MASALAHNYA ADALAH DOSA

Selasa, 16 Maret 2010

Bacaan : Nehemia 1

1:1. Riwayat Nehemia bin Hakhalya. Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, ketika aku ada di puri Susan,

1:2 datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa orang dari Yehuda. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem.

1:3 Kata mereka kepadaku: “Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.”

1:4 Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit,

1:5. kataku: “Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya,

1:6 berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.

1:7 Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.

1:8 Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.

1:9 Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.

1:10 Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat?

1:11 Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.” Ketika itu aku ini juru minuman raja.

MASALAHNYA ADALAH DOSA

Seberapa besar kemampuan manusia dalam menyelesaikan masalah? Manusia memang memiliki kepintaran, sehingga sanggup menyelesaikan banyak permasalahan yang ada di dunia. Buktinya adalah kemajuan teknologi. Teknologi muncul karena ada masalah yang dihadapi manusia. Namun, jika kita bertanya seberapa besar kemampuan manusia dalam menyelesaikan dosa, jawabannya adalah tidak ada. Hanya Tuhan yang sanggup menyelesaikan dosa manusia.

Nehemia sangat menyadari hal tersebut ketika ia harus menyelesaikan permasalahan bangsanya. Nehemia tahu bahwa bangsanya bukan hanya memiliki masalah secara politis, melainkan dosalah yang menjadi akar persoalan dari kehidupan bangsanya tersebut. Oleh sebab itu, hal pertama yang dilakukannya adalah datang kepada Tuhan dan berdoa. Ia mengakui bahwa dirinya serta bangsanya telah berbuat dosa, mengakibatkan mereka dibuang ke Babel. Ia lalu memohon pengampunan dosa. Nehemia sadar bahwa yang sanggup memulihkan kondisi bangsanya adalah Allah sendiri. Ia memohon agar Tuhan mengampuni dan memulihkan Yerusalem.

Berbagai masalah dalam hidup kita tak jarang berakar pada dosa. Jangan hanya berfokus pada masalah itu sendiri, lihatlah lebih dalam kepada dosa yang menyebabkannya. Sebelum kita “membereskan” masalah kita, baiklah terlebih dahulu kita membereskan dosa kita di hadapan Tuhan. Bertobatlah, dan mintalah ampun kepada-Nya. Pemulihan relasi dengan Tuhan ini dapat menjadi dasar dan sumber kekuatan bagi kita untuk menghadapi masalah yang ada-RY

REKONSILIASI DENGAN TUHAN

ADALAH DASAR HIDUP YANG KOKOH

Sumber : http://www.sabda.org

Iklan

HARA HACHI BU

Senin, 15 Maret 2010

Bacaan : Keluaran 16:13-17

16:13. Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.

16:14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.

16:15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.

16:16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.”

16:17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit.

HARA HACHI BU

Penduduk kota Okinawa, Jepang, berjumlah sekitar satu juta jiwa. Dan 900.000 orang di antaranya berusia di atas 100 tahun. Tahun 2008 majalah BBC News mendaulat masyarakat Okinawa sebagai salah satu komunitas penduduk dengan tingkat harapan hidup tertinggi di dunia. Apa rahasianya? Konon, karena penduduk Okinawa sangat kuat menjaga dan menjalankan tradisi hara hachi bu. Itu pepatah Jepang yang artinya: makanlah hanya sampai 80% kenyang. Dengan kata lain, makan secukupnya, jangan sampai kekenyangan.

Makan secara berlebihan tidak hanya tidak sehat secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Sebab itu menunjukkan ketidakmampuan mengendalikan diri. Perintah Tuhan kepada umat Israel dalam peristiwa turunnya manna adalah, “Ambillah secukupnya” (ayat 16). Sejajar dengan ucapan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24). Secara sederhana menyangkal diri artinya: menahan diri atau mengendalikan diri.

Manusia cenderung memilih hal yang “enak”. Walau “secara akal”, tahu itu tidak sehat, tidak baik, tetapi karena “secara rasa” menyenangkan, enak, nikmat, jadinya tetap dilakukan juga. Padahal tidak jarang “yang enak” itu justru bisa menjerumuskan. Di sinilah pentingnya penyangkalan diri. Salah satu batu uji paling sederhana berkenaan dengan sikap menyangkal diri adalah: makan. Sebab biasanya kalau sudah enak makan, orang jadi suka lupa diri; makan terus sampai perut tidak lagi muat menampung makanan. Kita perlu belajar mengendalikan diri, mulai dengan mengendalikan pola makan-AYA

MAKAN UNTUK HIDUP

BUKAN HIDUP UNTUK MAKAN

Sumber : http://www.sabda.org


Sumber : www.sabda.org

Kekuatan, Kasih dan Pikiran Jernih

PESAN GEMBALA

14 MARET 2010

EDISI 117 TAHUN 3

Shalom… Salam Miracle.

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, Rasul Paulus mengatakan kepada anak rohaninya Timotius demikian:”Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan melainkan roh kekuatan, kasih dan ketertiban.” (II Timotius 1:7). Allah telah memberikan roh kuasa, roh kasih dan roh ketertiban yang diterjemahkan lebih jauh adalah roh yang menghasilkan pikiran yang jernih bagi kita. Tiga hal ini tidak terdaftar secara kebetulan. Tiga hal itulah yang membuat kita tidak seharusnya mengalami ketakutan.

