiliki ciri-ciri yang menggambarkan bagaimana seharusnya pengaruh umat beriman terhadap kehidupan dunia sekitarnya. Garam biasanya digunakan sebagai penyedap rasa. Orang percaya seharusnya menegakkan kesadaran moral suatu bangsa, sehingga dalam setiap aspek kehidupan, baik sosial, politik, ekonomi, budaya maupun pendidikan, dapat dirasakan adanya pengaruh dari cara-cara Allah. Jika digunakan untuk menggarami buah anggur, garam membuat buah itu terasa manis. Orang percaya seharusnya dapat pula “memaniskan” kepahitan hati orang-orang yang merasa tertindas dan tersingkir.

Garam dapat digunakan untuk mematikan rumput-rumput liar yang tumbuh pada retakan jalan setapak. Pelanggaran moral yang terjadi di bangsa ini seharusnya dapat dilenyapkan oleh pengaruh jemaat Tuhan. Garam dapat melembutkan es. Kita seharusnya dapat “mencairkan” kebekuan hati orang yang mengeraskan diri dan menentang kebenaran Allah. Dan garam dapat mengawetkan makanan atau membuatnya tidak segera membusuk. Umat kristiani seharusnya juga mempunyai pengaruh yang melindungi bangsa ini dari kemerosotan moral.

Apakah kita “asin” dan memberi dampak bagi masyarakat sekitar? -ARS

Gereja yang hidup adalah satu-satunya harapan

bagi dunia yang sekarat-Andrew Murray

Sumber : http://www.sabda.org

MELIHAT DENGAN BENAR

Selasa, 9 Maret 2010

Bacaan : Mazmur 16

16:1. Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

16:2 Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”

16:3 Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku.

16:4 Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.

16:5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

16:6 Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.

16:7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.

16:8. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

16:9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;

16:10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

MELIHAT DENGAN BENAR

Seorang pendeta ditanyai apa yang menjadi kunci kepuasan hatinya. Ia menjawab, “Kuncinya terletak pada penggunaan mata secara benar. Dalam keadaan apa pun, saya terlebih dahulu mengangkat kepala, melihat ke surga, dan menyadari bahwa tujuan utama saya di bumi ini adalah untuk kembali ke sana. Kemudian, saya akan melihat ke tanah, dan menyadari betapa kecilnya tempat yang diperlukan untuk menguburkan saya jika saya mati nanti. Lalu, saya akan memandang ke sekeliling, dan mengamati tidak sedikit orang yang dalam berbagai hal lebih menderita dari saya. Dari situ saya belajar letak kebahagiaan yang sejati, akhir dari segala kekhawatiran kita, dan betapa sedikitnya alasan untuk mengeluh.”

Kepuasan hati adalah soal cara pandang dan pola pikir. Menurut kamus Alkitab, kepuasan hati bersumber dari sikap yang sedia membatasi keinginan diri menurut bagian yang ditentukan bagi kita. Tanpa kepuasan, kita akan dirongrong kecemburuan, ketamakan, kekhawatiran. Bukannya mengucap syukur, kita malah mengeluh.

Daud menemukan kepuasan hati dengan menjadikan Tuhan sebagai bagian warisan dan pialanya. Warisan mengacu pada kekekalan yang akan kita nikmati dalam persekutuan dengan Tuhan. Adapun piala mengacu pada pemeliharaan dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ia puas dengan kebaikan Tuhan-di bumi ini dan di dalam kekekalan.

Kita bisa belajar melihat “ke surga”, “ke tanah”, dan “ke sekeliling”-menyadari kemurahan Tuhan di dalam hidup kita dan mengingat pengharapan kekal yang kita miliki di dalam Dia. Kiranya hal itu memenuhi hati kita dengan rasa syukur dan rasa puas-ARS

KEPUASAN SEJATI TIDAK AKAN KITA TEMUKAN DARI KEADAAN SEKITAR

TETAPI SUATU KARUNIA YANG DILIMPAHKAN DARI SURGA

Sumber : http://www.sabda.org


PERBUATAN BAIK

Senin, 8 Maret 2010

Bacaan : Galatia 6:1-10

6:1. Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

6:3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.

6:4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

6:5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

6:6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

PERBUATAN BAIK

Dibanding para selebriti Indonesia, nama Agus Bambang Priyanto memang kalah tenar. Namun, majalah Time mendaulatnya menjadi salah satu Asean Heroes tahun 2003, berkat upayanya yang tak kenal lelah memimpin penyelamatan para korban bom Bali; mengangkut korban tewas; membopong mereka yang terluka; mengumpulkan harta milik korban untuk diserahkan kepada keluarga; mengatur lalu lintas ambulans. Bambang bukan petugas. Ia rakyat biasa. Ia melakukan semua itu secara spontan, tanpa diminta.

Untuk menerima penghargaan itu, termasuk hadiah uang ratusan juta, Bambang diundang ke Jepang. Namun, ia menolak pergi. Ia merasa bukan pahlawan. Menurutnya, apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang wajar dilakukan setiap orang ketika melihat sesamanya menderita. Tentang uang hadiah, Bambang beralasan, tidak layak menerima hadiah di atas penderitaan orang lain.

Alangkah indahnya hidup bermasyarakat, apabila setiap orang terdorong untuk saling berbuat baik; bukan untuk saling memanfaatkan. Kepada jemaat Galatia Paulus juga menasihatkan agar mereka tidak jemu-jemu berbuat baik (ayat 9). Dengan begitu, mereka telah memenuhi hukum Kristus (ayat 2). Tentu tidak harus dalam peristiwa besar seperti yang dilakukan oleh Agus Bambang Priyanto, tetapi juga bisa dalam kejadian sehari-hari. Kuncinya adalah kepekaan dan ketulusan untuk menolong sesama.

Hari ini, adakah sesama yang membutuhkan perbuatan baik kita; mungkin tetangga sebelah rumah, atau rekan sekerja di kantor, atau siapa saja? Semoga kita tidak membiarkan kesempatan berbuat baik itu berlalu begitu saja -AYA

LAKUKAN PERBUATAN BAIK KEPADA ORANG LAIN

MINIMAL SATU PERBUATAN UNTUK SATU HARI

Sumber : http://www.sabda.org