DUSTA

Jumat, 12 Maret 2010

Bacaan : Kisah 5:1-11

5:1. Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah.

5:2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

5:3 Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?

5:4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”

5:5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu.

5:6 Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya.

5:7 Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi.

5:8 Kata Petrus kepadanya: “Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?” Jawab perempuan itu: “Betul sekian.”

5:9 Kata Petrus: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.”

5:10 Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya.

5:11 Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.

DUSTA

Membiarkan berkembangnya sesuatu yang berpengaruh buruk adalah kesalahan serius. Ibarat penyakit menular, jika dibiarkan akan semakin banyak korbannya. Ibarat sel kanker, jika sudah berkembang hingga ke stadium lanjut akan semakin sukar dilumpuhkan. Ibarat kebiasaan buruk, jika dibiarkan sejak anak-anak akan menjadi watak yang buruk. Daya rusaknya sudah terlampau kuat untuk dihambat. Satu-satunya cara mengatasi hanyalah mencegah atau memberantasnya selagi masih dini.

Gereja pada zaman para rasul berusia masih amat “muda”. Tugasnya adalah menjadi saksi kebenaran Injil Yesus Kristus. Ibarat dalam pengadilan di masa itu, kebenaran sebuah kesaksian memerlukan pengukuhan 2 orang saksi. Banyak murid diutus berpasangan-seperti Petrus dan Yohanes atau Paulus dan Barnabas-untuk meneguhkan kebenaran Injil. Dusta adalah dosa yang bertolak-belakang dengan tugas menjadi saksi. Menjadi saksi harus berkata benar. Oleh sebab itu, ketika ada 2 orang murid bersepakat dalam dusta, mereka dihukum dengan amat serius untuk menjadi peringatan bagi semua. Sebab seorang saksi tak mungkin berkompromi dengan dusta. Oleh sebab itu, kita bisa memahami kerasnya hukuman yang Ananias dan Safira terima karena kesepakatan dusta mereka. Itulah sebabnya kita tertegun membaca tentang hukuman berat bagi pasangan Ananias dan Safira.

Ada hal-hal di dalam kehidupan ini yang tidak bisa dikompromikan, sebab memang sejak dari akarnya sudah bertolak-belakang. Termasuk dusta melawan kebenaran. Jika kebiasaan buruk berdusta dibiarkan, akan menjadi bencana di kemudian hari. Kita harus bersikap tegas terhadapnya -PAD

TIADA CARA LAIN UNTUK MEMERANGI DUSTA

SELAIN MEMANGKASNYA SEDINI MUNGKIN DAN SESERIUS MUNGKIN

Sumber : http://www.sabda.org

Iklan