Alkitab berkata bahwa Allah tidak memberikan roh ketakutan kepada kita, oleh karena itu tidak perlu kita memilikinya. Bila Ia memberikan kepada kita, maka kita harus menerimanya. Bila kita mengusir ketakutan dari kehidupan kita, maka kita akan memiliki kekuatan, kasih, dan ketertiban/pikiran jernih. Setan datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan (Yohanes 10:10). Ia datang untuk mencuri kekuatan kita. Ia datang untuk mencuri kejernihan pikiran kita. Ia tidak ingin pikiran kita menjadi jernih atau tertib. Ia ingin pikiran kita dipenuhi oleh mimpi-mimpi dan bayangan-bayangan yang buruk sehingga kita tidak dapat berpikir jernih, sehingga kita tidak dapat menjalankan fungsi di bumi. Itu adalah rencana setan.

Yesus datang supaya kita mempunyai hidup dan mempunyainya dengan kelimpahan. Kata “hidup” dalam Yohanes 10:10 dalam teks Yunaninya adalah “zoe” yang artinya kehidupan yang dimiliki Allah. Yesus berkata, “Aku datang supaya engkau dapat memiliki kehidupan yang dimiliki Allah supaya engkau memiliki jenis kehidupan yang dimiliki Allah supaya engkau hidup seperti Allah hidup.” Allah senantiasa rindu supaya manusia hidup seperti Ia hidup. Kita melihat kerinduan itu diekspresikan dalam Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu. Allah memegang kendali dan Ia ingin manusia memegang kendali. Ia mengendalikan alam semesta, dan umat manusia memegang kendali atas bumi. Allah memberikan kekuasaan kepada manusia. Kekuasaan adalah hak dan kuasa untuk memerintah serta menguasai. Kita telah diberi hak oleh Allah untuk menjalani kehidupan yang penuh kuasa, kasih dan memiliki ketertiban/pikiran jernih.

Ketakutan masuk ke dalam diri manusia di taman Eden ketika Adam dan Hawa melakukan dosa pengkhianatan. Iman yang ada dalam diri mereka berubah menjadi ketakutan. Keyakinan terhadap Allah yang mereka miliki diganti dengan ketakutan. Keyakinan terhadap Allah yang mereka miliki diganti dengan ketakutan. Setelah Adam dan Hawa berbuat dosa, mereka mendengar suara Tuhan Allah berjalan-jalan di dalam taman pada hari sejuk, dan mereka mencoba bersembunyi dari Tuhan di antara pepohonan di dalam taman. Ketakutan akan membuat kita melakukan hal-hal yang bodoh, kita tidak bertukar pendapat dengan seorang yang memiliki ketakutan di dalam hatinya. Kita tidak bertukar pikiran dengan ketakutan. Ilmu medis telah memperhitungkan hal itu. Sebagian besar dokter tidak akan mengoperasi yang sedang dilanda ketakutan, mereka akan melakukan segala usaha yang dapat mereka melakukan untuk menghibur dan menenangkan pasien, juga memberikan pengertian-pengertian yang harus dipahami si pasien. Ada survey yang menyatakan bahwa tujuh puluh lima persen (75%) orang-orang yang dirawat di rumah sakit adalah orang-orang yang dilanda ketakutan, kekuatiran dan ketegangan.

Iman adalah sebuah kekuatan dan ketakutan adalah sebuah kekuatan, keduanya memiliki potensi untuk dikembangkan. Hanya tujuh persen (7 %) dari orang-orang yang tinggal di Rusia yang benar-benar menjadi anggota partai komunis, namun dari tujuh persen itu dapat mengendalikan sembilan puluh tiga persen manusia lainnya melalui ketakutan. Mereka tidak mengendalikan melalui senjata, peluru danbom. Mereka mengendalikan manusia lainnya dengan ketakutan.

Ketakutan dapat berpindah dari seseorang kepada orang-orang lainnya. Firman Allah berkata “camkanlah apa yang kamu dengar.” (Markus 4:24). Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita dengar. Ketakutan mengganggu kejernihan pikiran kita. Kita perlu memahami hal ini. Kita dipihak yang percaya atau di pihak yang tidak percaya. Tidak percaya bukanlah berarti tidak memiliki kepercayaan. Tidak percaya berarti mempercayai hal-hal yang salah. Kita senantiasa mempercayai sesuatu. Bila kita beriman, kita akan menang. Bila kita menyerah pada ketakutan, maka kita akan tenggelam.

Ketakutan akan menarik roh-roh Iblis. Manusia telah menemukan bahwa beberapa spesies ikan hiu dapat mencium bau darah di dalam air dari jarak satu mil, dan mereka akan mengikuti bau itu tepat di tempat yang mengeluarkan darah. Ketakutan bagaikan hal seperti itu. Roh-roh Iblis di alam rohani akan mencium adanya ketakutan dan mengikutinya hingga ke orang yang sedang dilanda ketakutan. Kemudia roh-roh itu akan menemukan apa yang ditakuti oleh orang itu, ketika orang itu mulai mengucapkannya.

Yesus berkata bahwa apa yang diucapkan mulut meluap dari hati (Matius 12:34). Kita memberitahukan hal-hal yang kita takuti kepada setan dan mereka akan pergi ke luar dan berusaha agar yang kita takuti menjadi kenyataan.

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan melainkan roh kekuatan, kasih dan ketertiban.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA